Lima Belas

1204 Kata
"Assalamu'alaikum, bu," salam Alysa sambil mengetuk pintu rumahnya. Ceklekk... "Maa syaa Allaah, Alysa," heboh Frida yang mendapati anaknya sudah datang. Alysa langsung menghambur ke pelukan Frida, "ibu..." Setelah lama berpelukan, Frida melepas pelukan anaknya dengan lembut untuk menatap wajahnya. "Alhamdulillaah, anak ibu sudah sampai," ujarnya. "Iya, bu." Haris berdehem, "ayah, dianggurin aja nih." Frida dan Alysa pun menolehnya. "Ayah," Alysa memeluk Haris. Setelah puas berpelukan, Haris melepasnya dengan lembut. "Apa kabar, nak?" "Alhamdulillaah, baik ayah." Haris tersenyum, "Raka mana? Bukannya tadi dia yang jemput kamu?" "Aa lagi beli bubur dulu, yah." "Loh, ko beli bubur? Buat siapa?" tanya Frida heran. "Buat adek," jawab Alysa. Ketika di rumah Alysa memang selalu menyebut dirinya dengan sebutan "adek". "Padahal ibu udah masak loh, nak." Frida berujar dengan mode pura-pura merajuk. Alysa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tadi aa yang nawarin, yaudah adek iyahin aja. Kirain ibu belum masak pagi ini." "Ah si aa teh gimana, padahal ibu tadi udah bilang ke dia kalau ibu udah masakin buat adiknya," Frida merajuk betulan. "Udah atuh bu, Raka lupa mungkin," kata Haris lembut. "Ibu tenang aja ya, adek pasti makan masakan ibu ko. Sarapan kali ini, adek makannya double," ucap Alya sambil menyengir kuda di balik cadarnya. Frida tersenyum mendengar itu. "Mm.. yaudah, kalau gitu." "Ayo masuk, nak." Ajak Haris seraya menarik lembut tangan Alysa untuk masuk ke dalam rumah. ▪▪▪▪▪▪ "Padahal ibu teh udah masak ai aa," Frida masih merajuk akibat Raka yang membelikan bubur untuk Alysa. Kini keluarga kecil itu tengah berada di meja makan untuk sarapan bersama. Raka menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum. "Ya gimana lagi bu, Raka lupa." "Hah.. dasar anak teh." Frida masih dengan mode merajuk. "Udah atuh bu, lagian gak masalah. Toh liat tuh adeknya, dia santai-santai aja kalau sarapan kali ini jadi double," kata Haris yang berusaha memberi pengertian kepada istrinya itu. "Iya, bu. Lagian adek juga kangen sama buburnya mang Edo dan masakan ibu juga," jawab Alysa sekenanya sambil makanannya. Mendengar jawaban Alysa, tak bisa dipungkiri lagi Raka dan Haris pun langsung tersenyum. "Kalau makan teh jangan belepotan atuh, dek," tegur Raka sedikit terkekeh yang melihat Alysa belepotan saat makan. Refleks Alysa menyentuh ujung bibirnya, lalu mengambil tissue untuk mengelapnya. "Hhe.. 'afwan. Saking senengnya sarapan hari ini jadi aja gini," ujarnya tersenyum sambil menunjukkan puppy eyes-nya. Tampaknya mode merajuk Frida tadi hanyalah dibuat-buat, karena terlihat sejak tadi ia tersenyum-senyum melihat tingkah putri bungsunya itu. Dan memang saat dirumah Alysa tidak memakai cadar. Ia melepas kain cadar yang selalu menutupi wajah cantiknya dari mana para ajnabi. "Emang setiap sarapan di wisma gak seneng ya?" tanya Raka. "Seneng sih, cuma ya beda aja gitu," jawab Alysa seadanya. "Pasti berbeda, seenak-enaknya berkumpul adalah dengan keluarga kita sendiri, termasuk soal makan bersama." Kata Haris. Mendengar itu, Frida, Raka, dan Alysa tersenyum. "Yaudah, ayuk kita makan jangan ngobrol aja ah," kata Frida. Akhirnya keluarga sederhana itu pun kembali melanjutkan aktivitas makannya dalam diam dengan sebuah senyuman yang tak pernah pudar. Memang benar seenak-enaknya berkumpul adalah dengan keluarga tercinta. ▪▪▪▪▪▪ Di tempat lain, disebuah masjid yang berada di perkomplekan. Ikfan nampaknya baru selesai melaksanakan sholat dzuhur berjama'ah. Memang benar, sejak melihat sosok Alysa tadi, entah mengapa Ikfan belum ingin beranjak pergi dari daerah perkomplekan tersebut. Mengingat hari ini adalah hari terakhirnya berada di Bandung, ia menjadi semakin berat hati untuk pergi. Sampai adzan dzuhur tiba, ia memutuskan untuk sholat berjama'ah terlebih dahulu ke masjid yang tak jauh dari rumah Alysa. Sejak lulus SMA, Ikfan tidak pernah bolos untuk melakukan sholat berjama'ah di masjid. Sebab ia tahu, lelaki memang diwajibkan untuk sholat berjama'ah di masjid. Bahkan Ikfan ini termasuk orang yang semangat dalam mengambil shaf pertama. Karena memang shaf terbaik bagi kaum lelaki yang shalat jama'ah di masjid adalah shaf terdepan. Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا "Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang ada pada adzan dan shaf pertama, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan mengundi, pastilah mereka akan mengundinya" (HR. Bukhari 615, 652, 2689, Muslim 437). Setelah usai melaksanakan sholat dzuhur berjama'ah, kini Ikfan tengah duduk di bangku yang berada tepat di pinggiran masjid. Sangat aneh memang, seorang Ikfan yang notabennya jarang duduk santai di luar rumah apalagi di daerah perkomplekan, kini ia nampak begitu akrab dengan lingkungan komplek yang padahal masih asing baginya. Dalam hatinya ia bimbang, apa yang akan ia lakukan. Pulang ke villa atau pergi menemui Alysa. Jujur, Ikfan merasa sangat sia-sia jika sudah datang ke perkomplekan ini tanpa bertemu dengan sosok yang menjadi alasannya kini berada di sini. "Gue jadi galau gini," gumam Ikfan sambil mengacak rambutnya sendiri. Drrrtt... drrtt.. Merasa ponselnya bergetar, segera Ikfan mengambil ponselnya itu yang berada di dalam saku jaketnya. "Ngapain ni bocah nelpon?" lirih Ikfan sebelum mengangkat telpon yang masuk ke ponselnya. "Iya halo, assalamu'alaikum," salam Ikfan dengan mode malas bicara. "Wa'alaikumussalam. Fan, lo dimana? Kenapa lo belum balik ke villa?" tanya Andre di sebrang sana. Ya, orang yang menelpon Ikfan saat ini adalah Andre. Salah seorang sahabat yang sering membuat Ikfan naik darah. "Lo udah balik?" bukan menjawab, Ikfan malah balik bertanya. "Udah curut, lo dimana?" tanya Andre lagi terdengar gemas pada Ikfan. "Ngapain lo nelpon?" pertanyaan Ikfan kali ini benar-benar membuat Andre ingin segera menerkamnya. "Bisa kagak sih lo itu jawab dulu pertanyaan gue," Terdengar Ikfan menghela nafasnya. "Gue ada di deket masjid, habis sholat dzuhur," jawab Ikfan. "Mesjid mana? Kita harus balik nih ke Jakarta sekarang. Sore ini si Aris harus udah ada di Jakarta," ucap Andre yang membuat Ikfan terkejut. "Apa? Sekarang? Balik ke Jakarta?" tanya Ikfan terkejut. "Biasa aje kali suaranya," timpa Andre. "Seriusan? Balik sekarang?" tanya Ikfan lagi yang kali ini dengan nada biasa. "Iya, makannya lo sekarang ada dimana, gue sama anak-anak jemput. Barang-barang lo udah gue beresin ko. Baik 'kan gue?" Ikfan tak bergeming, kini ia terdiam memikirkan sesuatu. "Fan, lo masih di sana, 'kan?" tanya Andre yang tak mendengar suara Ikfan. "Fan.." "Dre, gue minta waktu satu jam lagi. Baru nanti habis itu kita balik ke Jakarta," ujar Ikfan terdengar lirih. Mendengar nada bicara Ikfan, Andre merasa ada sesuatu dengan sahabatnya yang satu ini. "Kenapa, Fan? Apa lo buat ulah di Bandung?" tuduh Andre sekenanya. "Bukan," Ikfan setengah berdecak. "Terus? Kenapa lo minta waktu satu jam lagi?" Ikfan kembali menghela nafasnya. "Pokoknya gue minta waktu satu jam lagi, nanti habis ini gue kabarin lo buat jemput gue di sini." Kata Ikfan. "Lo baik-baik aja 'kan Fan?" tanya Andre yang kali ini bernada khawatir. Semenyebalkan apapun Ikfan, Andre tetap menyayanginya. Mengingat perjuangan selama kuliahnya bersama Ikfan, Andre menjadi terharu sendiri. "Gue baik-baik aja, lo tenang aja. Pokoknya satu jam aja lagi. Oke." "Oke, nanti.. gue bilang ke.. anak-anak BEM," ucap Andre terdengar sedikit ragu. Jujur, ia merasa Ikfan sedang ada dalam masalah. "Oke, thank's juga udah beresin barang-barang gue." "He'em," kali ini Andre bergumam dengan mode malas. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalam." "Huhhh.." Ikfan membuang nafasnya berat setelah mengakhiri telponnya dengan Andre. Ya Allaah, apa yang harus hambaMu ini lakukan? Batin Ikfan berteriak. Saat ini hati Ikfan semakin bimbang, apa yang harus ia lakukan. Sekarang ia harus segera pulang kembali ke Jakarta, tapi di sisi lain ia masih ingin berada di Bandung dan datang menemui Alysa. Akankah Ikfan berani datang menemui Alysa sebelum pulang kembali ke Jakarta?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN