Bab 9

1570 Kata
Shea mematut dirinya di depan cermin, memasang black lace choker di lehernya sebagai pemanis dari penampilannya malam ini. Tak lupa mengikat sebagian rambutnya yang baru saja diwarnai menjadi hitam ke belakang. Sengaja malam ini Shea berpenampilan serba hitam. Bahkan, kuku tangan dan kakinya pun tidak luput dari warna hitam. Dari sekian banyak riasan di tubuhnya, hanya bibirnya saja yang diwarnai merah gelap. Hitam bukanlah gayanya. Apalagi sampai mengubah rambutnya menjadi warna gelap seperti itu juga. Ini adalah yang pertama. Entahlah, Shea hanya ingin merefleksikan dirinya yang tengah dipenuhi kesuraman. Tak ada tempat baginya untuk melampiaskan apa yang dirasakannya belakangan ini. Maka, ia mencurahkan semua itu lewat penampilannya hari ini. Persetan jika ia ditertawakan orang-orang karena memakai pakaian serba hitam di saat ibunya tengah bersuka cita melangsungkan pertunangannya dengan pengusaha kaya raya yang bernama Hershel—ayah Red. Lagipula, entah sejak kapan Shea mau-mau saja disuruh datang ke acara ini. Padahal, sejak Maggie bercerai lantas menikah beberapa kali setelahnya, ia tak pernah mau terlibat sedikit pun. Bahkan, Shea tak pernah tahu siapa ayah tiri dan saudara tirinya sebelum ini. "Shea! Kau pergi dengan Mommy, kan?" Dari luar, Shea dapat mendengar suara ibunya. Memasang heels-nya terlebih dahulu, ia lantas bergegas keluar untuk menghampiri ibunya. "Pergi bersama saja," jawab Shea atas pertanyaan Maggie sebelumnya saat ia telah tiba di luar. Setelah mendapat anggukkan dari Maggie, Shea pun menutup pintu kamarnya dan berjalan di belakang wanita yang harus ia akui masih kelihatan begitu anggun di usianya yang sudah menginjak kepala lima. Shea akhirnya paham kenapa masih ada saja lelaki yang mau menikahi Maggie yang sudah setua itu. Bahkan, ibunya juga pernah menikah dengan lelaki yang lebih muda dua puluh tahun darinya. Shea tak habis pikir dengan ibunya saat itu. "Terima kasih sudah mau datang kali ini, Shea. Mommy senang akhirnya kau ada di saat-saat seperti ini." Maggie sengaja memelankan langkahnya agar bisa berjalan bersama dengan Shea. Ia lalu memegang satu tangan Shea dan tersenyum hangat padanya. Saat menatap sang ibu, Shea tidak mendapati kepura-puraan di dalam matanya. Shea pun tahu betul bahwa setiap kata yang diucapkan Maggie merupakan sebuah ketulusan. Dan Shea tidak suka ketika mengetahui fakta kalau ibunya masihlah menjadi sosok yang sangat mencintainya. Tanpa sadar hal itu membuat pertahanan yang telah Shea bangun selama ini roboh. Rasa kecewanya terhadap Maggie yang berubah drastis setelah bercerai dengan ayahnya begitu membekas di hatinya. Dan perasaan itulah yang membuat Shea memberi jarak dengan ibunya sendiri. "Jangan berlebihan." Pada akhirnya, yang Shea lakukan adalah menolak Maggie dengan menarik tangannya dari genggaman wanita itu. Lantas, kakinya pun melangkah terlebih dahulu. Di dalam mobil pun, Shea menyumpal earphone di kedua telinganya dan menghidupkan musik dengan volume tertinggi. Ia tidak ingin terjadi kontak apa pun dengan ibunya. Kalau Maggie memang benar-benar ingin hubungan mereka kembali seperti dulu, maka dia salah bila menggunakan metode pendekatan seperti tadi. Karena yang Shea inginkan hanyalah perubahan dari ibunya. Hanya itu.   ••••   Salah satu gedung mewah yang ada di Virginia begitu terang dengan lampu-lampu di setiap sudutnya. Para tamu juga sudah berdatangan. Sudah dapat dipastikan jika Hershel Fabray bukan sembarang pengusaha. Shea sangat tahu bahwa orang-orang yang mampu menyewa tempat ini adalah orang yang memiliki kekayaan yang begitu berlimpah. Shea tidak menyangka jika Red Fabray terlahir dari keluarga yang kaya raya, tetapi pria itu malah memilih pekerjaan yang memiliki banyak risiko daripada membantu ayahnya mengurus kerajaan bisnisnya. Shea pernah beberapa kali datang ke tempat ini ketika temannya sedang melangsungkan pernikahan. Dan kini, ia kembali ke sini untuk menghadiri pesta pertunangan ibunya sendiri—hal yang selalu ia hindari selama ini. Di tengah keramaian ini, sepertinya hanya Shea yang tampak murung. Ia bahkan tak peduli dengan apa yang tengah pembawa acara bawakan serta pertukaran cincin antara Maggie dan Hershel yang terlihat membosankan. Shea hanya berdiri dengan kepala menunduk dan jari yang memainkan mulut gelas, lalu memutarnya kalau sudah bosan. Terus melakukan itu tanpa peduli dengan sekitar. Sejak pesta dimulai, ia hanya berdiri seorang diri di dekat meja yang paling pojok. Dan setelah sekian lama, satu orang datang ke mejanya dan memberi kode dengan meletakkan gelas yang masih penuh dengan wine di samping gelasnya yang telah kosong. Untuk itu Shea segera mengangkat kepalanya, dan menemukan Red di sana. Pada detik pertama, Shea hanya bisa menelan ludahnya. Pikirannya lantas melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu, ketika ia mendatangi Red dengan kondisi kacau. Setelah peristiwa itu, Shea tak pernah lagi mendapati Red mengganggu hari-harinya seperti yang lalu-lalu. Dan sekarang, pria itu muncul di hadapannya, seperti dugaannya atau mungkin harapannya ketika memilih untuk datang ke pertunangan ibunya. Mungkin itulah alasan sebenarnya kenapa Shea mau repot-repot datang ke sini. Karena Shea ingin melihat Red. "Merindukanku, eh?" Pertanyaan yang disertai seringaian menyebalkan dari Red membuat Shea kembali pada kenyataan. Melihat pria itu yang tampak biasa saja, ia tahu jika Red baik-baik saja. Dan sekarang, Shea lah yang sedang dalam kondisi tidak waras karena mencemaskan pria pengganggu itu. Lantaran tak mendapat jawaban apa pun dari Shea, yang selanjutnya Red lakukan adalah memberikan segelas wine kepada wanita itu—seperti tujuan awalnya menghampiri Shea. "Aku membawa dua. Yang ini untukmu." Red menggeser segelas wine yang dibawanya kepada Shea dan mengambil gelas yang kosong untuk kemudian diserahkan kepada pelayan yang hilir mudik di sekitar mereka. Masih tanpa suara, Shea menerima wine pemberian Red dan langsung meminumnya dalam sekali teguk. Red tersenyum melihat itu. Dan saat ia menyerahkan wine-nya untuk Shea, wanita itu kembali menerimanya lantas meminumnya dengan tidak sabaran. "Sepertinya kau butuh minum, Shea," ucap Red setelah mengamati cara minum Shea. "Bagaimana kalau kita kabur dari sini? Aku tahu kau tidak nyaman." Shea menatap Red sejenak, kemudian menarik napas panjang-panjang dan mengangguk sebanyak dua kali. "Ya, sepertinya aku butuh udara segar." Satu sudut bibir Red terangkat, dan ia menautkan jemarinya di ruas jari Shea sebelum mengajak wanita itu untuk ikut bersamanya. Tak jauh dari sini, ada kelab yang bisa mereka datangi. Dan kelab memanglah tujuan utama mereka. Hanya berkendara selama beberapa menit saja, mereka sudah tiba di tempat tujuan. Seperti yang Red katakan, Shea memang butuh minum. Ia ingin mengeluarkan semua beban dalam dirinya. Hanya alkohol yang dapat membuat semuanya terasa ringan. "Untuk kita yang tidak bahagia?" kata Red yang lebih menyerupai sebuah pertanyaan. Alisnya juga terangkat ketika ia mengangkat gelasnya pada Shea. "Ya, untuk kita yang tidak bahagia." Shea tersenyum, menyetujui ucapan Red dan ikut mengangkat gelasnya lantas mendentingkannya dengan milik Red. Untuk malam ini saja, biarkan Shea menjadi orang yang tak waras karena minum dengan orang yang bahkan paling dihindarinya. Sudah banyak hal-hal tidak masuk akal yang Shea lakukan. Dan sekarang ia hanya ingin merasa bebas.   ••••   Sudah hampir dua jam mereka berada di kelab. Dan Shea telah menghabiskan beberapa botol alkohol. Sedangkan Red hanya beberapa gelas saja. Bukan berarti ia payah. Hanya saja, kalau nantinya ia mabuk, maka tidak ada yang bisa melindungi Shea. Wanita itu juga sudah mabuk berat. Dengan tubuh sempoyongannya itu, Shea menari bersama pengunjung lainnya di lantai dansa. Untuk malam ini Red memberi kebebasan seperti yang Shea racaukan sejak tadi. Maka dari itu, ia hanya mengawasi Shea dari jauh tanpa melarangnya. Namun, sepertinya kini sudah cukup karena Shea semakin tak keruan. Dan beberapa pria nakal mulai mendekati Shea dan mencari-cari kesempatan untuk bisa menyentuh tubuh wanita itu. "Sudah cukup, Shea. Kita sebaiknya pulang sekarang." Red membopong tubuh Shea. Sedikit memaksanya saat wanita itu tak ingin pulang. Dengan sedikit kesusahan, akhirnya Red berhasil membawa Shea masuk ke dalam mobilnya. Sepanjang jalan, Shea terus megoceh tidak jelas. Ikatan di rambutnya juga sudah dibuka. Bajunya tampak acak-acakkan. Makeup-nya juga sudah hampir hilang. Dan Shea masih asyik dengan dunianya sendiri. Kadang menyanyi, kadang menangis. Terus seperti itu sampai mereka tiba di kediaman Red. Untuk kali ini, Red tidak membopong Shea seperti sebelumnya, tetapi ia langsung menggendongnya menuju kamarnya. Yang namanya orang mabuk, selalu saja bertingkah di luar dugaan. Seperti halnya saat ini, Shea tidak mau lepas dari tubuh Red. Dia bahkan dengan santainya melingkarkan kakinya di pinggang Red sampai menampakkan sebagian pahanya. Dan tanpa diduga-duga, kedua lengan wanita itu juga ikut melingkari lehernya kemudian mencium bibirnya dengan brutal. "Manis. Kau manis sekali," kata Shea, sambil cekikikan tidak jelas dan sesekali mencium ringan bibir Red. Awalnya Red begitu terkejut dan menganggap lalu perbuatan Shea. Tetapi saat wanita itu terus-terusan memancingnya, Red sudah tak bisa lagi menahan gairahnya. Tubuhnya bereaksi dan mengeras. Oleh karena itu, Red yang tadinya ingin menarik tubuhnya dari Shea, kini malah membiarkannya begitu saja. Ia lantas membanting Shea di atas ranjang dan menindihnya. Lidah serta bibirnya pun beraksi. Mulai dari mencium sampai menjilat seluruh tubuh Shea yang dapat dijangkaunya. Shea mengerang di bawah kuasa Red. Ia hanya pasrah ketika pria itu mulai melucuti pakaiannya. Di tubuh Shea hanya menyisakan celana dalamnya saja saat ini. Sisanya telah habis ditanggalkan oleh Red. Sedang Red sendiri sudah telanjang bulat, memperlihatkan dirinya yang mendamba akan gairah. Tinggal melepas celana dalam Shea dan Red dapat melampiaskan semua nafsunya. Namun, sesuatu tak kasat mata seperti menampar keras dirinya, membuat ia terdiam sesaat sebelum berpikir bahwa semua ini tidaklah benar. Meniduri seorang wanita mabuk bukanlah gayanya. Dan ia juga tidak tahu apakah Shea masih perawan atau tidak. Untuk itu, Red langsung berdiri, memandang Shea sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Kendati kedatangan Red ke sini memang untuk menjalankan plan B-nya—meniduri Shea—ia tetap tidak bisa melakukan ini. Semua ini salah. Dan rencananya pun salah. Di tengah kebingungannya, Red akhirnya memutar otaknya. Untuk saat ini, membatalkan rencananya adalah pilihan yang tepat, tetapi seolah-olah memang melakukannya mungkin tak salah bila diterapkan. Maka dari itu, malam ini Red tetap tidur bersama Shea, dalam keadaan telanjang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN