Masih di tempat yang sama—kamar—tepat jam sembilan pagi ini Ikfan masih berdiam diri di dalam kamarnya sebari terus memegang ponselnya. Sesekali ia membuka room chat w******p-nya dengan Raka, lalu ditutup lagi. Ikfan masih merasa bingung harus memulai obrolan semacam apa dengan Raka. Mengingat chatting pertamanya dengan Raka beberapa waktu lalu, Ikfan merasa gugup dan tidak percaya diri.
"Ya Allaah.. gimana ya?" gumam Ikfan sambil menepuk-nepuk pahanya gugup.
"Relaks Fan, relaks.. lo cowo, harus gentel," ucapnya menyemangati diri sendiri.
Fyuhh..
Ikfan
Bismillaah, bang Raka, saya mau bicara.
Setelah berhasil mengirim pesan itu, Ikfan semakin gugup. Apalagi saat melihat centang dua di sana, detak jantung Ikfan semakin berdetak dengan cepat.
"Sabar.. relaks.." Ikfan memejamkan kedua matanya guna untuk menetralkan perasaannya saat ini. Namun, bukannya tenang, ia malah semakin gugup saat merasa ponsel miliknya itu bergetar.
Raka
Iya Fan, mau bicara apa? Mau telponnan? Kebetulan saya baru selesai kelas.
Membaca itu, beberapa saat mata Ikfan tak berkedip. Bang Raka masih kuliah?
Walaupun perasaannya sedang kelewat gugup, tapi rasa keingintahuan perihal keluarga Alysa lebih dalam semakin tumbuh di dalam diri Ikfan.
Ikfan
Boleh bang.
Tak lama dari situ, tiba-tiba layar ponsel Ikfan berubah—tanda ada yang menelponnya.
"Bismillaah," ucap Ikfan sebelum mengangkat telpon dari Raka.
"Assalamu'alaikum bang Raka," salam Ikfan mengangkat telpon.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh, iya Fan," jawab Raka di sebrang sana.
"Emm.. gini bang, emm.. saya ingin bicara," ucap Ikfan sebari melawan perasaan gugupnya yang semakin menjadi.
"Ohh gitu, iya tafadhol. Ingin bicara apa?" tanya Raka ramah.
"Emm.. ini soal adik abang," jawab Ikfan terdengar lirih.
"Soal adik saya, Alysa ya?"
Ikfan mengercitkan keningnya bingung mendengar ucapan Raka di sebrang sana. Memang adik bang Raka ada berapa?
"Iya bang, Alysa."
Terdengar suara kekehan ringan di sebrang sana.
"Ya ampun Fan, itu suara biasa aja kali. Kayak yang lagi sidang skripsi aja," Saat ini Raka malah terlihat sedang menertawakan Ikfan, karena memang sejak tadi Raka sadar bahwa Ikfan sedang gugup terhadapnya.
Mendengar itu, tanpa sepengetahuan Raka, Ikfan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Hehe.. iya bang maaf,"
"Jangan gugup ah, santai saja kalau sama saya. Lagian umur kita juga gak jauh beda, 'kan?"
Ikfan ingin memprotes perkataan Raka, namun tak bisa. Raka tidak tahu, kegugupan Ikfan bukan karena perbedaan usia, melainkan mengingat Raka adalah kakak kandung dari seorang gadis yang ia sukai, sudah pasti Ikfan akan gugup.
"Iya bang," akhirnya Ikfan hanya mampu menjawab itu sebagai jawaban atas perkataan Raka.
"Yaudah, jadi gimana? Kamu sudah bicara soal ini sama orangtua kamu?" tanya Raka yang mulai terdengar serius.
Mendapat pertanyaan ini, Ikfan kembali gugup namun tetap berusaha untuk tenang.
"Iya bang, saya sudah bicara soal ini sama orangtua, dan kakek saya, dan alhamdulillaah mereka merestui juga mendukung saya untuk.." Ikfan menggantungkan ucapannya, ia merasa semakin gugup tatkala akan mengatakan kata "menikah".
"Untuk menikahi adik saya?" tanya Raka menyambungkan ucapan Ikfan.
Ikfan tak menjawab, hanya helaan nafas yang dapat terdengar oleh Raka.
"Keluargamu langsung menyetujui kamu untuk menikahi adik saya? Apa itu tidak terkesan terlalu cepat?" tanya Raka kemudian. Sejujurnya Raka sedikit merasa tak percaya bila keluarga Ikfan langsung menyetujui niat Ikfan yang ingin menikahi adiknya. 'Kan baru kenal.
"Insyaa Allaah, keluarga saya setuju. Lagipula, saya sudah menceritakan soal sosok Alysa sebelumnya kepada mereka. Asalkan agamanya baik dan semanhaj, keluarga saya setuju-setuju saja," terang Ikfan tenang.
Semanhaj.
Mendengar kata itu, tanpa Ikfan ketahui Raka sedang tersenyum di sebrang sana.
"Baiklah, saya akan bicarakan ini kepada kedua orangtua saya terlebih dahulu. Kalau kepada Alysa nanti saja, karena dia sedang tidak ada di rumah saat ini," kata Raka.
"Tidak ada di rumah?" Ikfan membeo kaget.
"Santai Fan, Alysa baik-baik aja ko. Sebenarnya selama ini Alysa tidak tinggal di rumah. Ia ngontrak di dekat kampusnya," ujar Raka yang paham keterkejutan Ikfan.
Ngontrak?
Mendegar itu, entah kenapa seketika Ikfan merasa khawatir dengan Alysa. Pikiran negatif soal rumah kontrakkan anak kuliahan, membuatnya tak bisa berpikir jenih.
Seorang gadis polos ngontrak sendirian?
"Ko ngontrak bang, Alysa itu 'kan perempuan. Apa ini gak.."
Ikfan menghentikkan ucapannya tatkala mendengar kekehan Raka di sana. Ia jadi merasa bingung.
"Tenang saja Fan, saya sama kedua orangtua saya juga gak gegabah membolehkan dia ngontrak begitu saja. Alysa ngontrak di sebuah rumah bersama sahabat-sahabatnya. Mereka di sana bukan hanya ngontrak, tapi sambil belajar agama. Kebetulan rumah kontrakkan itu disewa satu rumah penuh oleh Alysa dan teman-temannya, mereka menamakan rumah kontrakkan itu dengan nama wisma khalishah akhwat, rumah yang khusus untuk tempat tinggal akhwat mahasiswa ITB yang ingin belajar agama," jelas Raka panjang lebar.
Ikfan terdiam sesaat mendengar itu, entahlah.. Ia masih merasa khawatir dengan Alysa.
"Tapi bang, rumah kontrakkan itu 'kan—"
"Daerah rumah kontrakkan Alysa aman, sangat dekat dengan warga sekitar. Setiap malam selalu ada ustadzah yang datang untuk membuka majelis di rumah itu, bahkan Alysa dan sahabat-sahabatnya membuka belajar tahsin di rumah itu khusus untuk mahasiswa dan anak warga sekitar yang ingin belajar Al-Qur'an," ucap Raka menyela ucapan Ikfan. Raka seolah paham kekhawatiran Ikfan saat ini.
Mendengar itu, tanpa permisi Ikfan tersenyum dalam diam. Sungguh beruntungnya ia bila benar-benar berjodoh dengan Alysa.
"Saya juga selalu mengontrol rumah kontrakkan itu, untuk jaga-jaga," tambah Raka.
Ikfan menarik nafasnya dalam-dalam sebelum kembali bicara, "yaudah bang kalau gitu, saya pecaya sama bang Raka. Tolong jaga Alysa baik-baik, saya khawatir. Saya juga punya adik perempuan, rasanya sangat khawatir saja kalau adik saya juga ada dalam posisi seperti Alysa," kata Ikfan jujur.
Raka tersenyum—tanpa Ikfan tahu, "iya Fan, tenang saja. Alysa juga adik saya ko, sudah pasti saya akan menjaga dan melindungi dia," goda Raka jahil. Ia berniat ingin menggoda Ikfan yang saat ini sedang menunjukkan perhatiannya kepada adik kecilnya itu.
Ikfan tersenyum mendengar itu, "iya bang,"
"Yaudah, nanti setelah saya bicara dengan kedua orangtua saya. Saya akan hubungi kamu lagi," kata Raka.
"Iya bang, saya tunggu,"
"Oke kalau gitu, saya tutup ya telponnya," ucap Raka berniat menutup telponnya.
"Iya bang,"
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."