Sore ini di kediaman Ikfan sedang kedatangan tamu, yang tak lain adalah Rusdi—kakeknya. Rusdi berkunjung datang ke rumah anaknya—Hata—untuk melepas rindu terhadapnya, menantu, dan juga cucu-cucunya. Saat Rusdi datang, di sana hanya ada Haris, Rita, Arkan, dan Nayla. Sedangkan Ikfan, ia tidak ada. Saat itu Ikfan masih berada di kampusnya—kumpul BEM—setelah kelas usai.
"Jadi Ikfan selalu pulang larut malam?" tanya Rusdi ketika duduk di ruang tamu bersama keluarga kecil Hata.
Hata mengangguk, "iya, pah. Anak itu selalu disibukkan dengan aktivitas kampusnya."
Rusdi membuang nafasnya berat, "hati-hati, Ta. Awasi setiap gerak-gerik anakmu. Ikfan seorang lelaki, sangat rawan bagi dia berlama-lama di luar rumah. Terutama lingkungan kampus. Ingat, berbagai fitnah dizaman ini begitu banyak, bahkan terlihat samar pun ada," nasihatnya kemudian.
Hata kembali mengangguk. "Iya, pah. Hata mengerti. Hata selalu mengawasi dan mendidik anak dan istri Hata ko."
Rusdi tersenyum. "Alhamdulillaah kalau begitu." Rusdi menatap Arkan yang duduk di samping kursinya, "kamu sendiri bagaimana, Kan? Sudah ada calon?" tanyanya pada Arkan.
Mendengar itu Arkan menyengir kuda. "Hhe, belum ada kek. Masih sendiri."
Rusdi mendengus, "haduh.. kamu ini bagaimana? Kamu sudah kerja, sudah memiliki ilmu agama yang cukup, mampan pula, menunggu apalagi?" Rusdi terheran.
Arkan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "ya mau bagaimana lagi kek, Arkan belum nemu jodoh yang pas dengan Arkan. Terlebih Arkan 'kan ingin memiliki istri yang semanhaj dengan Arkan. Arkan gak mau gegabah dalam memilih calon."
"Ya kamu 'kan bisa ikut biro jodoh," saran Rusdi sambil menyeringai jahil.
Mendengar kakeknya berucap demikian, seketika Hata, Rita, dan Nayla terkekeh kecil. Sementara Arkan malah memasang wajar datarnya.
"Ya kali kek, keliatan banget Arkan gak lakunya sampe-sampe minta tolong ke biro jodoh " celetuk Arkan sekenanya.
"Husss.. gak semua yang ke biro jodoh itu gak laku Arkan," sanggah Rita pada ucapan anaknya itu.
Arkan kembali menyengir kuda, "iya juga sih."
"Dengar Arkan, biro jodoh itu sekarang sudah banyak yang menawarkan dengan yang semanhaj. Kamu tau, 'kan?" tanya Rusdi.
Arkan mengangguk, "iya."
Rusdi menghela nafasnya, "jika tidak mau ke biro jodoh, maka segera kamu ikhtiar cari calon istri yang semanhaj. Jangan diam saja. Dengar Arkan, kamu ini lelaki, fitnah wanita dizaman ini sungguh menyambar-nyambar. Maka menikahlah, nak. Kakek rasa kamu sudah mampu."
Arkan terdiam mencerna perkataan kakeknya.
"Rita juga sudah memberitahu dia begitu, pah. Tapi anaknya aja yang gak mau dengerin," kata Rita.
"Arkan gak mau dengerin, bun. Tapi Arkan memang sedang usaha juga kok. Hanya saja, ini bukanlah hal yang mudah. Arkan masih butuh waktu," ujar Arkan menjelaskan.
"Butuh waktu berapa lama?" tanya Rusdi serius.
"Entahlah, kek." Jawab Arkan lemas.
Rusdi kembali menghela nafasnya, "kakek tunggu, Arkan. Ber-ikhtiarlah dengan benar, dengan penantian yang benar pula."
Arkan tersenyum tipis pada kakeknya, "iya, kek."
"Assalamu'alaikum." Suara khas itu tiba-tiba menggema di ruang tamu.
Semua menoleh ke arah sumber suara seraya menjawab salamnya.
"Wa'alaikumussalam."
"Ikfan," ucap Rita tatkala melihat anak keduanya berdiri di ambang pintu.
Ikfan tersenyum seraya berjalan memasuki rumahnya dan menyalimi semua orang yang ada di sana.
"Kakek," ucap Ikfan yang senang melihat kehadiran kakeknya.
Rusdi tersenyum, "hmm, ya. Ini kakek."
Tanpa sungkan, Ikfan langsung memeluk tubuh kakeknya itu. "Maa syaa Allaah, kek. Ikfan kangen, kapan kakek datang?" tanyanya kemudian setelah melepas pelukannya.
"Tadi ba'da ashar," jawab Rusdi.
Ikfan mengangguk paham, "datang sama siapa kek? Zahra gak ikut?"
Zahra adalah anak dari bibinya—adik Hata—Wina. Zahra sendiri seumuran dengan Ikfan dan merupakan saudara perempuan yang sangat dekat dengannya.
Rusdi menggelengkan kepalanya lemah, "ngga, dia sama bundanya di Bandung."
Tempat tinggal Rusdi sebenarnya berada di Bandung, ia tinggal bersama anak keduanya—Wina—juga menantu dan cucunya. Di sana Rusdi bersama menantu keduanya—Rian-—yang tak lain adalah suami Wina, mereka merintis sebuah usaha toko material beban bangunan berat dan sebuah toko roti. Toko roti sendiri di pegang oleh Wina dan Zahra. Dan saat ini Rusdi datang seorang diri ke Jakarta hanya untuk melepas rindu dengan keluarga kecil anaknya yang pertama—Hata.
Mendengar itu Ikfan kembali mengangguk paham.
"Kangen ya sama Zahra?" tanya Arkan.
Ikfan menoleh Arkan datar, "Ape si lo!"
Arkan terkekeh.
"Kalian belum berubah," ucap Rusdi yang melihat tingkah kedua cucunya yang masih sama seperti dulu.
"Iya tuh, kek. Bang Arkan sama bang Ikfan itu sering gitu, ke kanak-kanakkan." Adu Nayla.
"Nayla," desis Rita pelan yang duduk di sebelah anak bungsunya itu.
Nayla menyengir kuda, "emang gitu faktanya 'kan, bun?" tanyanya polos.
"Bagaimana kabarmu, Fan?" tanya Rusdi pada Ikfan tanpa menghiraukan ucapan Nayla.
"Ikfan baik kek," jawab Ikfan sambil berpindah posisi duduknya di sebelah ayahnya.
"Kamu ikutan BEM kampus?" tanya Rusdi lagi.
"Ya begitulah kek," jawab Ikfan santai.
"Menjabat jadi apa? Ketua kayak abang kamu dulu?"
"Bukan kek, Ikfan males banget kalau harus jadi ketua BEM. Ikfan di sana menjabat jadi ketua divisi sosialisasi aja."
Rusdi mengangguk paham, "selalu pulang larut malam?"
"Hmm, akhir-akhir ini BEM banyak kegiatan jadi setelah kelas selesai Ikfan selalu harus kumpul BEM dulu sebelum pulang."
"Tugas kuliahnya bagaimana? Apa gak keteter?" Rusdi terkesan seperti wartawan karena banyak bertanya pada Ikfan.
"Insyaa Allaah ngga kek, Ikfan selalu berusaha membagi waktu dengan baik," jawab Ikfan kalem.
"Yakin?"
Ikfan mengangguk, "yakin kek."
"Belajar agamanya bagaimana?" tanya Rusdi dengan alis yang terangkat satu.
Mendengar itu seketika Ikfan menyegir kuda, "ya gitu lah kek," lirih Ikfan ragu.
"Sudah kakek duga." Rusdi beralih menatap Hata—anaknya—setelah menatap Ikfan. "Ta, bagaimana kamu ini? Anak terlalu disibukkan dengan urusan dunia, bagaimana dengan urusan akhiratnya? Belajar agamanya bagaimana?" tanyanya menuntut.
Hata menghela nafasnya. "Ya bagaimana lagi kek, anaknya maunya begitu. Tapi.. Hata selalu menyuruhnya ke kajian sunnah ko, disaat waktunya sedikit santai dari aktivitas kuliahnya."
"Waktu santai bagaimana, belajar ilmu agama itu wajib. Ilmu dunia memang perlu, tapi jangan lupakan juga dengan kewajiban kita menuntut ilmu yang syar'i," kata Rusdi terdengar protes.
Mendengar itu, semua tak bergeming.
"Dulu kakek sudah sarankan agar kamu masuk LIPIA saja, tapi kamunya ngeyel, jadi aja gini belajar agamanya disaat waktu luang. Itu tidak tepat Ikfan, justru kita itu harus meluangkan waktu untuk belajar agama, bukan diwaktu luang. Salah itu." Rusdi kembali memberi nasihat pada Ikfan.
Ikfan terdiam, jujur dirinya tidak tahu harus bagaimana jika kakeknya sudah begini.
Rusdi menggelengkan kepala tak percaya, "didik mereka dengan baik lagi Hata, jangan kamu biarkan," tegasnya pada Hata.
Hata mengangguk patuh, "iya, pah."
"Nayla," ucap Rusdi beralih pada Nayla yang berhasil membuatnya terpelonjak kaget.
"Iya kek?" pekik Nayla spontan dan terlihat lucu.
Seolah mencairkan suasana, melihat wajah lucu Nayla ketika dipanggil oleh Rusdi, seketika semua yang berada di ruang tamu tersenyum.
"Kenapa kamu kayak yang kaget gitu kakek panggil?" heran Rusdi.
Nayla menyengir kuda. "Hhe, Nayla kaget kek. Habisnya kakek tiba-tiba sebut nama Nayla setelah ceramahin bang Ikfan," jawab Nayla polos tanpa ragu.
Mendengar Nayla bicara begitu, tak dapat dipungkiri lagi, keluarga kecil yang masih berada di ruang tamu itu kembali tersenyum bahkan terkekeh kecil.
"Nayla, mulut kamu itu ya," gemas Rita pada anak bungsunya.
Nayla tak menjawab, hanya cengiran kuda yang ia berikan.
"Nayla ingat, kamu juga jangan lupa belajar ilmu agama ya, nak. Apalagi kamu akhwat, kamu harus belajar dari sekarang, menuntut ilmu syar'i. Sebab, setelah menikah nanti kamu itu akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kamu." Nasihat Rusdi pada Nayla.
"Iya kek."