Mata Xaviera membesar, dia melihat wajahnya sendiri lalu dia menggeleng, “jangan aneh-aneh, aku menjaganya untuk suamiku kelak! Jadi sebelum kita bertukar tubuh lagi, jangan sembarangan dengan tubuhku, oke!”
Noel menggeleng, “kita saja enggak tahu apa akan terjebak selamanya di tubuh ini? Atau bisa kembali lagi?”
“Pasti kembali, aku yakin ada alasan kita terjebak,” ucapnya.
“Kamu pernah bermimpi kembali ke tubuhmu?” tanya Noel masih memeluk Xaviera.
“Pernah, saat di tempat massage, tapi terbangun karena kamu!” gerutunya.
“Bukan justru karena aku menciummu, makanya kamu bisa bermimpi hal itu?” tanyanya.
“Entah! Lepas,” ujar Xaviera seraya sedikit memberontak. Noel menggeleng, “kita coba lagi, siapa tahu kali ini berhasil.”
“Maksudnya?” tanya Xaviera, Noel memajukan wajahnya dan mengecup bibir Xaviera lembut. Xaviera merasakan lembutnya ciuman itu, bibirnya menyesap bibir atas Xaviera sementara pegangan tangannya mulai melembut dan sedikit menekan bagian bawah tubuh itu. Xaviera bisa merasakan benda yang biasanya menggantung itu kini ereksi.
Dia memejamkan mata, membiarkan perasaan itu bersemayam, dia pun sangat penasaran apakah dia bisa kembali ke tubuhnya lagi? Semakin lama dia semakin takut bahwa dia tak kembali ke tubuh asalnya.
Xaviera mencoba membalas lumatan itu, udara di sekitar mendadak terasa lebih panas, dia bisa mendengar lenguhan Noel dengan bibirnya itu. Lalu keduanya saling membuka mata, mendiamkan bibir itu menyatu.
Xaviera menyadari tak ada yang berubah, mereka masih di tubuh yang tertukar, dengan sisa kekuatannya dia pun bangkit. Lalu dia menunduk menatap benda itu mengeras. Rasanya aneh, begitu asing dan gamang!
Noel menghela napas lega, “ah tubuhku masih prima,” ujarnya menatap benda itu.
Xaviera mengipasi wajah dengan tangannya, “sebaiknya kita enggak tidur bersama, aku khawatir terjadi hal aneh!”
“Justru kita harus tidur bersama, aku rindu ... ada dalam tubuhku sendiri,” gumamnya yang terdengar sarat akan kesedihan.
Xaviera pikir Noel adalah lelaki yang kuat dan tak peduli jika tubuh mereka tertukar selamanya, dia terlihat seperti menikmati pertukaran ini. Namun dia salah, mungkin kedatangan Endrico juga kecurigaan Juan membuat Noel waspada, dia bisa melihat pria itu yang gelisah.
Xaviera kemudian memutari ranjang itu dan berbaring di sampingnya, menarik selimut menutupi tubuhnya. Mata mereka menatap ke langit-langit.
“Apa kita bisa kembali?” tanya Xaviera mulai ragu.
Noel mengeleng, “aku penasaran kenapa kita bisa tertukar hanya karena kecelakaan itu? Ini enggak masuk di akal,” ujarnya.
“Sekalipun kita cerita, enggak akan ada orang yang percaya tentang hal ini,” ujar Xaviera.
Noel mengangguk, mematikan lampu utama kamar itu, meninggalkan lampu tidur dengan cahaya temaram.
“Selamat malam,” gumamnya seraya memejamkan mata.
Noel merasakan perasaan yang nyaman ketika dia berbaring di samping Xaviera, dia merasa bahwa dia akan baik-baik saja selama dia bisa melihat tubuhnya. Sehingga dengan cepat dia terlelap.
Noel terbangun di sebuah pantai, cahaya senja menyinari wajahnya. Dia menatap tangannya, juga kakinya. Dia kemudian memegang pipinya. Dia sudah kembali ke tubuhnya.
Dia menoleh ke arah seorang wanita yang berlarian di pantai, memakai gaun putih tipis tanpa lengan. Suara tawanya begitu renyah.
“Noel, lihat ada kerang!” ujarnya. Noel mengejar wanita itu, hingga ketika dekat dia menyadari bahwa wanita itu bukan Olivia tunangannya, melainkan Xaviera.
“Kok bengong? Sini lihat kerangnya kayaknya masih ada isinya,” ucap Xaviera.
Noel masih terdiam menatap Xaviera, jika ini mimpi ... mengapa rasanya sangat nyata?
