Dua Puluh Enam

1014 Kata
"Nesha sebentar lagi nikah, katanya habis semester ini," Perkataan Hanifah ini membuat semua penghuni wisma terkejut. Saat ini semuanya tengah berkumpul di ruang tamu wisma setelah melaksanakan sholat isya berjama'ah, yang diimami oleh Alysa. "Teteh serius?" tanya Resa. Hanifah mengangguk. "Iya, Nesha yang bilang sendiri. Dia bahkan udah lamaran. Nesha bilang kasih tau ini ke anak-anak wisma tapi jangan dulu ke yang lain," "Ihhh, maa syaa Allaah," ucap Caca terkagum. "Jadi pengen nyusul," celetuk Tia. "Nyusul apa dek?" tanya Hanifah tak peka. "Nyusul nikah, hmm.." Rida mesem. "Kalian ini, kuliah dulu," peringat Hanifah sebari tersenyum. "Pantesan habis sidang langsung otw ke Subang, nyatanya mau lamaran toh," ucap Tia. "Gak nyangka ih, teh Nesha udah mau nikah lagi," sambung Rani. Ketika semua sedang sibuk membicarakan soal pernikahan Nesha, tampaknya Alysa terlihat murung. Dan Hanifah yang menyadari itu, ia pun mulai merasa heran. "Ada apa dek? Ko keliatannya kabar pernikahan Nesha bikin kamu sedih?" tanya Hanifah to the point kepada Alysa. Mendengar itu, yang lainnya pun kini mulai menoleh ke arah Alysa. "Kenapa Sa?" tanya Rani lembut. Alysa menggelengkan kepalanya lemah, "ngga ko teh, aku bahagia sama kabar ini. Malah sangat bahagia. Cuma aku ngerasa sedih, karena anggota wisma akan berkurang satu. Teh Nesha itu sangat-sangat berarti buat aku," jawab Alysa dengan wajah yang mulai memerah akibat menahan tangis. Alysa ini berkulit putih, jadi tak aneh, bila ia sedang marah, malu, kesal, ataupum menangis. Pasti wajahnya suka kemerah-merahan. Mendengar itu, semua mulai ikut sedih. Karena memang benar, peran Nesha di wisma itu sangat berarti bagi semua penghuninya. "Jangan gitu dek, qodarullaah. Ada saatnya disetiap pertemuan itu pasti ada perpisahan. Lagian kita gak pisah sama Nesha ko, sekali-kali dia pasti main ke wisma dan ketemu kita, ya walaupun dalam kondisi yang berbeda, gak sama kayak sebelum dia menikah, tapi gak papa. Toh di antara kita juga nanti pasti akan ada yang menikah 'kan," ucap Hanifah tenang. Semua tak bergeming. Hanifah tersenyum sebari menyentuh telapak tangan Alysa yang sedang duduk di hadapannya, "laa tahzanii, setiap yang Allaah tetapkan itu pasti yang terbaik." Alysa tersenyum haru mendengar ucapan Hanifah, sampai akhirnya ia memeluk tubuh kakak tingkatnya itu dengan penuh kelembutan. "Adek sayang sama teteh," lirih Alysa tulus dalam pelukkan Hanifah. Hanifah tersenyum. "Iya dek, teteh dan semuanya juga sayang sama kamu," Melihat itu adegan mengharukan itu, baik Tia, Rani, Resa, Rida, dan Caca, semuanya pun tersenyum haru, bahkan mereka ikut berpelukkan dengan Hanifah dan Alysa, hingga akhirnya mereka semua menjadi berpelukkan bersama. Memang benar adanya dalam sebuah kutipan islami, Jagalah sahabat yang seperti ini, Jiwa terkadang lemah, terkadang membutuhkan motivasi dari luar. Jika dirimu sanggup memiliki sahabat yang memotivasimu, mengajakmu bersama-sama melakukan kebaikkan, maka carilah dan lakukanlah bersamanya. Jagalah sahabatmu itu, sungguh sahabat semacam ini sudah jarang dizaman sekarang. ▪▪▪▪▪▪ "Apa? Jadi kamu dan Ikfan sudah merencanakan ini tanpa sepengetahuan ayah?" tanya Haris terkejut. Saat ini Raka tengah berada di kamar kedua orangtuanya, membicarakan perihal Ikfan yang berencana untuk menikahi Alysa, itupun dengan tawaran yang telah ia ajukan kepada Ikfan sebelumnya saat Ikfan datang berkunjung ke rumahnya. "Iya yah, maaf Raka merencanakan ini tanpa sepengetahuan ayah dan ibu. Tapi saat itu Raka melakukan hal itu karena Raka tau, Ikfan masih memiliki keinginan untuk menikahi Alysa. Raka juga yakin, ayah akan mengerti itu dengan hanya melihat gelagat Ikfan waktu dia datang ke sini," jawab Raka menerangkan. Haris tak bergeming, namun nampaknya ia tengah berpikir. "Tapi bagaimana dengan Alysanya, Ka? Alysa 'kan belum tau soal ini. Lagian ibu khawatir dia menolak," ucap Frida cemas. Raka tersenyum mendengar ucapan ibunya, "bu, Raka tau adek gimana. Lagian sejak SMA, adek itu memang sudah menyukai Ikfan." "Apa?" Haris terkejut menatap Raka. "Iya yah, adek sebenarnya sudah lama menyukai Ikfan dalam diam," terang Raka. "Kamu yakin?" Frida ragu. Raka mengangguk, "yakin bu." "Itu 'kan dulu, kalau sekarang siapa tau adek udah gak suka lagi sama dia," kata Haris. "Ngga yah, adek masih suka sama Ikfan. Raka tau itu, dan ayah pun pasti tau. Dengan melihat sikap adek yang malu-malu waktu Ikfan datang ke sini, Raka tau kalau adek—" "Bukan karena hal itu kamu bisa seenaknya menyimpulkan kalau adek kamu masih suka sama Ikfan," sela Haris. "Yah.. percaya sama Raka," Frida nampak bingung dan cemas menjadi satu mendengar obrolan anak dan suaminya ini. "Tapi Ka.. ibu gak yakin sama Ikfan, ibu takut—" "Ikfan semanhaj," sela Raka yang paham arah pembicaraan ibunya. Haris kembali menatap Raka terkejut, "tau dari mana kamu?" Raka menghela nafasnya sebelum menjawab, "tadi waktu Raka telponan sama Ikfan, Raka sempat tanya 'ko bisa langsung direstui gitu aja kamu sama keluarga kamu buat nikahin adik saya?' terus dia jawab, 'asalkan agamanya baik dan semanhaj, keluarga saya setuju-setuju saja', gitu yah." Mendengar itu, seketika raut wajah Frida berubah menjadi berbinar, "kamu serius Ka?" Raka mengangguk seraya tersenyum karena melihat ibunya yang tampak senang, "iya bu." "Maa syaa Allaah, yaudah atuh kalau gitu. Kita bicarain ini sama Alysa," kata Frida senang. Haris masih bungkam, ia terlihat masih berpikir keras mengenai hal ini. Sedangkan Frida yang paham gelagat suaminya itu. Ia pun menyentuh telapak tangan suaminya seraya tersenyum hangat kepadanya. "Ayah gak perlu khawatir, ibu paham Raka bagaimana. Ia tidak mungkin gegabah dalam melakukan sesuatu, apalagi yang berkaitan dengan masa depan adiknya, Alysa," ujar Frida lembut. "Ibu juga yakin, melihat dari sikap dan sosok Ikfan waktu datang ke sini, ibu yakin Ikfan adalah lelaki yang baik untuk Alysa," sambungnya. Haris menatap hangat kepada istrinya tersebut seraya membuang nafasnya berat, "baiklah, ayah mengizinkan Ikfan untuk mendekati Alysa menuju ke jalan yang lebih serius. Tapi.. ayah mau.. Ikfan mesti datang lagi ke sini untuk melakukan ta'aruf dengan Alysa sebelum proses khitbah." Raka tersenyum, "baik yah, Raka akan bicarakan lagi soal ini sama Ikfan." Frida mengusap lengan suaminya lembut seraya berkata, "sebelum itu, ibu ingin kita bicarain soal ini dengan Alysa. Karena walau bagaimanapun, ia tetap harus tau dulu tentang semua rencana ini," Haris tersenyum, "baiklah. Raka, jemput Alysa malam ini di wisma. Kebetulan besok dia sedang libur di kampusnya, jadi kita bicarakan soal ini malam ini saja. Lebih cepat, itu akan lebih baik," Raka dan Frida tersenyum seraya mengangguk, menyetujui permitaan Haris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN