Pagi itu PT Empress pusat terasa berbeda, ada bisik-bisik yang tak terhindarkan dari para karyawan yang membentuk kelompok-kelompok kecil. Perusahaan itu seperti mengalami badai kecil yang tak disadari oleh Noel dan Xaviera, sang CEO beserta asistennya. Beberapa orang tampak mendengung seperti lebah, berisik meski tidak ada yang benar-benar bersuara keras. Tatapan cepat teralihkan dan layar ponsel yang buru-buru dimatikan ketika seseorang lewat. Xaviera dalam tubuh Noel melangkah masuk lobi utama, langkah cepat, ekspresinya dingin. Jas mahal itu masih pas di tubuhnya, namun aura yang melingkupinya tak lagi sama. Dia bisa merasakannya, sesuatu berubah, semua orang melihat dengan cara yang tidak sama seperti sebelumnya, bukan tatapan hormat, bukan tatapan segan melainkan tatapan penuh pen

