Tujuh Belas

1417 Kata
"Ada apa, bang?" tanya Ikfan saat sudah duduk di bangku bersama Raka yang berada di teras rumah. Jujur, saat itu ia merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Raka. Terdengar Raka menghela nafasnya berat. "To the point aja kalau sama saya, apa maksud kamu datang ke sini?" tanyanya terkesan tegas dan dewasa. Melihat perubahan sikap Raka, Ikfan mulai paham kemana arah pembicaraannya ini. "Cuma mau pamitan aja sih sebenernya," jawab Ikfan tenang. Raka menatap Ikfan penuh selidik. "Yakin?" Seraya menghelas nafasnya sejenak, Ikfan menjawab jujur. "Sebenarnya.. sekalian ingin bertemu dengan Alysa juga," "Kenapa?" tanya Raka ambigu. "Kenapa apanya?" tanya Ikfan balik. "Fan, sebetulnya saya sudah tau kamu ini siapa. Ya walaupun saya tidak pernah melihat wajah kamu sebelumnya," ucap Raka yang membuat Ikfan terkejut bukan main. "Tau?" "Iya, Alysa dulu pernah cerita tentang kamu waktu masih SMA. Kamu 'kan yang berniat untuk berkenalan dengan Alysa?" tanya Raka yang kali ini membuat Ikfan sedikit tegang. "Jadi.. Alysa sudah cerita tentang... itu.. ke abang?" tanya Ikfan ragu. Raka mengangguk, "iya." Ikfan membuang nafasnya berat. "Maaf bang, soal yang SMA dulu.. saya gak bermaksud—" "Lupakan yang dulu, saya paham perasaan kamu sebagai sesama lelaki. Jadi sekarang saya tanya sama kamu, apa maksud kamu yang sebenarnya datang ke sini?" sela Raka bertanya. Terdiam untuk sesaat, namun akhirnya Ikfan kembali menjawab dengan jujur. "Ingin bertemu Alysa dan ingin mengenalnya. Tapi soal berpamitan itu, saya jujur ko, bang. Bukan modus. Karena memang sekarang saya harus kembali ke Jakarta." Raka mengangguk paham, "ingin mengenal.. apa itu maksudnya ta'aruf?" Ikfan menatap Raka serius. "Sepertinya begitu," lirih Ikfan menjawab. "Minta kontak kamu boleh?" tanya Raka yang melihat keraguan di benak Ikfan. Ikfan menatap Raka heran, "kontak? Untuk?" "Katanya ingin mengenal adik saya, berikan kontak kamu. Nanti saya coba hubungi kamu setelah membicarakan ini dengan kedua orangtua saya," ujar Raka lembut. Ikfan membulatkan matanya sempurna mendengar itu. "Aa.. apa?" "Tapi saya harap... sebelum saya bicara kepada kedua orangtua saya yang juga orangtua Alysa. Saya ingin kamu bicarakan ini terlebih dahulu dengan kedua orangtua kamu," seloroh Raka. "Abang yakin dengan ini? Maksudnya.. saya.." Ikfan gelapan karena bingung. Pasalnya Raka ini terkesan begitu yakin terhadap dirinya untuk Alysa "Fan, adik saya sering cerita tentang kamu dulu waktu masih SMA. Jadi saya rasa tidak ada salahnya jika memberi kamu kesempatan untuk ini," terang Raka yang paham maksud Ikfan. "Tapi Alysa—" "Nanti saya bicarakan soal ini ke Alysa, yang penting sekarang kamu bicarakan dulu soal ini dengan kedua orangtuamu," sela Raka lagi. Ikfan mengangguk walaupun ragu. Kenapa jadi gini ya? Batin Ikfan. "Kita tukeran kontak saja bagaimana?" Raka memberi tawaran pada Ikfan. Kembali menatap Raka, Ikfan pun berujar. "Boleh." Saat itu juga, tanpa sepengetahuan Frida, Haris dan Alysa. Raka dan Ikfan sudah mulai membicarakan soal maksud Ikfan yang ingin mengenal Alysa. Sebenarnya Ikfan merasa bahagia dengan ini, namun entah mengapa ada sedikit keraguan di dalam hatinya dengan perasaan Alysa. "Jangan khawatir, selama kamu belum membicarakan ini dengan orangtua kamu, saya tidak akan memberitahu Alysa dan kedua orangtua saya," ujar Raka sambil menepuk pelan bahu Ikfan seolah paham kegundahan hatinya. "Saya percaya sama kamu," lanjutnya sebari tersenyum. Ikfan mengangguk dan tersenyum tulus kepada Raka—kakak dari gadis yang ia sukai. ▪▪▪▪▪▪ "Lo ngapain tadi di daerah perkomplekan itu?" tanya Andre. Setelah pulang dari rumah Alysa, kini Ikfan sedang berada di mobil bersama teman-temannya—anggota BEM—menuju kembali ke Jakarta. Posisi duduk Ikfan saat itu berada di depan bersama Aris yang sedang menyetir mobil. Sedangkan di belakang ada Gian, Andre, dan teman BEM lainnya. "Ketemu temen," jawab Ikfan seadanya sambil duduk bersandar di jok mobil. Aris melirik Ikfan sejenak yang berada di sampingnya. "Temen, Fan?" "Iya, temen SMA." Jawab Ikfan terkesan dingin. Di belakang, Gian dan Andre saling menatap aneh. "Ko gue gak percaya ya?" Andre curiga. Ikfan tak bergeming, ia lebih memilih diam dan tetap duduk bersandar di jok mobil sambil memejamkan kedua matanya. Lelah. "Lo habis ngapain sih tadi, Fan? Ko sekarang lo keliatannya lelah banget. Lo beneran baik-baik aja 'kan tadi?" Aris berkata dengan nada khawatir. "Gue baik, Ris. Cepet jalanin aja mobilnya, gue ingin cepet sampe di rumah, ingin meluk Bunda," ucap Ikfan yang masih memejamkan kedua matanya dan itu berhasil mengundang gelak tawa semua yang berada di dalam mobil. "Apaan lo Fan, seorang Ikfan yang terkenal di kampus sebagai lelaki yang dingin, berwibawa, cool, tapi nyatanya.. manja amat!" ledek Andre sebari terkekeh renyah. "Ha ha ha, anak bunda," sambung Gian yang tak kalah terkekeh. Aris tersenyum, "ada-ada aja sih lo, Fan." Ikfan tak bergeming, ia masih dalam posisinya. Sungguh, meladeni celotehan teman-temannya rasanya tidak penting baginya. Sebab, kini ruang otaknya hanya penuh dengan Alysa. Terlebih lagi soal obrolannya dengan Raka tadi—kakaknya Alysa—Ikfan semakin bimbang dibuatnya. Haruskah aku bergerak sekarang untuk memilikimu? ▪▪▪▪▪▪ Di tempat lain di kediaman Alysa—setelah Ikfan pulang—ia lebih memilih diam dan mengurung diri di dalam kamarnya. Ia masih merasa tak percaya dengan yang baru saja terjadi. Ikfan datang ke rumah? Ikfan mengobrol dengan ibu dan ayah? Ikfan terlihat akrab dengan a Raka? Itulah pertanyaan yang terus berputar-putar di otak Alysa. "Ya Allaah, apa ini?" lirih Alysa sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tok..tokk..tokkk.. Alysa menatap nanar pintu kamarnya yang terdengar sebuah ketukan dari luar. Sambil menarik nafasnya dalam-dalam, Alysa turun dari ranjang dan berjalan gontai untuk membukakan pintu kamarnya. "Aa," ucap Alysa tatkala mendapati Raka berdiri di depan pintu kamarnya. Raka tersenyum, "boleh aa masuk?" Tanpa berpikir panjang, Alysa mengangguk dan berjalan kembali menuju ranjang kasurnya. Raka pun ikut berjalan di belakangnya tanpa menutup pintu kamarnya dan duduk di tepi ranjang kasur Alysa. "Ko keliatan lemes gitu, dek?" tanya Raka yang melihat Alysa lesu. Alysa menipiskan bibirnya, "gimana gak lemes, tadi aa liat 'kan siapa yang barusan dateng ke rumah." Raka tersenyum, "Ikfan?" Alysa tak menjawab, ia malah diam sambil memilin sarung bantal yang ia simpan di atas pahanya sebagai penumpu lengannya. "Masih suka?" tanya Raka ambigu. Alysa menautkan alisnya menatap Raka, "suka apanya?" "Sama Ikfan." Alysa tak menjawab. "Dek, aa tau kok kisah kamu sama Ikfan dulu, kamu 'kan yang cerita sendiri soal dia waktu itu ke aa," ujar Raka. Alysa masih bungkam. "Apa perasaan kamu dulu sampai sekarang masih sama pada Ikfan?" tanya Raka hati-hati. Alysa menatap Raka dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, "entahlah." "Aa liat, kayaknya tadi Ikfan punya maksud lain, dek," ucap Raka yang membuat Alysa menatapnya bingung. "Maksud lain?" Raka tersenyum penuh arti. "Dek, aa ini juga laki-laki. Sebagai laki-laki aa bisa lihat ada maksud lain dari diri Ikfan yang datang ke sini. Mengingat dulu dia pernah berniat ingin mengenal kamu, jadi aa rasa tadi pun dia—" "Ngga a, Ikfan hanya pamitan aja tadi. Aa denger sendiri 'kan Ikfannya bilang apa," sela Alysa cepat memotong ucapan kakaknya. Raka menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan ucapan Alysa. "Ikfan memang bilang begitu, tapi kita gak tau 'kan isi hatinya yang sebenarnya seperti apa." Alysa terdiam. "Sa, inget loh pertemuan kalian ini adalah pertemuan yang tidak direncanakan, bahkan tidak pernah diduga." Raka mulai menasihati, "padahal kalian ini sudah lama berpisah sejak lulus SMA, bahkan beda kota. Alysa masih terdiam menunggu Raka berkata lebih lanjut. "Mengingat ucapan Ikfan tadi yang katanya gak sengaja ketemu sama kamu di toko buku, aa semakin yakin bahwa pertemuan kalian ini bukan pertemuan biasa." "Qodarullaah a, jangan so tau deh," timpa Alysa dengan mode merajuk. "Iya qodarullaah, tapi 'kan bisa aja..." Raka menggantungkan ucapannya—sengaja untuk menggoda adiknya itu. "Bisa aja apa?" tanya Alysa penasaran. Raka tersenyum jahil, "bisa aja ini pertemuan yang Allaah rencanakan agar kalian bisa menikah." Seketika Alysa memayunkan bibir kecilnya tatkala mendengar ucapan kakaknya itu. "Ih aa, gak lucu deh!" Alysa merajuk. Raka terkekeh. "Ngomong sama aa mah gak pernah beres," kali ini Alysa benar-benar merajuk. Raka menghentikan kekehannya dan beralih menatap wajah adik kecilnya itu. "Iya-iya maaf, gitu aja ngambek. Malu tau gak, udah kuliah juga masih aja kayak anak SMP." Alysa menatap lawan bicaranya dengan ekspresi yang sangat menggemaskan dimata Raka. "Ih aa nyebelinnya tingkat nasional tau gak!" Raka menyeringai, "masa?" "Bodo!" "Eh, gak sopan bilang bodo ke kakak sendiri, dosa loh!" timpa Raka dengan senyuman. "Terserah." Alysa menanggapinya dengan acuh. "Bener ya mau dapet dosa?" tanya Raka yang masih bermaksud menggoda Alysa. "Ih aa, gak lucu! Udahan ah! Alysa capek!" Raka terkekeh, "dasar! Gitu aja capek." Alysa tak bergeming, kini ia malah berbaring di kasurnya sambil menutup tubuhnya sempurna dengan selimut. Melihat itu, Raka malah menggelengkan kepalanya. Maafin aa ya dek, aa belum bisa bilang obrolan aa sama Ikfan tadi. Batin Raka dalam diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN