Wisma Khalisah Akhawat
Hanifah
Bismillaah, jangan lupa ya besok sore kelas tahsin 2 kembali belajar. Teteh-teteh yang bertanggung jawab untuk mengajar, tolong hadir nanti.. luv luv
Resa
Penanggung jawab kelas tahsin 2 itu siapa teh? Ana lupa ha ha :D
Hanifah
Hadeuhh.. ieu b***k minta ku apakan ya-_-
Tia
Nah loh @Resa kamu dimarahin sama paketu wkwkwk.
Hanifah
Are you kidding? Who i'am?
Nesha
Paketu lahh.. ha ha ha :v
Hanifah
-_-
Tia
Hehe :D
Rida
Yang jadi penanggung jawab kelas tahsin 2 itu bukannya Alysa sama Caca ya?
Hanifah
Yes!!!!
Caca
Na'am, insyaa Allaah besok aku ngajar heu heu :')
Nesha
Semangat Caca
Caca
Siap teteh
Alysa
Insyaa Allah aku bisa teh, besok.
Hanifah
Adek kapan pulang dari rumah ortunya?
Alysa
Insyaa Allah besok siang, teh.
Caca
Ohiya ya, hari ini Alysa 'kan tidak ada di wisma ya huhu :"""
Nesha
Baru sadar dia, kemana aja atuh neng. Tadi 'kan kita sholat berjama'ah di ruang utama gak ada Alysa, masa baru nyadarnya sekarang sih. Hadeuh_-
Caca
Lupa wkwkwk.
Alysa
Jahat ih melupakan aku:(
Caca
'Afwan dek :)
Hanifah
Pokoknya ditunggu kepulangannya ke wisma ya dek :) @Alysa
Tia
Nah, betul, betul, betul.
Nesha
Apa sih Tia, upin ipin kali ah.
Tia
Ha ha ha.
Rani
By the way, kita ini sedang berada di wisma loh, kecuali Alysa, terus lucunya kita chat di grup sambil diem di kamar masing-masing wkwkwk.
Hanifah
Inilah ngakaknya para akhwat di wisma, komunikasinya lewat grup padahal deketan, malahan sebelahan kamarnya wkwkwk.
Nesha
Rani menyadarkan kekonyolan kita gaiss wkwk.
Membaca rentetan pesan di grup whatsappnya itu, tanpa permisi air mata Alysa jatuh membasahi kedua pipinya. Rasanya ia sudah sangat merindukan sahabat-sahabat shalihahnya itu. Padahal belum satu hari ia pergi meninggalkan wisma.
Bagi Alysa, sahabat yang shalihah adalah teman yang paling baik dunia dan akhirat. Bahkan pengaruh sahabat itu sangat besar terhadap agama kita.
Kondisi agama seseorang dilihat dari kondisi agama teman dekatnya
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda :
الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Keadaan agama seseorang dilihat dari keadaan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian lihat siapa teman dekatnya” (HR. Tirmidzi no.2378, ia berkata: ‘hasan gharib’, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).
Ketika sedang merindukan sahabat-sahabat shalihahnya, seketika ingatan kejadian pagi tadi kembali merasuki otak Alysa. Segera Alysa menghapus jejak air matanya yang berada di kedua pipinya dan beralih merenungkan soal kejadian tadi pagi dimana ada Ikfan yang datang berkunjung ke rumahnya.
"Tadi itu beneran terjadi, 'kan? Ikfan datang ke rumah?" tanya Alysa monolog.
Sedetik kemudian Alysa menggeleng-gelengkan kepalanya, lucu.
"Ngga, tapi.... iya," gumam Alysa tak jelas.
"Kenapa sih Ikfan ko tiba-tiba datang?" sambungnya yang masih monolog.
Tok...tokk...tokk..
Suara ketukan pintu kamar membuyarkan pikirannya, lalu dengan langkah yang pasti Alysa berjalan mendekati pintu kamarnya dan membukanya.
Alysa tersenyum. "Ibu," sapanya tatkala mendapati Frida berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ayo makan malam, nak. Udah ditunggu ayah sama aa di meja makan," ujar Frida lembut.
Alysa mengangguk dan menuruti permintaan ibunya.
▪▪▪▪▪▪
"Ayah mau ikan mas nya dong, bu," kata Haris sebari menunjuk ke arah mangkuk yang berisikan ikan mas goreng.
Frida mengangguk dan mengambil makanan yang diinginkan oleh suaminya.
"Emmm... enak bu cumi gorengnya," kata Alysa yang tengah makan dengan lauk cumi goreng buatan ibunya.
Frida tersenyum. "Makannya sering-sering kamu ke rumah, jangan di wisma aja. Nanti kamu bisa sering makan masakan ibu, gak perlu beli di luar."
