Setelah sarapan, Endrico mengajak mereka semua masuk ke dalam rumah. Noel dalam tubuh Xaviera tetap tinggal di luar, dia mengirim pesan pada Xaviera agar ke kamar sebentar karena ada yang mau dibicarakan.
Noel sudah menunggu di kamar itu, hingga Xaviera masuk. Noel menyerahkan earphone yang biasa mereka pakai.
“Kamu temanilah mereka dulu, aku akan bantu dari jauh,” ucapnya.
“Kalau kakek tanya kenapa aku pakai benda ini bagaimana?” tanya Xaviera.
“Bilang saja kamu sedang mendengarkan laporan,” ujar Noel memasangkan earphone itu di telinga Xaviera.
“Jadi kita beneran batal ke pantai?”
“Minggu depan acara amal, kita ikut ya sekalian main ke pantainya,” ucap Noel. Xaviera menghela napas panjang.
“Aku janji,” ujar Noel cepat. Xaviera memaksakan senyumnya, lalu dia keluar dari kamar itu. Tadi dia sangat senang, dia pikir dia akan bisa liburan di pantai, namun dia salah. Kehadiran Olivia yang tak terduga membuat rencananya harus urung.
Xaviera dalam tubuh Noel kembali turun dan berjalan menuju ruang keluarga, sementara Noel yang asli memperhatikan dari atas sambil membuka tablet berisi laporan perusahaan.
Dinding di ruang keluarga dipenuhi oleh foto lama dan koleksi penghargaan.
Olivia berjalan di sisi Endrico, memegang lengannya dengan lembut seolah menjaganya agar tidak tersandung.
“Pelan-pelan, Kek,” ucapnya manja namun sopan.
Xaviera berdiri sedikit di belakang masih menjaga jarak lebih aman dengan Olivia. Setelah menceritakan beberapa foto di dinding itu, Endrico memutuskan untuk duduk di sofa besar, Olivia segera mengambil bantal kecil dan menyelipkan di belakang punggungnya.
“Biar lebih nyaman, pakai ini kek,” ucapnya lembut.
Xaviera memperhatikan itu, dia menatap Olivia dengan pandangan aneh, dia bisa melihat matanya tak ada ketulusan di sana seolah yang dia lakukan hanyalah sebuah strategi.
“Jadi kapan kalian menikah? Kakek takut enggak bisa melihat kalian menikah,” ucap Endrico.
Olivia mengenggam tangan Xaviera dalam tubuh Noel itu dan meremasnya pelan, “Sayang, kakek tanya tuh kok diam saja?” ucap Olivia.
Xaviera menunggu jawaban dari Noel, namun pria itu tak mengatakan apa-apa hingga Xaviera mengetuk earphone di telinganya agar Noel segera memberi jawaban.
Olivia mengusap lengan Noel lembut, “kalau aku terserah Noel dan keluarga saja, Kek,” imbuhnya.
Xaviera mendengar suara Noel, dia pun menyampaikannya, “tahun depan mungkin, Kek. Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan,” ucap Xaviera menirukan suara Noel di telinganya.
Olivia menatapnya takjub, “aku harus memilih designer gaun, perhiasan dan sebagainya dan satu tahun kurasa cukup untuk mendapatkan pernikahan impian, ya kan Kek?” ucap Olivia menatap Endrico yang tertawa kecil.
“Ya itu cukup, pilihlah semua yang kamu suka, pernikahan itu kalau bisa sekali seumur hidup jadi harus benar-benar sesuai dengan keinginan agar tidak menyesal,” ucap Endrico.
Noel dalam tubuh Xaviera mendengarkan itu di kejauhan dia bisa melihat raut wajah Xaviera di bawah, tampak sedikit sedih dan muram. Apakah pergi ke pantai sepenting itu? Lagi pula apa ada orang yang sudah berusia dewasa belum pernah main ke pantai?
“Kek aku ke toilet dulu ya,” ucap Olivia. Dia pun meninggalkan Endrico bersama Xaviera yang kemudian bersandar di sofa.
“Kamu kelihatan murung? Padahal biasanya kamu senang berduaan dengan tunanganmu?” ujar Endrico.
Xaviera menggeleng, “hanya sedikit kurang enak badan, mau istirahat sebenarnya,” jawabnya tanpa perlu menunggu jawaban dari Noel.
Endrico menatap Noel, “kamu benar-benar kelihatan berubah. Kamu bilang dulu saat meminta restu kakek, kalau kamu mencintai Olivia, dia adalah wanita terbaik dalam hidupmu sehingga kamu ingin segera menikahinya. Tapi kenapa setelah bertunangan, kamu terus menunda pernikahan itu? kamu enggak takut dia diambil orang?”
Endrico menatap lurus ke arah Noel, “jangan sampai hubunganmu dengan asistenmu membuat Olivia salah paham dan kamu menyesal setelah kehilangannya,” tukas Endrico lagi.
Xaviera terdiam, menunggu kata-kata dari Noel, dia yakin Noel mendengarkannya. Dia tak tahu bahwa Noel di atas justru bertemu Olivia yang berpura-pura mau ke toilet padahal mencarinya.
“Kamu di sini rupanya? Cukup tahu diri untuk enggak bergabung seperti tadi,” ujar Olivia seraya melipat tangan di d**a, dari tempatnya berdiri dia bisa melihat Endrico dan cucunya itu berbincang lebih serius.
Noel dalam tubuh Xaviera hanya menghela napas panjang, “kenapa?” tanyanya.
“Sampai kapan kamu akan menempel dengan tunanganku? Kamu harus tahu sekeras apa pun kamu berusaha, restu kakek itu tetap ada padaku.”
Noel tersenyum miring, “karena kamu model? Atau karena kamu dari orang terpandang?” tanyanya.
Olivia merasa asisten Noel itu terlalu berani. Dia tersenyum tipis penuh arti, “tentu karena keduanya, kamu harus tahu latar belakangmu sebelum mendekati orang seperti Noel. Ngomong-ngomong, kamu masih betah bekerja dengan Noel? Jangan macam-macam denganku kalau enggak mau dia memecat kamu!”
Noel menghela napas panjang. “Yang kutahu Kakek Endrico enggak pernah memandang seorang dari latar belakangnya, dan Noel enggak akan pernah memecatku.”
Olivia memajukan wajahnya, mendekatkan mulut ke telinga Noel dalam tubuh Xaviera itu, “aku bisa membuat kamu dipecat dalam waktu singkat, tapi enggak sekarang, aku masih ingin tahu sejauh mana kamu berusaha menempel dengan Noel seperti lintah penghisap darah!”
Noel baru pertama kali melihat Olivia berkata sinis seperti itu, Olivia yang dia kenal adalah wanita lembut berhati baik yang suka berdonasi dan menjalankan program kemanusiaan, dia suka anak-anak dan begitu menghormati lansia. Apakah Olivia melakukan ini karena merasa terganggu dengan kehadiran Xaviera? Atau dia terlalu cemburu?
Olivia kemudian meninggalkannya dan kembali menghampiri Endrico, mereka kemudian berjalan ke garasi untuk melihat mobil-mobil tua koleksi Endrico. Bahkan Olivia tetap di rumah itu sampai mereka makan siang bersama dan Noel dalam tubuh Xaviera tentu ikut makan siang, hanya saja kini dia duduk di seberang Olivia yang disamping tubuh Noel.
Lagi-lagi Xaviera bisa melihat betapa Olivia melayani kakek Noel, sikapnya yang lembut dan penuh perhatian, sementara Noel mulai berpikir ulang, apakah Olivia memiliki dua kepribadian ganda?
Setelah makan siang, Olivia pun pamit dan berkata bahwa dia ada urusan, Xaviera tentu saja tak ikut mengantarnya. Dia masih berada di meja makan itu, duduk dan menikmati hidangan penutup.
“Noel,” panggil Endrico. Xaviera menoleh ke arah Endrico sebagai Noel.
“Kamu beruntung punya Olivia, dia tahu cara menjaga keluarga dan dia begitu hangat memperlakukan kakekmu yang tua ini dengan baik,” ucap Endrico.
Noel terdiam begitu pula dengan Xaviera.
“Jangan sampai kamu kehilangannya hanya karena kesalah pahaman, atau cinta sesaat,” ucapnya melirik Noel dalam tubuh Xaviera itu. Lalu Endrico meninggalkan ruang makan itu.
Noel menatap Xaviera lekat.
“Kamu baik-baik aja?” tanya Noel karena Xaviera masih tampak murung, dia berpikir karena dia yang telah ingkar janji, yang seharusnya mereka saat ini tengah bermain di pantai. Namun hari sudah sangat siang, terlebih di luar mendung tak mungkin mereka ke pantai dalam cuaca seperti ini. Padahal tadi pagi langit sangat cerah.
“Entah, aku merasa sejak kita tertukar, aku enggak pernah benar-benar baik-baik aja,” ucap Xaviera murung.
“Maaf,” ujar Noel pelan. Xaviera mengangguk, “aku mau tidur,” ucapnya lalu dia beranjak.
“Kamu enggak lagi cemburu kan, Xaviera?” tanya Noel.
“Heh! Jangan mimpi di meja makan!” gerutu Xaviera lalu dia berjalan meninggalkan Noel sambil mengentakkan kakinya. Salah satu pelayan memperhatikan mereka berdua, dia mengorek kupingnya sendiri dengan jarinya, apa dia tidak salah dengar? Mengapa Xaviera memanggil namanya sendiri tadi?
***
Sementara itu Olivia menghampiri Kaisar, dia tidak ada pekerjaan hari ini tepatnya dia mengosongkan jadwal hari ini, awalnya dia ke rumah Noel ingin bermesraan dengannya, sudah sangat lama dia tidak bermesraan dengan tunangannya itu, padahal dulu setiap bertemu Noel akan menciumnya bertubi-tubi, memberikan pelukan dan kehangatan yang dia butuhkan. Tapi kini? Disentuh saja sepertinya dia tidak mau.
Kaisar menghampiri Olivia yang duduk di ruang tamu, keluarga Kaisar tak ada di rumah, rumah besar ini kini hanya dihuninya sendirian.
“Kenapa lagi?” tanya Kaisar memberikan gelas berisi cairan berwarna merah keunguan.
Olivia menghirup aroma di gelas itu, “masih siang,” ujarnya. Tak lama petir menggelegar dan diikuti hujan yang deras.
“Kamu kelihatan risau, minumlah, ini anggur terbaik dan tertua di rumah ini,” ucap Kaisar.
Olivia meneguk minuman itu, “wohooo, pelan-pelan itu bukan air putih,” ujar Kaisar. Olivia menghabiskannya dan meminta Kaisar mengisi gelas itu lagi.
Kaisar tentu saja dengan senang hati menuangkan isi dari botol yang dipegang ke arah wanita yang sejak dulu disukainya itu.
Olivia kini minum dengan lebih perlahan, “ada masalah dengan Noel?” tanya Kaisar.
Olivia mengangguk, “dia berubah,” ucap Olivia.
Kaisar mengangguk, “aku pun merasa dia berubah.”
“Aku membutuhkannya, Kaisar! Tapi dia bahkan seperti jijik menyentuhku,” ucap Olivia kembali menyesap gelas anggurnya.
“Aku bisa menggantikannya, kamu tahu itu kan?” tanya Kaisar.
“Tapi kamu bukan dia.”
“Aku bisa menjadi siapa pun yang kamu inginkan Olivia,” ucap Kaisar, memangkas jarak di antara mereka. Mengambil gelas di tangan Olivia dan meletakkan di meja. Dia memajukan wajahnya dan mengusap leher Olivia, “aku tahu ... kamu merindukan belaiannya kan?” bisiknya sebelum mengecup bibir Olivia.
Wanita itu membalas kecupannya dan membiarkan jemari Kaisar bermain di tubuhnya. “Kita sudah janji enggak melakukan ini lagi kan Kaisar?” tanya Olivia sambil mendesah, tak kuasa menahan ledakan hasratnya yang datang tiba-tiba. Kaisar menarik tali gaun Olivia, “tapi aku tahu kamu membutuhkanku sekarang, Olivia. Kamu bisa gunakan tubuhku sesukamu,” bisiknya.
Olivia menutup mulut Kaisar, “jangan di sini,” ucapnya melirik kamera pengawas di ruang tamu. Kaisar berdiri dan menarik tangan Oliva, mengajak ke kamarnya.
Setelah pintu kamar tertutup, Olivia segera menarik tangan Kaisar dan mencumbunya dengan rakus. Pria itu tersenyum menyeringai dan membalas cumbuan Olivia, obat dalam anggur itu berhasil. Olivia pasti sedang merasa kepanasan di dalam tubuhnya sekarang.
Tanpa bersusah payah, wanita itu bahkan sudah melucuti pakaiannya sendiri dan berbaring dengan posisi siap di ranjang, “cepat, masukki aku Kaisar, aku ... gatal,” lenguhnya.
Kaisar menindihnya, mengecup gunung kembarnya dan mulai melesakkan miliknya, di siang hari, di tengah suara hujan deras dan petir yang menggelegar, dia melampiaskan hasratnya, memberikan yang Olivia butuhkan saat ini yang tidak bisa didapatkan lagi dari Noel, yaitu kepuasan dan pemenuhan dari gairahnya!
***