Delapan Belas

1541 Kata
Tepat pukul empat sore, Ikfan sudah tiba di kediamannya. Rasanya ia sangat rindu dengan rumahnya. Tiga hari tinggal di Bandung, Ikfan benar-benar merindukan keluarganya. "Eh den.. Ikfan. Sudah pulang," sapa mang Cecep—satpam yang bekerja di rumah Ikfan. Ikfan tersenyum dengan wajah kuyunya. "Iya mang, tolong bukakan pagarnya." Mang Cecep pun membukakan pintu pagar rumah dan langsung membantu Ikfan membawa tasnya. "Makasih, mang," ujar Ikfan tatkala mang Cecep meraih tas bawaannya. Mang Cecep tersenyum, "sama-sama, den." ▪▪▪▪▪▪ "Maa syaa Allaah, anak bunda sudah pulang, nak. Kamu capek?" tanya Rita ketika mendapati anaknya sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Dengan senyuman tipisnya Ikfan menjawab, "iya, bun. Sedikit." "Pulang sama siapa tadi, Fan?" tanya Hata. "Sama anak-anak BEM, yah." "Kamu ko gak ngabarin dulu sih Fan kalau mau pulang sekarang?" tanya Rita. "Maaf bun, Ikfan belum buka handphone lagi dari tadi," jawab Ikfan. "Mm, kebiasaan." Rita mendengus. "Abang bawa oleh-oleh gak?" tanya Nayla antusias. Melihat tingkah adiknya itu, Arkan tersenyum. "Bang Ikfannya masih capek, dek. Suruh masuk aja dulu, istirahat." Mendengar itu, Nayla pun langsung cemberut. "Ih, padahal Nay ngarep oleh-oleh dari Lembang loh." "Nayla," ucap Hata yang bermaksud menyadarkan Nayla dari sikap ke kanak-kanakkannya. Ikfan tersenyum, "ada ko oleh-olehnya, di dalam tas. Andre sama yang lain yang beliin tadi. Ambil aja." Nayla kembali sumbringah. "Serius bang?" "Hmm." "Yeee." Tanpa menunggu lagi, Nayla langsung merebut tas Ikfan yang masih dipegang oleh mang Cecep dan langsung pergi membawanya ke dalam rumah. Melihat tingkah Nayla, lantas Rita, Hata, Arkan, Ikfan, dan Mang Cecep tersenyum. "Adik kamu tuh ya, masih aja kayak gitu," kata Hata. Semua pun terkekeh kecil. "Yaudah, nak. Ayo masuk. Bersihin badan kamu dulu, terus nanti turun lagi ke bawah. Bunda siapin makan untuk kamu, kamu pasti laper, 'kan?" tanya Rita penuh perhatian. Ikfan mengangguk lemah, "iya, bunda." Rita tersenyum. "Yaudah, ayo masuk, nak." Ikfan kembali mengangguk seraya berjalan memasuki rumahnya dan pergi menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Sementara itu masih di ambang pintu, Rita, Hata, dan Arkan terdiam melihat Ikfan yang berjalan menuju ke kamarnya. "Kasian Ikfan, dia pasti lelah," ujar Rita iba melihat anaknya. "Udahlah, bun. Itu udah biasa," timpa Hata kalem. ▪▪▪▪▪▪ Sesampainya di dalam kamar, Ikfan langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur. Dengan posisi terlentang, Ikfan menatap langit-langit kamarnya. "Alhamdulillaah, sampe juga di rumah," gumamnya. Tak lama kemudian Ikfan menggeliatkan tubuhnya ke arah kiri. "Aaaaa~ rumahku surgaku," teriaknya kemudian dengan perasaan yang lega. Ceklek... Pintu kamar Ikfan tiba-tiba terbuka dan menampakkan sosok lelaki dewasa yang tak lain adalah Arkan—kakak kandungnya—berdiri di ambang pintu kamarnya. "Ngapain lo ke sini?" tanya Ikfan yang melihat Arkan mulai berjalan memasuki kamarnya. Arkan langsung menduduki sofa yang berada di kamar Ikfan. "Gimana kabar lo?" Ikfan memicingkan matanya menatap Arkan. "Ngapain nanya-nanya kabar gue, tumben." "Bukan tumben, Fan. Wajar kali, lo 'kan baru balik dari Bandung." Arkan menimpali ucapan Ikfan dengan santai. Ikfan memutar kedua bola matanya jengah. "Hadeuhh... au ah.." Arkan menaikkan satu alisnya melihat tingkah adiknya yang satu ini. Lalu pada saat dirinya hendak membuka ponselnya, tiba-tiba ucapan Ikfan menghentikan niatnya dan beralih menatapnya. "Gue udah ketemu Alysa di Bandung," kata Ikfan seketika sambil masih membaringkan tubuhnya di atas kasur sebari menatap kembali langit-langit kamarnya. Arkan terlihat terkejut mendengarnya itu, namun sedetik kemudian ia datarkan kembali ekspresi wajahnya. "Ko bisa?" Ikfan melirik Arkan melalui ekor matanya, bisa-bisanya kakaknya ini bertanya dengan nada yang santai tatkala mengetahui bahwa dirinya sudah bertemu dengan Alysa. Gak kaget apa dia? Datar banget ekspresinya. Batin Ikfan. "Bisalah!" jawab Ikfan tak kalah santai. Arkan menatap Ikfan penuh selidik. "Bohong 'kan lo?" Ikfan berdecak sambil memposisikan dirinya untuk duduk di atas kasur, "ngapain gue mesti bohong." "Lah, terus ko bisa lo ketemu Alysa gitu aja?" Arkan mulai bingung dengan adiknya ini. Terdengar Ikfan menghela nafasnya berat  "Gue gak sengaja ketemu dia di toko buku, terus gue nanya-nanya, terus gue minta alamat rumahnya, terus gue datengin deh rumahnya," jelas Ikfan santai dengan gaya bicara yang terkesan konyol karena menggunakan kata "terus" yang banyak. Mendengar itu, Arkan menatap Ikfan tanpa berkedip, "lo kayak tukang parkir aja sih Fan. Terus-terus mulu. Gue ini serius." Ikfan terkekeh kecil seraya berujar, "makannya jangan nuduh orang sembarangan, gue gak bohong dan gue seriusan udah ketemu sama dia." Tampaknya Arkan mulai mempercayai ucapan adiknya itu. "Terus gimana?" "Gimana apanya?" "Lo udah dateng ke rumahnya?" "Udah, 'kan tadi gue udah bilang." Arkan menatap Ikfan serius. "Mau ngapain lo ke sana?" "Gak ngapa-ngapain sih, cuma datang berkunjung... ya sekalian pamitan mau balik ke Jakarta juga," jawab Ikfan kalem. "Gila lo!" semprot Arkan kemudian. "Gila?" Ikfan membeo bingung. "Iyalah, gila! Ngapain lo datang ke sana, gak malu?" Ikfan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "malu sih, tapi mau gimana lagi. Gue penasaran. Lo harus tau, Alysa itu ternyata punya abang. Kayak gue." "Abang?" "Iya abang, kayak lo. Abang yang nyebelin," Ikfan tersenyum miring. "Bedanya kalau abangnya Alysa itu gak nyebelin kayak lo." Mendengar itu, Arkan kembali memasang wajar datarnya menatap Ikfan. "Pagi tadi gue ada di daerah komplek rumah dia, gue ngintai rumahnya karena tadinya gue belum berani nongol di hadapan dia setelah pertemuan di toko buku waktu lalu," Ikfan mulai bercerita, "lama nunggu, akhirnya gue sarapan aja dulu, selagi ngintai." Arkan menaikkan satu alisnya heran. "Sarapan?" "Iya, kebetulan di depan rumah Alysa itu ada taman, ya... gak jauhlah dari rumahnya, di depannya malah. Di sana ada tukang bubur, ya gue beli aja buburnya selagi nunggu." "Nunggu apaan emang lo?" tanya Arkan yang belum paham maksud cerita Ikfan. Ikfan menghela nafasnya, "nunggu Alysa keluar dari rumahnya lah, gue pengen liat dia dari jauh. Karena gue belum berani datengin dia saat itu." "Terus?" "Ya terus, gue liat ada cewe bercadar yang turun dari motor di depan rumah Alysa, habis boncengan gitu sama cowo. Gue emang udah bisa nebak dari awal kalau cewe bercadar itu adalah Alysa, karena waktu ketemu di toko buku sama gue, Alysa emang udah pake cadar." "Alysa pake cadar?" tanya Arkan seolah tak percaya. "Iya," jawab Ikfan dengan mantap. "Terus?" "Gue cemburu waktu tau dia habis jalan sama cowo keluar rumah pagi itu, tapi waktu si cowonya datang beli bubur di tempat bubur yang gue beli. Ternyata cowo itu adalah kakak kandungnya Alysa. Gue tau itu, karena abangnya Alysa bisa ngobrol akrab gitu sama tukang buburnya. Ya karena gue rasa tukang bubur itu bisa jadi narasumber yang baik buat gue cari tau tentang Alysa, yaudah gue tanya-tanya aja deh tukang bubur itu. Terus ya jadi gue tau kalau cowo itu adalah kakaknya Alysa," jelas Ikfan panjang lebar dan membuat Arkan mendengarnya dalam diam. "Terus gimana selanjutnya? Lo ko bisa dateng ke rumahnya setelah itu?" tanya Arkan penasaran. "Panjang ceritanya, gue males nyeritainnya," jawab Ikfan sekenanya. Arkan nampak geram mendengar jawaban Ikfan. "s****n!" umpatnya pelan. Mendenger itu Ikfan malah terkekeh penuh kemenangan. "Intinya abangnya Alysa udah tau maksud kedatangan gue ke rumahnya," kata Ikfan yang kembali bercerita. Arkan tak bersuara, kini ia lebih memilih mendengarkan cerita adiknya itu sambil memainkan ponselnya yang tadi sempat tertunda. "Abangnya tau cerita masa SMA gue sama Alysa, ternyata Alysa itu sering ceritain tentang gue ke abangnya." Arkan masih tak bersuara, namun ia berharap Ikfan melanjutkan lagi ucapannya itu. "Dan abangnya malah ngasih peluang buat gue bisa ta'aruf-an sama Alysa," ucap Ikfan yang kali ini terdengar lirih. Arkan menaruh ponselnya di sofa dan beralih menatap lawan bicaranya, "ko bisa? Apa gak terlalu cepet, dia 'kan baru kenal sama lo." "Gue juga gak tau, kenapa bisa abangnya dengan mudah ngasih gue peluang. Dia bilang kalau gue bermaksud serius sama adiknya, gue harus bilang soal ini dulu ke ayah dan bunda. Baru setelahnya abangnya Alysa bakalan bilang soal ini ke orangtuanya dan juga Alysa," tutur Ikfan terlihat serius. Mulai mengerti dengan alur cerita Ikfan, Arkan mengangguk. "Yaudah, jadi kuncinya sekarang ada di lo. Lo bermaksud serius gak sama dia?" Ikfan membuang nafasnya berat. "Iya, tapi..." ucapnya menggantung. Arkan menautkan alisnya. "Tapi apa?" Ikfan tak menjawab. "Ragu?" tebak Arkan. "Gue bingung, apa ini gak terlalu buru-buru," lirih Ikfan. "Gue rasa ngga, lo 'kan udah lama naksir dia dan sekarang Allaah ngasih lo kesempatan buat dapetin dia dengan cara yang halal. Jadi ya menurut gue sih oke-oke aja. Lagian 'kan nikah muda apalagi kalau lo udah mampu ya lebih baik disegerakan. Itu lebih menjaga diri," ujar Arkan. Nabi shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ "Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya" (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400). "Jadi gue harus bilang soal ini ke ayah dan bunda, se.. ka.. rang?" tanya Ikfan terkesan bodoh dan ragu. "Yaiyalah! Masa ke tukang becak!" decak Arkan gemas. "Kecuali..." lanjutnya menggantung. Kening Ikfan mengercit, "kecuali apa?" "Kecuali lo gak bermaksud serius sama dia, maka lo gak usah bilang ini ke ayah dan bunda." Merasa ucapan Arkan sedikit menohok hatinya, Ikfan pun mulai yakin apa yang harus ia lakukan saat itu. "Insyaa Allaah, gue bakal bicarain ini sama ayah dan bunda," kata Ikfan mantap. Arkan tersenyum, "Good luck!" ucapnya seraya beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kamar Ikfan. "Huh.." Ikfan membuang nafasnya berat setelah kepergian Arkan. "Semangat, Fan!" gumamnya kemudian sambil kembali menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN