Dua Puluh Empat

1555 Kata
Sambil berbaring di atas kasur, tampaknya sebuah senyuman tak pernah luput dari bibir Ikfan. Ia nampak begitu bahagia setelah obrolan tadi pagi di meja makan—setelah sarapan. "Ikfan ingin menikah," Mendengar itu, Hata, Rita, Rusdi, dan Nayla terkejut bukan main. Berbeda dengan Arkan yang justru malah terlihat tenang—tak menunjukkan ekspresi keterkejutan sama sekali. "Kamu.. kamu.." Rita nampak tak percaya. "Apa maksud kamu Fan? Jangan bercanda ya," kata Hata. "Emm.. gini yah, bun.. maaf.." Ikfan gelagapan dan tegang menjadi satu. "Maaf apa? Kamu bercanda maksudnya?" tanya Rita menuntut. "Ikfan, kalau ngomong yang bener," peringat Rusdi yang melihat cucunya ragu untuk berucap. Merasa belum siap untuk jujur, akhirnya Ikfan menyerah dan berinisiatip untuk bilang bahwa ia hanya bercanda, namun sebelum Ikfan angkat bicara, tiba-tiba Arkan mendahuluinya. "Ikfan udah ke rumah Alysa waktu ke Bandung," celetuk Arkan. Mendengar itu, semua yang ada di sana semakin terkejut. Terutama Rita. "Apa? Alysa?" tanya Rita terkejut dengan sorot mata yang berbinar. Ikfan menatap Arkan geram. Sedangkan yang ditatap terlihat tak peduli dan terkesan tenang. "Waktu ke Bandung?" Rusdi membeo bingung. "Apa itu benar Ikfan?" tanya Hata serius menatap wajah Ikfan. Ikfan semakin gugup ditanya demikian, namun bukan Ikfan namanya kalau tidak pandai menyembunyikan ekspresinya saat ini. "Kamu beneran udah ketemu gadis impian kamu itu?" tanya Rita antusias. "Gadis impian? Apa maksud kamu Rita?" tanya Rusdi bingung. Rita mesem menatap Ikfan seraya menjawab pertanyaan mertuanya. "Begini pah, dulu saat masih SMA, Ikfan itu naksir sama perempuan. Temen sekolahnya sendiri. Katanya, perempuan itu berbeda dari yang lain. Sosoknya yang agamis, membuat Ikfan penasaran." Ikfan menatap bundanya tak percaya. "Bun, Ikfan gak bilang gitu ya." "Gak bilang gitu, tapi kurang lebih begitu, 'kan?" timpa Rita menyeringai jahil. "Jadi kamu sempat ke Bandung dan gak nyempetin berkunjung ke rumah kakek di sana, Fan?" tanya Rusdi. Ikfan menyengir kuda. "Hehe, maaf kek. Waktu itu Ikfan mepet banget. Dan.. karena berkunjung ke rumah Alysa, Ikfan jadi sama sekali gak kepikiran buat ke rumah kakek," jawabnya jujur. "Jadi tadi benar yang di bilang abang kamu?" tanya Hata kembali pada topik awal. Ikfan mengangguk walau ragu. "Iya, yah." "Coba ceritakan detailnya bagaimana Fan, ayah masih bingung. Ko bisa kamu datang berkunjung ke rumah Alysa, gadis yang kamu maksud itu," kata Hata. Ikfan menghela nafas seraya melihat satu persatu anggota keluarganya yang kini menatapnya serius. "Jadi gini.. waktu Ikfan di Bandung, Ikfan gak sengaja ketemu Alysa di toko buku. Walaupun dia pakai cadar, tapi Ikfan masih bisa kenal dan hapal dia bagaimana sebab waktu sebelum ketemu di toko buku, Ikfan sempat lihat gadis bercadar yang dipanggil oleh temannya saat di mall dengan menyebut nama 'Alysa', awalnya Ikfan pikir dia bukan Alysa yang dulu teman SMA Ikfan, tapi saat Ikfan ke toko buku, Ikfan gak sengaja ketemu gadis bercadar itu lagi dan sempat berinteraksi formal karena kepentingan membeli buku waktu itu," Ikfan menjeda sejenak ucapannya, "terus.. waktu Ikfan berinteraksi sama dia, gak tau kenapa suara gadis bercadar itu gak asing bagi Ikfan. Hingga akhirnya Ikfan ingat gadis bercadar di mall yang dipanggil 'Alysa' oleh temannya, dan gadis bercadar yang sama di toko buku itu, juga suaranya yang bagi Ikfan gak asing. Dari situ Ikfan baru sadar bahwa dia adalah 'Alysa', teman SMA Ikfan." Ikfan membuang nafasnya lega setelah berbicara panjang lebar. Hata, Rita, Rusdi, Arkan, dan Nayla tak bergeming, mereka hanya menyimak ucapan Ikfan dengan serius. "Alysa pakai cadar?" tanya Rita setelah terdiam. Ikfan mengangguk, "iya." "Terus.. ko bisa kamu dateng ke rumahnya?" tanya Rusdi. "Iya karena waktu itu Ikfan sempat ngobrol juga sama Alysa dan nanya alamat rumahnya.. ceritanya panjang pokoknya. Dan yang jelas Ikfan sama abangnya Alysa sudah membuat kesepakatan," akhirnya Ikfan putus asa untuk menjelaskan kronologis kejadian di rumah Alysa, hingga ia langsung bicara pada intinya saja. "Kesepakatan apa maksudnya?" tanya Rita bingung. "Alysa itu punya kakak laki-laki, namanya bang Raka. Saat Ikfan dateng ke rumah Alysa dengan alasan hanya untuk pamitan karena mau pulang lagi ke Jakarta, ternyata abangnya itu udah curiga dan tau gelagat Ikfan yang memang memiliki maksud lain selain alasan itu," "Terus?" tanya Hata menuntut. "Karena bang Raka juga memang tahu hubungan Ikfan sama Alysa waktu masih SMA—" "Hubungan? Kamu pacaran waktu SMA?" sela Rusdi terkejut. "Ehh.." Ikfan terkesiap dengan respon kakeknya,"bukan kek, ya Allaah.. ngga kek. Ikfan gak pacaran. Cuma.. ya gitu kek, Ikfan pernah deketin Alysa tapi Alysa tolak," "Kelewatan kamu Ikfan," Rita terlihat kesal. "Ngga ko bun, maksud Ikfan deketin Alysa waktu itu bukan untuk pacaran," "Jadi gimana?" tanya Hata ambigu. Ikfan menatap Hata bingung, "gimana.. maksudnya?" "Kesepakatan apa yang udah kamu buat sama abangnya Alysa?" Ikfan terdiam untuk sesaat. "Mm... jadi kata bang Raka, kalau Ikfan serius sama Alysa ya Ikfan bilang dulu soal ini sama orangtua Ikfan, kalau sudah begitu baru hubungi bang Raka lagi," "Hubungi?" Rusdi membeo. "Iya kek, sesudah membuat kesepakatan, Ikfan sama bang Raka saling tukeran kontak," "Jadi kamu udah punya kontak abangnya Alysa?" tanya Rita antusias. Jujur, sejak tahu Ikfan dan Alysa kembali bertemu, ia merasa sangat senang, karena memang sejak dulu ia sudah menyukai sosok Alysa walau hanya mendengar dari ceritaannya saja oleh anak keduanya itu. Ikfan mengangguk, "iya bun." Hata dan Rusdi saling melihat sejenak. "Jadi kamu maunya bagaimana?" tanya Hata serius menatap Ikfan. Ikfan terdiam. "Kamu ingin segera menikah?" tanya Hata lagi yang paham perasaan anaknya. "Emm.. bisa di bilang begitu. Karena Ikfan gak nyaman liat Alysa mesti berkeliaran di Bandung, entahlah.. Ikfan.." Ikfan nampak bingung menjawab. "Kakek setuju bila gadis itu shalihah dan semanhaj dengan kamu," kata Rusdi. Ikfan menatap Rusdi, "insyaa Allaah, Alysa semanhaj dengan Ikfan." "Jadi.. bang Ikfan mau nikah?" tanya Nayla heboh. Rita mesem sambil menatap Ikfan. "Gimana bang? Itu adeknya nanya?" godanya. Ikfan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "emm.. gimana ya.." "Gimana apanya maksud kamu? Kamu beneran gak sama niat kamu kepada Alysa?" tanya Hata gemas pada anak keduanya ini yang terkesan malu-malu kucing. Ikfan tersenyum malu. "Insyaa Allaah, Ikfan akan menikahi Alysa jika ayah, bunda dan semuanya merestui Ikfan. Ikfan akan menghubungi bang Raka," Arkan yang sejak tadi bungkam, kini ia merasa lega. Akhirnya Ikfan mau jujur kepada kedua orangtuanya. Pasalnya Arkan sendiri sebagai kakak Ikfan, ia merasa khawatir. Ia tidak ingin adiknya itu terus memikirkan perempuan yang bukan mahramnya. "Seperti yang dibilang kakek kamu, jika dia semanhaj dan baik agamanya. Kami merestui kamu," kata Hata seraya tersenyum hangat kepada Ikfan. "Bunda juga," Rita tersenyum. "Gue bilangnya gimana ya sama bang Raka?" tanya Ikfan monolog sambil menatap layar ponselnya yang menunjukkan room chat-nya dengan Raka. Tok..tokk..tokk.. Suara ketukan pintu kamarnya itu membuat Ikfan segera menaruh ponselnya di atas meja dan mulai berjalan mendekati pintu. "Bunda," ucap Ikfan ketika mendapati Rita yang mengetuk pintu kamarnya. Rita tersenyum lalu masuk ke kamar anaknya tanpa menunggu yang empunya mempersilahkan. "Gimana nak? Sudah hubungi Rakanya?" tanya Rita setelah mendudukan dirinya di tepi ranjang Ikfan. Ikfan mengambil duduk di bangku belajarnya yang berhadapan dengan Rita. "Belum bun, baru mau." Rita mesem, "jadi beneran kamu udah ketemu Alysa? Aduh.. bunda gak nyangka, bunda jadi senang," Ikfan tersenyum, "iya bun, alhamdulillaah." "Kata bunda juga apa, ikhtiar cari Alysanya, ketemu juga 'kan akhirnya setelah lama pisah," "Mm, iya bunda." "Yaudah, cepet hubungi Rakanya. Biar kamu juga bisa melangkah lebih serius." Mendengar itu seketika raut wajah Ikfan berubah menjadi agak murung, dan Rita yang melihat perubahan ekspresi anaknya itu. Ia khawatir. "Ada apa Fan? Ko mukanya jadi ditekuk gitu?" tanya Rita lembut sebari menyentuh tepi atas telapak tangan Ikfan. Ikfan menatap Rita. "Mm.. Ikfan sedikit khawatir bun, selama ini Ikfan gak tau banyak soal Alysa. Bahkan waktu di SMA Ikfan gak pernah kenal dia, begitu juga dianya bun. Ikfan juga gak tau kenapa tiba-tiba Ikfan bisa suka sama Alysa, padahal gak pernah kenal apalagi dekat.. yang Ikfan khawatirkan.. Ikfan takut Alysa lagi menyukai lelaki lain di kampusnya sekarang." Ikfan semakin menekuk wajahnya setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Rita tersenyum hangat sebari mengusap tepi atas telapak tangan Ikfan, "Fan, qodarullaah jika semua tentang perasaan kamu kepada Alysa tiba-tiba ada, asalkan kamu tidak mengarahkan perasaan itu ke jalan yang salah. Sudah menjadi fitrah baik bagi laki-laki atau perempuan menyukai lawan jenisnya," ujarnya. Ikfan tak bergeming, namun ia menyimak ucapan bundanya. "Soal perasaan Alysa sendiri, kamu tidak perlu khawatir. Bertawakkal dan gantungkan-lah harapan kamu hanya kepada Allaah. Yang terpenting niat kamu kepada Alysa itu baik, dan hanya ingin mencari jalan yang diridhai oleh Allaah. Ditolak atau diterima, jika kita sudah ikhlas dari awal melakukan sesuatu itu hanya semata-mata karena Allaah, insyaa Allaah apapun takdir akhirnya, kamu pasti akan bisa menerimanya dengan ikhlas," ujar Rita menasihati. Ikfan merasa ada sebuah terpaan angin yang sangat menyejukkan hatinya setelah mendengar nasihat dari bundanya tersebut, ia membenarkan ucapan bundanya, tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Toh apapun takdir yang Allaah tentukan sudah pasti baik bagi hamba-Nya. "Iya bun, makasih nasihatnya," ucap Ikfan seraya memeluk bundanya dengan penuh kasih sayang. Rita tersenyum sambil mengelus punggung anaknya itu dengan lembut, "sama-sama, nak." Rita melerai pelukan Ikfan untuk menatap wajahnya, "udah ah melownya. Cepet hubungi Rakanya," titahnya seraya tersenyum jahil. Ikfan tersenyum, "iya bun." "Yaudah kalau gitu, bunda mau ke bawah lagi ya. Jika sudah menghubungi Raka, bilang itu pada ayah, bunda, dan kakek." Ikfan mengangguk, "iya." Tak lama dari situ Rita pun beranjak pergi meninggalkan Ikfan yang masih duduk di bangku belajarnya. Kemudian Ikfan mulai kembali meraih ponselnya—yang tadi disimpan di atas meja. Tak lupa ia juga kembali berpikir keras tentang perkataan apa yang baik untuk memulai obrolan dengan calon kakak iparnya tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN