Tiga Belas

1095 Kata
"Assalamu'alaikum bu," salam Alysa membuka obrolan dengan ibunya melalui telpon. "Wa'alaikumussalam, Sa. Ibu ganggu kamu gak?" balas salam Frida—ibunya Alysa. "Ko ibu nanyanya gitu sih, jelas nggak ganggu ko, bu. Justru Alysa malah senang ibu menelpon." "Hhi.. iya, Sa. Maaf." "Ibu ini," ucap Alysa bernada pura-pura merajuk. "Gimana kabarmu, sayang?" "Alhamdulillaah, Alysa baik, bu. Kabar ibu, ayah, sama aa gimana?" "Alhamdulillaah, ibu, ayah, sama aa juga baik-baik aja di sini." "Alhamdulillaah kalau gitu." "Sa, sebetulnya ibu nelpon kamu gini, ibu ingin kamu pulang, sayang. Bisa?" terdengar Frida bertanya dengan sungkan. "Bisa sih, bu. Alysa juga lagi santai hari ini." "Beneran?" "Iya, bu. Bener. Emang ada apa, bu?" tanya Alysa dengan nada sedikit khawatir. "Gak ada apa-apa sayang, ibu cuma kangen aja sama anak gadis ibu." Frida mulai menggoda anaknya. "Ih ibu ini.." Terdengar Frida terkekeh pelan di sebrang sana. "Yaudah, Alysa siap-siap dulu ya, bu. Alysa segera pulang ke rumah." "Iya, sayang. Hati-hati di jalan ya.. ibu, ayah, sama aa nungguin kamu. Atau kamu mau dijemput sama aa kamu aja biar aman? Mumpung aa kamu lagi libur juga hari ini." Terdiam sesaat karena memikirkan pernawaran ibunya, hingga akhirnya.. "Boleh, bu. Alysa juga udah kangen sama aa." "Mm, yaudah kalau gitu. Nanti ibu suruh aa kamu jemput kamu ke wisma ya." "Iya, bu." "Yaudah, ibu tutup ya telponnya. Ibu tunggu, sayang. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalam." Setelah selesai telponan dengan ibunya, Alysa pun mulai bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya. Alysa adalah anak kedua dari sepasang suami-istri yang bernama Haris dan Frida. Alysa memiliki seorang kakak laki-laki yang sering ia panggil dengan sebutan "aa". Kakak Alysa sendiri bernama Raka Adhlino Gavin. Raka ini berbeda dua tahun dengan Alysa—sama seperti Arkan dan Ikfan. Raka adalah seorang kakak yang sangat penyayang terhadap adik dan keluarganya. Raka sendiri adalah lulusan dari Institut Teknologi Bandung dalam jurusan Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) yang sekarang sudah bekerja disalah satu cabang perusahaan keuangan. Kepintaran Alysa bisa dikatakan kalah jika dibandingkan dengan Raka—kakaknya—sebab selain pandai dalam ilmu dunia, kakaknya itu juga sangat pandai dalam ilmu akhirat. Terbukti saat ini walau di tengah kesibukannya bekerja, Raka selalu saja meluangkan waktunya untuk belajar agama, bahkan ia juga saat ini sedang menjadi salah satu mahasiswa dari Ma'had bahasa Arab yang berada di Bandung—mengambil kelas karyawan. Raka adalah sosok suri tauladan yang baik bagi Alysa—adiknya. Selain agamis, kakaknya itu juga seorang yang pekerja keras. Bahkan Alysa selalu berharap, kelak semoga saja suaminya akan sama seperti sosok kakaknya itu. Alysa Bismillaah, aa jemput adek di wisma ya a? Ibu udah bilang ke aa, 'kan? Raka Iya, dek. Tungguin aa ya, ini aa lagi di jalan. Alysa Iya, a. Aa hati-hati ya:) fii amanillaah♡♡♡ Raka Iya aamiin♡ Membaca pesan terakhir Raka di room chat-nya melalui line, Alysa malah tersenyum sendiri. "Rasanya kangen sama aa, pengen meluk." ▪▪▪▪▪▪ Tok..tokk..tokkk... "Assalamu'alaikum.." "Teh, pintu depan ada yang ngetuk. Buka coba," kata Resa saat sedang memasak pisang goreng di dapur bersama Nesha. Nesha mengangguk. "Yaudah, kamu adon juga pisang lainnya ya. Teteh mau buka pintu dulu." Resa mengangguk. Setelah itu, Nesha pun bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil jilbab syar'i dan cadarnya. Untunglah saat ini ia sedang memakai gamis rumahan, jadi ia tidak perlu repot-repot mengganti pakaian, hanya tinggal memakai jilbab dan cadarnya saja. Dengan langkah yang sedikit cepat, Nesha berjalan menuju pintu depan wisma karena ketukan pintunya itu yang terkesan meminta untuk segera dibuka. "Assalam—" "Wa'alaikumussalam," sela Nesha cepat sambil membuka handle pintu. Mendengar itu, lantas seorang lelaki yang tadi mengetuk pintu pun langsung terdiam dan membisu tatkala Nesha menjawab salamnya seraya membuka pintunya—tidak terlalu lebar. Nesha berdiri di balik pintu yang ia buka sedikit karena ia tahu yang di depannya adalah seorang lelaki. Ia merasa sedikit canggung dan pastinya akan kaku. "Cari siapa?" tanya Nesha. "Saya Raka, saya ke sini mau jemput Alysa." Jawab Raka terkesan dingin dan tegas. Tentu tanpa menatap lawan bicaranya. "Ohh.. mm.. kakaknya Alysa, kah?" tanya Nesha sedikit ragu untuk memastikan. Tanpa bersuara, Raka hanya mengangguk sebagai jawaban. "Mm... si.. silahkan masuk kalau gitu," Nesha mulai gugup. Ia bingung harus bagaimana di hadapan kakak Alysa yang terkesan dingin. "Tidak usah, saya tunggu di depan saja," tukas Raka menolak. Tidak mungkin jika Raka masuk ke kosan putri, ia juga masih tahu malu dan tahu batasan bukan? "Yaudah, saya panggilkan Alysanya dulu," cicit Nesha. "Mm." Tanpa ba bi bu lagi, Nesha menutup pintunya kembali dan pergi menuju kamar Alysa. Nesha meninggalkan Raka begitu saja yang masih setia berdiri di depan pintu. "Dasar akhwat," gumam Raka sebari menatap pintu yang kembali tertutup. ▪▪▪▪▪▪ "Sa," panggil Nesha membuka handle pintu kamar Alysa dan mendapati Alysa tengah memakai cadarnya di depan cermin. "Iya, teh," Alysa menolehnya sekilas lalu kembali berbalik menatap dirinya di cermin. "Ada aa kamu di depan." Nesha memasuki kamar Alysa dan berdiri di sampingnya. "Oh, aa udah nyampe ya?" "Iya, kamu mau pulang?" "Iya, teh. Ibu kangen aku katanya," jawab Alysa yang terlihat sudah siap. Mendengar itu Nesha tersenyum. "Yaudah, hati-hati di jalan ya." "Mm." Alysa mengangguk sambil tersenyum. "Kalau gitu aku pamit ya teh, salam buat semuanya. Assalamu'alaikum." "Iya, wa'alaikumussalam." Keduanya pun saling menjabat tangan dan berjalan keluar dari kamar Alysa. ▪▪▪▪▪▪ "Aa," heboh Alysa ketika mendapati Raka tengah duduk di bangku yang berada di teras wisma. Raka pun menoleh Alysa sambil tersenyum. "A Raka, Alysa kangen aa," ucap Alysa yang langsung menghambur memeluk tubuh kekar kakaknya itu. Merasa belum siap dengan tindakan Alysa—memeluk tubuhnya tiba-tiba—Raka pun sedikit terdorong ke belakang akibat dorongan tubuh Alysa. Tapi tak urung, Raka juga membalas pelukan Alysa setelahnya. "Udah kuliah juga masih aja manjanya kayak anak SMP," kata Raka yang berusaha menggoda adik manisnya itu. Mendengar itu, lantas Alysa melepas pelukannya lalu beralih menatap wajah kakaknya. "Ih aa, biarin. Emang aa gak kangen gitu sama Alysa?" tanya Alysa dengan nada merajuk. Raka terkekeh. "Ya kangen-lah, masa ngga." Seketika senyuman Alysa kembali merekah tatkala mendengar bahwa kakaknya itu juga merindukannya. "Aa apa kabar?" "Baik, kamu gimana?" "Baik juga, a. Seperti yang aa liat." Raka masih tersenyum. "Alhamdulillaah kalau gitu." "Yaudah atuh, yuk kita pulang , a. Adek udah gak sabar pengen ketemu ibu sama ayah." Raka enggan melepas senyuman di bibirnya tatkala menatap ekspresi adiknya yang berbinar, yang terhalang oleh kain cadar. "Iya, ayo." Alysa pun menggandeng lengan kekar kakaknya seraya berjalan menuju motor yang terparkir di depan gerbang wisma. Melihat tingkah adiknya itu, Raka hanya bisa menurut dan tersenyum. Sungguh, terkadang Raka selalu merasa adiknya ini bukanlah adiknya, melainkan seperti istrinya saja. Semoga istriku nanti tidak semanja Alysa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN