Dua Puluh Delapan

1191 Kata
"Kegiatan sosial itu akan dilakukan beberapa hari lagi," ucap Aris saat sedang rapat BEM. "Tapi Ris, gue rasa apa itu gak terlalu cepat? Mengingat divisi logistik kita masih belum siap," kata Ryan. Aris tampak tengah berpikir. "Gue rasa lebih cepat lebih baik, gue sama si Ikfan bakalan bantuin anak logistik juga ko," timpa Andre. "Hmm. Benar kata Andre, kita semua bakalan sama-sama turun tangan buat bantu anak logistik kalau di sana masih belum siap," sambung Aris setelah berpikir. Di sisi lain, ketika semua teman-temannya sedang sibuk membicarakan soal kegiatan BEM, tampaknya Ikfan tidak fokus. Terlihat dari dirinya yang sejak tadi hanya diam—padahal biasanya banyak memberi kritik dan saran—bahkan kini ia seolah seperti benar-benar sedang tidak ada di sana, walaupun raganya sedang ada di sana. Ikfan lebih tertarik menggunakan otaknya untuk berpikir soal ta'aruf-nya dengan Alysa. Ia sedang memikirkan waktu yang tepat untuk datang lagi ke Bandung dan menemui walinya Alysa. "Menurut saran lo gimana, Fan?" tanya Aris tiba-tiba yang membuat Ikfan tersentak kaget lantaran sentuhan dipundaknya. "Hah?" Ikfan terkesiap—belum siap dengan pertanyaan yang Aris lontarkan. "Apa?" Aris menatap Ikfan aneh, "lo lagi gak fokus ya?" Ikfan gelagapan. "Hah? Ng.. ngga ko." Ikfan membetulkan posisi duduknya—menjadi tegak. "Ehm, oke gue rasa saran Andre ada benernya. Lebih cepat lebih baik acara sosial itu dilaksanakan, dan.. untuk ketidaksiapan dalam keperluan logistik, kalian gak usah khawatir. Kita bekerja sama saja," lanjut Ikfan. Walaupun tidak begitu fokus, tapi Ikfan masih bisa mendengar diskusi tadi. Aris mengangguk paham. "Oke kalau gitu, informasi lengkapnya nanti gue kabari lagi digrup BEM." Semua mengangguk setuju menanggapi ucapan Aris. ▪▪▪▪▪▪ "Lo gak papa, 'kan?" tanya Andre. Saat ini ia dan Ikfan tengah berada diwarung yang biasa dikunjungi oleh anak fakultasnya. "Hmm." Ikfan hanya bergumam menjawab Andre sebari tatapan tetap tertuju pada ponselnya. "Oke kalau gitu," kata Andre ambigu. Mendengar itu, Ikfan melirik Andre sekilas melalui ekor matanya, lalu ia kembali fokus dengan ponselnya lagi. "Fan, acara kegiatan BEM 'kan sebelum ujian akhir semester ini, nah gue rasa rencana kita yang bakalan buka kedai kopi itu lebih baik setelah ujian aja deh," ucap Andre terlihat serius. "Bokap gue pengen kita segera buka kedai itu," lanjutnya. Ikfan mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku jaket yang ia kenakan. "Lo yakin?" tanyanya seraya menatap wajah Andre. Andre mengangguk. "Hemm, soalnya gue juga udah kebelet pengen punya penghasilan sendiri," Ikfan mengangguk paham. "Oke kalau itu mau lo. Nanti gue usahain bantu." Andre tersenyum, "thank's bro.. lo emang the best lah buat jadi sahabat gue. Gue janji, tu kedai bakal jadi milik kita berdua, bekal nikah hahaha," kata Andre yang diakhiri dengan gelak tawanya. Walaupun berdecak sebal, tak ayal, Ikfan pun tersenyum mendengar ucapan Andre. Modal nikah. ▪▪▪▪▪▪ "Jadi kita akan ke rumah Alysa setelah acara pembukaan kedai kamu sama Andre selesai?" tanya Hata. "Mm.. iya yah, itu juga bertepatan setelah Ikfan selesai ujian," jawab Ikfan. Saat ini bersama keluarganya, Ikfan sudah memutuskan bahwa ia akan mendatangi rumah Alysa setelah pembukaan kedainya dan Andre selesai. "Ujian kali ini terakhir disemester enam, 'kan?" tanya Rusdi. Ikfan mengangguk, "iya kek." "Berarti abang nikahnya waktu liburan menjelang semester tujuh?" tanya Nayla heboh. "Cieee… berarti wisudanya nanti bakalan ada yang dampingin, ehem," lanjutnya menggoda Ikfan. Terlihat Ikfan mulai salah tingkah mendengar ucapan adiknya itu. Benar juga, di foto wisuda gue nanti bakalan ada istri. Kalau jadi haha. Batin Ikfan. Rita mesem melihat tingkah Ikfan, "jadi gak sabar bunda," "Yaudah, apapun keputusan kamu selagi itu baik, kami semua mendukungmu. Tapi untuk masalah ini biar ayah yang bicara langsung di telpon sama ayahnya Alysa," kata Hata. "Ohiya yah, saran bunda, sebaiknya kita lakukan acara ta'aruf itu jangan lama-lama. Mengingat liburan Ikfan sebentar, bunda ingin setelah ta'aruf selesai langsung khitbah dan menikah saja," ucap Rita menengahi. "Arkan setuju," sambung Arkan angkat bicara. "Boleh juga," kata Rusdi menyetujui saran menantunya. Rita tersenyum. "Bagaimana yah?" tanyanya menunggu jawaban suaminya. Akhirnya setelah berpikir matang, Hata tersenyum seraya mengangguk. "Baiklah, ayah setuju saran bunda." Rita semakin tersenyum lebar mendengar jawaban suaminya itu. "Jangan lupa persiapkan fisik, mental, dan ilmu, Fan. Proses seperti ini bukan hal yang main-main." Peringat Hata kepada Ikfan. Ikfan mengangguk, "iya yah." ▪▪▪▪▪▪ "Adek? Adek kenapa sih? Dari tadi perasaan itu pipi bersemu merah mulu? Kenapa?" Tanya Hanifah heran. Sore ini—setelah pulang kuliah—Alysa dan Hanifah tengah berada di ruang tamu wisma sambil merekap absen murid-murid tahsin. Alysa menoleh Hanifah dengan raut wajah sedikit gelagapan. "Hah? Apa? Bersemu merah? Mm.. ngga ko, teh. Adek gak gitu," kilahnya. Bagaimana tidak bersemu merah, sejak pagi tadi perasaan Alysa memang sedang berbunga-bunga tak karuan setelah telponan dengan Raka usai sholat subuh pagi itu. "Insyaa Allaah kata Ikfan dan keluarganya, mereka akan datangi rumah kita lagi setelah uas semester beres," kata Raka di telpon. Mendengar itu, tanpa Raka tahu, Alysa tengah tersenyum-senyum. "Mm.. berarti setelah adek beres uas juga ya?" tanya Alysa malu-malu. "Iya dek, kurang lebih begitu. Dan kata ayah tadi waktu telponan sama ayahnya Ikfan, katanya jika sudah yakin dan cocok, setelah proses ta'aruf selesai, langsung proses khitbah dan nikah," jawab Raka mantap yang membuat Alysa terkejut. "Secepat itu?" tanya Alysa spontan. "Hmm. Lagian, mau nunggu kapan lagi.. toh setelah liburan uas beres pasti kalian bakalan sibuk lagi sama urusan kuliah, kalau begitu kapan nikahnya?" ucap Raka yang kini terdengar tengah menggoda Alysa. Alysa mulai kembali bersemu malu. "Ih aa, jangan gituin adek," rajuk Alysa pura-pura. Terdengar Raka terkekeh kecil di sana. "Iya pokoknya adek jaga diri baik-baik, bentar lagi mau nikah," goda Raka lagi. "Aa!" rengek Alysa. Raka kembali terkekeh, "yaudah, jangan lupa siapkan hati, mental, dan ilmu ya dek," Alysa hanya bergumam menjawab itu—kelewat malu karena kakaknya tadi terus menggodanya. Hanifa menatap Alysa penuh selidik, "adek gak lagi nyembunyiin sesuatu dari teteh, 'kan?" tanyanya. Seketika Alysa gugup karena ditanya demikian. Memang wajahnya sangat terlihat sedang menyembunyikkan sesuatu ya? "Mm.. ngga ko teh, memang apa yang adek sembunyiin." Sejujurnya Alysa ingin berkata jujur tentang apa yang saat ini sedang terjadi padanya, namun ia lebih memilih bungkam saja dulu, sebelum semuanya pasti. Dalam hadis dari Zubair bin Awam radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَعْلِنُوا النِّكَاح “Umumkanlah nikah.” (HR. Ahmad 16130, Ibnu Hibban 4066 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Hanya saja, para ulama menganjurkan untuk merahasiakan lamaran. Bukan karena ini ada sunahnya, tapi dalam rangka menghindari setiap peluang hasad, yang bisa jadi memicu keinginan untuk mengganggalkan rencana pernikahannya. Dalam Syarhnya, al-Kharsyi – ulama Malikiyah – menyatakan, وأما الخطبة بالكسر فيندب إخفاؤها كالختان وإنما ندب الإخفاء خوفاً من الحسدة فيسعون بالإفساد بينه وبين أهل المخطوبة "Untuk lamaran, dianjurkan agar dirahasiakan, seperti khitan. Lamaran dianjurkan dirahasiakan, menghidari adanya orang yanng hasad, sehingga berusaha untuk merusak hubungan antara pihak lelaki dengan keluarga wanita yang dipinang." (Syarh Mukhtashar Khalil – al-Kharsyi, 3/167). Sikap ini sejalan dengan hadis dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, اِسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ الحَوَائِجِ بِالكِتْمَان فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُود "Gunakan cara rahasia ketika ingin mewujudkan rencana. Karena setiap pemilik nikmat, ada peluang hasadnya." (HR. Thabrani dalam al-Ausath 2455 dan dishahihkan al-Albani). Hadis ini bersifat umum, berlaku untuk semua kasus. Menjadi adab ketika seseorang hendak mewujudkan rencananya. Termasuk diantaranya rencana menikah. Terdiam sesaat, kemudian Hanifah mengangguk. "Yaudah kalau gitu," ucapnya seraya kembali merekap absen—setelah terjeda tadi. Merasa tidak dicurigai, Alysa pun bernafas lega. Maafkan aku teh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN