Red sejatinya adalah tipe pria yang mudah tertarik pada lawan jenisnya. Hanya dengan melihat kaki jenjang seorang wanita serta b****g padat yang membuat telapak tangannya mendadak gatal sebab ingin segera meremasnya, maka detik itu pula ia sudah terpikat pada wanita yang memenuhi kriteria sebagai wanita idamannya itu.
Tak ayal, Red sebenarnya sudah terpikat pada Shea sejak pertemuan pertama mereka. Tubuh wanita itu bisa dikatakan mungil, tetapi d**a dan bokongnya tampak penuh. Kaki Shea juga panjang walau tubuhnya tidak lebih tinggi dari d**a Red. Jadi, bisa dibilang kalau Shea adalah tipe wanita kesukaannya. Yang mampu menghipnotis seorang Red hanya dengan kemolekan tubuhnya saja.
Namun, sifat buruk dari mudah suka pada seorang wanita hanya karena keindahan tubuhnya saja membuat Red mudah bosan pula. Itu sebabnya ia jarang sekali menjalin hubungan jangka panjang. Red merasa bentuk dan rupa seseorang kurang lengkap kalau tidak dibarengi dengan hati yang rupawan.
Selama ini, Red hanya melihat semua wanita dari pandangan matanya saja, tak menggunakan hatinya sama sekali karena ia merasa bahwa wanita yang selama ini didekatinya hanya ingin senangnya saja. Sejauh ini, Red belum menjumpai seorang perempuan yang tulus. Entah karena ia terlalu tertutup atau memang tak ada satu pun wanita yang selama ini berkencan dengannya memiliki hati yang tulus.
Mungkin baru Shea yang membuat Red memandang seorang wanita dari sisi yang berbeda. Ia bahkan sampai membuka hatinya secara gamblang demi bisa melihat seperti apa sosok wanita yang mampu membuatnya terpukau itu. Bukan hanya sesaat, tetapi setiap detiknya Shea berhasil membuatnya terpesona.
Beberapa hari menjalin hubungan sebagai partner dalam menjalankan suatu misi dengan Shea, Red mulai sadar bahwa Shea terlalu berharga kalau hanya dijadikan sebagai objek kepura-puraan demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Melihat Shea, Red sadar bahwa tidak semua wanita hanya ingin mencari kesenangan saja. Buktinya, Shea mau diajak bekerja sama untuk mencegah pernikahan orang tua mereka hanya demi Nancy yang bahkan merupakan orang asing dalam hidupnya.
Ya, mungkin memang Red saja yang selama ini terlalu menutup dirinya sampai tak menyadari bahwa masih banyak wanita yang tulus di dunia ini. Beruntung karena ia dipertemukan dengan salah satunya.
"Shea, apa kau pernah mendengar kalau diam artinya iya?"
Sudah terlalu lama sunyi menemani mereka setelah pernyataan Red yang secara terang-terangan mengatakan kalau ia menyukai Shea. Red pun memutuskan untuk memulai kembali obrolan di antara mereka, tetapi tentu saja masih dengan topik yang sama. Karena ia pun penasaran seperti apa tanggapan Shea.
Hening. Hanya suara deru mesin dari kendaraannya sendiri dan beberapa kendaraan lainnya yang tumpah ruah di sepanjang jalan raya saja yang terdengar.
Senyum tipis menyambangi bibir Red, tahu betul jika Shea memang sengaja mengabaikannya. Red sampai hafal seperti apa rasanya tidak diacuhkan saking seringnya menerima perlakuan itu dari Shea. Tetapi untuk yang satu ini, Red tidak merasa berang seperti yang lalu-lalu. Ia malah terhibur.
Lampu merah menunggu di simpang jalan. Beberapa kendaraan pun mulai memelankan lajunya dan mengambil ancang-ancang untuk berhenti, serupa dengan Red. Bedanya, bila pengendara lain terlihat jengah karena baru saja menghadapi lampu merah di simpang sebelumnya, maka Red malah terlihat senang bisa terjebak di lampu merah lagi. Ini kesempatan baginya untuk dapat mengungkapakan isi hatinya pada Shea dengan fokus yang hanya tertuju pada wanita itu.
"Baiklah. Jadi, jawabanmu adalah iya. Kalau begitu, aku dengan senang hati akan menunggumu balas menyukaiku juga, Shea." Tepat ketika mobil Red berhenti, kalimat itu meluncur bebas dari bibirnya. Posisi duduknya juga sudah berubah, miring ke arah Shea.
"Tidak ada yang perlu kau tunggu," sahut Shea, membuang tatapannya ke luar jendela demi menghindari Red yang membuatnya gugup setengah mati.
Tak tahan, satu tangan Red jatuh di pundak Shea, menimbulkan sentakan pertanda kaget pada diri wanita itu. Gerakan refleks Shea juga membuat wanita itu terpaksa memutar arah pandangnya kepada Red sehingga membuat mata mereka beradu.
Red menggunakan ketangkasannya untuk membingkai wajah Shea hingga wanita itu tak bisa berpaling darinya lagi.
"Jangan seperti ini, Red," lirih Shea, menyerah karena sulit baginya untuk melawan Red yang seperti ini. Sebab, ia pun tidak bisa tidak terpesona pada pria itu.
Jari-jari Red menelusuri rahang Shea, begitu lembut sampai membuat Shea memejam dan perasaan mendamba pun mulai menampakkan dirinya.
"Tidak salah bila kita berkencan, bukan?"
Kelopak mata Shea bergerak pelan sebelum terbuka sepenuhnya dan langsung dihadapkan pada iris abu-abu Red yang begitu indah yang juga dipenuhi sebuah harapan, membuat Shea terombang-ambing dalam kebingungan.
"Aku bukan seperti wanita-wanita yang sering kau kencani, Red. Aku tidak suka dengan hubungan jangka pendek. Yang kucari dari sebuah hubungan adalah keseriusan." Shea menunduk, menatap pada jari-jarinya yang saling bertaut di bawah sana.
Untuk kali ini, yang Shea pikirkan bukanlah seberengsek apa seorang Red dilihat dari reputasinya selama ini, tapi seberapa pantas dirinya bila disandingkan dengan pria itu. Shea hanya merasa pengalamannya dalam berkencan sangatlah minim. Ia takut tak bisa mengimbangi Red. Terutama dalam urusan ranjang. Tiba-tiba saja kepercayaan dirinya hilang.
Shea sangat mengerti berkencan bagi orang dewasa pasti akan merambah pada hubungan di atas ranjang. Itulah sebabnya kenapa pikiran kotor seperti itu bisa sampai mampir di otaknya.
Red menyentuh dagu Shea dengan telunjuknya sebelum mengangkatnya agar Shea tidak lagi menunduk dan balas menatapnya.
"Kau harus dengar ini, Shea." Red berkata lembut. Sorotnya memberi keteduhan pada Shea. "Mungkin ini adalah keputusan terbesar dalam hidupku karena berani mengambil risiko untuk menjalin hubungan serius dengan seorang perempuan. Tetapi entah kenapa rasanya aku sangat ingin mengambil kesempatan itu, Shea. Melihatmu, aku sadar jika sudah bukan waktunya lagi bagiku untuk bermain-main."
Kedua sudut bibir Red terangkat, memahat senyum menawan di sana. "Jadi, izin—"
Kalimat Red terpotong ketika suara klakson dari kendaraan yang berhenti di belakangnya dibunyikan. Ternyata lampu sudah berubah hijau. u*****n pun tidak dapat terelakkan. Dengan wajah ketatnya, Red melepas kontak fisik dengan Shea dan dengan amat terpaksa, ia menjalankan mobilnya kembali.
Suasana hati Red berantakan. Bunga-bunga yang sebelumnya bermekaran di hatinya, kini sudah pergi entah ke mana. Bahkan, saking kesalnya, ia sudah tak peduli lagi dengan respons Shea atas pernyataannya tadi.
Sementara Shea, wanita itu tampak menahan senyumnya. Tahu betul jika Red sedang diliputi kekesalan yang luar biasa. Red sebenarnya tak perlu lagi merangkai kata-kata, karena ia sudah memiliki jawaban atas semua ungkapan hati Red. Dan pilihannya adalah menerima pria itu.
Secepat itu? Ya, tentu saja. Untuk memulai sesuatu yang baru, Shea tak perlu berpikir sampai otaknya panas. Ia hanya percaya dengan apa yang hatinya yakini. Lagipula, mereka akan mencobanya, bukan? Bila hasilnya tak sesuai harapan, ia akan memikirkan kelanjutannya nanti-nanti saja. Untuk sekarang, ia berharap ke depannya hubungannya dengan Red akan berjalan dengan baik.
"Aku akan mencobanya, Red," ucap Shea tanpa menatap Red. Hanya senyumnya saja yang menandakan bahwa kalimat tersebut memang keluar dari mulutnya.
Red hampir saja menginjak rem secara mendadak ketika mendengar ucapan Shea. Syukurlah yang terjadi hanya laju mobilnya saja yang memelan.
"Kau apa?"
Pertanyaan bernada terkejut dari Red dikombinasikan dengan kebingungan yang membayang di wajahnya serta matanya yang membelalak lebar.
Bukan sebuah jawaban berupa kata-kata yang Red dapat setelah bertanya akan keheranannya pada Shea, tetapi sebuah ciuman singkat di pipinya. Ya, Shea baru saja menciumnya. Hanya sekilas karena setelahnya wanita itu langsung menjauh darinya. Kendati begitu, Red bisa melihat dengan jelas semburat merah di wajah Shea. Dan ia pun tersenyum untuk kedua hal tersebut.
"Ah! Kenapa aku merasa udara di sore ini begitu segar, ya?" Red membuka jendela mobilnya, menggerak-gerakkan tangannya seperti sedang mencoba memasukkan oksigen ke dalam hidungnya.
Shea hanya bisa terkekeh.
"Apa kau merasakannya, Sayang?" Red beralih pada Shea, menekan kata sayang pada suaranya dan memainkan alisnya ketika bertanya.
Shea memukul pundak Red. "Berhenti menggodaku, Red."
Kali ini, gantian Red yang terkekeh. Ia kemudian mengacak rambut Shea dan melanjutkan perjalanan pulang dengan bunga-bunga yang kembali bermekaran di hatinya.