Xaviera tertawa dan menendang air agar mengenai kaki Noel. Noel tersenyum tipis ketika Xaviera justru tertawa riang, dia tak pernah melihat wanita itu tertawa lepas seperti ini, ah memangnya dia pernah melihat Xaviera dalam tubuh aslinya?
“Noel, kok bengong? Noel ayo sadar!” ujar Xaviera mengguncang bahunya. Lama-kelamaan cahaya senja itu menjadi begitu menyilaukan dan Noel terbangun dari mimpinya, dia menatap tangannya, lalu mendesah kecewa. Dia masih berada di dalam tubuh Xaviera, namun ada sedikit rasa senang ketika dia tadi kembali ke tubuhnya meski hanya dalam mimpi.
Xaviera memandangnya lekat, “kamu mimpi apa?” tanya Xaviera.
Noel membalas tatapannya, “aku kembali ke tubuhku, dan kita berlibur di pantai,” jawab Noel sambil mengucek matanya.
Xaviera mengerucutkan bibirnya, “aku enggak pernah ke pantai.”
“Seumur hidup?” tanya Noel. Xaviera mengangguk.
“Hari ini libur kan? Bagaimana kalau kita main ke pantai?” ujar Noel. Wajah Xaviera langsung berbinar senang, “serius?”
“Ya, kamu mau?” tanyanya.
“Mau, mau, mau,” ujarnya antusias seperti anak kecil.
“Ya sudah, setelah mandi kita ketemu di bawah ya,” ucap Noel. Xaviera mengangguk senang, dia langsung berjalan ke kamar mandi sambil bersiul membuat Noel menahan tawanya. Bukankah dia seperti anak kecil yang terperangkap di tubuh pria macho?
***
Pagi itu taman belakang rumah keluarga tampak berbeda, taman yang biasanya kosong kini dilengkapi meja bundar dengan payung warna putih.
Endrico duduk di kursi rotan besar, menu sarapan dan minuman disediakan di meja. Di depannya tampak seorang wanita cantik, Olivia.
Cantiknya tidak sekadar cantik, dia memiliki kecantikan yang terawat. Rambut panjang bergelombang yang jatuh sempurna di bahu, gaun musim panas berwarna pastel yang menempel anggun di tubuhnya. Senyumnya tampak lembut dan terkendali seperti seorang yang terbiasa berada di bawah sorotan kamera. Sebagai seorang model papan atas, tunangan resmi Noel.
“Olivia, kamu kelihatan makin kurus?” ujar Endrico.
Olivia tertawa kecil, nada suara yang sengaja dibuat ringan.
“Ah kakek selalu saja memperhatikan, dunia modelling kan memang menuntut seperti ini, Kek.”
Dia kemudian mengambil teko teh dan menuangkan dengan cara yang begitu anggun.
“Teh chamomile kesukaan kakek, kan? Aku ingat,” ucapnya.
Endrico tersenyum tipis, “kamu memang selalu ingat tentang detail kecil,” ucapnya.
Dari pintu kaca yang menghadap ke taman, Noel yang kini berada di dalam tubuh Xaviera memperhatikan pemandangan itu, dan entah mengapa dia merasakan perasaan yang aneh. Dulu dia begitu antusias melihat Olivia, dia sangat senang berada di sampingnya, memamerkan kecantikannya di depan teman-teman dan koleganya.
Olivia tak hanya cantik, namun juga pintar, seperti sekarang dia sangat pandai mengambil hati kakeknya.
Hingga Xaviera dalam tubuh Noel menghampirinya, “ayo,” ajaknya. Dia sudah mengenakan pakaian santai, Noel bisa menghirup aroma parfum yang digunakan Xaviera. Parfum favoritnya yang kini menjadi parfum favorit Xaviera juga.
Noel mengedikkan dagu ke arah taman, Xaviera membeku menatap pemandangan itu. Olivia, dia bisa bersikap tenang ke rekan kerja, direksi dan bawahan di kantor. Namun dia tak pernah bisa siap berpura menjadi laki-laki di depan Olivia. Dia tak bisa berpura-pura mesra, dia masih normal. Masih menyukai laki-laki.
Xaviera memperhatikan ketika Olivia memotong buah untuk Endrico, tampak begitu lugas namun juga lembut.
“Dia pintar,” gumam Xaviera pelan, “sepertinya dia tahu cara menenangkan hati kakekmu,” imbuhnya.
Noel menoleh, “kamu enggak suka?”
Xaviera menggeleng, “aku hanya belum terbiasa berpura menyukainya, aku takut ... sikapku akan menghancurkan hubungan kalian.”
“Sejujurnya aku enggak terlalu perduli dengan hubungan itu saat ini, karena ada prioritas lain.”
Seorang pelayan tampak menghampiri mereka berdua, “Maaf, Tuan Noel dipanggil Tuan Endrico untuk bergabung,” ucap pelayan itu menatap Noel lalu dia menunduk sopan pada Xaviera yang berdiri di sampingnya.
Noel dalam tubuh Xaviera mengangguk pelan, hingga pelayan itu pergi.
“Sepertinya kita harus menemuinya, jika enggak, kakek pasti akan curiga,” ucap Noel.
“Lalu pantai?” tanya Xaviera bergumam, ada raut kekecewaan di wajahnya.
Noel menggigit bibir bawahnya, “setelah ini kita pergi, ya?” ucapnya membujuk. Xaviera kemudian mengangguk.
“Hampiri kami jika sudah siap,” ucap Noel yang berjalan lebih dulu ke taman.
Di taman, Noel bisa melihat Olivia yang tertawa kecil ketika Endrico menceritakan kenangan masa kecil Noel.
“Dia dulu keras kepala, kalau sudah mau sesuatu tidak ada yang bisa menghentikan,” ucapnya.
Olivia tersenyum lembut, “aku tahu itu,” ucapnya. Membayangkan ketika Noel dan Kaisar memperebutkannya, hingga pilihan jatuh ke tangan Noel karena Olivia melihat potensinya, namun belakangan ini sikap Noel benar-benar berubah.
Endrico mengangkat alisnya, “oh?”
“Dia tetap keras kepala sampai sekarang, tapi itu yang membuatnya kelihatan kuat,” ucap Olivia sambil tertawa pelan.
Cara Olivia berbicara berbeda, di depan kakek dia tampak lembut, hangat dan sangat menghormatinya.
Noel menghampiri mereka lebih dulu di banding Xaviera yang perlu mempersiapkan diri lebih lama.
“Olivia,” sapa Noel dalam tubuh Xaviera itu. Olivia menoleh, ekspresinya berubah sepersekian detik. Senyumnya tidak lagi selembut tadi.
“Halo,” sapanya singkat.
“Noel mana?” tanya Endrico.
“Masih bersiap di dalam,” jawabnya.
Olivia menatap tubuh asisten Noel itu dengan pandangan tidak suka dan Endrico mengerti apa yang Olivia rasakan. Dia pasti cemburu, setelah ini Endrico akan memperingatkan Noel untuk menjaga jarak dengan Xaviera.
Tak lama Noel keluar dan menghampiri mereka, Olivia langsung tersenyum lebar dan berdiri menyambut Noel, memeluknya erat. Xaviera dalam tubuh Noel itu membeku sepersekian detik lalu tersenyum terpaksa. Sementara Noel yang asli melenggang cuek, duduk di samping Endrico.
“Sini Noel, duduk samping aku,” ajak Olivia mengamit tangan Noel dan meminta duduk di sampingnya.
Xaviera menatap Noel yang sudah mengupas jeruk dan memakannya dengan santai seolah tak terganggu dengan kehadiran Endrico dan Olivia.
“Kalian mau pergi?” tanya Endrico pada Noel. Xaviera hampir membuka mulutnya, namun Noel menggeleng seolah memintanya diam.
“Enggak,” jawabnya meski ada nada kecewa di suaranya.
“Kakek, minggu depan ada acara amal, aku ingin kakek datang sebagai tamu kehormatan,” ucap Olivia yang masih mengamit lengan Noel itu.
“Acara apa?” tanya Endrico.
“Yayasan anak pesisir, Noel dulu pernah cerita soal masa kecilnya di pantai, aku pikir itu akan sangat berarti, aku diminta mewakilkan untuk program beasiswa dan pembangunan sekolah,” ucap Olivia bangga.
Noel terdiam, dia tidak pernah ingat menceritakan itu pada Olivia, tatapannya tanpa sadar beralih ke Xaviera yang perlahan melepaskan tangannya dari gamitan Olivia.
“Boleh, kebetulan kakek tidak ada acara, jadi Noel mau ikut?” tanya Endrico.
Olivia menatap tubuh Noel itu dengan pandangan memohon, “akan sangat berarti kalau kamu juga ikut, kita sudah lama tidak tampil di depan publik, orang akan menyangka kalau kita sudah putus,” gerutu Olivia.
Noel menatap Xaviera, yang memberi kode padanya dengan mulutnya yang tanpa suara.
“Aku lihat jadwal dulu,” ucap Noel.
Olivia meletakkan dagu di bahu Noel, “aku beneran ingin kamu hadir,” ucapnya manja, lalu dia melirik ke arah Noel dalam tubuh Xaviera itu seolah memanas-manasinya dan berkata bahwa dia yang akan mendapatkan Noel bagaimana pun caranya. Tanpa dia tahu bahwa orang yang ditatap dengan pandangan sinis itu adalah tunangannya yang asli.
***