Scramble egg, roti panggang, dan dua potong sosis menjadi menu sarapan Red dan Shea pagi ini. Pembicaraan singkat antara keduanya yang berhasil menarik sudut-sudut bibir Shea untuk mengukir senyum kepada Red telah selesai, berganti dengan keheningan. Yang terdengar hanyalah dentingan sendok yang beradu dengan piring serta suara kunyahan dari roti panggang yang renyah.
Adab ketika makan adalah tidak boleh berbicara, tetapi kesunyian merupakan hal yang paling Red tidak sukai. Maka, Red lebih memilih mengesampingkan peraturan daripada harus terjebak di kesenyapan ini. Ia suka berbicara, dan diam dalam waktu yang lama saat ada orang lain yang tengah bersamanya bukanlah gayanya.
"Uhm ... Red."
Red kalah beberapa detik dari Shea. Padahal, mulutnya sudah terbuka, hendak memulai pembicaraan baru dengan wanita itu. Kendati begitu, ia tetap senang karena sepertinya Shea juga memiliki pemikiran yang sama dengannya. Setidaknya, mereka tidak terlalu lama bergabung bersama keheningan.
"Ya?" Red mengangkat kepalanya. Kedua pipinya bergerak, pertanda kalau ia sedang mengunyah.
"Apa yang terjadi dengan Ibumu?" Shea bertanya dengan hati-hati. Takut pertanyaannya membuat Red tidak nyaman. Apalagi kalau pria itu sampai menganggapnya terlalu ingin tahu tentang privasinya.
Garpu Red berhenti tepat di depan mulutnya saat mendengar pertanyaan Shea. Ia kemudian menatap wanita itu yang tengah menggigit bibirnya dengan sebelah alis yang terangkat. Dari ekspresinya, Red tahu bila Shea tengah diliputi kegugupan. Mungkin ada perasaan tidak enak kala Shea menanyakan hal itu padanya.
Menggigit rotinya terlebih dahulu, Red kini benar-benar memfokuskan pandangannya pada Shea. Wanita itu tampak sedang menunggu-nunggu dengan waswas.
"Dia mengalami kecelakaan sampai membuatnya lumpuh," jawab Red. Ia melemparkan senyumnya pada Shea, mengatakan secara tak langsung pada wanita itu bahwa ia tidak masalah dengan pertanyaan itu.
Mendapat respons yang baik dari Red membuat Shea melayangkan sebuah pertanyaan baru. "Apa masih dapat disembuhkan?" Ia berhenti sejenak. "Maksudku, apa dia masih bisa jalan kembali?"
Kembali senyum Red muncul di bibirnya, tetapi yang satu ini terlihat terpaksa dan sorot matanya tampak meredup. "Dia tidak bisa berjalan lagi. Tubuh bagian bawahnya mengalami lumpuh total."
Shea menelan ludahnya, meletakkan pisau dan garpu di kedua sisi piring. Tidak tahu bagaimana menanggapi suasana hati Red yang berubah sendu. Mungkin memang tidak seharusnya Shea mengangkat topik sensitif ini.
"Aku turut sedih mendengarnya." Pada akhirnya, hanya kalimat itu yang bisa Shea suarakan. Memperlihatkan rasa empatinya pada Red.
Red memasukkan potongan terakhir roti panggangnya, mengunyah dalam beberapa gigitan sebelum kembali pada Shea dan obrolan mereka. "Aku tidak berharap banyak pada kondisi fisiknya. Yang aku inginkan hanyalah kejiwaan Ibuku yang dapat terus membaik."
Alis Shea melonjak naik setelah Red selesai berbicara. Rasa penasaran di dalam dirinya kembali menampakkan wujudnya. Dan sangat susah baginya untuk tidak menyuarakan semua itu.
"Kejiwaan? Maksudnya?"
Senyum getir berputar di wajah Red. "Ibuku mengalami depresi selama beberapa tahun. Sekarang hidupnya bergantung pada obat-obatan untuk menahan emosinya yang tak stabil."
Jantung Shea berhenti berdetak selama beberapa detik manakala mendengar pengakuan Red. Mulutnya menganga lebar, seolah akan menyentuh lantai kalau terus dibiarkan seperti itu. Ia hanya sulit untuk percaya. Bila dilihat sekilas, Nancy adalah orang yang ceria dan bersahabat. Ia bahkan salut pada Nancy karena masih bisa memasang senyum selebar itu pada saat dirinya sedang tidak dalam kondisi yang baik.
"Ke-kenapa bisa sampai seperti itu?" Saking terkejutnya, Shea sampai tak bisa menyampaikan pertanyaannya dengan lancar.
Red menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lantas menghela napas kasar. "Aku rasa Mama seperti itu karena perceraiannya dengan Papa dan penyesalannya beberapa tahun silam." Pandangannya mengarah ke objek lain ketika menjawab.
Shea tercekat. Lidahnya terasa kelu sehingga tak ada tanggapan apa pun darinya untuk melanjutkan obrolan ini. Pikirannya pun mulai melayang pada pernikahan ibunya dan ayah Red. Pria itu berkata bahwa Nancy depresi karena perceraiannya, itu artinya pernikahan Maggie dengan Hershel bukanlah hal yang benar.
Pantas saja Red mengajaknya untuk bekerja sama menghalangi pernikahan ibu dan ayah mereka sampai sebegitu gencarnya, ternyata Nancy lah yang menjadi alasannya. Lantas, sekarang Shea pun mulai berpikir ulang untuk ikut mencegah pernikahan itu.
Jika ia terus-terusan tak acuh pada apa yang ibunya lakukan, maka akan ada satu orang yang paling merasa tersakiti dari sikapnya itu. Shea tahu ibunya salah, tetapi ia malah diam saja. Itu bukanlah sesuatu yang bijak. Mungkin ini saatnya bagi Shea untuk ikut campur dalam urusan ibunya.
"Ibuku yang membuatku ingin mengajakmu bekerja sama untuk membatalkan pernikahan mereka, Shea," kata Red setelah hening selama beberapa saat. "Ayahku tidak akan mendengar permohonanku. Mungkin kau bisa membantuku dengan ikut membujuk Ibumu."
Pandangan tersiksa Red yang dapat Shea tangkap dengan jelas berhasil menggugah hati nuraninya. Ia tidak bisa mengabaikan kasus yang satu ini. Nancy sudah begitu tersiksa dengan kondisi fisik dan jiwanya. Bukan cuma ibunya yang akan menjadi seseorang yang bersalah di sini, tetapi Shea pun juga.
Dan mungkin, ini adalah saat yang pas bagi Shea untuk mengembalikan ibunya seperti dulu, karena ia pun tahu bahwa Maggie melakukan itu hanya untuk menyiksa dirinya sendiri.
Memantapkan hatinya, Shea sudah tahu keputusan apa yang akan dan memang harus diambilnya.
"Aku rasa aku bisa membantumu, Red," ucap Shea.
Red terkesiap. Secepat kilat kepalanya terangkat untuk menatap Shea dan ia mulai memindai ekspresi wanita itu, mencari kebohongan di sana. Dan saat Red tak menemukannya sama sekali, ia merasakan kelegaan berbondong-bondong mengaliri nadinya.
"Aku harap kau sedang tidak bercanda, Shea."
Shea merengut padanya. "Ya, sudah kalau tidak percaya."
Red terkekeh, mengambil satu tangan Shea untuk digenggamnya. Dan raut wajahnya berubah serius ketika mata mereka saling bertatapan. "Terima kasih, Shea. Kau mau membantuku saja aku sudah sangat senang. Tidak peduli apa pun hasilnya nanti."
Tanpa sadar, Shea membalas genggaman tangan Red. Ekpresinya begitu lembut dengan senyum yang menjadi pemanis di wajahnya.
Pagi itu, untuk pertama kalinya Shea merasa nyaman berada di sisi Red.
Tetapi tak berlangsung lama, karena hanya selang beberapa detik saja, Shea sudah kembali ke mode sebelumnya. Ia hanya teringat dengan kekesalannya pada Red yang belum terlampiaskan.
Tarikan tiba-tiba Shea pada tangannya yang berada dalam genggaman Red berhasil membuat pria itu kaget. Air mukanya menunjukkan kebingungan. Dan Shea memanfaatkan situasi tersebut untuk memulai kemurkaannya.
Dalam sekali sentakan dan gerakan yang super cepat, Shea mengambil pisau untuk kemudian diarahkannya pada Red. Dan senyum sinis muncul di bibirnya.
"Jangan karena kita baru saja menjadi partner untuk mencegah pernikahan Ibuku dan Ayahmu, kau menganggap urusan kita sebelumnya telah selesai." Di akhir kalimatnya, Shea mendorong pisaunya ke arah Red hingga membuat pria itu melotot sambil menghindar.
"Ada apa denganmu, Shea?" tanya Red yang masih diliputi kebingungan. Ia lantas berdiri dari kursinya sembari mengangkat kedua tangannya di udara.
"Ada apa kau bilang? Kenapa tadi malam kau memperkosaku, hah?!" Shea ikut berdiri, memukul meja sampai menimbulkan suara yang cukup keras. Tangannya masih setia menodong Red dengan pisaunya.
"Ah, itu." Red menggaruk belakang kepalanya. Memutar matanya sambil berpikir sejenak.
Sejujurnya, rencana apa pun yang telah ia buat sebelumnya, termasuk meniduri Shea, itu tidak memiliki dampak apa pun. Dapat dikatakan semua rencananya tidak berguna karena Shea mau membantunya setelah bertemu dengan ibunya.
Akan tetapi, untuk mengaku kalau mereka tidak tidur bersama juga dirasa berat oleh Red. Ia merasa ... malu. Apa kata Shea nanti?
Pada akhirnya, Red memilih alternatif lain, seperti mengelak dari tuduhan wanita itu.
"Ada lebah di dekatmu, Shea!" teriak Red dengan heboh, mengarahkan jari telunjuknya di samping tubuh Shea.
"Aku tidak takut dengan serangga," balas Shea yang malah semakin mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Ada harimau di belakangmu, Shea!" Tidak menyerah, Red pun mencoba usaha lainnya.
"Aku suka harimau."
Red mendesah panjang. Gertakannya bahkan tak digubris sama sekali oleh Shea. Otaknya pun kembali berpikir.
"Tsunami, Shea! Tsunami!"
Shea tampak tak peduli.
"Kebakaran! Kebakaran!"
Tak ada balasan apa pun. Dan Red memutuskan untuk menyerah pada saat itu juga dengan mengangkat kedua tangannya di udara, pasrah.
Melihat kekalahan Red, Shea pun menyudahi semuanya. Ia meletakkan kembali pisaunya dan mendudukkan bokongnya di kursi yang sama, tetapi wajahnya tetap ditekuk kesal.
Ya, hanya itu. Karena Shea pun masih bingung dengan perasaannya sendiri. Ia hanya kesal, tidak marah. Selain itu, instingnya juga mengatakan bahwa Red tidak menidurinya. Begitu pula dengan bawah sadarnya yang terus menolak pemikiran bahwa Red telah menidurinya meski mereka bangun dalam keadaan sama-sama telanjang.
"Maaf untuk yang tadi malam," kata Red, meringis pelan, dan berhasil menarik perhatian Shea. "Aku tidak bermaksud untuk melakukan itu. Seharusnya kita tidak ke kelab tadi malam sampai membuatmu mabuk."
Shea melengkungkan alisnya. "Aku mabuk?"
Red mengangguk. Tangannya bergerak mengambil satu tangan Shea lantas digenggamnya. Bersyukur karena tak mendapat penolakan dari wanita itu.
"Aku memang berengsek, Shea. Tetapi denganmu, aku ingin menghilangkan titel berengsek dalam diriku. Karena kau spesial." Senyum Red mengembang di akhir kalimat.
Shea merasakan wajahnya memanas. Dan berdeham untuk menghilangkan kegugupannya. "Jadi, kita tadi malam melakukannya karena mabuk?"
Lagi, Red mengangguk. "Dan aku harus kembali meminta maaf padamu sebab tadi malam aku tidak menggunakan pengaman sama sekali." Red berhenti sejenak hanya untuk meletakkan satu tangannya di pinggir mulut, seperti hendak berbisik. "Dan sekali lagi maaf karena aku mengeluarkannya di dalam."
"APA?!"
Red melepas genggamannya dengan Shea. Memundurkan badannya ke belakang, lalu mengusap tengkuknya dan menyengir lebar tanpa merasa berdosa sama sekali.
"Omong-omong, aku suka anak kecil. Dan sepertinya keinginanku untuk memiliki anak akan segera terwujud setelah apa yang kita lakukan tadi malam," kata Red dengan cengiran super lebarnya.
Kedua mata Shea melotot sempurna dan ia berdiri secara refleks. "APA KAU BILANG? DASAR PRIA m***m KURANG AJAR!"
Dan tawa Red pun meledak tanpa bisa ditahan.