Empat Belas

1835 Kata
"A, motor aa ko jalannya lamban sih?" tanya Alysa ketika masih berboncengan motor dengan Raka menuju rumahnya. "Sengaja," jawab Raka datar sambil fokus mengendarai motornya. "Jangan lamban atuh, a. Nanti lama nyampe ke rumahnya," Alysa mulai mengoceh. Tak ada jawaban, Raka seolah mengabaikan ocehan adiknya itu. Sedangkan merasa diabaikan, Alysa mulai mendumel-dumel tak jelas di belakang Raka. Raka mengetahui hal itu, namun ia lebih memilih diam agar tetap fokus mengendarai sepeda motornya. Ia tidak mau mengambil risiko jika meladeni ocehan adiknya itu, bisa-bisa nanti terjadi kecelakaan akibat mengobrol sambil bercanda saat diperjalanan. "Mau tau alasannya kenapa aa buat motornya jalan lamban?" tanya Raka saat berhenti mengendarai motornya karena berada di lampu merah. Seolah balas dendam, Alysa merajuk tak mau menjawab pertanyaan kakaknya itu. Raka menghela nafasnya karena menyadari bahwa adiknya itu marah padanya. "Mau martabak?" Alysa masih bungkam, namun di dalam hatinya sungguh ia sangat senang mendengar kata martabak yang diucapkan oleh kakaknya itu. Martabak adalah makanan favoritnya. Tapi lagi-lagi egonya mendominasi, ia lebih memilih diam, tak menjawab. Sedangkan Raka yang tahu adiknya semakin marah dan merajuk, ia langsung saja membelokkan motornya menuju ke arah tempat makanan yang menjadi salah satu makanan kesukaan adiknya itu. Di dalam hati, Alysa bersorak ria karena tanpa menjawab kakaknya itu sangat peka terhadap isi hatinya. Duh, jadi malu. ▪▪▪▪▪▪ Di tempat lain, terlihat seorang lelaki yang berjaket hijau tua dan memakai celana sirwal di atas mata kaki tengah celingak-celingukan ke kiri dan kanannya. Lelaki itu berdiri tak jauh dari sebuah rumah di daerah perkomplekan, rumah yang berwarna putih bercampur abu-abu, cukup sederhana, dan tidak bertingkat. Seperti layaknya seorang penguntit, lelaki itu juga nampak tengah menunggu seseorang yang akan keluar dari rumah tersebut yang sejak tadi ia intai. "Huh," helaan nafas Ikfan terdengar lelah. Benar, lelaki yang sedang berdiri di sana adalah Ikfan. Seperti niatnya sejak malam bahwa ia akan mengunjungi daerah jalan Natuna yang dimana ada tempat tinggal seorang gadis yang dulu pernah singgah di hatinya. Siapa lagi kalau bukan rumah Alysa? Sudah hampir tiga puluh menit Ikfan menunggu di jarak yang tak jauh dari rumah Alysa. Ia bagaikan seorang penguntit yang bersembunyi di balik tembok. "Sabar Fan, nanti juga Alysa keluar," gumamnya. ▪▪▪▪▪▪ "Udah gak ngambek lagi, 'kan?" tanya Raka saat setelah membeli martabak coklat kesukaan Alysa dan kini mereka sedang berada di parkiran. "Ngga hehe, makasih ya, a," seolah melupakan kejadian tadi, Alysa tanpa ragu menyunggingkan senyuman manisnya kepada Raka. Melihat tingkah labil adiknya yang walaupun sudah duduk di bangku kuliah, Raka hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Yaudah yuk, kita pulang. Ibu sama ayah pasti udah nungguin." Alysa mengangguk antusias sambil menjinjing kantung kresek yang berisikan martabak. "Iya, ayukk!!" Tak berseling lama keduanya pun pergi meninggalkan tempat parkiran tersebut. Keduanya bergegas pulang ke rumah untuk menemui ibu dan ayahnya yang pasti sudah menunggunya sejak tadi. ▪▪▪▪▪▪ "Pak, mau buburnya dong, satu," pesan Ikfan kepada seorang tukang bubur yang berada tak jauh dari kediaman Alysa. Pagi ini Ikfan rela menunda waktu sarapannya karena ia sudah sangat bertekad ingin mengetahui rumah Alysa dan berharap ia bisa melihat Alysa keluar dari rumahnya. Tapi nihil sampai jam delapan pagi ini, tidak ada tanda-tanda satu pun yang menampakkan sosok yang ia tunggu sejak tadi. Rumah Alysa terlihat sepi dan sunyi, tidak ada tanda-tanda orang yang akan keluar dari sana. "Orang baru ya, den?" tanya tukang bubur sambil menyiapkan pesanan Ikfan. "Iya, pak," jawab Ikfan tak sepenuhnya berbohong, toh dirinya memang orang baru di perkomplekkan tersebut walaupun bukan salah satu dari warga yang menetap tinggal di sana. "Habis olahraga atau ngapain? Keliling komplek?" "Jalan-jalan biasa aja, pak," jawab Ikfan seadanya. "Oh iya-iya." Drrrt... drrrt... Merasa ponselnya bergetar, lantas Ikfan langsung mengambil ponsel tersebut dari saku jaketnya. "Bunda," lirih Ikfan saat membaca nama bundanya tertera di layar ponselnya. "Assalamu'alaikum, bun," Ikfan mengangkat telpon. "Wa'alaikumussalam, Fan. Kamu lagi apa, nak?" tanya Rita dengan lembut di sebrang sana. Terdiam sesaat karena bingung harus menjawab apa atas pertanyaan bundanya itu, sebab melihat pada kenyataannya bahwa dirinya sedang menunggu Alysa di depan rumahnya. Tidak mungkin jika ia menjawab demikian, apa jadinya nanti? Bisa-bisa bundanya ini heboh. "Fan.." "Ikfan lagi makan bubur, bun," jawab Ikfan akhirnya. "Bubur? Sama siapa makan buburnya?" Kembali terdiam, Ikfan bingung jika ia menjawab sedang makan buburnya sendirian, bundanya pasti akan kembali bertanya kenapa ia makan bubur sendirian. Jika ia berbohong makan bubur bersama Andre, itu juga tidak mungkin, tidak enak dengan mang tukang bubur yang nanti akan mendengar bahwa Ikfan sedang membohongi ibunya. Bakalan dicap anak durhaka nanti ia sama tukang bubur. "Sendiri, bun. Bunda lagi apa?" Ikfan buru-buru bertanya balik agar Rita tidak bertanya lagi. "Bunda lagi selonjoran di kasur, habis rapihin tanaman di halaman belakang sama Nayla." "Ohh..." Seketika kefokusan Ikfan yang sedang telponan dengan bundanya hilang karena melihat sosok yang sejak tadi ia tunggu akhirnya muncul. Tapi tunggu, Ikfan tidak salah lihat, 'kan? Gadis yang sejak tadi ia tunggu, ternyata datang dari luar, bukan dari dalam rumahnya dan itu pun habis berboncengan motor dengan seorang lelaki. Alysa dibonceng oleh seorang lelaki? Oh... tidak! "Bun nanti Ikfan telpon lagi ya, Ikfan ada keperluan. Assalamu'alaikum." Putus Ikfan sepihak menutup telponnya dan langsung menyimpan kembali ponselnya itu ke dalam saku jaketnya. "Itu Alysa, 'kan?" Ikfan memicingkan matanya melihat sosok yang ia tunggu sejak tadi yang kini sedang berdiri di depan rumahnya dengan seorang lelaki. Tanpa Ikfan sadari, gelas yang ia pegang sejak tadi sekarang digenggamnya dengan erat. Hatinya merasa panas tatkala melihat Alysa akrab dengan seorang lelaki dan itu bukan dirinya. "Ini den buburnya, mangga dimakan," ucap tukang bubur yang membuyarkan pikiran panas Ikfan—sambil menaruh mangkuk bubur pesanannya di meja makannya. "Makasih, pak." "Sama-sama." Merasa selera makannya hilang, pandangan Ikfan sama sekali tak berpaling dari Alysa yang sedang asik mengobrol dengan seorang lelaki di depan rumahnya. Ikfan sangat yakin, bahwa itu adalah Alysa. Sebab melihatnya yang bercadar saja ia sudah yakin bahwa gadis yang sedang ia lihat sekarang ini memang benar-benar Alysa. Tapi kenapa Alysa bersama dengan seorang lelaki? Bukankah setahu Ikfan, Alysa adalah sosok gadis yang tidak bermudah-mudahan dekat dengan lawan jenisnya? Sungguh, saat ini Ikfan sedang merasa cemburu. ▪▪▪▪▪▪ "Maa syaa Allaah, kangen rumah," takjup Alysa sesampainya ia di depan rumahnya. Raka tersenyum seraya melepaskan helm di kepalanya. "Mau lepas helmnya atau diem aja nih?" Alysa menoleh kakaknya yang masih duduk di motor, sedangkan ia sudah turun dari motor tersebut dan berdiri di sampingnya. "Lepasin," ujarnya manja. Raka menghela nafas. "Kebiasaan." Alysa terkekeh. "'Kan aa yang baik." Sambil masih tersenyum, Raka pun membantu membukakan helm yang terpasang di kepala adik manjanya itu. "Makasih aa." "Hmm." "Bismillaah," gumam Alysa sebelum melangkah masuk ke dalam halaman rumahnya. Jujur ia sangat senang karena sudah lama tinggal di wisma, ia jadi merasakan rindu yang amat sangat dengan rumahnya itu. "Sa," Raka menghentikan langkah Alysa yang hendak berjalan memasuki rumahnya. Alysa menghentikan langkahnya dan beralih menoleh Raka. "Iya?" "Aa mau beli bubur dulu, kamu pasti belum sarapan, 'kan?" Alysa tersenyum, "iya, belum." "Yaudah, aa beli bubur dulu. Kamu masuk aja ke dalem duluan," titah Raka lembut. "Iya, a." ▪▪▪▪▪▪ Nafasnya terasa sesak, jantungnya berdetak sangat cepat, pikiran negatif mulai bergelayut di otaknya, juga harapannya yang sejak dulu sudah tersusun rapih kini terasa mulai sirna seketika. Itulah yang Ikfan rasakan saat ini tatkala melihat Alysa sudah berjalan memasuki rumahnya yang disambut hangat oleh ibu dan ayahnya. Tapi tunggu, kenapa lelaki yang bersama Alysa tadi tidak ikut masuk ke rumahnya juga? Kenapa..... "Wait! What? Laki-laki itu berjalan ke arah gue," Ikfan terkejut saat menyadari Raka berjalan ke arahnya. "Pak, beli buburnya satu," pesan Raka saat sudah berdiri tepat di samping gerobak mang tukang bubur. "Eh den Raka, iya den. Silahkan tunggu nya, den," tukang bubur terlihat sangat akrab dan ramah dengan Raka. Raka mengangguk, "iya, mang." Sedetik kemudian, Raka menoleh ke arah Ikfan yang juga sedang melihat ke arahnya. Tak urung, Raka tersenyum kepada Ikfan. Deg. Seketika nafas Ikfan terkecak melihat sosok lelaki yang tadi sedang bersama Alysa, kini tersenyum kepadanya. Walau ragu, Ikfan tetap membalas senyuman Raka dengan senyuman pula. "Tadi itu neng Alysa ya, Ka?" tanya mang tukang bubur kepada Raka. Raka tersenyum, "iya, mang. Itu Alysa." Deg. Lagi-lagi d**a Ikfan terasa sesak. Rasanya walaupun sedang berada dibumi, asupan oksigen Ikfan mulai berkurang. Ia susah bernafas tatkala mendengar obrolan kedua orang yang ada di hadapannya ini sedang membicarakan seorang gadis yang sejak tadi ia tunggu. "Dijemput dari wisma ya?" tanya mang tukang bubur lagi sambil masih menyiapkan bubur pesanan Raka. "Iya, mang." "Libur kuliah?" "Sepertinya begitu, saya juga kurang tau. Saya belum tanya sama dia." "Ohhh.." Raka dan mang tukang bubur ini memang sudah akrab, karena mang tukang bubur ini sering mangkal di perumahan komplek, bahkan di depan rumah Alysa juga sering. Mang bubur ini juga sudah tahu cerita-cerita manis soal keluarga Alysa, sebab selain kenal dekat dengan Raka, mang tukang bubur ini juga kenal dekat dengan kedua orangtuanya. "Ini Ka buburnya," ucap mang tukang bubur seraya memberikan bubur pesanan Raka. Raka menerimanya dan membayarnya, "ini, mang. Makasih." "Sama-sama." Tampak Raka sudah berjalan melegang pergi—kembali ke tempat motornya yang berada di depan rumah Alysa. Namun mata Ikfan semakin membulat sempurna tatkala melihat Raka memarkirkan motornya ke dalam garasi rumah Alysa dan setelahnya ia pun masuk ke dalam rumah itu. "Siapa dia?" gumam Ikfan penuh selidik. "Ya Allaah, belum dimakan juga den buburnya? Keburu dingin, gak enak atuh," ucapan mang tukang bubur ini membuyarkan kembali pikiran Ikfan tentang sosok lelaki yang baru saja memenuhi ruang otaknya. Ikfan menyengir kuda. "Ini mau dimakan ko, pak." "Ada masalah ya den sampai makan buburnya ke tunda gitu?" "Hah? Ah ngga ko pak. Gak ada masalah," elak Ikfan berbohong. Mang tukang bubur menatap Ikfan aneh. "Yakin?" Sekelebat terpikir sesuatu di otak Ikfan—merasa punya solusi. Ikfan berpikir akan melontarkan beberapa pertanyaan tentang Alysa dan sosok lelaki tadi kepada mang tukang bubur yang ada di hadapannya saat ini. Ikfan merasa tukang bubur ini bisa menjadi narasumber yang baik untuk mengetahui tentang Alysa. "Pak, saya boleh nanya gak?" Mang tukang bubur yang masih menatap Ikfan kini semakin menatapnya aneh. "Boleh, ada apa emang den?" "Laki-laki tadi itu siapanya perempuan bercadar tadi, pak? Suaminya?" tanya Ikfan langsung pada intinya. Terdiam sesaat untuk mencerna pertanyaan Ikfan, lalu seketika mang tukang bubur itu terkekeh. "Suaminya dari mana, orang neng Alysa itu masih kuliah, belum nikah." Bagai ada angin sejuk yang menerpa dirinya, mendengar itu Ikfan langsung merasa lega karena mengetahui bahwa Alysa belum menikah, tapi Ikfan tetap sedikit khawatir. "Kalau bukan suaminya, terus dia siapanya, pak? Ko kayaknya akrab bener sama gadis bercadar itu?" "Ohh itu.. laki-laki tadi teh namanya Raka, dia teh kakak kandungnya Alysa." Ikfan terkejut. "Kakak?" "Iya, kakaknya. Tapi.. kenapa aden teh nanya-nanya soal itu? Aden teh kenal sama neng Alysa dan den Raka?" heran mang tukang bubur. Alhamdulillaah. Batin Ikfan bersorak ria setelah tahu siapa Raka. "Bukan apa-apa pak, cuma tanya aja." Ikfan berusaha menormalkan raut wajah bahagianya di depan mang tukang bubur. Sungguh sangat konyol, karena tadi Ikfan sempat berpikir yang tidak-tidak soal Alysa dan Raka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN