Bab 2

1239 Kata
Sepanjang pertandingan, Shea selalu menutupi matanya dengan telapak tangannya. Mengerikan rasanya bila melihat dua orang bertarung sampai menimbulkan luka yang tidak bisa dibilang kecil. Walaupun hal tersebut bukanlah sesuatu yang ilegal karena merupakan salah satu olahraga yang sudah diakui keberadaannya dan bahkan memiliki banyak peminat, Shea tetap saja tidak suka dengan jenis olahraga yang satu itu. Salah-salah, nyawa seseorang bisa melayang, seperti kasus yang pernah ia baca. Dan sungguh, menyebalkan sekali rasanya saat dipindahkan ke bagian olahraga. Apalagi seniornya adalah wanita yang bermulut tajam. Benar-benar sebuah kutukan berada di bawah bimbingan Roz. Beruntung ada John yang terkadang menjadi pembelanya pada saat-saat tertentu. "Bagaimana kau membuat review-mu nanti kalau kau sendiri tidak melihat pertandingannya langsung, Shea." Shea menoleh ke arah John ketika pria itu berbicara. Tampak di kedua matanya John begitu fokus mencari angle yang tepat agar terlihat bagus karena pertandingan ini disiarkan secara langsung. "Aku tidak bisa melihatnya, John. Ini namanya kekerasan." Masih berusaha menutupi matanya, Shea menyahuti perkataan John sebelumnya. John tertawa. Kali ini ia mengalihkan pandangannya pada Shea walau hanya sebentar. "Kau harus terbiasa dengan ini, Shea." Shea mendengus panjang dan kembali memutar pandangannya ke depan—walau posisi tangannya tak berubah, tetap berada di kedua matanya untuk menghalau penglihatannya dari apa yang terjadi di depan sana. Dan ia pun turut menyumpal kedua telinganya dengan ear plug guna meredam suara debuman yang mengganggunya. Saat pertandingan dinyatakan selesai, saat itu pula kelegaan menguasai diri Shea dan mengembalikan senyumnya. Ia bahkan tidak peduli siapa yang meraih kemenangan di antara Red dan lawannya, Eric. Namun, hal itu tak berlangsung lama ketika ia teringat akan ucapan Red yang mana memintanya untuk tidak pulang terlebih dahulu karena pria itu akan menemuinya. Sebelumnya, Shea sudah berusaha sekuat mungkin untuk mengingat siapa itu Red, tetapi ia tak mendapat hasil apa pun. Ia merasa belum pernah bertemu dengan Red. Mengetahui namanya saja baru hari ini. Lantas, bagaimana bisa pria itu tahu nama lengkapnya? Ah! Shea benar-benar habis akal jika memikirkan hal tersebut. "Kita langsung pulang, John?" tanya Shea kala John mematikan kameranya dan menyusun beberapa peralatan sembari memberi instruksi kepada beberapa kru lainnya. "Ke backstage, Shea. Setelah ini kita masih harus melakukan wawancara kembali." "Roz yang kali ini akan bertugas, kan?" Shea berjalan mengikuti John di antara kerumunan orang. Ia sedikit kesusahan dengan tubuh kecilnya yang mudah oleng bila tersenggol sedikit saja. "Kau, Shea." "Kenapa aku?" Shea bertanya dengan nada tak suka, tetapi merasa lega di saat yang bersamaan karena berhasil keluar dari kerumunan yang begitu menyesakkan. "Karena Roz tak akan membiarkanmu tenang, Shea." John menoleh ke arah Shea untuk memberi seringaiannya kepada wanita itu. Shea mendengus kasar. Ia benar-benar sedang berada dalam masalah saat ini. Bagaimana mungkin ia bisa mewawancarai orang yang wajahnya terdapat banyak luka, bahkan darah. Itu mengerikan. Entah Shea sanggup atau tidak. "Ah! Kau sudah di sini rupanya." Kendati tak mengenal dekat sosok Red Fabray, Shea masih dapat mengingat suara pria itu. Dan jelas sekali orang yang baru saja berbicara dengannya adalah Red. Untuk itu, Shea memutar arah pandangnya kepada Red. Melihat wajah pria itu yang habis bertarung, otomatis kedua matanya menyipit, seakan sedang menghindari pemandangan yang menurutnya sangat mengerikan itu. "Kau ingin mewawancaraiku, bukan? Lakukanlah terlebih dahulu sebelum kita berbicara empat mata." Sambil mengatakan itu, Red membuka botol air mineral dan menyiramkannya ke kepalanya. Hal itu tertangkap jelas di mata Shea meski ia sudah menghindarinya. Di dalam hati, Shea meringis. Bayangan akan rasa sakit saat luka yang masih basah itu terkena oleh air terngiang di dalam benaknya. Dan pria di depannya ini seperti tidak merasakan apa-apa. Malah, Red juga mengusap wajahnya yang dipenuhi beberapa luka dengan kasar. Tempat ini benar-benar neraka bagi Shea. "Angkat mic-mu, Shea. Kita wawancara sekarang!" seru John yang sudah siap di belakang kamera. Di tempatnya, Shea bingung harus berbuat apa. Tangannya gemetaran karena disuguhi adegan yang begitu menakutkan. Beberapa kali ia sempat menarik napas dalam-dalam. Sedikit berhasil karena perlahan ia mulai mendapatkan ketenangannya kembali. Setidaknya, Shea harus bersikap profesional. Ia masih terbilang baru di dalam dunia jurnalisme ini. Kalau untuk wawancara saja tidak bisa, bagaimana orang lain dapat percaya padanya. Selain itu, ia juga ingin mendapat pengakuan dari rekan seprofesinya bahwa kinerjanya patut untuk diperhitungkan. Maka dari itu, mau tak mau Shea harus menjalankan tugasnya meski ia sedikit ketakutan. Syukurlah Red membasuh wajahnya dengan air, lukanya tidak begitu kelihatan seperti sebelumnya karena darah yang berada di sana sudah menghilang. "Perhatikan setiap katamu, Shea. Ini siaran langsung." John memperingati. Sekali lagi Shea menarik napasnya, mengacungkan ibu jarinya kepada John sebagai pertanda bahwa ia tak akan melakukan kesalahan. Pada akhirnya, wawancara itu pun berjalan dengan baik. John tampak puas. Tak jauh berbeda dengan Shea yang kini mengukir senyum di bibirnya karena merasa bangga atas usahanya. "John, aku pinjam Shea sebentar." Kalimat itu berhasil membuat senyum Shea luntur dalam sekejap. Belum sempat ia melayangkan protes, satu tangan sudah hinggap di lengannya dan membawanya tanpa permisi. Entah kenapa ketika Red menariknya, Shea tak bisa mengeluarkan suaranya sedikitpun sehingga protesnya hanya tersimpan di dalam hati. "Duduklah dulu." Dengan sopan, Red mempersilakan Shea untuk duduk. Shea tak menggubris ucapan Red. Ia malah sibuk melayangkan tatapanya ke sepenjuru ruangan. Dan bingung ia sedang berada di mana saat ini. Yang jelas, tempat ini cukup sepi. "Duduklah, Shea." Sekali lagi kata itu keluar dari mulut Red, tetapi nada sopan dalam suaranya sudah berganti dengan ketidaksabaran. "Tidak." Shea menggeleng cepat. "Aku tidak mengenalmu sama sekali dan aku merasa kita tidak memiliki urusan apa pun." "Hm ... begitu, ya?" Red yang tadinya sudah duduk, kini bangkit berdiri dan bergerak secara perlahan ke arah Shea dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana dan seringaian culasnya. "Ka-kau mau apa?" Shea tergagap saat Red berhasil memojokkannya sampai ke dinding. Matanya bergerak ke sana kemari, mencari celah dan waktu yang tepat untuk kabur. Meletakkan satu tangannya di dinding, Red menghunuskan pandangannya pada Shea dan ekspresinya berubah menjadi datar. "Jangan pura-pura bodoh, Shea. Aku tahu kau mengenalku." Shea menunduk, membiarkan helai rambutnya menutupi wajahnya. Dan ia tidak berniat menanggapi ucapan Red sama sekali. "Ayolah, Shea. Jangan bermain-main denganku." Red berbisik di telinga Shea. Tangannya yang bebas bergerak menyingkirkan rambut Shea dari wajahnya, lalu menjepit dagunya dan tanpa ragu mengangkat wajah wanita itu agar menatap ke arahnya. "Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu," kata Shea. Suaranya terdengar lebih berani. Dan matanya juga sudah tak takut lagi tatkala bertatapan dengan Red walau ia masih kelihatan sedikit gelisah. Cukup sudah. Kesabaran Red telah habis. Ia melepas kontak langsung dengan Shea dan mundur beberapa langkah. Masih menatap tajam Shea, kini kedua tangannya bertumpu pada pinggangnya. "Maggie Newell. Dia Ibumu, kan?" tanya Red, yang tak lagi berbasa-basi seperti sebelumnya. Untuk kedua kalinya, Red berhasil mengejutkan Shea. Setelah mengetahui nama lengkapnya, pria itu juga mengetahui nama ibunya. "Bagaimana kau tahu?" Red menyipitkan matanya. "Kau benar-benar tidak tahu?" "Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan." Saking bingungnya, kepala Shea sampai pusing. Pria yang satu ini benar-benar aneh. Kali ini air muka Red berubah total. Rahangnya yang menegang sudah tak tampak lagi. Kini, ia lah yang gantian dibuat kebingungan oleh Shea. Dari wajahnya saja, Red merasa bahwa wanita itu memang tidak tahu apa-apa. Tetapi, bagaimana bisa? "Maggie Newell, Ibumu, dia akan menikah dengan Ayahku. Tidakkah kau mengetahui hal itu?" tanya Red, nadanya tak sekeras sebelumnya, malah terselip keheranan di sana. Dari semua ucapan Red, yang barusan adalah perkataan pria itu yang benar-benar membuat seorang Shea terkejut bukan main. Matanya bahkan sampai membelalak lebar dan mulutnya pun ikut terbuka. Ibunya menikah lagi? Oh, Tuhan! Shea rasanya ingin mati saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN