Dingin.
Itu yang kurasakan.
Aku membuka mataku. Masih UKS rupanya.
Pusingku sudah hilang. Alhamdulillah.
Saat kulihat jam dinding, ternyata baru pukul 21.30. Dan aku belum sholat isya.
Akhirnya aku keluar UKS menuju Mushola.
Keliatannya sedang ada kegiatan bersama di Lapangan depan. Semua seperti berkumpul disana.
Suasana memang agak sepi, karena semua orang ada di lapangan depan.
Selesai sholat, aku memutuskan ikut ke Lapangan depan. Kupikir keadaanku sudah membaik. Daripada aku sendirian gini.
Terlihat dari kejauhan, ada yang hendak lewat, Umar?
Dia ngapain ya sendirian.
"Lho Mar.. Mau kemana?"
Umar keliatan pucat dan jalannya menunduk kebawah.
Ini anak sakit kali yah.
Dia tidak menjawab hanya menunjuk ke belakang.
Kemana dia? Toilet? Ada yang aneh.
"Oh.. Ya udah, aku kedepan dulu. Kamu hati hati, Mar."dia mengangguk lalu meneruskan berjalan kebelakang.
Saat sampai di Lapangan, aku melihat Will sedang memberikan instruksi ke teman teman OSIS, sepertinya ini waktunya untuk acara jurit malam.
Dia melihatku datang, spontan memanggil.
"Dina!!kamu kok kesini?"tanyanya.
"Iya, aku udah mendingan kok. Aku mau ikut ya."
"Yakin? Udah nggak papa?"tanya nya sekali lagi.
"Iya.."
Lalu dia menyuruhku masuk ke barisan.
Tapi...
Degggg!!!
UMAR?!
Bukannya tadi baru saja kami berpapasan dibelakang?
Badanku kembali lemas, bahkan aku sampai berhenti berjalan lalu aku berjongkok ditengah tengah Lapangan.
Will berlari menuju kearahku.
"Kenapa Din?" Tanya nya cemas.
Aku menunjuk ke Umar, dan berbicara agak terbata bata.
"Ii..tuuu..Uu mmaarr?"
"Kenapa Umar?"
"Tadi aakkuu ketemmuu diisaaannaaa.." Keringat dingin mulai mengalir deras dari dahi ku. Tanganku gemetaran dan terasa sangat dingin. Mungkin wajahku juga pucat.
"SYAAH..!!!" Panggil Will.
Aisyah berlari menghampiriku.
"Kenapa Din?"
"Aku ketemu Umar dibelakang barusan. Kok dia udah disini aja sih?"ucapku lebih tenang. Tapi pandanganku kosong.
Will dan Aisyah saling pandang.
Lalu membantuku berdiri.
"Kamu nggak usah ikut kegiatan ya Din."saran Will.
"Iya Din.. kamu liatin aja ya.. Kayanya Dina bosen di UKS terus Will."
"Ya udah, kalian masuk barisan aja gih."
Aisyah menggandengku masuk barisan. Semua orang melihatku aneh.
Will melanjutkan pembekalan nya lagi.
Dibarisan sebelah, kelompok PMR, aku lihat Viona menatapku sedih.
Kenapa lagi itu anak?
"Din.. Ngapain sih kamu keluar?"bisik Shinta
"Bosen Shin, sendirian, tadi aku habis ke Mushola juga."
"Hah? Serius ke Mushola jam segini?sendirian Din? Berani kamu ya?"
Letak mushola memang agak jauh dipojok belakang.
"Emang gak ketemu yang aneh aneh Din?" Tanya Alex.
"Ketemu.. Tadi ketemu kembarannya Umar tuh. Sial banget aku."
Umar yang namanya kusebut ikut mendengarkan.
"Kak Dina..aku nggak punya kembaran kok."tanya nya bingung.
"Iya, kembaran diDunia goib!!" Gjmamku lirih.
"Haaaah?" Jerit mereka berbarengan.
========
Acara jurit malam memang sangat identik dengan kegiatan malam malam yang bakalan bikin jerit jeritan. Biasanya sih begitu.
Tiap kelompok isinya 2 orang akan memutari Sekolah untuk mengambil barang tertentu disetiap pos nya.
Untuk pengurus OSIS, benda yang diambil adalah dasi OSIS. Untuk PRAMUKA benda yang diambil bendera semaphore dan untuk PMR topi PMR.
Total semua pos ada 15. Sekolah kami ini memang luas. Jadi daripada melakukan acara jurit malam diluar Sekolah yang bakal menambah tenaga, waktu& pikiran, akhirnya kegiatan dilakukan dilingkungan Sekolah saja.
Lagian didalam Sekolah juga sama horornya.
Untuk kegiatan kali ini kakak tingkat juga membantu, mereka menjadi panitia dibantu dengan alumus yang masih aktif jika ada kegiatan Sekolah seperti ini.
Sehingga, kami peserta yang melingkupi kelas 1 dan 2 lah yang akan melakukan jurit malam.
"Dina.. Kamu mau ikut atau enggak?"tanya salah 1 kakak tingkatku.
"Eumm...ikut deh.."ucapku semangat.
"Yakin? Udah gak papa emangnya?"
"Yakin Kak.."
Akhirnya aku ikut kegiatan. Aku tidak enak kalau cuma tidur tiduran saja di UKS.
Untuk anak OSIS, total anggota 20.
Jadi ada 10 kelompok. Semua berpasangan laki laki dan perempuan.
Aku memilih bersama Umar saja.
Tadinya mereka menyuruhku 1 kelompok dengan Will. Tapi aku menolak, takut malah baper.hehehe.
Will seperti nya paham maksudku.
Will saat itu akan 1 kelompok dengan anak kelas 1 yang tadi siang bertemu kami, yang menanyakan barang apa saja yang harus dibawa untuk acara ini.
"Eeehhh... Ganti ganti!! Sama yang lain aja!!"ucapku ke mereka berdua.
"Ciieeeeee.. Bu ketua OSIS cemburu niiii. hahahaha" Alex tertawa puas mencandaiku.
Will juga senyum senyum saja melihatku. Yang lainpun sama, ikut meledekku.
Ah, dasar.
"Bukannya gitu, duh pokoknya Will jangan bareng Nia ..percaya deh sama aku." Aku mencoba menjelaskan tapi malah grogi.
Akhirnya Will 1 kelompok dengan Aisyah, tenang aku kalau dia sama Aisyah.
Selain aisyah sahabatku, yang tidak akan menikungku, dia juga indigo, kalau mereka ketemu yang aneh aneh nanti. Insha Allah Aisyah bisa handle. Soalnya Will masih sering panik kalau bertemu 'mereka'.
"Ais.. Nitip ya."ucapku ke Aisyah saat mereka akan berjalan ke Pos, ambil mengedipkan sebelah mataku.
"Beres, Din... Aman pokoknya!!"
Will cuma geleng geleng saja.
Mereka mulai berjalan masuk ke dalam sekolah yang penerangannya minim sekali. Start dan finish ada di lapangan depan.
Jarak kelompok 1 dengan kelompok yang lain adalah 10 menit. Jadi jika kelompok 1 sudah mulai berjalan, 10 menit kemudian menyusul kelompok berikutnya seperti itu seterusnya.
Aku sih berharap jangan sampai kebagian kelompok terakhir.
Sudah larut malam, bakal lebih horor lagi nanti.
"Kak.. Tadi kata Kak Dina, ketemu kembaranku gimana sih Kak?"tanya umar masih penasaran.
Ni anak masih aja di bahas.
"Udah gak usah dipikirin,aku becanda." Jelasku singkat.
Kelompok Will dan Ais udah finish, begitu pula kelompok setelahnya.
"Din, kamu yakin mau ikut?" Will lagi lagi masih mencemaskanku.
"Iya Will.. Tenang aja. Aku udah gak papa. Tadi dibawa tidur bentar, pusingnya ilang.."kataku.
"Ya udah, kamu hati hati ya Din.. Umar!! Jagain Dina!!"perintah Will ke Umar yang berdiri disampingku.
"Siap komandan!!"katanya sambil tangannya hormat seperti sedang upacara.
Giliran ku sekarang, pukul 23.00.
Semilir angin mulai terasa menusuk tulang. Kurapatkan jaketku dan bersiap berjalan bersama Umar.
"Din!!semangat!! Mas ketua nunggu disini yaaaa...,"teriak alex saat aku sudah mulai jalan. Mereka yang ada disana sontak menyoraki ku.
Dasar stres!!
Pos 1.. Aman..
Beruntung kami juga kadang berpapasan anak dengan anak PMR dan PRAMUKA jadi tidak merasa sendirian.
Pos 2 pun sama..
Sampai pos 8.. Aku melihat hal lain. Ada sosok siswi yang kulihat di Perpus waktu itu, yang melakukan reka adegan aksi bunuh dirinya dulu. Aku memalingkan wajahku ke arah lain, semoga Umar tidak melihatnya
"Kenapa kak?" Tanya Umar sambil terus meneliti ekspresi wajahku yang aneh.
"Enggak..ini kok nggak papasan sama anak PRAMUKA / PMR lagi ya" tanyaku coba mengalihkan rasa takutku sendiri.
"Eumm..lah itu dibelakang kita ada..anak PMR kak, Viona deh kayanya tuh." Tunjuk Umar ke arah belakang kami.
Memang aku lihat Viona dan temannya sambil membawa topi PMR.
Aku hanya mengangguk sambil akan meneruskan berjalan lagi
"Viiii!! Mau kemana?"teriak teman Viona, otomatis aku dan Umar menengok belakang lagi.
Benar saja, Viona malah berjalan tidak sesuai rute.
Dia belok seperti akan ke Ruang laboratorium, kulihat didalam Lab, ada sosok siswi itu sedang melambai lambai ke Viona.
Gawat nih!!
"Mar, yuk tolongin Viona!!"aku tarik saja Umar, sambil berlari ke Lab.
Tapi Viona terlanjur masuk.
"Riki...kenapa sih?"tanya Umar.
"Nggak tau.. Viona malah kesini, katanya dipanggil kakak tingkat didalem"ucap Riki sambil tergopoh gopoh
"Yuk kita masuk, terus bawa Viona keluar sekarang juga!"
Mereka mengangguk.
Sebelum masuk, aku membaca ayat kursi, bahkan aku baca terus sampai masuk ruangan sambil mencari Viona.
"Umar! Riki!kalian muslim kan?"tanyaku
Mereka mengangguk.
"Baca doa, sampai Viona ketemu."perintahku
"Doa apa, Kak? " tanya Riki dengan tampang bingung.
"Doa Makan!! " jawabku sekena nya.
Umar terkekeh lalu memukul kepala Riki. "b**o! "
"Baca yang kamu bisa. Ayat kursi bisa? "
"Iya kak." Kata Riki paham.
Untung mereka laki laki, coba kalau perempuan, bakal heboh pasti.
Kami lalu melihat Viona sedang duduk dipojokan sambil menangis.
"Viii..."teriak Riki sambil berlari ke arahnya.
Aku mengamati sekitar, takut ada sosok yang muncul tiba tiba. Aku harus siap, pasti lucu kan kalau aku yang awalnya mau menolong Viona, malah aku yang jadinya ditolong.
Benar saja, disudut lain aku melihat sosok itu berdiri sambil menunduk.
"Rik!! Cepetan bawa keluar!!"perintahku.
Aku masih saja membaca ayat kursi dalam hati.
"Kak...susah..nggak bisa digerakin. Viona juga diem aja sambil nangis terus. Berat lagi...!" Kata Riki mulai panik.
Duh, ternyata tidak gampang. Sosok itu mau main main rupanya.
"Mar, bantuin.. Gotong kalau perlu!!"
Umar langsung mendekati ke Viona dan ikut Riki mengangkatnya, tapi hasilnya sama saja, tidak bergerak 1 sentipun.
Duh, gimana ini ya.
Lama lama Aku mulai ikutan panik juga.
"Hihihihi. hhhrrrrrrrrrgggggg"
Tiba tiba Viona mulai mengangkat wajahnya menatap kami.
Umar dan Riki akhirnya mundur karena takut.
Aku ambil ponselku lalu menelfon Will. Aku ingat tadi sore dia marah marah karena masalah Viona. Jadi lebih baik aku memberitaunya, takut dimarahin lagi.
Tuuut..
Tuuut..
"Halo Din!!kamu dimana sih? kok ga nyampe nyampe???" Tanya Will yang terdengar panik.
"Aku lagi di Ruang lab, kamu cepet bawa anak anak rohis kesini ya!!"
"Kenapa sih???"
"Viona kesurupan!!!"
"Ya ampun..ya udah tunggu!!kamu gak usah bertindak apa apa!"
Telefon terputus.
Viona mulai berdiri dan berjalan pelan menghampiri kami, kami malah ikut mundur.
"Mar..maju napa!!!"desakku.
"Kak, ini mah beda cerita..aku mending ngelawan 10 orang kak, daripada ngadepin ginian!!"ucap Umar gentar.
Tiba tiba Riki berlari kearah pintu.tapi..
Brrraaaakkkk!!!
Pintu menutup sendiri dan sepertinya terkunci.
Mampus... Duh, gawat banget ini.
Brruugggghh!!
Riki terpental ke kursi. Lalu dia meringis kesakitan.
Kami membantunya berdiri.
"Gimana donk Kak.." Rengek Umar.
"Mana kutau... Kok kalian nanya ke aku!!"tukas ku ikut takut juga.
"Kan kakak waktu itu pernah nolongin Kak Vicki kesurupan juga!!" Riki mengingatkan ku .
Oh iya ya.
Aku diam sebentar, sambil mengumpulkan keberanianku.
"Oke.. kalian pegangi Viona, ku coba ya."kami mencoba membuat rencana.
Mereka mengangguk.
Langsung mereka berlari memegangi tangan Viona.
Aku segera memegang kepalanya.
Kulafalkan adzan terlebih dahulu.
Dia mengerang.
Kulanjutkan Ayat Kursi, surat Al falaq, An nas, Al ikhlas, Al fatihah dan dua ayat terakhir Al baqarah.
Viona makin mengerang kesakitan.
"Cuuuukkuuuupppl!!"suaranya lain. Bukan Viona.
"Heh!keluar kamu !mau aku lanjutin lagi sama yang lebih menyakitkan dari ini!!"ancam ku.
"Hahahahahahaha..kaliaaaan kurang ajaaaaar!!!"
Dia malah makin brutal, Umar dan Riki saja terpental.
Aku lanjutkan membaca doa doa lagi, doa tadi kuulangi lagi, sambil kupegang kepalanya, dia berontak kembali.
"Mar!! Rik!! Bantuin! Ealah...!!"
Mereka kembali memegang Viona.
Tiba tiba aku ditendangnya, menghantam meja dibelakangku.
BUUUUG!
" ADUUUH...! " teriakku.
Duh, apes bener sih hari ini..
Aku berdiri lagi, mendekat lagi ke Viona. Sambil kuulangi doa yang tadi k****a, kali ini aku lebih keras lagi membacanya. Kududuki kaki Viona, agar dia tidak menedangku lagi.
Will dan yang lain sudah ada diluar Ruang Lab, sebagian ruangan memang terbuat dari kaca, sehinggga kami dapat melihatnya, mereka juga melihat kami.
Tapi pintu masih terkunci. Will panik, lalu menyuruh Alex mengambil kunci Lab di Kantor.
Anak anak rohis yang diluar membantu menbaca doa dari luar Lab.
Viona makin brutal, kali ini dia menghantamkan kepalanya ke kepalaku.
Duuugg!!
"Awwww.."erangku sambil ku pegangi kepalaku.
"Mudah mudahan kagak gegar otak nih, sehari udah 2 kali kepalaku kena getok.. Ya Sallam. " gumamku berbicara sendiri.
Kulihat Umar dan Riki sudah kelelahan. Aku pun sama sebenarnya.
Pintu akhirnya sudah bisa dibuka.
Will menarikku menjauh dan digantikan Iqbal, Aisyah, Shinta, Dicki, dan Bayu.
Mereka memang ikut kegiatan rohis juga bersamaku.
Umar dan Riki pun juga menjauh.
Kami menunggu diLuar lab.
Beberapa kakak tingkat&alumnus sudah datang, membantu Viona didalam.
Will langung membopongku ala ala bridal style ke UKS.
Dia diam saja, tidak mengatakan sepatah katapun.
Marah nih kayanya. Batinku.
Will menidurkan ku diranjang UKS. Disana sudah ada Endah, petugas PMR.
"Din, mana yang sakit?"tanya Endah lembut.
Will berdiri disamping ranjangku sambil berkacak pinggang.
"Semuanya, Ndah.. Kepalaku pusing lagi. Punggungku sakit, kena meja tadi. Terus....hatiku juga bentar lagi sakit, kalau kena omel lagi."ucapku sambil menunduk, menghindari tatapan tajam Will.
Endah terkekeh mendengarku.
Endah memeriksa ku, lalu memberikanku obat sakit kepala.
"Eum..kamu istirahat aja ya, Din..
Will, biarkan Dina istirahat"pinta Endah lalu pergi meninggalkan kami.
Will masih dengan posisi yang sama.
"Maaf.. Aku kan tadi udah lapor kamu..salahku dimana lagi Will?" Tanyaku masih menunduk karena takut.
Will berjalan mendekat lalu berjongkok disamping ranjangku.
Dia memegang tanganku.
"Bukan kamu yang salah, Din..tapi aku.."dia berkata sambil menahan sesak. Terdengar jelas dari nada bicaranya yang berat.
Kali ini Aku berani menatap nya.
Matanya berkaca kaca
"Harusnya aku nggak menjadikan Kamu pengurus OSIS. Kamu nggak bakal gini."ucapnya lembut sambik merapikan anak rambutku.
"Enggak Will. Justru aku seneng, aku bisa bareng kamu terus disemua kegiatan kamu." Kataku tanpa sungkan.
"Tapi kamu selalu dalam bahaya Din!!"
"Asal setelah menempuh bahaya itu, aku bisa ngeliat kamu disampingku, itu udah cukup Will."
Terlihat senyum manis dibibir Will setelah mendengar ucapanku. lalu dia memelukku erat.
"Jangan marah marah mulu ya Will. Aku takut Kalau ngeliat kamu marah marah gitu.." Pintaku manja.
"Iya Din,maaf ya.."
Terdengar suara langkah kaki banyak orang diluar.
Will beranjak dan melihat keluar.
"Viona.. pingsan"katanya masih melihat ke luar.
Viona dibawa ke UKS juga, dia dibaringkan di ranjang sebelahku.
beberapa anak PMR memberikan pertolongan.
Sepertinya Viona sudah tidak apa apa.
"Viona gimana?"tanyaku ke mereka.
"Udah gak papa Din..cuma kecapean aja kok. malam ini kamu tidur sini sama Viona ya"saran Aisyah.
"Oke oke..., "
Mereka pun keluar, untuk istirahat juga. Karena hari sudah larut malam.
"Aku balik ke kelas ku ya, Din, mau istirahat, kamu juga ya, bobok. Nggak usah kelayapan kemana mana lagi!"perintahnya sambil mencubit hidungku gemas.
Aku hanya tersenyum.