Dua Puluh Tujuh

930 Kata
"Ada apa yah? Ko malem-malem gini tumben nyuruh aa jemput adek ke wisma, terus sekarang pada kumpul di ruang tamu. Ada apa yah?" Alysa bertanya dengan raut wajah khawatir. Sejak beberapa jam lalu Raka datang menjemputnya di wisma, dan sejak saat itulah Alysa mulai gelisah. Tidak biasanya seperti ini, bahkan malam ini ayah, ibu, dan kakaknya tersebut tengah berkumpul di ruang tamu bersama dirinya. "Ehm," Haris berdehem sebelum memulai bicara. "Begini Alysa, maaf ya kalau ini aneh dan terkesan tiba-tiba. Tapi ada yang ingin ayah bicarakan sama kamu," Alysa yang duduk di sebelah ibunya semakin dibuat gelisah juga gugup menjadi satu sebari menatap ayah dan kakaknya yang duduk di depannya. "Bicara apa yah?" tanya Alysa lirih. Haris menghela nafas. "Ada yang ingin berniat meng-khitbah kamu, Sa." Mendengar itu, Alysa terkejut bukan main. Apa? Khitbah? "Ap.. apa.. yah?" Alysa bertanya dengan terbata—kelewat kaget. "Hmm, Ikfan ingin ta'aruf dengan kamu. Jika cocok, ia akan meneruskannya ke proses khitbah," Ucapan ayahnya kali ini, benar-benar semakin membuat Alysa terkejut. Bahkan kini ia membulatkan matanya sempurna kala itu. "Ikfan?" "Iya dek, maaf sebelumnya. Sebenarnya sejak kedatangan Ikfan ke sini, aa udah curiga sama dia. Jadi tanpa ragu, aa kasih dia tawaran. Jika dia bermaksud serius sama kamu, maka bicara sama aa dan juga orangtua kita," terang Raka. Alysa terdiam mendengar itu. "Ikfan bilang ia ingin mengenal kamu lebih jauh, nak. Apa kamu bersedia?" tanya Frida yang duduk di sebelah Alysa sebari memegang telapak tangan anaknya tersebut. "Iya Fan, saya sudah bicara sama orangtua saya soal niat kamu. Jika bersedia, datangi rumah kami lagi. Kita lakukan ta'aruf terlebih dahulu sebelum khitbah," kata Raka dalam telponnya bersama Ikfan—setelah berbicara dengan Haris kala itu. "Oh.. mm.. iya bang. Saya bersedia. Insyaa Allaah, setelah bicara ini dengan orangtua dan keluarga saya, saya akan langsung datangi rumah abang lagi," kata Ikfan di sebrang sana. "Oke kalau gitu, saya tunggu." "Iya bang," Alysa menatap ibunya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, "bu... ini.. ini.. serius, 'kan?" tanyanya lirih. Sejujurnya Alysa bahagia dengan berita jika Ikfan ingin mengenalnya lebih jauh—mengingat ia memang masih menyukai Ikfan—namun entahlah, saat itu ia masih merasa seolah ini adalah mimpi. Lelaki yang selama ini ku cintai dalam diam, ternyata berniat untuk mengenalku lebih jauh? Bermimpikah? "Iya sayang, ini serius," jawab Frida lembut. "Jadi.. bagaimana? Apa kamu bersedia? Jika tidak, ayah dan semuanya tidak akan memaksamu," kata Haris yang tak kalah lembut. Ia seolah paham dengan perasaan anaknya. Alysa menundukkan kepalanya sebari menggigit bibir dalamnya. Ia merasa bingung, sedih, senang, dan malu dalam waktu yang bersamaan. "Sa," ucap Frida yang masih memegang lembut telapak tangan anak bungsunya tersebut. Raka menghela nafasnya melihat sikap Alysa, "ayo dek, jawab." "Harus sekarang?" tanya Alysa nyaris tak terdengar seraya menatap wajah Raka. Raka mengangguk, "iya." "Langkah awal hanya ta'aruf, jika merasa tidak cocok setelahnya, kita bisa tidak melanjutkannya lagi Sa," kata Haris. Alysa mulai membalas genggaman tangan Frida dengan erat—gugup—seraya berkata, "bismillaah, insyaa Allaah, Alysa bersedia ayah," lirihnya. Mendengar itu, Raka, Haris, dan Frida langsung tersenyum. Ternyata benar, anakku memang memiliki rasa pada pemuda Jakarta itu. Batin Haris. "Baiklah, proses ta'aruf ini kita lakukan," putus Haris. ▪▪▪▪▪▪ "Apa? Jadi Alysa bersedia?" tanya Rita heboh. Pagi ini di kediaman Ikfan setelah sarapan, semua keluarganya yang masih berkumpul di meja makan terlihat heboh tatkala tahu bahwa Alysa bersedia melakukan proses ta'aruf dengan Ikfan. Bahkan sang kakek—Rusdi—rela menunda jadwal kepulangannya ke Bandung hanya untuk mengetahui perkembangan niat cucunya itu yang ingin menikah. Ikfan mengangguk, "iya bun, Alysa bersedia." Rita mesem mendengar itu. "Alhamdulillaah kalau begitu.. tapi kapan kita bisa datangi kediaman Alysa?" tanya Hata. Ikfan terlihat salah tingkah, "mm.. nanti Ikfan pikirkan. Ikfan mau atur jadwal kuliah dulu, baru jika sudah, Ikfan akan kasih tau ayah kapan kita akan datangi rumah Alysa," jawab Ikfan. "Cieee.. abang mau nikah nihh," goda Nayla sebari mentoel-toel lengan Ikfan yang berada duduk di sebelahnya. Sedangkan Arkan, saat itu ia lebih memilih diam. Namun walau begitu Arkan tetap senang dengan kabar bahwa adik laki-lakinya sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Ikfan hanya tersenyum malu mendengar adik kecilnya berbicara begitu. "Kakek senang Fan karena kamu sudah berani mengatakan ingin menikah," kata Rusdi sebari tersenyum hangat kepada Ikfan. "Sebab memang begitu seharusnya, jika ada seorang pemuda yang merasa jatuh cinta kepada seorang perempuan, ada baiknya untuk menikah saja. Selain menghindari fitnah, juga memang benar adanya, bahwa tidak ada obat bagi orang yang jatuh cinta selain menikah," lanjutnya. Allah yang telah menciptakan manusia, sangat paham betul dengan karakter dan sifat hamba-Nya ini. Di antara karakter yang Allah sebutkan dalam Alquran: يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفاً “Allah hendak memberikan keringanan bagi kalian, dan manusia itu diciptakan dalam kondisi lemah.” (QS. An-Nisa: 28). Ayat ini Allah letakkan sebagai pesan pungkasan setelah Allah menjelaskan tentang beberapa aturan nikah dari ayat 19 – 28 di surat An-Nisa. Oleh karena itu, para ahli tafsir menegaskan, yang dimaksud lemah dalam ayat tersebut adalah lemah dalam urusan s*****t, lemah dalam urusan wanita. Laki-laki begitu mudah hilang akal dan sangat mudah tergoda dengan wanita. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 2:267). Menyadari kondisi manusia yang demikian, Islam memberikan aturan agar manusia tidak serampangan dalam menyalurkan syahwatnya. Islam mengizinkan manusia untuk melakukan yang halal melalui nikah, dan menutup rapat segala celah yang bisa mengantarkan kepada yang haram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاح "Saya belum pernah melihat solusi untuk dua orang yang saling jatuh cinta, selain nikah," (HR. Ibnu Majah 1847, Mushannaf Ibn Abi Syaibah 15915 dan dishahihkan Al-Albani). Ikfan tersenyum menatap Rusdi, "iya kek," Hata menghela nafasnya, "yaudah kalau gitu, segera kamu atur jadwal kuliah kamu terus kita segera datangi rumah Alysa," Ikfan mengangguk, "iya yah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN