Hari kian berlalu, kini semakin hari Ikfan semakin tutup mulut tentang pertemuannya dengan Alysa ketika di Bandung. Ikfan masih enggan untuk membicarakannya dengan kedua orangtuanya. Sedangkan Arkan yang melihat itu, ia mulai gemas sendiri pada adiknya. Sebab setiap nasihat yang telah ia berikan kepada Ikfan, pasti selalu saja diabaikan.
Saat ini aktivitas Ikfan hanya disibukan dengan kegiatan kuliahnya, seperti pekerja keras. Ikfan pun selalu belajar keras demi mendapat IPK yang kian semester kian meningkat. Bahkan Ikfan selalu pulang larut malam hanya karena aktivitas BEM setelah kelasnya usai.
Seperti saat ini, tepat pukul lima sore Ikfan baru dapat pulang lebih awal dari jam biasanya—jam sembilan malam—setelah kumpul BEM. Saat keluar dari ruangan BEM, segera Ikfan berjalan menuju parkiran motor untuk pulang. Namun ketika ia menstarter motornya hendak melaju, seketika teriakan perempuan dari arah belakangnya menghentikannya dan beralih menolehnya.
"Kak Ikfan!!!!" teriak seorang gadis berambut hitam terurai panjang yang berpakaian feminim namun cukup terbuka.
Melihat tampilan gadis yang berteriak memanggil namanya itu, seketika Ikfan beristigfar sambil menggelengkan kepalanya lalu beralih menatap lurus ke depan. Astaghfirullaah.
"Hai, kak." Sapa gadis tersebut dengan lembut saat sudah berdiri tepat di samping motor yang Ikfan naiki.
Sambil membuang nafasnya berat, Ikfan melirik gadis yang berdiri di samping motornya melalui ekor matanya—hanya sebentar. Ikfan sama sekali tak berani menolehnya penuh, sungguh tampilan gadis yang berada di sampingnya itu benar-benar tak baik bagi jiwanya sebagai lelaki. Ia harus menundukkan pandangannya.
"Ada apa?" tanya Ikfan to the point.
Mendengar Ikfan bersuara, gadis berambut panjang itu tersenyum penuh arti, "kakak mau pulang ya?" tanyanya.
Ck, apa-apaan gadis ini. Pertanyaan yang tidak bermutu!! Batin Ikfan.
"Ya," jawab Ikfan singkat terkesan dingin.
"Mmm.. kenalin kak, namaku Kanaya Zilfa, anak Antropologi Sosial," ucap gadis itu mengenalkan diri.
Mendengar itu, Ikfan tak bergeming. Ia hanya diam dan masih menatap lurus ke depan. Sungguh, saat itu jantung Ikfan semakin berdetak kencang, bukan jatuh cinta tentunya. Melainkan terkejut karena mengetahui bahwa gadis yang kini ada di dekatnya adalah gadis yang pernah Andre ceritakan beberapa waktu lalu.
Cewek yang suka sama gue. Ikfan kembali membatin.
Ikfan memang tahu bagaimana sosok Kanaya yang selalu berpenampilan terbuka dan menarik perhatian kaum lelaki, ia mengetahui itu hanya dari mulut ke mulut teman-teman kampusnya saja yang selalu membicarakannya. Ikfan tidak pernah melihat sosok Kanaya sekalipun secara langsung, seperti sekarang ini.
Di sisi lain, melihat Ikfan tak bergeming, Kanaya mulai gemas sendiri hingga mulai terbesit dalam benaknya untuk menggoda Ikfan agar mau menatapnya.
"Kak, mm.. boleh tidak aku nembeng di motor kakak. Handphone-ku low bat, jadi aku gak bisa pesan ojol, naik angkot pun aku gak pernah karena gak tau jurusannya menuju ke rumah aku," ucap Kanaya berlaga so polos.
Mendengar Kanaya berkata demikian, Ikfan terkejut bukan main.
"Aa.. apa kamu bilang? Maksudnya kamu nyuruh saya antar kamu pulang gitu?" tanya Ikfan dengan nada terkejut dan tanpa ia sadari ia menatap lawan bicaranya.
Melihat reaksi Ikfan, Kanaya tersenyum.
"Iya, kak. Boleh, 'kan?" tanya Kanaya yang masih berlaga so polos.
Sadar akan apa yang baru saja ia lakukan, segera Ikfan kembali menatap lurus ke depan dan membuang nafasnya berat. Jujur, ia bingung. Di satu sisi ia tidak ingin berdekatan apalagi berboncengan motor dengan wanita non mahram, tapi di sisi lain melihat raut wajah meredup Kanaya, Ikfan tak tega. Harus bagaimana ini Ya Allaah?
"Bagaimana, kak?" Kanaya kembali bertanya dengan ekspresi memelas yang dibuat-buat.
Merasa tak ada pilihan lain akhirnya Ikfan mengangguk, "baiklah, saya antar kamu pulang. Tapi hanya antar, tidak yang lain-lain," ucap Ikfan dengan nada menekan di akhir kalimatnya.
Kanaya tersenyum senang, "serius kak? Gak papa?"
Dengan terpaksa Ikfan kembali mengangguk, "iya."
Yes, langkah awalku bagus juga. Ternyata naklukin kak Ikfan gak sesulit yang dibilang orang-orang. Batin Kanaya dalam diam.
Ya, sebetulnya saat itu Kanaya ingin berniat modus terhadap Ikfan. Ucapannya yang bilang bahwa handphone-nya low bat dan tidak tahu jurusan angkot. Itu semua hanya kebohongan semata, agar ia bisa pulang bersama Ikfan.
Tanpa ba bi bu lagi, Kanaya menaiki motor Ikfan yang berarti berboncengan motor dengannya. Merasa ada yang duduk di belakangnya, tubuh Ikfan menegang. Sungguh, ini kali pertama ia membonceng seorang akhwat selain keluarganya.
"Sudah?" tanya Ikfan terdengar serak, jujur ia sangat tegang dan tidak tahu harus bagaimana.
Di belakang Kanaya mengangguk antusias, "sudah, kak."
Sambil membuang nafasnya berat, Ikfan pun kembali menstarter motornya yang kemudian melaju pergi meninggalkan parkiran kampus.
Selama diperjalanan Ikfan tak henti-hentinya beristigfar, mimpi apa dia semalam hingga bisa-bisanya ia mengantar pulang seorang gadis yang berpakaian cukup menguji imannya saat ini.
"Rumah kamu ada dimana?" tanya Ikfan pada Kanaya ketika berada di lampu merah.
"Di perumahan komplek bumi asih nomer 12," jawab Kanaya yang tak sengaja merapatkan tubuhnya dengan Ikfan karena berbicara tepat di dekat telinga Ikfan.
Merasa situasinya semakin berbahaya, saat melihat lampu rambu lalu lintas berubah menjadi warna hijau. Segera Ikfan kembali melajukan motornya agar cepat sampai di tempat tujuan.
Selama diperjalanan, Ikfan juga mulai teringat sesuatu. Entahlah, disituasi yang kacau ini, Ikfan malah teringat dengan Alysa. Sungguh, saat itu tiba-tiba Ikfan merindukan sosok Alysa. Gadis yang menurutnya teduh bila mata memandang.
Maafkan aku Alysa. Batin Ikfan yang sebetulnya tidak mengerti kenapa ia sangat ingin meminta maaf pada Alysa.
▪▪▪▪▪▪
"Dek, kamu kenapa?" tanya Hanifah yang melihat Alysa terdiam.
Alysa menatap Hanifah, "ngga kenapa-napa ko teh, emang adek kenapa?"
Hanifah memutar matanya ke atas—seolah sedang berpikir, "entahlah, yang pasti teteh merasa akhir-akhir ini adek lebih banyak diam."
Alysa tak menjawab.
"Dek, kalau ada masalah cerita ya," ujar Hanifah yang menatap Alysa intens.
Alysa mengangguk, "iya, teh."
Ya Allaah, kenapa dengan hati ini? Ko rasanya ada perasaan yang gak enak. Batin Alysa yang bingung sendiri dengan perasaannya.
▪▪▪▪▪▪
"Makasih ya kak, udah anter aku," ucap Kanaya lembut saat sudah turun dari motor Ikfan dan berdiri sampingnya.
"Ini rumah kamu?" tanya Ikfan yang masih duduk di motornya sambil menatap rumah di depannya dengan tatapan aneh. Rumah itu terlihat sangat besar dan elegan.
"Iya kak, ini rumahku," jawab Kanaya yang masih bernada lembut dan terlihat so manis di depan Ikfan. "Mau mampir dulu, kak?" tawarnya kemudian.
Mendengar itu, refleks Ikfan menatap lawan bicaranya, "ga usah, ini juga bentar lagi mau magrib. Aku harus segera pulang." Tolaknya cepat.
Kanaya mengangguk, "yaudah kalau gitu, hati-hati ya, kak. Sekali lagi makasih," ucapnya sambil memberikan senyuman termanisnya kepada Ikfan.
Melihat ekspresi Kanaya, segera Ikfan beralih menatap motornya seraya menstarternya.
"Yaudah, saya pulang dulu. Assalamu'alaikum," pamit Ikfan sebelum pergi.
Sambil masih tersenyum manis Kanaya menjawab salam Ikfan.
"Wa'alaikumusslam."
▪▪▪▪▪▪
Setelah makan malam bersama, Ikfan lebih memilih mengurung dirinya di dalam kamar. Entahlah, saat ini ia ingin sendirian. Setelah usai mengerjakan tugas kuliahnya, tepat pukul sembilan malam, kini nampak Ikfan tengah duduk santai di atasnya kasurnya sambil bersandar di kepala ranjang. Sambil memainkan ponselnya juga, sesekali ia mendesah pelan tatkala teringat kejadian sore tadi.
"Gue udah nodain motor gue. Ngebonceng akhwat yang bukan mahrom," gumamnya.
"Aargghh!!" erang Ikfan frustasi sambil mengacak rambutnya.
Setelah sibuk dengan pikirannya, tak sengaja saat Ikfan sedang membuka daftar kontak w******p di ponselnya, ia membaca sebuah nama kontak yang membuatnya kembali teringat dengan sosok gadis yang sudah lama ia kagumi.
Bang Raka.
Itulah nama kontak yang mengingatkannya kembali dengan sosok Alysa. Perempuan yang sudah lama ia kagumi.
"Gimana ya kabar Alysa sekarang?" tanyanya monolog.
Dengan perasaan yang tak menentu, memberanikan diri Ikfan membuka roon chat-nya dengan Raka. Sungguh, jantungnya berdetak cepat tatkala melihat tanda online di sana.
"Tanya kabar gak ada salahnya, 'kan?" gumam Ikfan ketika berniat memulai chat dengan Raka.
Ikfan
Assalamu'alaikum.
Bismillaah, bang Raka ini Ikfan.
Dengan detak jantung yang semakin berpacu cepat, Ikfan menatap tegang room chat-nya dengan Raka. Ia menunggu tanda centang biru di sana dengan perasaan harap-harap cemas.
Raka
Wa'alaikumussalam, iya, Fan.
Satu balasan Raka yang sederhana itu membuat Ikfan mulai gelagapan. Relaks, Fan. Lo baru chat sama kakaknya aja udah tegang, apalagi sama Alysanya langsung. Batin Ikfan.
Ikfan
'Afwan bang, apa kabar?
Raka
Baik, alhamdulillaah. Kamu bagaimana?
Ikfan
Alhamdulillaah, baik juga, bang.
Raka
Bagaimana Fan, kenapa kamu chat saya? Sudah bicara dengan orangtuamu tentang obrolan kita waktu lalu?
Membaca itu, Ikfan semakin tegang bukan main. Apa yang harus ia ketik untuk membalas pesan Raka. Pasalnya, ia belum mengatakan apapun tentang Alysa kepada kedua orangtuanya.
Ikfan
Maaf bang, saya chat bukan untuk membahas soal itu dulu, saya masih butuh waktu. Saya hanya ingin bertanya tentang kabar. Bagaimana kabar Alysa, bang?
Raka
Apa maksud kamu? Jangan bilang kalau kamu belum membicarakan ini dengan orangtua kamu.
Ikfan
Maaf bang, memang belum. Tapi, insyaa Allaah saya akan bicara soal ini kepada kedua orangtua saya.
Raka
Fan, jika kamu masih ragu sebaiknya jangan hubungi saya terlebih dahulu.
Ikfan membuang nafasnya berat setelah membaca pesan Raka yang terakhir. Karena setelah Raka mengirim pesan itu, tanda online yang tadi tertera di sana pun kini sudah menghilang. Bahkan keterangan "terakhir dilihat" juga tidak ada, sepertinya Raka menonaktifkan notifikasi itu.
Ikfan sendiri tak berniat membalas pesan Raka, karena baginya jika saat itu Raka sedang berada di hadapannya sudah pasti ia tahu Raka akan berkata tegas dengan kalimatnya itu.
"Gue harus bicara dulu soal ini sama ayah dan bunda. Ya.. harus!" gumam Ikfan sambil memejamkan kedua matanya dan masih bersandar di kepala ranjang.
Tunggu aku, Alysa.