Malam hari, Noel dan Xaviera berada di ruang kerja. Tampak aneh ketika tubuh Xaviera yang justru duduk di kursi utama dan menanda tangani beberapa berkas penting.
Sementara Xaviera yang asli duduk di sofa sambil bersandar, memakan cemilan sambil membaca buku novel yang belum selesai dia baca, dia masih sedikit kesal karena tak jadi ke pantai hari ini.
Noel dalam tubuh Xaviera membereskan berkas-berkas itu. Dia menyadari sesuatu, kesadaran yang bukan datang dengan tergesa, apalagi dengan pertengkaran, namun terasa lebih tenang.
Dia memandang ke arah tubuhnya yang kini dihuni Xaviera, lihatlah, dia tak pernah melakukan itu sebelumnya, membaca novel roman picisan sambil ngemil santai.
Noel menghela napas panjang, duduk di samping Xaviera, satu nama terlintas di otaknya. Olivia! Nama itu terus berputar di kepalanya. Tunangannya, model terkenal, pasangan sempurna di mata publik.
Semua orang berkata mereka serasi, wanita yang ambisius, elegan dan berkelas, bahkan di tahun ini dia ikut membintangi film yang cukup terkenal meski hanya sebagai pemeran pendukung.
Tunangan yang selama ini dibanggakannya, kini terasa ... kosong.
Noel mencoba mengingat kapan terakhir kali dia benar-benar menantikan kehadiran Olivia? Tidak ada.
Dia mencoba mengingat kapan terakhir kali dia merasa nyaman hanya duduk diam bersamanya? Tidak ada.
Yang dia ingat justru senyum Olivia yang selalu siap di depan kamera, sentuhan yang selalu terjadi ketika ada orang yang melihat, kata-kata manis yang terdengar seperti scrip film.
Dan hari ini di taman, dia melihatnya dengan jelas, betapa Olivia mencoba meraih hati kakeknya, untuk mendapatkan posisi, status dan nama keluarga. Entah mengapa Noel melihatnya tidak tulus? Dan ketika tadi Olivia menghampirinya, memberi ancaman padanya yang dalam tubuh Xaviera. Membuka matanya lebih jelas tentang wanita itu.
Noel menghembuskan napas panjang seperti membuang seluruh udara bersama keresahannya dari paru-parunya hingga membuat Xaviera menoleh.
“Aku enggak mau menikahinya,” ucapnya pelan, namun dia merasa telah melakukan sesuatu yang benar.
Di sampingnya Xaviera berhenti membaca bukunya, dia menatap Noel dengan pandangan bingung.
“Apa?” tanyanya.
“Aku enggak ingin menikahi Olivia,” ucapnya.
“Ya iyalah, enggak sah nikahnya kalau aku yang gantiin kamu, apalagi aku enggak bisa mesra-mesraan sama dia dan—“
“Bukan masalah itu, tapi aku benar-benar ingin memutuskan hubungan dengannya,” potong Noel sebelum Xaviera menyerocos lebih jauh.
“Kenapa? Karena kamu sadar? Atau karena kamu merasa enggak cocok lagi?” tanya Xaviera.
Noel terdiam, “kurasa karena aku enggak pernah benar-benar mencintainya,” ucapnya pada akhirnya. Pengakuannya yang terasa jujur.
Xaviera hanya mengangguk kecil, “kamu mau aku bilang putus ke dia? Atau bagaimana?” tanya Xaviera.
“Jangan dulu, kita cari waktu dan alasan yang tepat. Aku enggak mau kamu dianggap jadi perusak hubungan aku dengannya,” ucap Noel.
Xaviera mengangguk pelan lalu menguap, “tidur yuk, besok ada meeting pagi kan?” tanyanya. Noel mengangguk lalu mereka berdua berjalan dari ruang kerja itu menuju kamar Noel, di bawah kakek Endrico menatap keduanya lekat.
Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya, melihat batu ajaib itu, dia merasa batu itu bersinar lebih terang sejak dia pulang ke rumah ini. Namun, dia tak tahu apakah benar batu itu berfungsi melindungi cucunya? Lalu melindungi dari apa?
Dia memanggil Darma ke kamarnya. Darma membungkuk hormat. Endrico yang duduk di sofa itu meminta Darma duduk di dekatnya.
“Apa ada yang terjadi belakangan ini?” tanya Endrico.
“Ya, Tuan. Kami mencurigai ada seseorang berniat jahat dengan Tuan Noel, masalahnya dia mampu menembus keamanan kantor seolah-olah memang—“
“Kamu masih mencurigai Juan? Sudah kubilang anak itu hanya gila judi, tapi dia sayang sama keponakannya,” potong Endrico. Darma hanya mengangguk pelan.
“Maaf, Tuan,” cicit Darma.
“Sudahlah, lindungi saja dia, jangan sampai dia kecelakaan lagi seperti kala itu, dan kamu harusnya langsung menghubungi aku!”
“Maaf Tuan, tapi waktu itu tuan tidak bisa dihubungi,” ucap Darma. Endrico tahu dia berada di pedalaman yang tak ada sinyal sama sekali.
Dia pun menyuruh Darma pergi, dia masih tak percaya jika ada yang mencurigai Juan, Juan pernah bersumpah bahwa dia akan melindungi Noel dengan sekuat tenaga, terlebih dia tak memiliki anak dari beberapa pernikahannya, dia pun berkata kelak harta yang diberikan untuknya akan diberikan pada Noel jika dia telah tiada. Itu membuat Endrico percaya bahwa Juan tulus pada Noel.
***
Keesokan paginya, suasana rumah tampak lebih sibuk. Endrico sudah membereskan kopernya lagi.
Dia menerima panggilan penting dari tim penelitiannya, dia memang tidak pernah benar-benar pensiun. Darah petualangnya terlalu kuat untuk hanya duduk menikmati sisa usia.
Dia menyelesaikan sarapan lebih awal, “ada temuan baru, artefak pesisir yang mereka kira hilang ternyata ditemukan,” ucapnya dengan mata berbinar. Dia terlihat seperti pria yang kembali muda.
“Kakek akan pergi?” tanya Xaviera dalam tubuh Noel itu.
“Tentu saja, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali,” ujarnya sambil berdiri dan mengambil jasnya di tangan pelayan yang bersiaga di belakangnya.
Sebelum keluar, dia pun menoleh ke arah Noel, “acara donasi Olivia di pesisir pantai minggu besok, aku tidak bisa hadir.”
Dia menatap Noel dengan pandangan tegas tak terbantahkan, “kamu datang wakili keluarga,” ucapnya.
Noel dalam tubuh Xaviera memandangnya dengan pandangan tidak suka, sementara Xaviera menegangkan punggungnya.
“Baik,” jawabnya. Endrico menepuk bahunya, “dan jaga nama keluarga,” ucapnya. Kalimat itu terdengar cukup berat, lalu dia pergi.
Rumah terasa lebih kosong dan entah kenapa terasa lebih berbahaya. Juan tak pernah menyentuhnya saat ada sang kakek, kini pria itu pergi lagi dan entah kapan akan kembali?
Pria manipulatif itu tak mudah digoyahkan, dia cukup cerdik bermain taktik hingga sangat sulit untuk mendapatkan bukti kejahatannya secara langsung.
Hari-hari berlalu dengan rutinitas seperti biasanya, hanya saja Juan tak pernah terlihat lagi di kantor, mungkin karena Endrico memintanya untuk mengurus bisnisnya sendiri.
Hingga hari minggu itu pun tiba, acara donasi digelar di pesisir pantai yang cukup ramai.
Tenda putih tampak berderet, spanduk yayasan anak pesisir terbentang besar, wartawan tampak berkumpul, kamera mulai membidikkan gambar hingga lampu flash berkilat.
Noel berdiri cukup jauh dan membiarkan Xaviera menggantikannya dengan earphone penghubung di telinga. Darma berada di dekat Xaviera bersama beberapa body guard lainnya.
Olivia segera mendekat dan meraih lengannya, “Sayang, akhirnya kamu datang,” ucapnya manja dan cukup keras hingga terdengar oleh para wartawan.
Minggu lalu ketika terbangun di kamar Kaisar dan merasakan seluruh tubuhnya pegal karena pergulatan itu, dia menyesalinya. Padahal dia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan Kaisar untuk tak lagi tidur bersama. Namun dia yang gundah ditambah mabuk itu tetap saja membutuhkan pelukan seorang pria, dan Noel tak bisa memberikan kehangatan yang dia butuhkan lagi.
Noel di dalam tubuh Xaviera mengamati dari belakang, dia bisa melihat jelas bagaimana Olivia menekan tubuhnya sedikit lebih dekat saat kamera mengarah ke arahnya. Bagaimana tangannya menggenggam terlalu erat, dan senyumnya yang berubah begitu lampu kamera mati.
“Berdiri lebih dekat, kita harus terlihat kompak,” bisik Olivia pada Xaviera.
Xaviera menahan napas, dia tidak nyaman, terlebih di bawah sorotan kamera seperti ini. Tapi dia tidak bisa menolak.
Acara berlangsung cukup lama, setelah pidato dan foto bersama anak-anak, juga penyerahan simbolis donasi. Di setiap momen, Olivia tampak menempel pada Noel yang sebenarnya Xaviera itu. Tangannya berada di lengan, sentuhan pada bahunya juga tawa kecil yang dibuat-buat.
Dan semakin lama Xaviera merasa muak, dia bukan Noel, dia bukan pasangan Olivia. Dia hanya seseorang yang terjebak dalam peran yang tak pernah benar-benar dia inginkan.
Ketika acara hampir selesai dan makan siang berlangsung, Olivia kembali berbisik.
“Kenapa kamu dingin sekali hari ini?”
Xaviera bahkan tak mau menatapnya, “aku hanya lelah,” jawabnya pelan.
Olivia menyipitkan mata sedikit, “kamu benar-benar berubah sejak kecelakaan. Kita harus berlibur bersama untuk—“
“Aku sibuk,” potong Xaviera. Dia tak bisa bermain peran lebih lama lagi dari hari ini.
Noel memandang Xaviera yang bergerak gelisah, tampak tidak nyaman, dia sangat ingin menjauhkan Xaviera dari situasi ini. Hingga makan siang hampir selesai, ketika Noel dalam tubuh Xaviera itu akhirnya mendekat.
“Sudah cukup,” ucapnya pelan pada Xaviera. Xaviera menatapnya bingung. “Kita pergi,” imbuhnya.
“Tapi—“
“Biarkan saja,” ucap Noel, dia kemudian mendekat ke Olivia, “aku harus membawa Noel untuk istirahat,” ucapnya formal.
Olivia terlihat tidak senang, namun kamera sudah tidak sebanyak tadi, membuat dia tersenyum tipis.
“Tentu, jangan lupa makan malam keluarga minggu depan,” ucap Olivia pada Xaviera dalam tubuh Noel yang hanya mengangguk itu. Mereka pun pergi meninggalkan keramaian.
Xaviera berkata pada Darma bahwa dia akan menuju pantai yang lebih privat. Hingga mobil berhenti di jalur kecil yang tidak terlalu dikenal.
Pantai ini lebih sepi dan privat, hanya suara ombak dan angin, pasir yang putih dan air jernih dengan ombak yang kecil.
Xaviera turun perlahan, dan ketika kakinya menyentuh pasir, dia membeku. Hamparan laut biru yang luas di depan mata, langit yang tampak menyatu dan angin beraroma asin yang menyentuh wajahnya, seolah menunjukkan kedalaman perasaannya saat ini.
“Ini ... indah sekali,” ucapnya pelan dan begitu terpukau, sementara Noel di sampingnya memandang sosok yang matanya tampak berkaca-kaca itu dengan pandangan terpaku.
***