Bab 3

1294 Kata
Tak ada satu hal pun dari diri Shea yang dapat membantunya keluar dari masalah. Pikirannya bahkan masih kebingungan mencari jalan keluar atas semua kesusahan ini. Ia hanya bisa termenung tanpa semangat sejak kepulangannya dari T-Mobile Arena. Mendadak Shea kehilangan gairah hidupnya. Bermula dari pengakuan Red yang mengatakan bahwa ibunya akan menikah dengan ayah dari pria itu sampai nomor ibunya yang tak dapat dihubungi sama sekali. Ini adalah pernikahan ibunya yang keempat semenjak bercerai dengan ayahnya beberapa tahun silam. Ia benar-benar tak bisa memahami apa yang ada di dalam isi kepala ibunya sampai wanita yang bahkan sudah berusia lima puluhan itu bolak-balik menikah, lalu bercerai. Menghela napas panjang, kedua mata Shea pun berputar melihat sekeliling dan mendapati beberapa lampu yang sudah mati dan sebagian karyawan sudah pulang. Shea sendiri sebenarnya tidak mendapat jadwal lembur hari ini. Tugas terakhirnya hari ini hanyalah mewawancarai Red dan Eric lantas membuat review dari pertandingan tersebut. Namun, entah kenapa ia masih betah duduk di kubikelnya. Padahal, selama ini ia selalu ingin pulang lebih awal. Lantunan lagu milik Justin Bieber yang berjudul I'm The One memecah keheningan. Itu adalah nada dering ponsel Shea. Buru-buru ia mengambil benda pipih tersebut, berharap yang menghubunginya kali ini adalah sang ibu. Sesuai dengan permohonannya, nama sang ibu sebagai penelepon muncul di layar ponselnya. Segera ia menggeser ikon berwarna hijau dan meletakkan ponselnya di telinga. "Hai, Anakku! Ada apa meneleponku sampai sebanyak ini? Aku pikir kau sudah lupa kalau kau masih memiliki seorang ibu." Shea mendengus di awal untuk menanggapi perkataan Maggie—ibunya. Shea tahu betul jika ibunya kedapatan menyindirinya walaupun kalimat itu diucapkan dengan nada merajuk. Harus Shea akui bahwa hubungannya dengan sang ibu tidak terlalu dekat. Ia sendiri yang sengaja membuat jarak sejauh mungkin dengan Maggie. Muak rasanya melihat sikap ibunya yang tak pernah berubah. Itu sebabnya Shea lebih memilih kabur ke Vegas daripada harus menetap di Virginia bersama ibunya. "Katakan padaku kalau kau tidak akan menikah lagi, Mom." "Ah! Sudah kuduga kau meneleponku untuk menanyakan hal itu." Terdengar suara kekehan Maggie di seberang telepon sebelum wanita itu kembali melanjutkan kalimatnya. "Jadi, kau sudah melihat bingkisan yang kukirimkan ke apartemenmu?" "Bingkisan?" Kedua ujung alis Shea menyatu manakala pertanyaan itu terlontar dari mulutnya. Dan lenyap saat ia mengerti bingkisan apa yang ibunya maksud. "Jadi, salah satunya berisi undangan pernikahanmu?" tebaknya. Selama Shea pergi dari Virginia dan memutus segala kontak dengan sang ibu, Maggie memang tak pernah absen mengiriminya bermacam bingkisan dengan isi yang beragam. Namun, ketika tahu kiriman itu berasal dari ibunya, Shea tak pernah membukanya lagi. "Kau belum membukanya? Lalu, bagaimana kau bisa tahu, Shea?" Telinga Shea menangkap nada kaget dalam suara ibunya. "Pria yang akan kau nikahi itu memiliki nama belakang Fabray, bukan?" "Bagaimana kau tahu, Nak?!" Yang satu ini, ibunya terdengar lebih terkejut dari sebelumnya. Dan Shea hanya memutar kedua bola matanya karena menganggap Maggie terlalu berlebihan. "aku bertemu dengan Red Fabray, anak dari pria yang akan kau nikahi itu, Mom." Shea membuat suaranya terdengar normal meski tubuhnya sudah terbakar api kekesalan. "Kau serius?!" Sekali lagi Maggie membuat nada terkejut dalam suaranya. Dan Shea menarik napas dalam-dalam. "Bagus sekali kalau kalian sudah bertemu. Bagaimana penampilannya menurutmu, Sayang? Apa dia cocok untuk dijadikan sebagai Kakakmu? Ah! Seperti yang aku dengar selama ini, dia sangat terkenal. Wajahnya juga sangat tampan. Kau pas—" Tak peduli sepanjang apa kalimat ibunya yang belum tersampaikan, Shea memilih memutus langsung sambungan telepon mereka. Ia lantas membanting ponselnya ke atas meja tanpa memikirkan berapa uang yang sudah ia keluarkan hanya untuk membeli benda tersebut, dan berteriak setelahnya untuk meluapkan segala emosi yang mengendap dalam dirinya. Ibunya seperti tidak pernah belajar dari pengalaman karena menikah lagi bahkan setelah pernikahan sebelum-sebelumnya selalu berakhir dengan kegagalan. Mengambil tasnya dan memakai sepatunya, Shea meninggalkan kantornya, bergegas kembali ke apartemen untuk istirahat. Persetan dengan ibunya. Jika Maggie ingin menikah sampai seratus kali, Shea sudah tak lagi peduli. Biarkan saja ibunya memilih jalannya sendiri karena semenjak memutuskan tinggal di Las Vegas, maka jalannya dengan sang ibu sudah tak sama lagi. "Shea!" Seseorang memanggilnya ketika ia baru saja menginjakkan kaki di lobi. Kepalanya bergerak ke kanan untuk mengikuti asal suara, dan mendapati Red di sana. Seolah tak yakin, Shea menyipitkan matanya dan menaruh fokusnya pada sesosok lelaki yang tengah berjalan menghampirinya itu. Pria itu memang Red. Dan Shea tidak bisa menebak sama sekali apa tujuan pria itu datang ke kantornya di tengah malam seperti ini. Ia pikir, urusannya dengan Red sudah selesai. "Apa lagi?" tanya Shea langsung. Ia tak menutupi kelelahan dalam suaranya. Demi, Tuhan! Shea hanya ingin pulang dan mengistirahatkan tubuh serta pikirannya. Kenapa rasanya sulit sekali. "Aku ingin berbicara sebentar." Menghela napas panjang, Shea melipat kedua tangannya di depan d**a. "Bicaralah sekarang." "Bisakah kita berbicara di rooftop?" Awalnya, raut wajah Shea masih berada dalam skala yang tidak perlu dikhawatirkan, tetapi hanya dalam sekali kedip, air mukanya berubah drastis. Wajahnya memerah dan matanya melotot. "Kau pikir kau siapa, hah?! Aku baru turun dari atas dan kau mengajakku ke atap? Asal kau tahu saja, lift sudah mati di tengah malam seperti ini! Kau mau membunuhku dengan menaiki tangga sampai ke atap?!" Kesabaran Shea telah habis. Bom waktu yang berusaha ia tahan sejak tadi akhirnya meledak. Dan Red lah orang tidak beruntung yang harus berbesar hati menerima ledakan tersebut. "Ah, maafkan aku. Aku tidak tahu." Red meringis, mengangkat kedua tangannya sebatas d**a. "Baiklah, sebaiknya kita berbicara di dalam mobilku saja." Ia mengatakannya dengan hati-hati. Bukan takut akan kemarahan Shea, ia hanya tak enak hati dengan wanita itu karena sikap tidak sopannya ketika di T-Mobile Arena tadi. Shea meniup udara dengan kasar, melirik sekilas ke arah Red sebelum berjalan mendahului pria itu. "Di mana mobilmu?" tanya Shea kemudian. Awalnya Red sudah ingin menahan Shea kala wanita itu pergi begitu saja, tetapi setelah pertanyaan tersebut keluar dari mulut Shea, niat itu pun lenyap. Dan senyum mengembang di bibirnya. Kini, keduanya sudah berada di mobil Red, dengan Red yang duduk di balik kemudi dan Shea di sampingnya. Red sedikit menggeser tubuhnya ke arah Shea supaya bisa menatap wanita itu dengan leluasa. Berbeda dengan Shea yang tampak cuek dan memilih untuk tetap memandang ke depan. "Aku ingin bekerja sama denganmu, Shea." Red langsung menyampaikan intinya. "Aku tidak tertarik." Dengan wajah malasnya dan memainkan kukunya, Shea menyahut datar. "Aku belum selesai, Shea." Red menghela napas panjang. Kali ini gantian ia yang tersulut emosi karena sikap Shea. Namun, ia mencoba tetap dalam kondisi yang stabil jika misinya ingin terlaksana dengan baik. "Berhubung kau sudah tahu jika Ibumu akan menikah dengan Ayahku, aku harap kita bisa bekerja sama setelah ini." Tiba-tiba saja Shea menggeram, dan Red dibuat kebingungan. "Sial! Aku benar-benar tidak nyaman dengan situasi ini," gerutu Shea seraya merogoh isi tasnya. Meskipun kalimat itu hanya berupa gerutuan, Red dapat mendengarnya dengan jelas. Ia pun mulai bertanya-tanya dan mengoreksi dirinya sendiri serta mencari tahu sikap dirinya yang mana yang membuat wanita itu tak nyaman. Saat sedang mencari tahu jawaban atas sikap membingungkan Shea, tiba-tiba saja wanita itu menangkup wajahnya dan meletakkan sesuatu yang lengket di sana. "Kau sedang apa?" Seketika Red panik. Ia pun langsung bercermin setelah Shea selesai. Matanya membelalak sempurna saat mendapati plester menempel di salah satu lukanya. "Aku tidak bisa melihat luka, dan itu membuatku tidak nyaman," jelas Shea yang lagi-lagi menempelkan benda itu di luka Red yang lainnya sampai semua luka pria itu tertutupi. "Selesai," kata Shea sembari menutup kotak P3K-nya yang selalu ia bawa ke mana-mana, lalu memasukkan benda yang menurutnya sangat berharga itu ke dalam tasnya. "Kau—" Red sungguh kehabisan kata-kata. "Sepertinya aku sudah tahu apa yang ingin kau bicarakan denganku. Dan seperti perkataanku sebelumnya, aku tidak tertarik sama sekali. Jadi, aku pulang sekarang, ya? Dah! Aku harap lukamu segera sembuh." Dan setelah mengatakan itu, Shea langsung keluar dari mobil Red. Sedang Red sendiri masih terbengong di tempatnya. Shock berat terhadap perlakuan Shea yang menurutnya cukup aneh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN