Sembilan

1464 Kata
Melihat sosok yang beberapa tahun lalu ia kagumi, jantung Alysa mulai kembali pada tabiatnya, seakan bertalu-talu dengan keras. "Ya Allaah, apa benar itu Ikfan? Dia ada di Bandung? Bukankah dia masih tinggal di Jakarta?" ucap Alysa beruntun di dalam hatinya sambil masih diam memperhatikan Ikfan di balik cadarnya—dari jarak yang cukup jauh. Sedangkan Ikfan yang tengah diperhatikan dalam diam, ia hanya terus sibuk dengan ponselnya. Tanpa permisi air mata turun membasahi kedua pipi mulus Alysa di balik cadarnya, ia merasakan sesak di dadanya. Ingatan beberapa tahun yang lalu pun mulai teringat kembali. "Alysa," ucap Ikfan memecah keheningan. Mendengar namanya dipanggil, lantas Alysa menyahutinya. "Ya?" Dengan perasaan yang sangat gugup, Ikfan berusaha mengutarakan sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada Alysa. "Apa boleh aku mengenal kamu?" tanya Ikfan akhirnya setelah terdiam sesaat. Mendengar itu, jantung Alysa semakin berdetak lebih cepat. Lagi. "Me.. mengenal?" "Iya, boleh?" tanya Ikfan lagi tanpa ragu walau cukup gugup. Tak ada jawaban, saat itu Alysa seketika terdiam. Apa maksud Ikfan? Mengenal untuk apa? Alysa tiba-tiba merasa takut karena ucapan Ikfan yang terdengar ambigu. Pasalnya ia tidak mau terlalu dekat dengan lawan jenis jika bukan berniat untuk ta'aruf lalu menikah. "Untuk apa?" tanya Alysa yang sama ambigu. "Untuk apa?" Ikfan membeo. "Untuk apa, apa maksudnya?" sambungnya tak mengerti maksud pertanyaan Alysa. Berusaha menetralkan perasaannya, Alysa seperti biasa selalu menggigit bibir bawahnya di balik masker yang selalu ia gunakan. "Untuk apa kamu mau mengenal aku?" Terlihat jelas saat itu juga ekspresi wajah Ikfan seketika berubah canggung dan ragu untuk menjawab. Untuk apa pula dia bertanya begitu kepada Alysa? Padahal dirinya sendiri masih ragu dengan perasaannya. "Untuk.. untuk.." Ikfan nampak kebingungan. Dia sendiri saja masih bingung untuk apa dia seperti ini. Matilah kau Ikfan! Melihat gelagat Ikfan seperti itu, dengan memberanikan diri Alysa berkata tegas. "Maafkan aku Ikfan, tapi aku hanya akan berkenalan dengan seorang lelaki yang memiliki niat dan tujuan yang jelas, baik, dan yang Allaah ridhai." Alysa beranjak dari duduknya. "Jika kamu hanya ingin sekedar iseng untuk mengenal seseorang, maaf. Lebih baik kamu cari saja perempuan yang lebih pantas untuk diperlakukan seperti itu, tapi bukan aku." Sambung Alysa bernada ketir seraya bergegas pergi dari hadapan Ikfan—hujan sudah reda—untuk pulang. Selama diperjalanan pulang Alysa merasakan sebuah rasa yang sangat sakit di hatinya. Mungkin bagi sebagian wanita didekati oleh lelaki yang ia kagumi adalah sebuah hal yang paling membahagiakan. Tapi itu tidak bagi Alysa. Justru dengan cara Ikfan seperti tadi, ia merasa sangat sedih. Kenapa Ikfan bersikap demikian? Alysa hanya ingin didekati oleh lelaki sholih yang berniat untuk menikahinya bukan mempermainkannya apalagi untuk mengajaknya pacaran, naudzubillah. Dan sejak saat itulah, satu hal yang Alysa tak mengerti. Sejak kejadian dimana Ikfan berniat untuk mengenalnya, sejak saat itu juga lelaki itu mulai menjauhinya. Apa Ikfan marah padanya? Ah.. entahlah, namun yang pasti Alysa juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang sedang Ikfan lakukan saat itu. Menjauh. "Cuy, ini cuankinya." Kata Andre yang tiba di meja Ikfan dan itu tak lepas dari perhatian Alysa. Bahkan hal itu membuat lamunan tentang beberapa tahun lalu buyar dalam pikiran Alysa. Ikfan menoleh Andre malas. "Cuy, cuy, nama gue bukan cuy." Andre terkekeh seraya duduk di samping Ikfan. "Yuk makan " ucap Andre tanpa menghiraukan ekspresi Ikfan. "Habis ini kita cabut," tegas Ikfan. "Iya iya, tau." Timpa Andre cepat yang mengerti bahwa Ikfan ingin segera ke tempat seminar. Di sisi lain, melihat Ikfan yang tengah duduk dengan jarak yang tak terlalu jauh darinya. Alysa merasa terenyuh. Dirinya masih tak percaya jika itu benar-benar Ikfan. Kenapa Kau pertemukanku lagi dengannya ya Rabb? "Alysa," panggil Nesha mendekati meja Alysa. Alysa pun menolehnya. "Yuk kita pulang." Ajak Nesha sambil tersenyum di balik cadarnya. "Cuankinya udah dibeli, yuk kita ke wisma. Hanifah pasti udah nungguin." Mendengar perkataan Nesha, Alysa ikut tersenyum tipis di balik cadarnya. "Iya teh," lirih Alysa seraya beranjak dari duduknya kemudian pergi bersama Nesha dari tempat dimana ia melihat Ikfan tadi. Sementara itu tanpa Alysa ketahui, ternyata Ikfan tengah memperhatikan kedua gadis bercadar itu yang tak lain adalah Nesha dan Alysa yang kini sudah pergi dari hadapannya—di tempat makan cuanki. Ketika mendengar nama Alysa disebut karena dipanggil oleh Nesha, ternyata suaranya cukup bisa terdengar dari jarak Ikfan berada. Dan karena itu, saat itu juga pandangan Ikfan mulai tertuju pada kedua gadis bercadar tersebut setelah mendengar nama Alysa. Dalam sekejap, pikiran Ikfan mulai menebak-nebak. Apakah itu Alysa yang dulu pernah aku kenal? "Fan, makan!!" pekik Andre yang melihat Ikfan tak memakan cuanki yang telah ia pesan tadi. Ikfan sedikit terpelonjak kaget karena mendengar suara Andre. "Nape lu, ngelamun? Ko keliatan kaget?" Heran Andre melihat Ikfan terpelonjak. "Diem lu," kata Ikfan terkesan tegas dan jutek, lalu ia mulai kembali melahap makanannya tanpa menghiraukan pertanyaan Andre tadi. Melihat itu, Andre pun bersungut kesal dalam makannya. Untung temen! ▪▪▪▪▪▪ "Ya ampun Nes.. enak banget ini cuankinya," kata Hanifah heboh yang kini sedang makan cuanki bersama Nesha dan Alysa di ruang tamu wisma sambil lesehan di karpet, maklum anak wisma seperti anak kosan. "Ini saran Alysa loh Nif," kata Nesha. "Ohhh.. jadi adek yang nyaranin beli cuanki ini?" tanya Hanifah. Nesha mengangguk sambil tersenyum, sedangkan Alysa tak bergeming. Ia nampak lebih banyak diam sejak kepulangannya dari mall tadi, tepatnya dari PVJ. "Dek," ucap Hanifah aneh menatap Alysa yang diam. Alysa tak merespon, sepertinya ia sedang melamun dalam makannya. Dan melihat itu Hanifah menatap Nesha penuh tanya. Nesha menggelengkan kepalanya pelan saat melihat Hanifah menatapnya. "Adek," ucap Hanifah lagi sambil menyentuh pundak Alysa untuk menyadarkannya. Lantas Alysa terpekik kaget. "Eh.. iya teh?" pekik Alysa terkejut. Hanifah menatap Alysa heran. "Adek kenapa? Ko ngelamun?" tanya Hanifah. Sesaat terdiam, kemudian Alysa menjawab. "Ngga teh, aku gak papa ko. Aku gak ngelamun." Alysa berusaha menormalkan ekspresi wajahnya. "Jangan bohong, dek." Timpa Nesha yang tahu Alysa tengah menutup diri. Alysa tersenyum tipis, "seriusan, aku gak papa ko." Hanifah menatap Alysa penuh selidik. "Yaudah, tapi kalau ada apa-apa cerita ya sama teteh, jangan tiba-tiba jadi pendiem gini," ujar Hanifah kemudian. Mendengar itu Alysa kembali tersenyum, "iya teh." Lalu Hanifah dan Nesha kembali melanjutkan makannya, begitu juga dengan Alysa. Namun, walaupun begitu, hati Alysa masih bergemuruh memikirkan sosok lelaki yang tadi siang ia lihat di mall. Apa benar yang tadi aku liat itu adalah Ikfan? ▪▪▪▪▪▪ Setelah dari acara seminar, kini Ikfan sudah kembali berada di villa yang ia tempati selama di Bandung. Saat ini Ikfan tengah duduk santai di atas kasurnya dengan bersandar di kepala ranjang. Sambil duduk, tak lupa Ikfan juga nampak sibuk dengan ponselnya. Lalu sedetik kemudian ponselnya itu berdering—Rita menelpon. "Assalamu'alaikum, bun." Sapa Ikfan memulai obrolan. "Wa'alaikumussalam, duh anak bunda. Apa kabar nak? Lagi apa kamu? Udah makan belum? Lagi dimana kamu sekarang? Tidur sama siapa kamu?" tanya Rita beruntun di sebrang sana. "Aduhhh bunda, stop. Apaan sih bun. Banyak nanya, kayak wartawan aja," decak Ikfan gemas. "Ih, kamu tuh gimana. Bunda nih khawatir Fan." "Ya tapi gak sampe segitunya juga bun." Terdengar Rita menghela nafasnya di sebrang sana. "Yaudah, sekarang jawab bunda. Kamu apa kabar? Lagi apa?" "Lagi santai bun, duduk di atas kasur sambil telponan sama bunda," jawab Ikfan simple. "Udah makan?" "Udah, tadi sama Andre." "Udah seminarnya?" "Udah, tadi pagi." "Udah mandi?" "Ya Allaah bunda, yaudahlah!" Terdengar Rita terkekeh di sana. "Kirain bunda lupa." Ikfan mendengus malas mendengar itu. "Gimana Fan, udah ketemu belum?" "Ketemu siapa bun?" Ikfan bingung. "Alysa." Deg. Seketika ingatan siang tadi di mall kembali merasuki otak Ikfan. "Fan," panggil Rita yang tak mendengar lagi suara anaknya. Ikfan masih tak bergeming, ia sibuk melamun mengingat kembali sosok gadis bercadar yang tadi disebut namanya oleh temannya. Ia masih ingat betul nama yang disebutnya adalah nama yang selama ini sering disebut juga oleh bundanya. "Ikfan," panggil Rita keras yang membuat Ikfan langsung terpelonjak kaget. "Eh bunda.. iya ini Ikfan," pekik Ikfan. "Kemana aja kamu, dari tadi bunda panggil ko gak nyaut." Ikfan tak menjawab. "Gimana, kamu udah ketemu Alysa belum di Bandung?" "Aduh bun, bunda pikir itu gampang." Keluh Ikfan. "Jadi belum ketemu?" Ikfan terdiam, sebetulnya ia ingin bilang soal kejadian tadi di mall, tapi.. "Belum," jawab Ikfan akhirnya. "Yah.. cari dong Fan," suara Rita terdengar kecewa. "Cari kemana bun?" "Kampusnya," jawab Rita sekenanya. "Ya Allaah, bunda. Bunda kira Ikfan ini apa sampai nyari Alysa segitunya." Ikfan bersungut kesal. Terdengar Rita terkekeh. "Ya biarin, demi cinta." goda Rita. Merasa bosan dengan celotehan bundanya, akhirnya Ikfan memutuskan untuk mengakhiri telponnya. "Yaudah bun, Ikfan ngantuk. Mau istirahat." "Ehh... ko gitu? Abang ngambek ya gara-gara bunda godain soal Alysa?" "Apaan sih bun, ngga juga. Udah ah, dadah bunda sayang, assalamu'alaikum. I love you," ucap Ikfan yang kemudian mengakhiri telponnya tanpa menunggu jawaban bundanya. Setelah mengakhiri telpon, Ikfan mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sesekali ia juga membuang nafasnya berat sebari menatap langit-langit kamarnya. Ya Allaah, jika Alysa adalah jodohku, maka pertemukanlah aku dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN