Red sudah mempertimbangkan cara-cara agar tujuannya tercapai. Segala halnya harus dipikirkan dengan hati-hati bila tidak ingin menjadi bencana bagi dirinya sendiri. Sejauh ini, plan yang dijalankannya sudah cukup rapi. Dimulai dari tindakannya yang pura-pura telah meniduri Shea walau ia harus mati-matian menahan dirinya hingga menimbulkan keringat dingin di tubuhnya sepanjang malam.
Bagi kaum lelaki, menahan diri di saat ada seorang perempuan yang tengah telanjang bulat tepat di depan matanya, itu adalah hal terberat dan terburuk yang harus dihadapi. Bolak-balik Red menahan napasnya sampai tubuhnya memproduksi keringat yang cukup banyak. Segala daya upaya telah dikerahkan agar ia tidak lepas kendali.
Untunglah setelah Shea dan dirinya sama-sama telanjang, wanita itu hanya meracau selama beberapa menit sebelum jatuh terlelap. Tak mudah bagi Red menahan gairah yang meledak-ledak dalam dirinya. Mungkin saja ia akan benar-benar meniduri Shea kalau wanita itu tak berhenti memancing nafsunya.
Red terjaga sepanjang malam dan baru bisa memejamkan matanya manakala matahari sudah hampir menunjukkan pesonanya. Sialnya, ia terpaksa harus bangun saat merasakan pergerakan Shea yang cukup mengusiknya. Jadilah pagi ini tubuhnya terasa lelah karena tak mendapat tidur yang cukup.
"Apa kau gila?"
Red tersenyum saat mendengar Shea berbisik begitu pelan kepadanya dan menarik paksa tangannya yang masih merangkul bahu wanita itu.
"Ah, Nyonya." Perhatian Shea beralih pada Nancy—ibu Red—yang masih berada di hadapan mereka. "Begini, aku rasa ada kesalahpahaman di sini. Aku dan Red ti—"
Cup!
Satu ciuman kilat dari Red mendarat di bibir Shea tanpa peringatan dan berhasil menghentikan kalimatnya yang belum sempat terselesaikan. Tubuh wanita itu membeku di tempat dengan seluruh tulangnya yang terasa kaku serta pikiran yang mendadak kosong.
"Kalau tidak dicium, dia akan terus berbicara tanpa henti, Ma. Aku yakin Mama akan bosan mendengarnya. Jadi, aku menghentikannya," kata Red, membuat alasan yang didukung oleh ekspresinya.
Nancy tertawa renyah. "Mama suka mendengar orang berbicara, Red. Dan lihat wajah Shea sekarang. Ck! Dia sangat terkejut. Dasar, anak nakal." Nancy memberi tatapan sinis kepada Red di akhir kalimatnya.
"Dia hanya terlalu malu karena aku menciumnya di depan Mama, calon mertuanya sendiri." Red terkekeh, mengalihkan fokusnya kepada Shea seraya mengelus rambut wanita itu. "Benar begitu kan, Sayang?"
Shea sendiri masih berdiam diri di tempatnya berdiri dengan pandangan kosong yang mengarah lurus ke depan. Bawah sadarnya terus meneriakkan jika bibirnya baru saja bersentuhan dengan milik Red. Mungkin saja tadi malam mereka sudah melakukannya, tetapi Shea tidak tahu bagaimana rasa dan prosesnya. Tentu saja saat ini ia sangat terkejut.
Semuanya terjadi begitu cepat.
"Shea, apa kau baik-baik saja?" tanya Nancy sambil memajukan sedikit kursi rodanya agar dapat menyentuh lengan Shea yang masih mematung.
"Ah, ya." Senggolan yang cukup kuat dari Nancy berhasil menyadarkan Shea. "Maafkan saya, Nyonya. Saya hanya..." Shea terlalu bingung harus memberi penjelasan apa pada Nancy. Otaknya terasa buntu karena isinya hanya kejadian ulang tatkala Red menciumnya.
Shea tidak menyangka jika efek Red terhadap kerja otak dan jantungnya begitu besar.
"Tidak apa-apa, Shea." Nancy melepas senyumnya kepada Shea. Kemudian memutar matanya ke arah Red. "Lain kali jangan ulangi itu lagi, Red." Ia memperingati.
Red menyeringai. Kembali merangkul Shea seperti sebelumnya. "Tidak janji, Ma."
Nancy mendesis kesal lantas mulai melakukan aksi memukuli putra satu-satunya itu. "Dasar, anak nakal!"
Tawa Red terdengar begitu kencang. Ia terus menghindari pukulan Nancy sambil berkata, "Bibir Shea sangat manis, Ma. Aku tidak tahan untuk tidak menciumnya di mana pun."
"Astaga! Mimpi apa aku punya anak sepertimu, Red."
Sementara Red sibuk dengan ibunya, Shea masih menginjakkan kakinya di lantai yang sama tanpa berniat untuk pindah. Kalimat Red barusan terngiang dalam benaknya, membuat wajahnya dialiri rasa panas.
"Manis, ya?" gumam Shea, memegang kedua pipinya untuk menutupi rona merah yang ia yakini sudah menjalar di sana. "Mungkin terasa manis karena aku memakai lip balm rasa cokelat?"
"Ah, sudahlah! Kenapa aku jadi konyol seperti ini? Sadar, Shea, sadar." Shea menepuk-nepuk pipinya berulang kali, menyadarkan dirinya yang terlalu lama bergelut dalam pesona Red.
"Ayo, sarapan, Shea."
Kemunculan Red secara mendadak membuat Shea terkesiap. Ia berbalik dan tiba-tiba saja tangannya sudah berada di genggaman Red sebelum pria itu membimbingnya ke meja makan. Protesnya pun tidak sempat keluar karena kejadiannya begitu cepat.
"Kau ikut sarapan juga kan, Ma?" Red menarik kursi untuk Shea sembari melirik Nancy yang tengah mengambil sesuatu dari dalam kulkas.
"Aku harus ke gereja sekarang, Red."
Red mengangguk dan kembali fokus pada Shea. Ia mengambil serbet saat gadis itu telah duduk di kursinya.
"Aku bisa sendiri," kata Shea ketika Red ingin meletakkan serbet tersebut di atas pahanya.
Senyum Red mengembang. Meskipun sudah ditolak, Red tetap melakukan apa yang ingin ia lakukan. "Ini salah satu kewajibanku, Shea. Melindungimu dari apa pun, termasuk kotoran."
Shea menggembungkan pipinya. Bola matanya bergerak mencari objek yang bisa ia pandangi selagi Red meletakkan serbet tersebut di atas pahanya. Posisi mereka begitu dekat hingga sulit bagi Shea untuk bernapas dengan baik.
Nancy yang menjadi penonton atas keromantisan anaknya, tersenyum senang saat itu. Ia pun bergabung bersama keduanya, bukan untuk ikut sarapan bersama, tetapi menanyakan beberapa hal kepada Shea.
"Shea."
"Ya?" Shea segera memutar matanya ke arah Nancy. Dan memastikan ekspresinya sudah kembali normal, tidak terlihat seperti orang bodoh.
"Tinggallah di sini selama beberapa hari. Aku dengar kau mengambil cuti selama satu minggu," pinta Nancy seraya memegang satu tangan Shea. Sorot matanya menunjukkan sebuah permohonan.
"A-aku..." Shea tidak tahu harus memberi jawaban apa pada Nancy.
Memang benar ia mengambil jatah cuti selama seminggu. Selain karena pesta pertunangan ibunya, ia datang ke sini juga untuk bertemu dengan sahabatnya. Namun, walaupun Shea tak ingin tinggal bersama ibunya, ia tetap tidak mungkin memilih tinggal bersama Red dan Nancy. Lebih baik menginap di hotel saja.
"Ayolah, Shea. Kau kekasih Red. Tidak masalah jika kau menginap di sini. Aku butuh teman perempuan." Nancy memohon, dan Shea merasa tak enak dengan itu.
Semua kerunyaman ini terjadi karena Red yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya. Ah! Shea benar-benar kesal sampai kepalanya terasa panas.
Pada akhirnya, Shea pun tak dapat menolaknya. Bagaimana tidak, mata Nancy memancarkan begitu banyak permohonan serta harapan, Shea pun luluh dan kepalanya membuat gerakan mengangguk, menyetujui permintaan Nancy yang membuat senyum wanita itu kembali merekah.
Sepulangnya dari sini, Shea berjanji akan langsung mengunjungi seorang psikiater. Mungkin kondisi jiwanya sedang bermasalah sehingga ia selalu melakukan hal-hal yang tak sinkron dengan kemauannya sendiri.
"Terima kasih, Shea," ucap Red setelah kepergian Nancy.
Shea yang sedari tadi masih sibuk menyesali jawabannya terhadap permintaan Nancy, kini mendongak untuk menatap Red yang ada di hadapannya. Mungkin ini pertama kalinya Shea melihat Red tersenyum setulus itu. Biasanya pria itu selalu tampak menyebalkan di matanya, bahkan dalam keadaan tersenyum sekalipun.
"Mama sangat kesepian selama ini karena aku memilih tinggal di Las Vegas, sementara adikku di London. Saat melihatmu, Mama kelihatan sangat bahagia. Apalagi saat aku memberitahunya kalau kau adalah kekasihku." Red tertawa lirih. "Dan sekarang, kau menerima permintaan Mama untuk tinggal di sini selama beberapa hari. Aku senang untuk itu. Sekali lagi terima kasih, Shea."
Tadinya, yang ingin Shea lakukan sepeninggal Nancy adalah memaki Red karena telah memerkosanya sekaligus membuatnya terjebak dalam situasi yang membingungkan ini, tetapi melihat wajah teduh pria itu ketika membicarakan ibunya, itu berhasil membuat amarah Shea meluap begitu saja.
Untuk pertama kalinya ia dibuat kagum oleh Red. Pria itu terlihat sangat mencintai ibunya. Penyesalan yang sempat menghampirinya akibat menyetujui permintaan Nancy, kini sudah berganti dengan rasa syukur. Setidaknya, keputusannya membuat bahagia dua orang sekaligus.
Dan untuk pertama kalinya pula, Shea tersenyum untuk Red secara langsung.