Bab 10

1264 Kata
Gemercik air yang jatuh dari shower sepertinya berhasil menyamarkan rutukan Shea yang tak berhenti sejak ia masuk ke kamar mandi. Tak salah ketika bangun dan menyadari situasi yang terjadi di pagi ini, ia langsung kabur ke tempat ini. Pagi ini, Shea dikejutkan dengan dirinya yang tidur di ranjang yang sama dengan Red dan tanpa sehelai benang pun. Ia dibuat kaget oleh keadaan yang tak pernah terbayang akan terjadi padanya dan Red. Pria yang semula bakal dijauhinya itu malah berada di ranjang yang sama dengannya. Yang mampir di kepala Shea saat ia berusaha menggali ingatannya tentang bagaimana bisa ia terbangun di pagi ini bersama Red dalam keadaan tubuh yang polos hanyalah pesta pertunangan ibunya. Shea ingat betul ia tak terlalu banyak minum saat di pesta. Kalau tidak salah hanya dua gelas. Lantas, kenapa ia bisa sampai mabuk dan kepalanya jadi sepusing ini? Seperti dirinya yang biasa ketika habis mabuk. "Jangan terlalu lama di kamar mandi, Shea. Aku juga ingin memakainya. Atau kau mau kita berbagi kamar mandi seperti tadi malam, saat kita berbagi ranjang dan selimut." Tubuh Shea membeku selama beberapa detik ketika menangkap suara Red dari luar. Tubuhnya baru merespons saat otaknya mulai dapat mencerna ancaman pria itu di akhir kalimat yang mana berhasil membuat Shea panik sehingga ia terburu-buru berlari ke pintu untuk menahannya supaya Red tidak masuk. Namun, alangkah bodohnya Shea karena tingkahnya barusan sangatlah sia-sia. Pintu yang terkunci tak akan bisa membuat Red masuk, kecuali kalau pria itu nekat mendobraknya. Kala mendengar suara langkah yang berjalan menjauh, barulah Shea bisa mengembuskan napasnya yang sejak tadi tertahan di tenggorokan dengan baik dan benar. Lantas, ia pun kembali ke tempatnya semula, menyambung gerutuannya. Kali ini diiringi dengan tangannya yang bertugas memukuli kepalanya walaupun hanya dengan gerakan pelan. "Kenapa ini bisa terjadi, Shea? Kau baru saja tidur dengan si pengganggu itu." Shea merengek, meratapi nasib sialnya. Efek alkohol benar-benar menyumbat ingatan Shea dan menghentikannya di bagian yang tidak memberi petunjuk apa pun padanya. Memangnya berapa botol alkohol yang Shea minum hingga membuatnya hilang ingatan seperti ini? "Aaarrgghhh!!" Teriakan Shea menggema keras. Ia cukup frustasi memikirkan kenapa bisa dirinya tidur bersama Red. Di akhir teriakannya, Shea menendang pinggiran bathtub. Niatnya untuk melampiaskan emosinya, tetapi ia malah mendapat sial bagian kedua karena kakinya terasa sakit setelah menendang bathtub tadi. Maka dari itu, Shea kembali merutuki dirinya sembari memegangi kakinya yang terasa ngilu. Ia dapat merasakan tulangnya berdenyut di sana. Tak ingin lagi menerima kesialan jilid tiga, Shea bergegas membersihkan tubuhnya. Air hangat yang mengalir dari atas kepalanya membuat dirinya rileks. Memejamkan matanya, Shea pun memutuskan untuk menikmati mandi air hangat sambil meredakan emosi yang campur aduk di dalam sana. Lima menit sudah Shea memejamkan matanya, dan ia mendapatkan sedikit ketenangan dari guyuran air hangat tersebut. Namun, tiba-tiba saja kedua matanya terbuka. Bersamaan dengan itu, muncul kerutan di antara alisnya, seakan sedang memikirkan sesuatu yang begitu serius. Sesuatu yang mengganggu pikiran Shea adalah, ia tidak merasakan apa pun di bagian bawah tubuhnya. Shea sudah lama tidak b******a. Terakhir kali ia melakukan itu sekitar tiga tahun yang lalu. Seharusnya ia merasakan sakit atau apa pun di bagian bawah tubuhnya, bukan? Tetapi kenapa saat ini ia merasa biasa-biasa saja? Apa mungkin Red melakukannya dengan sangat lembut? Tidak! Tidak! Shea langsung menggeleng. Yang ia tahu, selembut apa pun Red tadi malam, setidaknya ia akan tetap merasakan ada yang aneh di pusat tubuhnya. Sekali lagi Shea menggelengkan kepalanya, mengusir semua pikiran yang tengah menaungi benaknya dan benar-benar mandi setelahnya. Lama-lama ia bisa gila kalau otaknya terus dipaksa untuk memikirkan hal yang tidak terlalu penting. Mengambil jubah mandi yang berada di balik pintu, Shea pun telah selesai membersihkan dirinya. Ia membuka pintu secara perlahan, mengintip sejenak dan keluar dari kamar mandi setelah memastikan kondisi aman. Entah penglihatannya yang memang tidak salah atau efek alkohol yang belum hilang dari tubuhnya ketika matanya mendapati koper yang ia bawa dari Las Vegas berada di samping ranjang. Secara naluri, kaki Shea melangkah menghampiri benda tersebut lantas mengecek isinya. Dan yang satu ini bukan karena efek alkohol, tetapi kopernya memang ada di sini. Bagaimana bisa? Ah! Sepertinya pagi ini Shea terlalu banyak disuguhi bermacam teka-teki sehingga otaknya tidak diberi waktu untuk istirahat. Menyimpan pertanyaannya di dalam hati, ia mengambil satu setel pakaian dari dalam kopernya dan tergesa-gesa ketika memakainya. Bertaruh dengan waktu karena Red bisa kapan saja masuk ke sini dan memergokinya sedang telanjang bulat. Shea tidak akan mengulang kejadian tadi pagi lagi, saat Red dengan sorot mesumnya menatap tubuhnya yang tidak dibalut apa pun. Dasar, pria c***l! Dan kini, setelah selesai membalut tubuhnya dengan pakaian lengkap, ia bingung harus ke mana. Bahkan, Shea tak tahu ia ada di mana sekarang. Kamar hotel? Tidak, tempat ini tidak terlihat seperti kamar hotel, tetapi tampak seperti kamar pribadi karena ia menemukan walk in closet dan mendapati beberapa pasang pakaian yang dapat ia pastikan merupakan kepunyaan Red. Setelah dipikir-pikir, sepertinya ia tengah berada di sebuah apartemen. Atau mungkin rumah? Entahlah. Shea juga tidak berpikir kalau Red punya rumah di Virginia. Karena setahunya, pria itu sudah tinggal bertahun-tahun di Las Vegas. Bisa jadi Red memang asli orang Vegas. Tak mau dipusingkan oleh jawaban akan pertanyaannya sendiri, Shea bergegas keluar kamar. Mungkin ia akan menemukan jawabannya setelah menelusuri tempat ini, tetapi tentu saja ia harus mencari Red terlebih dahulu. Karena semua jawaban dari kebingungan yang terus menari-nari dalam benaknya ada pada Red. Shea tidak tahu akan melangkah ke mana kakinya. Ia hanya mengikuti instingnya saja yang menyuruhnya untuk menuruni satu per satu anak tangga. Setibanya di bawah, hidung Shea langsung disuguhi aroma sedap yang berasal dari ... dapur? Kali ini Shea mengandalkan indera penciumannya dan perjalanannya berakhir di dapur. Kepalanya sibuk menoleh ke sana kemari ketika Red masih belum ditemukannya. Padahal, ia yakin ada seseorang di sini kalau dilihat dari kompor yang menyala. "Sudah selesai?" Shea tersentak pelan sebelum memutar tubuhnya ke belakang. Tampak Red di matanya dengan senyum yang memukau. "Duduklah dulu di meja makan, Shea. Sarapannya akan selesai sebentar lagi." Red menepuk pelan puncak kepala Shea sebelum berkutat kembali pada masakannya yang ada di atas kompor. Shea menggigit pipi dalamnya, merasa konyol dengan jantungnya yang tiba-tiba saja berdebar ketika berhadapan dengan Red. Wajahnya bahkan sampai tersipu malu ketika ingatan kalau ia dan Red sudah tidur bersama mampir di benaknya. Lantas, Shea berpikir, apa hanya ia seorang yang memikirkan semuanya sampai sekeras ini? Apakah Red tidak? Sebab, pria itu terlihat biasa-biasa saja. "Apa yang kau pikirkan, Shea?" tanya Red seraya mematikan kompor. Shea berdeham. Otaknya kembali bekerja dengan keras. Dan bawah sadarnya memakinya begitu keras. Apakah seperti ini sikap seseorang yang baru diperkosa? Oh, Tuhan! Seharusnya Shea marah. Bukannya malah berdebar, bahkan sampai tersipu seperti ini. Shea tak mengelak jika Red telah berhasil membuatnya terpesona. Karena ia tidak mungkin bersikap setolol ini setelah apa yang pria itu lakukan kepadanya. Akal sehatnya benar-benar sudah terperosok ke dalam jurang. Meletakkan kedua tangannya di pinggul dan mengubah air mukanya menjadi ketat untuk menampakkan kemarahannya, Shea memberanikan diri menatap Red. Mulutnya sudah terbuka, hendak melayangkan semua amarahnya pada pria itu. "Shea?" Namun, satu panggilan itu, yang bukan berasal dari Red membuat perhatian Shea teralihkan. "Uh? Mama sudah bangun?" Red yang lebih dulu menanggapi wanita yang tengah duduk di atas kursi rodanya itu walaupun orang pertama yang disapanya adalah Shea. Wanita itu memberi senyumnya kepada Red. Dan semua itu tidak luput dari perhatian Shea. Ia setengah terkejut dan setengah penasaran. "Jadi, wanita ini adalah kekasihmu, Red?" tanya wanita itu dengan nada menggoda, dan terlihat bersahabat. Red terkekeh pelan. Melirik sekilas ke arah Shea, kemudian merangkul bahu wanita itu. "Ya, dia kekasihku, Ma." Dan Shea benar-benar kehilangan seluruh kata-katanya. Ia semakin terkejut dengan mulut yang terbuka sepenuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN