Bab 13

1388 Kata
Shea menuang sampanye dari dalam botol ke gelas kristal yang berukuran sedang untuk kemudian dibawanya ke bagian belakang rumah Red sebagai temannya melihat keindahan langit di malam ini. Cakrawala begitu cerah, dipenuhi bintang serta bulan yang bersinar terang, tampak begitu bersahabat. Kesempatan bagus bagi Shea untuk dapat bernostalgia dengan tempat kelahirannya ini. Sudah lama sekali rasanya Shea tidak pulang ke sini. Selain karena ibunya, alasan Shea tidak lagi menginjakkan kakinya di sini tentulah kenangan tak sedap yang menimbulkan luka di hatinya. Adiknya pun sama, tidak pernah lagi datang ke sini. Mereka berdua sama-sama menghindar dari kenangan yang sewaktu-waktu bisa mengembalikan memori pedih itu. "Jangan terlalu banyak minum." Shea tak kaget saat mendengar suara Red karena sebelumnya ia sudah bisa mendengar langkah kaki pria itu yang berjalan mendekatinya. Tanpa suara ia menoleh ke arah Red untuk memberi tatapan membunuhnya. Bila hanya mendengar ucapan Red barusan, pastinya setiap orang akan mengasumsikannya sebagi bentuk perhatian, tetapi lihatlah wajah pria itu sekarang. Segelintir ekspresi mengejek tampak jelas di sana. Ingatan Shea tentang kejadian malam itu sudah kembali walau masih ada beberapa hal yang tidak dapat lagi ia ingat meski dipaksa sekalipun. Ya, ia akui kalau malam itu mungkin bukan hanya Red saja yang bersalah. Shea sadar dirinya terlalu mabuk sampai melakukan hal-hal yang memancing gairah Red. Ia benar-benar menjadi liar kalau mabuk. Keperawanannya juga hilang saat ia mabuk. Sepertinya tak salah bila Red menidurinya sebab pria itu pasti kesusahan menahan nafsunya. Itu sebabnya Shea selalu menghindari yang namanya mabuk, tetapi malam itu lain cerita karena ia benar-benar butuh kebebasan dengan melanggar pantangan hidupnya sendiri sehingga berakhir di ranjang yang sama dengan Red. Ah, sudahlah. Shea jadi kesal dengan dirinya sendiri karena itu. "Apa tidak dingin hanya memakai celana pendek saja?" Red duduk di samping Shea, mengambil sampanye wanita itu dan meminumnya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Shea memukul lengan Red sebagai balasan atas tindakan semena-mena pria itu. "Ambil sendiri punyamu." Ia cemberut seraya merebut kembali sampanye tersebut dari Red lantas memindahkannya ke sisi lain yang sekiranya sulit untuk Red jangkau. "Yang sedang kau minum itu adalah milikku, Shea." Red memberi tahu dengan nada sombong, menyatakan kepunyaannya pada Shea. Bibir Shea mengerut kesal. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya untuk membalas ucapan Red sebab apa yang pria itu katakan memang benar. Apa yang ada di sini merupakan milik Red seutuhnya. Shea sadar betul akan hal itu. Dan tentu saja kenyataan itu membuatnya jengkel. Mengambil sampanye miliknya, Shea kemudian menarik tangan Red dan meletakkan gelas tersebut di dalam genggaman pria itu. "Ambil, aku tidak butuh." Red menaikkan sebelah alisnya pada Shea, menatap wanita itu dengan bibir yang berkedut menahan tawa. Sejak mengenal Shea, ia mempunyai hobi baru, yaitu menggoda wanita itu. Kehadiran Shea seperti membawa angin segar di dalam kehidupan Red yang monoton. "Thanks," bisik Red tepat di telinga Shea yang membuat wanita itu sontak memundurkan wajahnya. Setelahnya, Red benar-benar meminum sampanye milik Shea sampai tandas. Shea yang melihat itu sungguh dibuat tidak percaya. Mulutnya menganga lebar sebelum bibirnya membentuk lengkungan ke bawah. Shea kan hanya bercanda, pura-pura merajuk, tetapi Red malah sungguhan meminum sampanyenya. "Red! Aku hanya bercanda. Kenapa kau benar-benar meminumnya?" Shea berulang kali memukuli pundak Red. Suaranya tak terdengar seperti sedang marah, tetapi malah terdengar seperti sebuah rengekan. "Uh? Kau bercanda?" tanya Red yang tampak shock. Ah, tidak, tetapi pura-pura terkejut. Mustahil bagi seorang Red yang telah mengencani begitu banyak wanita tidak bisa membaca sikap Shea. Ia bukanlah tipe pria yang tidak peka. Tetapi dengan Shea, ia melakukannya dengan sengaja. Radar kejahilannya selalu menyala setiap kali berada di dekat wanita itu. "Ah! Menyebalkan." Shea memberi pukulan super kuat sebagai pukulan terakhirnya di tubuh Red sebelum kembali menatap ke depan dengan wajah yang ditekuk masam. Akhirnya tawa Red meledak. Terlihat begitu senang melihat kekesalan Shea. "Baiklah-baiklah, akan aku ambilkan yang baru untukmu." Red berdiri dari duduknya, menepuk-nepuk lembut kepala Shea sebelum pergi ke dapur untuk mengisi gelas yang kosong. Shea berdecak, tidak mengacuhkan apa yang Red katakan. Kepergian dan niat baik Red pun tak dipedulikannya sama sekali sebab satu menit setelah Red pergi, ia mengangkat bokongnya dari kursi dan melangkahkan kakinya ke dalam. Tubuhnya berlenggok dengan santai. Tak berusaha menghindari Red yang ia yakini masih berada di dapur meski tahu bahwa dapur adalah tempat yang akan dilewatinya untuk bisa naik ke lantai dua. Beruntung karena Red sepertinya tak menyadari kemunculannya. Shea kini sudah berada di anak tangga kedua dan akan melanjutkan langkahnya sampai di mana kamarnya berada—ah tidak, maksudnya adalah kamar Red. Sebab, selama dua hari tinggal di sini, ia tidur di kamar pria itu. Oh! Dan tentu saja berdua dengan Red. Sejak Shea menyetujui permintaan Nancy untuk tinggal di sini sebelum kembali ke Las Vegas, ia menanyakan langsung kepada Red di mana letak kamarnya selama seminggu ini. Dan Red dengan cengiran menyebalkannya itu mengajaknya ke kamar pria itu. Manakala Shea bertanya, Red dengan enteng menjawab bahwa kamar di rumah ini hanya ada dua. Yang satu sudah dipakai oleh Nancy. Shea jelas tidak bisa memercayainya begitu saja sebab rumah ini cukup besar. Tetapi Red menjawab kalau kamar lainnya sudah digunakan sebagai gudang dan sudah lama tak dibersihkan. Untuk kedua kalinya, Shea tak dapat memercayainya begitu saja. Dan saat Nancy pulang, Shea sebenarnya ingin bertanya apa masih ada kamar lain yang bisa digunakannya, tetapi Red sudah berceletuk lebih dulu dengan berkata bahwa mereka akan tidur bersama. Tanggapan Nancy lah yang membuat ia mau tak mau menaruh seratus persen kepercayaannya pada pria itu. Tiba-tiba saja Shea merasakan berat pada langkahnya sehingga ia harus berhenti di anak tangga kelima. Satu tangan yang begitu kokoh melingkar di perutnya disusul dengan bahunya yang juga terasa berat sebab ada dagu yang bertumpu di sana. Lalu, segelas sampanye muncul tepat di depan wajahnya. "Sampanye milikmu," bisik Red, yang menjadi tersangka utama atas segala hal yang telah ia jabarkan sebelumnya. Shea melirik ke belakang sebentar, berusaha melihat wajah Red, tetapi sulit karena pria itu mendekapnya begitu erat hingga ruang geraknya menjadi sempit. "Aromamu sama sepertiku, Shea." Red mengendus leher Shea, dan ia dibuat merinding. Dadanya pun membuncah di dalam sana. Selama tinggal di sini, Shea memang menggunakan perlengkapan mandi milik Red. "Kenapa meninggalkanku, hm? Masih kesal dengan yang tadi?" Red melepas dekapannya di tubuh Shea dengan penuh kehati-hatian dan bergeser setelahnya, mengambil posisi di sisi Shea lantas bersandar pada dinding kemudian menyodorkan sampanye yang ia bawa untuk wanita itu. Shea menarik napas panjang-panjang secara diam-diam agar Red tidak tahu jika perbuatannya barusan berhasil membuat Shea gugup setengah mati. Tak lupa air mukanya juga ia ubah ke mode normal untuk menghilangkan jejak. "Berhentilah melakukan kontak fisik denganku, Red. Aku tidak suka." Shea memutar matanya, berbalik ke arah Red dan menjadikan pegangan tangga di sisi kiri sebagai tempatnya untuk bersandar dengan posisi bersedekap d**a. Red menggoyangkan gelas yang berada di tangannya dengan gerakan pelan. Hanya sebagai isyarat kepada Shea agar menerimanya. Sekali lagi Shea memutar kedua bola matanya dan mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas tersebut, tetapi mendadak Red menarik gelasnya dan malah menyentak tangannya hingga membuat jarak antara keduanya begitu dekat. Wajah mereka bahkan hanya tinggal sejengkal saja. Kembali Shea disesaki oleh perasaan gugup. Dari jarak sedekat ini, ia bisa merasakan napas Red yang menyapu wajahnya. Kerja jantungnya bahkan bertambah dua kali lipat. "A-apa?" Gagal sudah usaha Shea untuk pura-pura tidak terpengaruh oleh semua tindakan Red ketika pertanyaan yang keluar dari mulutnya terdengar terbata-bata. Red tersenyum. Jenis senyum yang mampu memikat hati para wanita, termasuk Shea yang sepertinya sudah terjebak dalam jerat pesona seorang Red. "Aku ingin tidur," ucap Red, dan Shea tak dapat menebak maksudnya sama sekali. Namun, ia paham saat pria itu mulai memajukan wajahnya untuk mengambil satu ciuman singkat di bibirnya, lalu kembali berkata, "dan menciummu sebagai ucapan selamat malam." Mengambil tangan Shea, Red pun memindahkan gelas sampanyenya dalam genggaman wanita itu. Dan bersamaan dengan itu, tubuh Shea lepas dari rengkuhannya. "Aku akan menunggumu di kamar, Shea. Dan aku berharap kau akan memberikan ucapan selamat malam yang lebih lama dari yang tadi." Di akhir kalimatnya, Red mengedipkan sebelah matanya pada Shea sebelum menaiki anak tangga dengan siulan sebagai pengiring. Tepat setelah Red menghilang dari pandangannya, Shea terengah-engah ketika membuang napasnya, persis seperti orang yang habis berlari jauh. Satu tangannya yang bebas pun ia gunakan sebagai tumpuan tubuhnya yang terasa tak bertenaga. "Ya, Tuhan! Kenapa aku selalu berdebar sekuat ini saat diperlakukan seperti itu oleh Red? Ini sungguh tak adil," gerutu Shea dengan bibir yang melengkung ke bawah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN