Shea mengirim sebuah pesan kepada Red, mengatakan kepadanya bahwa ia dan Nancy akan pulang sebentar lagi. Menghabiskan pagi hari di gereja untuk mengajarkan anak-anak di sekitar sini beberapa mata pelajaran yang ada di sekolah sekaligus membacakan dongeng untuk mereka ternyata begitu menyenangkan.
Besok adalah hari terakhir Shea di Virginia, dan lusa adalah hari kepulangannya kembali ke Las vegas. Jadi, tentu Shea tak akan menyia-nyiakan waktunya selagi ia masih bisa bersama Nancy yang mungkin saja akan menjadi sosok penting dalam hidupnya setelah hubungannya dan Red mengalami kemajuan.
"Shea, ayo, kita pulang," ajak Nancy saat sebuah mobil berhenti di depan mereka.
Pria berbadan besar berkulit cokelat keluar dari mobil tersebut, memberi senyum sekilas kepada Shea dan membawa Nancy ke dalam bopongannya untuk kemudian dibawa ke dalam mobilnya. Dia adalah Dijon, warga sekitar sekaligus teman masa kecil Red yang juga ikut membantu Nancy mengajar setiap paginya.
"Biar aku saja," ujar Shea saat Dijon ingin mengambil kursi roda milik Nancy. Shea lebih cepat beberapa detik sehingga pria itu hanya tersenyum dan membiarkannya melipat lantas memasukkan kursi roda tersebut ke dalam mobil.
"Thanks, Shea."
Shea mengacungkan ibu jarinya kepada Dijon sebelum ia menyusul pria itu untuk ikut masuk ke dalam mobil.
"Jadi, dia adalah calon menantumu, Nancy?" tanya Dijon sembari melajukan mobilnya. Dari arah belakang, Shea dapat melihat senyum menggoda di bibir pria itu.
Walau baru beberapa jam mengenal Dijon, tetapi ia tahu kalau teman masa kecil Red itu adalah pria yang baik. Terlihat jelas dari bagaimana caranya memperlakukan Nancy yang lumpuh. Dia begitu telaten. Dan dari pandangannya pada Shea saat pertama kali bertemu, dia terlihat begitu sopan. Sangat berbeda sekali dengan Red. Ah! Red kan memang mata keranjang. Tetapi sialnya ia mau-mau saja dengan si mata keranjang itu.
"Ya, aku harap begitu. Doakan saja agar Shea tidak kabur nantinya." Nancy tertawa lirih di akhir kalimat, diikuti oleh Dijon setelahnya.
"Melihat sikap Red belakangan ini, sepertinya aku memang memiliki niat untuk kabur." Shea mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah yang dibuat serius meski ia hanya main-main saja.
Tawa Nancy dan Dijon kembali terdengar, dan Shea tak bisa lagi memasang wajah pura-pura seriusnya. Ia pun tersenyum lebar walau dirinya tak ikut tertawa.
"Kalau kau ingin kabur dari Red, kabur kepadaku saja, Shea," goda Dijon, melirik Shea lewat kaca spion.
Kalimat Dijon barusanlah yang berhasil mengundang tawa Shea. Walau terkesan seperti sebuah godaan, ia tahu bahwa pria itu hanya bercanda.
"Asal kau tahu, Shea, Red dan Dijon ini adalah bujangan Virginia yang tidak pernah berpacaran sama sekali," ucap Nancy.
Sisa-sisa tawa Shea yang berupa senyuman sirna dalam sekejap setelah mendengar ucapan Nancy barusan. Kini, terlihat ekspresi terkejut di wajahnya.
Barusan, ia tidak salah dengar, kan? Bagaimana mungkin seorang Red yang sering mengencani begitu banyak wanita tidak pernah berpacaran sama sekali? Itu terdengar tidak masuk akal. Dan Shea jadi bingung harus menanggapi perkataan Nancy barusan seperti apa. Itu sungguh hal yang tak terduga sama sekali kalau memang benar.
"Kau tidak perlu mengantarku sampai dalam, Dijon. Ada Shea yang akan mendorong kursi rodaku nanti."
Suara Nancy serta mobil yang berhenti melaju mengembalikan Shea dari bermacam pikiran yang berputar-putar di kepalanya. Meninggalkan sebentar rasa herannya akan perkataan Nancy tentang Red yang tak pernah berpacaran sama sekali, Shea pun membantu Dijon dengan membawa keluar kursi roda Nancy.
"Red, dia memang tidak pernah berpacaran sama sekali." Tiba-tiba saja Dijon sudah berdiri di belakang Shea, membantunya mengeluarkan kursi roda milik Nancy. "Dia tidak suka dengan hubungan jangka panjang. Yang dia lakukan selama ini hanyalah kencan satu malam dengan wanita yang berbeda. Tetapi kau tidak perlu khawatir, aku rasa dia ingin mencoba sebuah hubungan yang baru denganmu. Jadi, aku harap kau tidak benar-benar kabur dari Red, Shea." Dijon memberi senyumnya kepada Shea, dan ia segera berlalu untuk memindahkan Nancy ke kursi rodanya.
Shea terdiam sejenak di tempatnya. Awalnya ia merasa ragu dengan Red karena ucapan Dijon barusan, tetapi setelah mendengar kalimat terakhir pria itu dan mencernanya secara matang, akhirnya senyum pun terbit di kedua belah bibirnya.
"Aku pulang dulu, Shea." Dijon langsung pamit setelah Nancy berada di atas kursi rodanya.
Sementara Nancy memberi perhatian berupa kalimat "hati-hati di jalan", Shea hanya melemparkan senyumnya kepada Dijon sembari melambaikan tangannya.
Setelah mobil Dijon hilang dari pandangan, Shea segera mendorong kursi roda Nancy untuk memasuki pekarangan rumah Red. Satu hal yang masih tak dapat dipercaya Shea saat ini selain Red yang tidak pernah berpacaran sama sekali, yaitu Red yang ternyata merupakan orang Virginia asli. Dunia sepertinya begitu sempit sampai tempat lahir mereka saja berada di kota yang sama dan mereka dipertemukan di Las Vegas, tempat tinggal mereka sekarang.
Shea memelankan langkahnya saat mendapati Red tampak sedang berdebat dengan seorang wanita. Begitu pun dengan Nancy yang wajahnya langsung berubah tegang setelah melihat wanita itu. Shea tak mengenali wanita itu sama sekali. Dia terlihat asing di matanya. Lantas, yang berputar di pikirannya saat ini adalah siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Red serta Nancy?
Sekitar lima langkah dari Red dan wanita itu, Shea akhirnya memutuskan untuk berhenti, sengaja membuat jarak setelah menemukan Nancy yang tampak ketakutan. Entah apa yang salah dengan wanita itu sampai membuat Nancy setakut itu. Shea mendadak khawatir. Yang ia bisa lakukan hanyalah mengusap pundak Nancy untuk menenangkannya.
Pada akhirnya, mata wanita itu bergulir pada Nancy. Tatapannya begitu menusuk, seolah ada setumpuk kemarahan yang terbayang di sana. Dan itu semakin membuat napas Nancy terdengar tak beraturan.
"Berhenti mengurus wanita ini, Red. Biarkan dia membusuk bersama penyesalannya." Kalimat itu begitu menohok, dan wanita itu langsung pergi setelahnya. Tak peduli jika ucapannya barusan melukai Nancy.
Red sepertinya tidak ambil pusing dengan kepergian wanita itu, karena yang ia lakukan setelahnya adalah berlutut di hadapan Nancy sembari menggenggam kedua tangan ibunya. "Ma, jangan pedulikan apa yang Amber katakan. Kau tidak seburuk itu."
Nancy tampak gemetar. Wajahnya pucat dan tatapannya kosong.
"Sial!" Red mengumpat, melepas satu genggamannya di tangan Nancy hanya untuk mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang yang tidak Shea ketahui.
Situasi semakin tak terkendali saat raungan serta tangisan Nancy terdengar. Segera Red menggendong Nancy ke dalam rumah. Shea yang tidak mengerti apa-apa akhirnya berinisiatif untuk membawa kursi roda Nancy ke dalam dan menunggu di ruang keluarga dengan cemas.
Selang beberapa menit, seorang wanita yang juga tak dikenali Shea masuk tanpa permisi ke dalam rumah Red. Dan Shea langsung berdiri atas responsnya, tetapi wanita itu seperti tak menyadari kehadirannya karena ia terlihat terburu-buru dan langsung masuk ke kamar Nancy. Lagi-lagi tanpa permisi.
Kalau boleh menebak, sepertinya wanita itu adalah seorang dokter yang dihubungi oleh Red beberapa saat yang lalu.
Shea menarik napas dalam-dalam. Menekan rasa penasarannya dan menahan kakinya agar tak masuk ke dalam kamar Nancy untuk menjawab semua pertanyaan yang terus menari-nari dalam benaknya. Sebab, ia tahu itu bukan ranahnya. Alhasil, Shea kembali duduk di tempatnya semula.
Perasaan khawatir itu semakin menjadi saat ia mendengar teriakan pilu Nancy. Ia teringat akan perkataan Red bahwa Nancy mengalami depresi yang sewaktu-waktu bisa kambuh. Dan hal itu pun terjadi setelah kehadiran seorang wanita yang ia ketahui bernama Amber tersebut.
Akhirnya penantian Shea berakhir sudah saat matanya melihat Red keluar dari kamar Nancy, disusul dengan menghilangnya teriakan Nancy. Refleks Shea mengambil posisi berdiri, menunggu Red menghampirinya.
Pelukan yang didapatnya secara tiba-tiba dari Red membuat perasaan Shea campur aduk. Dari raut wajahnya saja, ia tahu betul jika Red tengah bersedih. Tanpa mengeluarkan suaranya, ia pun membalas pelukan pria itu, memberikan ketenangan kepada Red di sela-sela kegundahannya.
"Biar aku ambilkan minum dulu untukmu," ucap Shea setelah Red mengurai dekapan mereka.
"Tidak usah, Shea." Red memegang lengan Shea, menahan kepergian wanita itu.
Shea pun menurut, mengikuti Red yang membimbingnya untuk duduk dan membiarkan pria itu menggenggam kedua tangannya dengan kepala yang menunduk dalam. Sampai pada akhirnya batas kesabaran Shea untuk menahan rasa penasarannya pun habis. Kedua belah bibirnya merenggang dan sebuah pertanyaan terlontar dari mulutnya. "Siapa wanita itu, Red?"
Pertanyaan yang pertama kali keluar tentulah identitas dari wanita yang bernama Amber itu, karena dia lah yang menimbulkan kekacauan ini.
Shea dapat melihat Red mengambil napas panjang, dan ia memberi perhatian dengan mengusap punggung pria itu.
Perlahan, kepala Red terangkat hingga matanya beradu dengan Shea. "Dia adikku. Namanya Amber."
Entah sudah berapa kali Shea dibuat terkejut hari ini. Kali ini pun sama, matanya membelalak dengan mulut yang menganga lebar.
"Dia ... adikmu?" Sebuah anggukkan lemah ia dapatkan dari Red sebagai jawaban. "Tetapi kenapa dia berkata sekasar itu kepada Nancy, Red? Bahkan, aku yang tidak suka dengan Ibuku saja tidak sampai seperti itu. Apa dia tidak tahu kalau kalimat yang dia berikan kepada Nancy akan menyakiti hatinya dan menjatuhkan harga diri Nancy sebagai seorang Ibu?" Tiba-tiba saja Shea merasa marah.
"Sejujurnya aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena aku tahu Amber sangat membenci Mama."
Shea melepaskan genggaman tangannya dengan Red, membuat pria itu sedikit terkejut dan tentu saja merasa kehilangan.
"Apa maksudmu?" Mata Shea menyipit. Kali ini kemarahannya bukan hanya tertuju kepada Amber saja, tetapi Red pun juga. Sebagai seorang kakak, sudah seharusnya pria itu bersikap tegas kepada adiknya untuk tidak bersikap kurang ajar, bukan? Tetapi nyatanya Red malah tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
Red kembali membawa tangan Shea ke dalam genggamannya walau ada sedikit penolakan dari wanita itu sebelum pasrah pada keadaan. Atau mungkin memang Shea yang terlalu lemah dalam hal melawan Red. Entahlah.
Menatap mata Shea lekat-lekat, akhirnya Red memberi jawaban atas seluruh pertanyaan bernada kemarahan yang wanita itu lontarkan.
"Kau tahu kenapa Amber bersikap seperti itu kepada Mama, Shea? Karena yang merusak rumah tangga orang tuaku dan merenggut kebahagiaanku dan Amber adalah Mama."
Dan untuk yang kesekian kalinya di hari ini, Shea kembali dibuat terkejut. Untuk yang satu ini, Shea benar-benar tak bisa berkata apa pun lagi.