Bab 14

1508 Kata
"Jadi?" Bibir Shea menunjukkan senyum lebar sampai menampakkan deretan giginya yang berkilau. Ekspresinya tetap terjaga seperti itu meskipun di bawah sana tangannya sedang sibuk menyingkirkan tangan Red yang berusaha menggamit jemarinya. Sementara pria yang ada di depannya tampak bingung dengan sebelah alis yang terangkat. Matanya sesekali juga melirik ke bawah, melihat pergulatan kecil antara tangan Shea dan Red. "Kekasihmu?" Sepertinya dia sudah tidak tahan lagi memendam rasa penasaran dalam dirinya sehingga pertanyaan itu keluar tanpa dapat dicegah. "Hai, Gail!" Suara Red sudah lebih dulu terdengar, menghentikan Shea yang juga hendak berbicara. "Ya, kau benar sekali. Aku adalah kekasihnya Shea." Ia mengulurkan tangannya kepada Gail sebagai salam perkenalan karena ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Gail memandang Red dan uluran tangannya ragu-ragu. Ia juga sempat melirik sekilas ke arah Shea sebelum akhirnya menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Red. "Aku Gail, teman Shea. Senang bertemu denganmu, Tuan..." balas Gail dengan kalimat yang menggantung karena belum mengetahui siapa nama pria yang Shea bawa ini. "Panggil saja Red." "Ah, Red. Baiklah." Gail memberi senyumnya pada Red. Senyum yang tampak rendah hati. "Terserah," gumam Shea yang begitu pelan hingga tak terdengar oleh siapa pun. Saat Red memaksa untuk ikut ke sini saja rasanya sungguh menyebalkan. Dan sekarang harus ditambah pula dengan pengakuan sepihak pria itu yang mengaku sebagai kekasihnya. Naiklah tingkat kekesalan Shea. Padahal, ketika dalam perjalanan tadi, ia sudah memperingatkan Red untuk tidak membual. Sepertinya peringatan Shea tak diindahkannya sama sekali. "Jadi, bagaimana kabarmu, Shea?" Gail memutar pandangannya ke arah Shea. "Sudah lama sekali kau tidak kembali. Aku pikir kau sudah lupa jalan pulang." Kekehannya terdengar di akhir kalimat. "Aku pulang karena ingin bertemu denganmu, Gail." Shea mengedipkan sebelah matanya kepada Gail. Tawa Gail kembali pecah. "Wah! Aku merasa terharu," ujarnya. "Ah, kalian berdua duduklah dulu. Aku ambilkan minum dulu untuk kalian." "Terima kasih, Gail," balas Shea yang kemudian mengambil duduk di salah satu sofa yang disediakan di tempat pembuatan tato milik temannya ini. "Kau tidak benar-benar datang ke sini hanya untuk bertemu dengan pria itu, kan?" tanya Red setelah mendaratkan bokongnya di samping Shea. "Tentu saja aku datang untuknya." "Aku merasa tersinggung." Alis Shea melengkung berbarengan dengan kepalanya yang berputar ke arah Red. Senyum yang kelihatan terpaksa muncul di bibirnya. "Aku tidak peduli, Red." "Ah! Hatiku tiba-tiba merasa sakit." Dengan gerakan berlebihannya, Red bersandar pada kepala sofa sambil menekan area di sekitar dadanya. "Apa ini yang namanya patah hati?" "Apa ini Belle, Gail?" Shea bertanya dengan antusias saat menemukan sebuah pigura di atas lemari kecil. Kakinya tanpa ragu melangkah ke sana, mengambil pigura tersebut dan mengamatinya dengan senyum yang mengembang lebar. Tak sadar bila Shea meninggalkan Red begitu saja. Atau mungkin pada dasarnya ia memang tidak peduli sama sekali sebab kehadiran Red di sini pun tak diharapkan. "Aku benar-benar merasa tersinggung sekarang," gerutu Red dengan wajah masamnya. "Dia sudah kelas dua SD sekarang," ucap Gail dengan kedua tangan yang membawa nampan berisi minuman dan beberapa makanan ringan. "Wah! Princess kecilku sudah besar sekarang." Gail tersenyum tipis seraya meletakkan nampannya di atas meja lantas duduk di hadapan Red yang belum beranjak dari tempatnya. "Silakan diminum, Red. Maaf, hanya ada itu di sini." Red mengambil sodanya, membuka penutupnya sembari melontarkan sebuah pertanyaan pada Gail. "Gadis kecil yang ada di foto itu siapa?" Ia memang paling sulit mengubur rasa penasarannya pada sesuatu hal yang menarik minatnya. "Dia anakku." Minuman yang baru mengisi mulut Red selama beberapa detik hampir menyembur keluar akibat jawaban Gail. "Kau ... menikah?" "Ya, tetapi dulu. Sekarang aku duda." "Bercerai?" Mulut sialan! Red sepertinya terlalu berlebihan karena pertanyaannya terkesan begitu ingin tahu. Padahal, kenal saja baru hari ini. "Istriku meninggal beberapa tahun yang lalu," jawab Gail, menerawang langit-langit di atasnya dengan raut muram. Mengetahui suasana yang berubah sendu, buru-buru Shea ambil suara untuk mengembalikan situasi seperti semula. Ia tahu betul jika mengangkat topik tentang istri Gail, maka akan membuat pria itu kembali diliputi oleh kesedihan, karena sejatinya Gail adalah pria yang masih mencintai istrinya sampai sulit baginya untuk move on. "Apa sekarang Belle ada di rumah, Gail? Aku sangat ingin bertemu dengannya." Shea meletakkan kembali pigura tersebut pada tempatnya, lantas membawa kakinya berjalan menuju sofa untuk bergabung bersama dua pria yang ada di sana. Ketika berjalan, Shea melemparkan tatapan horornya kepada Red karena pria itu bertanya tanpa tahu kondisi. Yang kemudian ditanggapi dengan ringisan tak enak hati oleh Red. "Sayang sekali, Shea. Dia sedang liburan bersama Pamannya." "Yah ... sayang sekali. Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya." "Mungkin lain waktu. Dan tentunya kau harus sering-sering pulang ke sini." Gail tersenyum samar. "Ya-ya, akan aku usahakan." Shea dan Gail sama-sama tertawa setelahnya. Sementara satu orang lainnya, yaitu Red, sedang mengajak matanya berkeliling mengitari tempat ini. Toh, ia juga tak mengerti dengan pembicaraan antara Shea dan Gail. "Omong-omong, Red." Saat seseorang mengajaknya berbicara, barulah Red terbebas dari belenggu kesendirian ini. Dan ia tersenyum walau yang berbicara padanya adalah Gail meski ia mengharapkan Shea. "Aku seperti tidak asing dengan wajahmu. Kau seperti ... ah! Petarung MMA? Aku benar, bukan?" "Kau mengenalku?" Red membulatkan matanya. Ekspresinya berubah, penuh dengan binar kebahagiaan. Saat orang lain mengenalinya sebagai petarung MMA, itu adalah saat yang paling membanggakan. "Tentu saja. Aku beberapa kali melihatmu di televisi." "Wah! Aku merasa terhormat." Red sedang berada di atas angin sekarang. "Apa kau mengidolakanku?" tanyanya tak tahu malu. Malah Shea yang malu manakala mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Red. Tingkat kepercayaan diri Red sepertinya sudah kelebihan muatan. "Ah..." Gail mengusap lehernya kikuk, merasa bingung harus menjawab apa. "Tidak usah malu. Katakan saja kalau kau mengidolakanku," ucap Red seraya mengibaskan tangannya dengan gaya sombong. "Aku bersedia memberikan tanda tanganku secara cuma-cuma kepadamu." Sejujurnya Red tidak sesombong ini, tetapi ia hanya ingin menunjukkan eksistensinya pada Shea. Mengatakan secara tidak langsung bahwa ia lebih baik dari Gail dari segi apa pun. "Sejujurnya aku penggemar Eric," jawab Gail pada akhirnya walaupun merasa tak enak hati dengan Red. Hancur sudah harga diri Red saat nama Eric lah yang Gail sebut. Ia kemudian bangkit dari duduknya, menggandeng tangan Shea yang otomatis membuat wanita itu mau tidak mau ikut berdiri. Red berdeham dan menatap Gail tanpa ekspresi. "Kami masih ada urusan dan harus pulang sekarang. Terima kasih untuk jamuannya. Omong-omong, minumannya tidak enak. Kuenya juga terasa aneh di lidahku," ucapnya yang hanya ingin balas dendam pada Gail yang telah merusak citranya di depan Shea. "Kami pulang. Permisi." Red lantas mengajak Shea untuk segera pergi dari tempat ini. "Aku pulang, Gail! Sampaikan salamku pada Belle." Shea melambaikan satu tangannya pada Gail, sedang kakinya terus berjalan mengikuti langkah Red. Begitu keduanya tiba di dalam mobil, tawa Shea meledak. Sebenarnya sejak Gail menyebut nama lawan Red pada pertandingan kemarin, ia sudah ingin tertawa, tetapi ia tahan karena tidak ingin harga diri Red makin merosot jatuh. "Aku bersedia memberikan tanda tanganku secara cuma-cuma." Shea menirukan kalimat sombong Red beberapa saat yang lalu sembari tertawa terbahak-bahak. "Terus saja mengejekku," sindir Red yang sudah menjalankan mobilnya. "Itu artinya lain kali kau harus lebih rendah hati, Red," kata Shea, menahan tawanya agar tak kembali pecah. "Ya-ya, aku akan mengingatnya," balas Red sambil lalu. Masih kesal sepertinya dengan kejadian tadi dan ledekan Shea yang tak ada habisnya. "Btw, terima kasih sudah memaksa ingin menemaniku ke tempat Gail. Kurasa kehadiranmu tadi memang dibutuhkan." Shea tersenyum pada Red. "Oh, ya?" Red mengalihkan fokusnya dari jalanan kepada Shea. Terlihat alisnya melengkung tanda bingung. Shea berpaling pada jalanan yang ada di depannya, mengikuti tatapan Red yang lurus ke depan sembari mencari posisi nyaman dalam duduknya. "Satu-satunya alasanku ingin kembali ke Virginia memang karena Gail, dan tentu saja si kecil Belle." Sekali lagi Red menoleh ke arah Shea walau hanya sekejap. Air mukanya tiba-tiba saja menegang ketika ada perasaan tak senang yang mencoba menyusup ke dalam raganya. Entah kenapa ia tidak suka dengan ucapan Shea yang satu itu. "Kau menyukai pria itu?" Red langsung mengutuk dirinya saat pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Dan ia hanya berharap semoga tidak adalah jawaban yang akan ia dengar dari mulut Shea. "Tentu saja tidak," jawab Shea. Dan Red dapat bernapas lega setelahnya. "Aku merasa kasihan melihat Gail. Sampai sekarang dia masih belum bisa move on dari istrinya. Dia berantakan, Red. Dan tentu saja aku mencemaskannya karena bagaimanapun juga dia adalah temanku. Dan soal Belle, aku selalu merasa bahagia kalau bersamanya. Kerinduanku pada adikku langsung menguap begitu saja bila bersama Belle." "Jadi, kau benar-benar tidak menaruh rasa apa pun pada Gail, kan?" "Sama sekali tidak. Perhatianku pada Gail murni hanya sebagai temannya saja." "Baiklah." Red tiba-tiba saja mengambil tangan Shea dan menautkan jari mereka menjadi satu. "Bagaimana kalau aku yang menyukaimu? Apa kau akan balas menyukaiku juga?" Kepala Shea terlalu cepat membuat gerakan berputar sehingga Red takut salah satu uratnya akan putus. "Jangan bercanda, Red." Dengan wajah terkejutnya, Shea mengamati lamat-lamat ekspresi Red. Mencari kejahilan dalam rautnya, tetapi sialnya ia tidak menemukan itu sama sekali. Dan ketika mereka berhenti di lampu merah, Red benar-benar memfokuskan pandangannya pada Shea. Tautan jari mereka semakin erat kala ia berkata, "Sepertinya aku mulai menyukaimu, Shea." Detik di mana kalimat itu mulai bisa dicerna oleh otaknya, kerja jantung Shea langsung berhenti. Red, pria itu selalu berhasil membuatnya terkejut dalam kondisi apa pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN