Dua Puluh Tiga

1217 Kata
"Mau sampai kapan si lo kayak gini?" Arkan geram pada Ikfan yang tak kunjung memberitahu perihal Alysa kepada kedua orangtuanya. Pagi ini dihari libur, adik dan kakak itu tengah berada di halaman depan rumah mereka. Ikfan menghela nafasnya, dan enggan menjawab pertanyaan Arkan. "Kalau lo terus ragu, terus bikin abangnya Alysa lama nunggu, gue gak yakin tawarannya ke lo bakal berlaku lagi. Gue juga sebagai kakak kalau ada cowo macam lo ke Nayla begini, gue gak terima. Dikira tawaran itu main-main apa!!" Arkan berkata tegas bercambur marah. Ikfan masih bungkam, tapi hati dan pikirannya sedang melayang-layang tak karuan. "Sarapan ini gue ingin lo bilang sama ayah dan bunda," "Di depan kakek juga?" tanya Ikfan spontan sambil menatap Arkan. Memang benar, sejak kedatangannya sore kemarin. Rusdi memutuskan untuk menginap di rumah Hata. "Iya." Ikfan kembali bungkam dengan pandangan yang menatap kosong ke depan. "Gue tunggu di meja makan," Arkan berlalu dari sana setelah mengucapkan kalimat tersebut kepada Ikfan yang masih terdiam di tempatnya. Sedangkan Ikfan sendiri, setelah berlalunya Arkan, ia mengusap wajahnya frustasi. "Aarrgghhh!! Kenapa serumit ini sih!!" umpatnya. ▪▪▪▪▪▪ "Fan, kakek ingin bicara sama kamu," Rusdi mengucapkan kalimat ini tatkala aktivitas sarapannya dengan keluarga kecil Hata telah selesai, namun masih berkumpul di meja makan. Bahkan Rita yang mendengar mertuanya berkata demikian, ia terhenti seketika saat tengah membereskan piring-piring yang telah digunakan untuk sarapan. Ikfan menatap kakeknya heran, "bicara apa kek?" "Apa rencana kamu setelah lulus kuliah?" tanya Rusdi to the point. "Hah?" Ikfan terkesiap dengan pertanyaan kakeknya. "Rencana? Rencana bagaimana maksudnya kek?" Bukan apa-apa sebenarnya, hanya saja pertanyaan ambigu dari kakeknya ini, Ikfan merasa ada sangkut-pautnya dengan menikah. Lagian rencana awal gue setelah lulus kuliah 'kan emang mau nikah. Batin Ikfan. "Ya rencana hidup kamu mau bagaimana?" tanya Rusdi lagi. Saat itu Hata, Rita, dan Nayla hanya diam menyimak obrolan Ikfan dan kakeknya yang ada di hadapannya. Sedangkan Arkan, ia terlihat tak peduli dengan itu. Ia malah menyibukkan diri dengan ponselnya. Ikfan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Mm.. gimana ya kek. Ikfan sendiri juga masih bingung," lirihnya. Sebenarnya Ikfan ingin menjawab bahwa ia ingin menikah. Namun entahlah, rasanya lidahnya masih terasa kelu untuk mengucapkan hal itu. "Begini Fan, sebetulnya kedatangan kakek ke sini selain melepas rindu dengan kalian semua, kakek juga ingin bicara soal pekerjaan sama kamu," Rusdi mulai bicara sesuatu yang sejak tadi ingin ia bicarakan kepada cucunya tersebut. Mendengar kata "pekerjaan", seketika Arkan mematikan ponselnya dan mulai ikut menyimak obrolan kakeknya. "Pekerjaan?" Ikfan membeo bingung. "Hmm. Kamu tau 'kan di Bandung kakek sama paman kamu punya usaha apa. Kebetulan karena saat ini paman kamu Rian lagi sibuk-sibuknya dengan produksi barang, yang mengawasi keuangan toko usaha kakek di sana cukup kurang stabil," terang Rusdi. "Loh, bukannya papah yang bagian mengawasi keuangan toko ya pah? Ko bisa begitu?" kali ini Hata mulai turut andil dalam obrolan tentang pekerjaan itu bersama anak dan papahnya. "Memang sih, hanya saja kamu tau lah Ta, papah ini 'kan sudah lanjut usia, bahkan akhir-akhir ini kesehatan mata papah kurang baik. Jadi bapak sedikit gak fokus juga kewalahan dengan perkerjaan itu. Terlebih ini urusan mengawasi keuangan, cukup pusing juga papah karena terus menghitung pengeluaran dan pemasukan toko," "Emang paman Rian benar-benar sibuk dengan urusan produksi kek? Kalau Arkan boleh bantu, insyaa Allaah Arkan ingin mengganti bagian produksi itu, biar paman Rian yang gantiin kakek ngurusin bagian keuangan." Arkan mulai angkat bicara. "Kamu ini ngomong apa? Gantiin bagaimana? 'Kan sekarang kamu lagi kerja di sebuah perusahaan sama ayah kamu," kata Rusdi. Arkan melirik ke arah ayahnya sekilas, "iya sih kek, tapi insyaa Allaah ga akan apa-apa. Disambil aja," "Gak bisa Arkan, toko usaha kakek itu di Bandung. Sedangkan perusahaan tempat kerja kamu di Jakarta. Ya kali kamu mesti bulak-balik Jakarta-Bandung, nanti kapan nikahnya kalau sibuk begitu?" ucapan Rusdi ini malah membuat Arkan jengah. Nikah lagi 'kan. Batin Arkan menggerutu. Rita tersenyum, "iya nih, kerja di perusahaan aja udah bikin sulit nemuin calon istri, apalagi kalau ditambahin gini," Arkan tak bergeming. Ia malah kembali memasang wajar datarnya jika sudah membicarakan soal dirinya yang kapan akan menikah. "Jadi jika kamu belum memiliki rencana untuk bekerja setelah lulus kuliah, bagaimana jika kamu bekerja di tempat kakek saja, gantiin kakek ngawasin keuangan," ucap Rusdi menatap Ikfan yang terdiam. "Gimana ya kek.. Ikfan memang belum punya rencana untuk bekerja setelah lulus. Tapi.. Ikfan sudah punya rencana untuk buka usaha kedai sama teman," kata Ikfan. Mendengar itu, Hata, Rita, dan Arkan menatap Ikfan terkejut. Sementara Nayla hanya terdiam—tak berniat ikut andil dalam obrolan soal pekerjaan. "Apa Fan? Punya rencana usaha buka kedai? Kedai apa? Ko belum bilang sama ayah?" tanya Hata menuntut. Hata terkejut, pasalnya anak keduanya ini tidak penah membicarakan soal buka kedai ini dengannya. "Iya Fan, ko gak bilang sama ayah dan bunda?" giliran Rita yang kali ini bertanya pada anak keduanya itu. Ikfan tersenyum malu melihat reaksi kedua orangtuanya, "ya gimana ya.. soalnya ini masih rencana yah, bun. Jadi memang Ikfan sama Andre, temen kuliah Ikfan, mau buka kedai kopi di dekat kampus. Kedai itu sebetulnya milik ayah Andre, tapi Andre bilang karena kedai itu termasuk cabangnya, jadi ayahnya ingin Andre yang nantinya pegang kedai itu." "Terus kamu?" tanya Rusdi. "Ya terus karena Andre ngerasa gak bisa pegang itu sendirian, jadi dia ajakin Ikfan buat ngembangin usaha itu bareng-bareng. Andre juga sudah membicarakan soal ini sama ayahnya dan ayahnya setuju. Lagian memang Ikfan juga sudah kenal dekat dengan keluarga Andre sejak bersahabat di kuliah," jawab Ikfan tenang. Rusdi mengangguk paham. "Jadi setelah lulus kuliah kedai itu baru akan dibuka?" tanya Hata. "Mm.. rencananya sih setelah semester enam berakhir kedai itu akan dibuka, karena kata Andre kelamaan kalau nunggu lulus, jadi disambil aja gitu," "Kakek salut sama kamu Fan, masih muda tapi sudah mulai membuka usaha. Kakek bangga sama kamu!" kata Rusdi sambil menepuk pundak Ikfan pelan. Ikfan mesem, "iya begitulah." "Terus soal yang pegang keuangan usaha papah bagaimana?" tanya Hata. Mendengar pertanyaan ayahnya, Ikfan merasa kakeknya ini memang sedang benar-benar membutuhkan bantuannya. "Mm.. begini kek, bagaimana jika setelah lulus kuliah Ikfan aja yang gantiin posisi kakek di toko?" sebelum Rusdi menjawab pertanyaan anaknya—Hata—Ikfan lebih dulu mengajukan penawaran kepada kakeknya itu. "Kamu yakin?" tanya Rusdi. "Insyaa Allaah kek, lagian lumayan 'kan, tambahan keuangan buat nanti hidupin anak dan istri Ikfan," jawab Ikfan asal. Mendengar itu Hata, Rita, dan Rusdi mesem. Sementara Arkan dan Nayla memutar kedua bola matanya jengah. "Abang ini kalau jawab asal mulu," celetuk Nayla. Ikfan terkekeh, "siapa yang jawab asal. Orang emang bener gitu, ya 'kan bun?" timpa Ikfan sambil meminta dukungan bundanya. Rita tersenyum, "iya deh, iya." Rusdi ikut tersenyum, "baiklah kalau begitu, kakek setuju." Ikfan tersenyum senang, "oke kek." "Semoga usaha kamu dan teman kamu itu juga lancar ya," do'a Rusdi. "Aamiin kek," Ikfan mengaamiinkan. Saat Ikfan melihat ke arah Arkan, entah kenapa ia merasa Arkan tengah menatapnya geram. Hingga akhirnya setelah meresapi maksud tatapan kakaknya itu, Ikfan pun paham dan mulai sedikit gugup. "Emm.. yah, bun, kek. Ikfan juga mau bicara sesuatu sama kalian," kata Ikfan lirih. Mendengar itu, Hata, Rita, dan Rusdi langsung menatap Ikfan heran. "Bicara apa, nak?" tanya Rita. "Iya, mau bicara apa kamu?" tanya Hata. Sementara Rusdi hanya menatap intens cucunya itu yang terlihat mulai tegang. Sambil menarik nafasnya dalam-dalam, Ikfan mulai menjawab suatu jawaban yang membuat semua orang yang ada di sana cukup terkejut bukan main. "Ikfan ingin menikah,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN