Makan malam kali ini terasa berbeda, menu makanan di meja makan panjang itu lebih variatif, lebih banyak dibanding hari-hari sebelum kehadiran Endrico. Xaviera dalam tubuh Noel menghela napas panjang, apakah memang orang kaya makan sebanyak ini? Dia merasa sangat sayang jika olahan ini tidak bisa dihabiskan mereka bertiga.
Endrico duduk di kepala meja, sementara Noel dan Xaviera duduk berdampingan. Endrico tak luput memperhatikan mereka berdua, sejak awal dia bertemu dengan Xaviera, dia merasa ada yang aneh dari tingkah laku gadis itu, kebetulan yang sungguh tidak dapat diterima nalarnya.
Xaviera begitu mirip dengan Noel, dari cara memegang stik golf, berhasil mencetak hole. Dan kini ... “Xaviera,” panggil Endrico tiba-tiba.
Xaviera yang asli hampir menyahut, namun dia segera menyenggol bahu Noel, “iya, Kek?” jawab Noel tersentak.
“Kamu memotong daging dengan tangan kiri?”
Noel menunduk, menyadari kesalahannya.
“Itu kebiasaan Noel,” ucap Endrico pelan, “sejak kecil.”
Xaviera berhenti mengunyah, Endrico menatap Noel tanpa berkedip.
“Kamu juga tidak bicara sebelum orang lain selesai, kamu menatap lawan bicaramu tepat di mata.”
Dia lalu melihat ke arah Xaviera di dalam tubuh Noel yang sedang gelisah.
“Sedangkan kamu, menghindari tatapan, tampak gugup dan makan terlalu cepat,” ujarnya.
Xaviera membeku, Endrico melanjutkan makannya dengan santai meski lirikan tajam matanya tak dapat diabaikan begitu saja, “kamu tidak pernah makan seperti itu,” ucapnya dingin.
Waktu terasa berjalan sangat lambat, bahkan sendok di pegangan lebih berat dari biasanya. Noel bisa merasakan keringat dingin di telapak tangannya. Dia menyenggol kaki Xaviera dari bawah meja.
“Kakek terlalu mengamati hal-hal kecil, orang bisa berubah, kan?” ucap Xaviera pada akhirnya, berusaha tenang.
Endrico menyandarkan punggung ke kursi, “karena aku membesarkan kamu, aku tahu mana yang bisa di ubah dan mana yang tidak pernah berubah,” ucapnya. Lalu tatapannya kembali ke arah Noel dalam tubuh Xaviera, “dan kamu ... sangat mirip cucuku.”
Noel merasakan jantungnya berdebar tak terkendali, sebelum membela diri. Mereka mendengar langkah kaki mendekat.
“Papa!” Suara itu muncul dari sisi jalanan menuju ruang makan. Juan.
Langkahnya santai, senyumnya tipis, tampak terlalu biasa berada di rumah yang seolah membuatnya nyaman itu.
“Wah, Papa kok enggak mengabari sudah tiba,” ujar Juan menghampiri Endrico, mengecup pipinya lalu menarik kursi di seberang Noel, pelayan segera menyiapkan piring tambahan untuknya.
“Kamu sangat sibuk sepertinya, katanya di luar kota?” ujar Endrico sambil menoleh dan melanjutkan makannya.
Sementara Noel dalam tubuh Xaviera itu menoleh ke arah belakang, dengan tujuan untuk berbisik pada Xaviera, “lebih hati-hati,” bisiknya pelan.
Juan tersenyum ke arah Noel yang menatapnya dengan punggung menegang, “iya sedang sibuk dengan proyek yang disepakati keponakanku, ya kan Noel?” ucap Juan.
Xaviera mengangguk pelan, melanjutkan makannya seperti kode yang diberikan Noel.
“Kalau sibuk kenapa harus ke sini? Lanjutkan saja proyeknya?” ucap Endrico sedikit lebih dingin.
“Aku hanya ingin menjenguk keponakanku,” ucapnya, lalu dia menatap ke arah tubuh Xaviera, tatapan Noel sangat dingin ke arahnya, seperti memberi tatapan permusuhan, dia yakin dalang di balik semuanya adalah Juan, “dan ... asisten barunya,” imbuh Juan.
Noel dalam tubuh Xaviera langsung berdiri, “saya tidak ingin mengganggu acara makan malam keluarga ini,” ucapnya.
Sementara Xaviera kian menegang, bingung apa yang harus dilakukan? “Om membuatnya tidak nyaman,” ucap Xaviera pada akhirnya, berusaha agar Noel tak meninggalkan meja makan itu.
Xaviera kemudian ikut berdiri hendak meninggalkan meja makan itu, “kalian berdua, duduk kembali. Tidak sopan meninggalkan keluarga di saat sedang makan seperti ini!” ujar Endrico menatap tajam keduanya.
Noel dan Xaviera saling tatap, kemudian kembali duduk.
Juan menatap keduanya sambil tersenyum misterius. Sementara Noel mulai merasakan bahaya yang begitu nyata jika Endrico terus berbicara, jika kakeknya itu terus mengamatinya.
Mereka kembali makan, namun Endrico bisa merasakan aura ketegangan di meja ini, sebenarnya apa yang terjadi ketika dia pergi?
Juan terus memperhatikan Noel dan Xaviera, rasanya aneh melihat Noel begitu terikat pada orang lain yang bahkan hanya asistennya saja. Dia bahkan menangkap setiap ketegangan kecil di antara keduanya, juga beberapa kejanggalan.
Dia tersenyum tipis, “sepertinya kamu banyak berubah, Noel, apakah asisten kecilmu ini yang mengubahmu?” tanya Juan pelan.
Xaviera tersenyum miring menatap Juan, “saya hanya melakukan pekerjaan saya,” jawabnya.
Juan tertawa kecil, “ini menarik,” tuturnya.
“Jadi bagaimana bisnis kamu, Juan? Bukankah papa sudah menyelamatkannya? Mengapa sahamnya masih turun?” tanya Endrico. Kini giliran Juan yang mulai salah tingkah.
“Itu karena aku salah pilih managemen, aku akan merombaknya,” ujar Juan.
Endrico menghela napas panjang, “bukankah sebaiknya di saat seperti ini kamu fokus pada bisnismu bukan di PT Empress meski kamu memiliki sebagian saham di sana?”
Juan melirik Noel, “Papa ... aku hanya enggak mau Noel mengalami hal yang sama seperti perusahaanku, jadi aku merasa harus di sana untuk melindunginya, dari serangan luar.”
Xaviera dalam tubuh Noel menggenggam erat sendok, justru dia adalah ancaman paling bahaya. Noel kembali menoleh ke belakang, “katakan padanya, bahwa kehadiran dia justru membuat perusahaan runyam.”
Belum sempat Xaviera membuka mulutnya, Endrico sudah lebih dulu berkata, “bagus jika memang tujuannya melindungi kamu.”
“Kakek!” ujar Xaviera dan Noel berbarengan. Endrico menyipitkan matanya ketika melihat Noel dan Xaviera saling tatap. Noel mengedikkan dagunya.
“Aku lebih nyaman mengelolanya sendiri, tanpa campur tangan Om Juan,” ucapnya tegas, seperti yang selama ini dia pelajari dari Noel yang asli. “Lagi pula, ada Xaviera yang membantuku banyak hal, dia lebih dari cukup,” imbuhnya.
“Begitu ... Xaviera?” tanya Endrico.
“Aku mengerti tentang perusahaan itu Kek, jadi kurasa aku bisa membantunya,” jawab Noel dalam tubuh Xaviera itu.
“Lalu apa jaminannya kami bisa mempercayai kamu?” tanya Endrico.
Xaviera menatapnya lurus ke depan, “nyawaku.”
Endrico tersenyum kecil, sementara Juan justru tertawa.
“Perusahaan bukan mainan,” ujar Endrico.
“Karena itu bukan mainan, maka kami bersungguh-sungguh,” ucap Noel.
“Betul itu,” tambah Xaviera.
Setelah makan malam itu, Noel dan Xaviera memilih langsung ke kamar mereka masing-masing, ketika ada kesempatan, Noel langsung menyelinap ke kamar Xaviera, dia sudah memakai piyama tidur berbahan satinnya yang entah mengapa justru sama dengan yang Xaviera pakai, piyama berwarna navy.
Saat mata mereka bertemu, keduanya justru mendengus, “apakah hati kita juga menyatu sekarang?” tanya Noel.
Xaviera yang tengah membaca buku novel di meja itu menutup buku itu setelah ditandai. Menatapnya dengan pandangan terganggu.
“Kamu masih bisa tenang baca novel di saat om Juan masih ada di rumah ini?” tanya Noel sambil duduk di atas ranjang.
“Ya aku harus apa? Ini cara satu-satunya agar aku tenang, enggak stres,” sungutnya.
“Kakek sudah mulai curiga, dan sialnya Juan sepertinya sudah mencium sesuatu,” rutuk Noel.
Xaviera menghela napas panjang, “tadi mereka masuk ruang kerja berdua, kira-kira apa yang akan dibicarakan?”
Noel menggeleng, “Juan pasti merayu kakek agar memberikan sisa sahamnya ke dia,” ucapnya.
“Lalu menurutmu kakek akan percaya?” tanya Xaviera.
“Yang kutahu kakek masih menganggapnya putra bungsunya sampai sekarang, padahal dia bukan anak kandung kakek!” gerutu Noel.
Sementara Juan keluar dari ruang kerja itu dengan tangan terkepal, ayah angkatnya tak benar-benar bisa mempercayainya seratus persen, terlebih setelah perusahaannya krisis, dia semakin menggenggam erat sahamnya di PT Empress, Juan harus terus mengalah pada anak bau kencur itu. Cara satu-satunya merebut perusahaan itu dengan cara menghancurkan Noel, jika Noel tiada, tentu saja dia yang akan menjadi pewaris satu-satunya seluruh kekayaan Endrico.
Sementara itu Endrico membuka salah satu buku agenda di laci meja kerjanya, terlihat foto Juan kecil dengan ayah Noel, mereka berdiri berdua, namun dengan pandangan yang penuh permusuhan. Endrico menghela napas panjang.
Dia menyayangi Noel, tentu saja karena di tubuhnya mengalir darahnya juga, namun ... saat ini dia semakin tua dan Noel pun tak bisa terus dikendalikan olehnya, dia sudah dewasa dan memiliki pemikirannya sendiri. Dia hanya takut, Noel tak bisa mengendalikan emosinya dan membuat hancur segalanya.
Endrico kemudian berjalan ke luar ruangan kerjanya, dia melangkah menuju kamar Noel, namun dia mendengar suara Xaviera di dalam sana. Dia memutuskan tak jadi masuk dan memilih menuju kamarnya, hingga dia berpapasan dengan salah satu pelayan senior.
Wanita tua itu membungkuk sopan, “ada yang dibutuhkan, Tuan?” tanyanya.
“Apakah mereka berdua sering tidur sekamar?” tanya Endrico menunjuk kamar Noel.
Pelayan itu mengangguk dengan takut-takut, “nona Xaviera sering tidur di kamar tuan Noel dan keluar di pagi harinya,” jawabnya tak enak hati.
Endrico menggeleng pelan, “apa tunangan Noel masih sering datang?”
Pelayan itu menggeleng, “mereka sudah sangat jarang bersama, kami bahkan sempat berpikir apakah mereka sudah putus sejak tuan Noel membawa nona Xaviera pulang ke rumah ini?” jawabnya.
“Apa kamu melihat hal mencurigakan di antara mereka berdua?” tanya Endrico.
“Terkadang ... kami merasa bahwa nona Xaviera begitu mirip dengan tuan Noel, seperti mereka kembar,” ucapnya.
Endrico menggeleng, dia menyaksikan sendiri proses kelahiran Noel dan cucunya itu adalah bayi tunggal, ketika dia bertanya pada Xaviera pun wanita itu menjawab usianya yang baru 23 tahun.
“Baiklah,” jawab Endrico pada akhirnya. Dia pun masuk ke kamarnya.
Noel sudah berbaring di ranjang kamar yang biasanya ditempati Xaviera itu, “kamu enggak tidur?” tanyanya pada Xaviera yang masih membaca novel.
“Tanggung, beberapa halaman lagi tamat,” jawabnya, lalu dia menoleh, “apa enggak sebaiknya kamu tidur di kamar sebelah? Bagaimana kalau kakek curiga karena kita sekamar?”
Noel hanya mengangkat bahunya acuh, “biarkan saja, dia laki-laki dengan pemikiran modern,” jawabnya sambil menarik selimut menutupi perutnya.
“Kamu tahu Xaviera?”
“Apa?” tanya Xaviera yang semula sempat ingin membaca kembali.
“Saat aku melepas benda di daadaku itu, rasanya lega banget, aku heran kenapa kalian terus memakai benda itu sih? Kan enggak nyaman,” ujarnya.
Wajah Xaviera memerah, “saat ini rasanya aku sangat ingin kembali ke tubuhku, aku enggak tahu seberapa jauh kamu menjamahnya!” gerutunya.
Noel hanya tertawa, “aku akan membuatnya lebih besar dan seksi,” gumamnya.
“Noel!!” geram Xaviera sambil berjalan ke ranjang, “hentikan!”
“Kenapa?” tanya Noel sambil meremas bagian itu, Xaviera membungkuk dan menarik tangan Noel agar melepaskan dari tubuhnya, namun Noel justru menariknya hingga Xaviera terjatuh di atas tubuhnya. Ketika Xaviera hendak bangkit, Noel justru memeluknya erat, “kamu enggak mau ... coba?”
***