Alysa hanya tersenyum nyengir menanggapi ucapan ibunya.
"Adek kalau mau makan suka masak gak?" tanya Raka di tengah aktivitas makannya.
Memang sudah menjadi kebiasaan yang baik dalam keluarga Alysa, yakni pada saat sedang makan, mereka selalu menyempatkan untuk berbincang-bincang walau sedikit. Karena ada riwayat yang shahih menyatakan bahwa berbincang-bincang pada saat makan adalah salah satu dari sunnah Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Mungkin dahulunya, ada dari kita yang pernah mendapat nasehat ""kalau makan harus diam", atau ada dari kita yang pernah belajar "table manner" yaitu makan dengan aturan yang cukup rumit dan tidak boleh ribut.
Islam agama yang indah, mengajarkan kemudahan dan paling sesuai dengan fitrah manusia yaitu disunnahkan berbincang-bincang atau ngobrol ketika makan bersama. Hal ini membuat suasana makan lebih nyaman dan lebih akrab.
Dalam berapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbincang-bincang sambil makan.
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu,
“Suatu hari dihidangkan beberapa daging untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam . Lalu ditawarkan kepada beliau kaki depan (hewan), bagian yang beliau suka. Beliaupun menggigitnya dengan satu gigitan kemudian bersabda,
“Sesungguhnya aku adalah penghulu seluruh manusia di hari kiamat kelak. Tidakkah kalian tahu mengapa demikian?” Kemudian beliau menyebutkan hadis yang panjang tentang syafa’at. (HR. Bukhari No. 3340 dan Muslim194).
Demimian juga hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada keluarganya tentang lauk yang tersedia. Keluarga beliau menjawab:
“Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali cuka,” maka beliau meminta untuk disediakan dan mulai menyantapnya. Lantas berkata:
“Sebaik-baik lauk adalah cuka. Sebaik-baik lauk adalah cuka”. [HR Muslim].
An-Nawawi menjelaskan berdasarkan hadits ini, terdapat sunnah berbincang-bincang ketika makan. Beliau berkata:
“Hadits ini menunjukkan anjuran berbincang-bincang ketika makan, agar lebih menyenangkan”. (Syarh Shahih Muslim 7/14).
Demikian juga penjelasan Ibnul Qayyim, beliau berkata:
ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺘﺤﺪﺙ ﻋﻠﻰ ﻃﻌﺎﻣﻪ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺨﻞ
“Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam berbincang-bincang ketika makan sebagaimana pada hadits tentang cuka”. (Zadul Ma’ad 2/366).
"Suka," jawab Alysa enteng menjawab pertanyaan kakaknya itu.
Raka menaikkan satu alisnya tak percaya. "Masa? Sejak kapan kamu bisa masak?"
Karena mendengar pertanyaan kakaknya yang satu ini, tanpa permisi bibir Alysa pun maju satu senti.
"Hih.. aa nih. Ya adek belajar-lah sama teteh-teteh di wisma, ya walaupun baru bisa sedikit yang penting 'kan adek mau belajar masak," jawab Alysa terdengar membela diri.
Mendengar itu, Frida dan Haris terkekeh kecil. Sedangkan Raka hanya diam namun tak ayal ia pun tersenyum.
"Bisa masak apa kamu selama belajar masak di wisma?" Kali ini Haris yang bertanya.
Nampak Alysa berpikir sejenak sebelum menjawab. "Mmm... masak ayam goreng, nasi goreng, tempe, tahu, telor... apa lagi ya?" Alysa kembali berpikir sambil mengetuk-ngetuk ujung bibirnya dengan jari terlunjuknya. "Pokoknya masak yang ringan-ringanlah yah," ucapnya kemudian bernada malas untuk berpikir lagi.
Frida tersenyum mendengar itu. "Udah lumayan dong kalau gitu, udah banyak yang kamu bisa masak."
Alysa tersenyum bahagia, "iya bu, teh Hanifah sama teh Nesha yang sering ajarin Alysa buat masak selama di wisma."
"Ajakin atuh temennya ke rumah, ibu juga pengen atuh ketemu sama temen-temennya adek," ujar Frida.
"Kalau temen adek ke rumah, Raka gak bisa tenang dong bu," timpa Raka.
"Gak bisa tenang apa maksud kamu?" tanya Haris heran.
"Ya 'kan temennya Alysa perempuan semua, mana pada pakai cadar lagi. Raka bisa-bisa seharian di dalem kamar, gak bisa keluar, dan itu pun kalau Rakanya di dalem rumah, kalau Rakanya di luar rumah, ya Raka gak bisa pulang dulu sebelum temen-temen Alysa pada pulang," jawab Raka panjang lebar.
Seketika Frida, Haris, dan Alysa terkekeh kompak setelah mendengar jawaban Raka.
"Ya biarin dong, a. Sekali-kali 'kan gak papa ya, bu?" tanya Alysa pada Frida seolah meminta dukungannya.
Frida mengangguk sambil tersenyum. "Ada-ada aja kamu nih, Raka."
"Emang bener gitu bu," kata Raka.
"Udah ah, makan dulu habiskan. Baru kita lanjut mengobrolnya," lerai Haris masih dengan senyuman.
▪▪▪▪▪▪
"Adek, ayah ingin tanya sesuatu sama kamu," ucap Haris pada Alysa tatkala aktivitas makan tadi telah usai, namun masih berkumpul bersama di meja makan.
Alysa menatap ayahnya aneh. "Tanya apa yah?"
Frida nampak serius menatap suaminya, seolah tahu apa yang akan ditanyakan oleh suaminya itu pada anak bungsunya.
"Tadi pagi 'kan ada temen kamu yang dateng ke sini, Ikfan itu temen deket kamu selama masih SMA?" tanya Haris yang membuat Alysa sedikit terkejut. Ya Allaah, ayah nanya soal Ikfan, bagaimana ini?
Mendengar ayahnya bertanya demikian, nampak Raka menatap Alysa serius seolah sedang menunggu jawabannya. Aa harap kamu mau ceritain soal Ikfan ke ayah dan ibu, dek. Batin Raka.
Sambil menipiskan bibirnya Alysa menjawab, "itu.... mmm... itu.. temen biasa sih yah.. gak terlalu deket."
Frida menautkan alisnya. "Kalau gak deket ko keliatannya deket ya? Sampe-sampe dateng ke sini cuma untuk pamitan aja."
Tubuh Alysa menegang ketika mendengar ucapan ibunya, apa yang harus Alysa jawab, dirinya saja masih tidak mengerti mengapa Ikfan melakukan demikian.
"Alysa juga gak tau bu," lirih Alysa.
Haris menatap Alysa serius. "Apa dulu kalian pernah pacaran?" tebaknya yang membuat Alysa terkejut bukan main.
"Astaghfirullah, ayah. Ko ngiranya gitu," bantah Alysa cepat.
"Terus kenapa bisa Ikfan bela-belain datang ke sini cuma untuk pamitan aja? Jujur Alysa, ayah ini sudah merasa curiga sejak awal kedatangannya." Kata Haris jujur.
"Alysa juga gak tau, yah. Ikfannya yang tiba-tiba kayak gitu.. padahal gak pernah deket gak pernah apa juga. Dia itu orangnya emang kayak gitu, suka tiba-tiba," ucap Alysa jujur dan seadanya. Karena memang benar, bahwa sikap Ikfan terhadap Alysa selalu tiba-tiba. Seperti waktu masih SMA lalu, ingin berkenalan tapi tidak jelas dan malah terkesan tiba-tiba.
Haris membuang nafasnya gusar. "Tapi pernah 'kan Ikfan berusaha deketin kamu atau gimana?" tebaknya lagi.
Sorot mata Alysa nampak kembali terkejut mendengar tebakkan ayahnya. "Ng.. ngga ko." Alysa menipiskan bibirnya, "tapi pernah sih waktu masih SMA, Ikfan berniat ingin kenalan sama adek. Tapi—"
"Tapi apa?" tanya Frida tak sabar.
Alysa terlihat gugup. "Tapi... waktu itu Ikfannya gak jelas. Adek 'kan cuma ingin kenalan sama laki-laki yang bermaksud serius, bukan main-main, apalagi ngajak pacaran. Adek gak mau."
"Jadi waktu itu Ikfan gak jelas gimana? Ayah gak ngerti?" tanya Haris yang belum paham cerita anaknya.
"Ya.. waktu itu Ikfan ingin kenalan sama adek, terus adek tolak karena Ikfannya gak jelas, waktu adek tanya kenalan untuk apa, Ikfannya malah gelagapan. 'Kan aneh," terang Alysa menjawab.
"Gelagapan gak jawab maksudnya?" tanya Frida.
Alysa mengangguk. "Hu'um."
Haris membuang nafasnya berat. "Berarti benar dugaan ayah, maksud Ikfan tadi datang ke sini bukan cuma buat pamitan aja."
Raka menatap ayahnya serius. "Maksud ayah?"
"Pasti ada niat lain dalam diri Ikfan saat berkunjung kemari, ya bukan ayah suudzan, tapi.." Haris melirik Alysa, "ayah yakin, tadi Ikfan ingin bertemu dengan Alysa," sambungnya yang membuat Alysa menjadi tegang.
"Ibu juga sependapat sama ayah sih, tapi ya wallahu 'alam juga," ujar Frida nampak bimbang.