Dua Puluh

1095 Kata
Beberapa hari berlalu sejak saat sudah kembali ke Jakarta, kini Ikfan mulai kembali disibukkan dengan aktivitas kuliahnya seperti biasa. Bahkan sampai saat ini Ikfan belum juga membicarakan tentang pertemuannya dengan Alysa ketika di Bandung kepada ayah dan bundanya. Ikfan masih menutup mulut untuk membicarakan soal itu. Beberapa kali Arkan sudah memperingatkan agar Ikfan segera memberitahu ayah dan bundanya tentang Alysa, namun Ikfan selalu tak menghiraukan ucapan kakaknya itu. Bukan Ikfan tak peduli, tapi saat ini ia hanya ingin memantapkan hatinya terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh dan serius. Ikfan tidak mau kejadian waktu SMA terulang lagi, ingin mengenal Alysa namun hatinya belum mantap. Sedangkan di Bandung, Alysa juga nampak sudah melakukan aktivitasnya seperti biasa. Tidak mau terlalu memikirkan soal Ikfan, apalagi berharap padanya. Sebab sebaik-baiknya pengharapan itu hanya kepada Allaah Subhanahu Wata'ala. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى "Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih). Hadits ini mengajarkan bagaimana seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan memiliki sikap roja‘ (harap) pada-Nya." Mengenai makna hadits di atas, Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan do’a jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah (roja’) dan meminta ampunannya” (Syarh Muslim, 17: 2). Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam berkata, فالإلحاحُ بالدعاء بالمغفرة مع رجاء الله تعالى موجبٌ للمغفرة “Terus meminta dengan do’a dan memohon ampunan Allah disertai rasa penuh harap pada-Nya, adalah jalan mudah mendapatkan maghfiroh (ampunan).” Maka berdasarkan dalil di atas, telah terbukti bahwa sebaik-baiknya pengharapan hanya kepada Allaah Subhanahu Wata'ala. Sebab dengan berharap kepadaNya, kita akan mendapatkan ampunanNya serta kebaikkan lainnya. Dan karena itulah Alysa tidak mau terus berlarut-larut memikirkan tentang Ikfan sejak kedatangannya ke Bandung beberapa waktu lalu. Namun berbeda dengan Raka—kakaknya. Raka merasa gelisah tatkala mengingat obrolannya dengan Ikfan beberapa waktu lalu. Setelah bertukar kontak saat itu, hingga sampai saat ini ia dan Ikfan tidak pernah saling menghubungi. Bukan Raka tak mau memulai, tapi ia ingin melihat dulu seberapa seriusnya Ikfan dengan niatnya tersebut terhadap adik kesayangannya. Mungkin dengan sabar, Raka akan menunggu Ikfan. Tapi jika dalam kurun waktu yang lama Ikfan tak juga berkabar, maka Raka akan menganggap tawarannya waktu lalu sudah tidak berlaku lagi. Bagaimana pun juga Raka sangat menyayangi Alysa, ia tak ingin adik kesayangannya itu dipermainkan oleh para kaum laki-laki, termasuk Ikfan. "Dek, bulan depan Nesha mau nikah," ujar Hanifah saat sedang berada di dapur wisma bersama Alysa. Saat ini mereka tengah memasak makan siang untuk anak-anak di wisma. Alysa menatap Hanifah dengan wajah terkejut. "Apa teh? Bulan depan?" Hanifah mengangguk, "iya." "Kalau teteh kapan?" tanya Alysa. "Teteh masih belum tau, masih lama sih intinya." Alysa mengangguk paham. Sambil membuang nafasnya berat Hanifah berujar. "Huh... wisma akan berkurang satu anggota, dek." Alysa bungkam namun tangannya masih tetap aktif melakukan aktivitas memasaknya. "Nesha sama teteh, sidang dua minggu lagi." Kata Hanifah. Alysa menatap Hanifah dengan tatapan yang sendu. "Tapi teteh gak akan pindah 'kan setelah sidang selesai?" "Kemungkinan pindah sih dek, soalnya ibunya teteh pasti butuh teteh di rumah." "Tapi 'kan wisma butuh mengajar teh, teteh juga 'kan ada tanggung jawab ngajar bahasa Arab di Mahad Ash-Siddiq." Hanifah tersenyum tipis. "Itu dia, itu yang lagi jadi pikiran teteh. Kayaknya teteh harus diskusiin ini dulu sama ibunya teteh." Alysa mengangguk, "iya teh, memang harus didiskusiin dulu, soalnya kasian juga yang lain yang jadi anak didik teteh, mereka masih membutuhkan ilmu dari teteh." Hanifah kembali tersenyum. "Hmm iya dek, do'ain teteh ya. Apapun keputusannya nanti semoga Allaah selalu memudahkannya." "Aamiin." Alysa mengaamiinkan. ▪▪▪▪▪▪ "Fan lo mau tau gak?" tanya Andre saat sedang berada di ruang BEM bersama Ikfan. Ikfan menatap Andre datar, "apa?" "Ada cewe cantik di fakultas kita," jawab Andre sambil menyeringai aneh. Mendengar itu, Ikfan nampak biasa saja. Tak menunjukan ekspresi tertarik dengan perempuan cantik yang Andre bicarakan. "Dia anak jurusan Antropologi sosial, fakultas ilmu sosial dan politik kayak kita," tambah Andre. Ikfan tak bergeming, ia hanya terus fokus membaca proposal untuk kegiatan BEM. "Namanya Kanaya Zilfa. Yang bikin semua orang heboh, ternyata dalam diam dia itu mencintai lo, bro," kata Andre lagi yang kali membuat Ikfan terkejut. "Apa lo bilang?" "Iya Fan, sefakultas tau kalau si Kanaya itu suka sama lo," jawab Andre. "Gak usah ngomongin hal yang gak penting deh, gue sama sekali gak tertarik," kata Ikfan terkesan tegas. "Serius lo gak bakalan tertarik sama si Kanaya? Dia itu cantik bro, huaaah.. seneng kayaknya gue kalau bisa nikahin dia," celetuk Andre enteng. "Yaudah, lo nikahin aja dia," timpa Ikfan yang kembali sibuk membaca proposal kegiatan BEM. "Ya gak bisa-lah, Fan. Dianya 'kan sukanya sama lo. Ya kali gue nikahin cewe yang mencintai sahabat gue sendiri. Bisa nyesek gue." Ikfan kembali tak bergeming. "Lagian ya Fan, dia itu cantik, pinter, aktif, dan.. ah pokoknya perfect lah. Masa lo gak tertarik?" tanya Andre heran. "Gue itu nyari istri yang bakalan bisa didik anak-anak gue nanti," jawab Ikfan. Andre menatap aneh pada Ikfan, "lah, si Kanaya 'kan bisa Fan. Secara dia itu 'kan termasuk cewe yang berpendidikan. Alasan yang gak masuk akal lo kalau nolak dia karena itu." Andre jengah. Seketika Ikfan menaruh dokumen proposal BEM di atas meja—yang sejak tadi ia baca—dan beralih menatap serius pada lawan bicaranya. "Ya, memang cewe itu bisa ngedidik anak-anak gue. Tapi, gue ingin seorang istri yang gak hanya ngedidik anak-anak gue nanti tentang perkara dunia aja. Tapi gue juga inginnya nanti istri gue bisa ngedidik anak-anak gue tentang perkara akhirat," jawab Ikfan. "Berpendidikan hanya karena dia kuliah di Universitas ternama gak cukup Dre buat jadi tolak ukur kita menikahi seorang perempuan, karena tolak ukur yang paling utama ketika kita akan menikahi seorang perempuan adalah agamanya." Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun menganjurkan memilih istri yang baik agamanya, تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك “Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim). "Dan gue gak tertarik sama cewe yang lo maksud, apalagi setau gue cewe itu belum menutup auratnya. Bahkan bukan hanya gue, ayah dan bunda gue pun pasti gak setuju," tambah Ikfan dengan mantap. Mendengar Ikfan berkata demikian, Andre hanya bisa diam sambil mendengarkannya. "Gue cabut," pamit Ikfan seraya beranjak pergi keluar ruangan BEM. Sepeninggalan Ikfan itu, Andre membuang nafasnya berat. "Gue juga tau kalau soal itu Fan, gue cuma mau ngasih tau lo kalau si Kanaya itu udah lama naksir sama lo," lirihnya monolog.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN