Bab 11: Langit yang Ternoda

2054 Kata
Part 1: Setelah Langit Turun Hujan sudah reda semalam. Tapi aroma tanah basah dan sisa angin dingin masih terasa pagi itu. Lina duduk di serambi rumah kecilnya, mengenakan jaket tipis yang sudah mulai memudar warnanya. Ia menggenggam gelas plastik berisi teh manis buatan nenek. Di sampingnya, Rendi—yang masih memakai piyama bergambar dinosaurus—bermain sendiri dengan crayon dan kertas sisa dari proyek “langit” mereka kemarin. “Kak, ini langitku,” katanya, menunjuk kertas yang penuh coretan biru, ungu, dan kuning acak. Goresannya masih kasar, tapi semangatnya membuat warna-warna itu tampak hidup. Lina tersenyum, lalu membelai kepala adiknya pelan. “Bagus banget. Kayak langit sebelum tidur, ya?” Rendi mengangguk, lalu tanpa aba-aba memeluk kakaknya erat. “Makasih udah ngajarin aku langit…” Lina diam. Hangat sekaligus pedih di dalam dadanya. Karena tak banyak hal yang bisa ia ajarkan, selain membayangkan. --- Rumah mereka sangat sederhana. Dinding dari papan, lantai beralas semen dingin yang mulai retak di beberapa sisi. Nenek selalu bilang, "Kita mungkin nggak punya banyak uang, tapi kita punya banyak doa." Dan memang benar. Ibu mereka, Sulastri, sudah pergi sejak subuh tadi. Ia bekerja membantu di warung makan milik tetangga yang cukup ramai pembelinya. Nenek? Masih di dapur, menggoreng pisang untuk dijual sore nanti ke pasar kecil dekat sekolah TK Lina. Di rumah itu, tidak pernah ada suara laki-laki dewasa. Tidak ada suara ayah yang memanggil, tidak ada langkah sepatu kerja yang pulang menjelang magrib. Ayah mereka telah pergi sejak Lina kecil, tepat setelah Rendi lahir. Lina tidak pernah benar-benar tahu kenapa. Yang ia tahu, Ibu jarang membicarakannya. Dan Nenek hanya berkata singkat: “Ayahmu pergi mencari langitnya sendiri.” Lina pernah mencoba mengerti, tapi pada akhirnya ia memilih berhenti bertanya. Karena ia sadar, tak semua jawaban bisa membuat hati lega. --- Hari itu, ia membawa Rendi ke rumah tetangga yang biasa menjaga balita. Biayanya memang dibayar seikhlasnya—kadang pisang goreng, kadang hanya senyum dan ucapan terima kasih. Lina lalu berangkat ke sekolah dengan langkah kecil namun mantap, membawa tas yang sudah dijahit di beberapa bagian. Di dalamnya, selain buku tulis dan bekal dari Nenek, terselip kain biru bergambar langit dan satu lembar kertas berisi ide baru. Hari ini, ia ingin membuat sesuatu lagi. Bukan untuk lomba, bukan untuk pelajaran. Tapi untuk hatinya sendiri—dan untuk teman-teman yang ingin percaya bahwa dunia ini bisa seindah langit yang mereka gambar bersama. --- Di sekolah TK Ceria, halaman masih becek. Beberapa anak sibuk bermain di genangan air, memakai sandal jepit yang melesak ke dalam lumpur. Dira datang lebih dulu hari ini. Ia melambaikan tangan dari pintu kelas sambil membawa gulungan kertas besar. “Aku kepikiran! Gimana kalau langitnya kita bawa ke luar kelas? Bikin kayak terowongan langit di lorong sekolah!” serunya. Lina tertawa. “Kamu baca pikiranku! Aku juga bawa sesuatu!” Ando menyusul dari belakang, wajahnya ceria meskipun kakinya belepotan lumpur. “Aku bawa stiker bintang sisa dari rumah. Bisa buat efek bintang jatuh!” Ketiganya bersorak kecil. Semangat kembali membuncah. Dan sekali lagi, mereka membuktikan bahwa mimpi tidak butuh biaya mahal—hanya butuh teman, imajinasi, dan sedikit keberanian. Part 2: Tawa yang Tidak Lucu Lorong sekolah mulai ramai. Anak-anak TK Ceria datang satu per satu, membawa tawa dan cerita pagi. Dira, Lina, dan Ando sudah mulai menempelkan kain langit di dinding lorong dengan isolasi bening. Warna biru yang semalam kusam kini tampak lebih hidup di bawah cahaya matahari pagi. Beberapa anak mulai melirik, penasaran. “Eh, itu apa sih?” tanya Mira, teman sekelas yang biasanya diam. “Langit!” jawab Dira sambil semangat. “Kita bikin terowongan langit, biar kita bisa ngelewatin langit sebelum masuk kelas!” Mira tersenyum kecil. Lalu ikut membantu menempelkan stiker bintang dari Ando. Tapi di sudut lorong, sepasang mata memperhatikan. Adit—anak kelas sebelah yang suka usil—berbisik ke temannya, Dimas. “Lihat deh… gaya banget. Langit dari kain? Cieee, seniman miskin…” bisiknya sambil tertawa cekikikan. Dimas menimpali, “Yaelah, ini mah langit murahan.” Mereka mendekat. Adit tiba-tiba menjambak kain langit itu dan menariknya pelan sambil bersiul, seolah-olah tak peduli. “Hei! Jangan ditarik!” seru Lina. Adit menatapnya, menyeringai. “Santai, Kakak Langit. Nggak semua orang harus main pura-pura miskin biar dapet perhatian, ya?” Lina terdiam. Ando mengepal tangan, tapi Dira memegang lengannya, menahan. “Udah, kita benerin aja lagi, Lin,” bisik Dira pelan. Tapi Adit dan Dimas belum selesai. Mereka masih tertawa, keras dan sengaja. Hingga beberapa anak mulai menonton. “Lucu ya, anak-anak langit main kain-kainan… Nanti kalau ujan, ngapain? Ngungsi ke awan?” cibir Dimas. Lina merasa dadanya panas. Tapi ia menunduk, menahan. Bukan karena takut. Tapi karena ia tahu, kalau ia membalas, langit mereka akan hancur—bukan karena ditarik, tapi karena jadi alasan bertengkar. --- Tak lama kemudian, suara langkah keras terdengar. Pak Arman, guru muda yang mengajar di kelas besar, datang dengan wajah serius. “Ada apa ini ribut-ribut?” Adit dan Dimas buru-buru berdiri tegak, pura-pura sopan. Lina hanya mengangguk pelan. “Nggak apa-apa, Pak. Cuma sedikit salah paham.” Pak Arman melirik kain langit di dinding. Lalu melihat ke arah Lina dan teman-temannya. Ia tersenyum kecil. “Keren idenya. Bikin sekolah kita beda.” Kemudian ia menatap Adit dan Dimas. Tatapannya cukup membuat mereka diam tanpa kata. --- Setelah itu, lorong kembali tenang. Anak-anak yang tadi menonton mulai kembali ke kelas. Dira menarik nafas panjang. “Mereka nyebelin banget.” Ando mengangguk. “Kenapa sih orang suka ngejek hal yang nggak mereka ngerti?” Lina hanya menjawab lirih, “Karena mereka belum pernah lihat langit dari rumah sempit.” --- Mereka melanjutkan menempel kain, stiker, dan menggambar bintang dengan spidol putih. Pelan-pelan lorong itu berubah menjadi dunia lain—dunia milik mereka, di mana tawa tidak selalu menyakitkan, dan langit bisa dibangun dengan tangan sendiri. Saat langit buatan hampir selesai, suasana hati Lina masih terganggu. Meski tawa Adit dan Dimas sudah berlalu, bekasnya masih menempel di d**a seperti noda yang tak bisa dicuci. Di sudut ruangan, Rendi—adik Lina—duduk di bangku kecil yang disediakan Bu Siska untuk adik-anak yang menunggu kakaknya. Bocah tiga tahun itu menggenggam boneka kecil berbentuk kucing oranye, usang tapi bersih. Namanya Oyen, teman tidur sejak ia bayi. Rendi menatap langit kain itu dengan mata bulat takjub. “Kak Lina bikin langit beneran, ya?” bisiknya polos. Lina yang sedang menempel pita warna pelangi, menoleh. “Iya, langit mainan.” “Kalau mainannya robek, langitnya jatuh?” Lina tersenyum, tapi senyumnya goyah. “Enggak kok, Kakak jaga supaya nggak jatuh.” --- Dira yang melihat Lina tiba-tiba diam, mendekat dan menepuk pundaknya. “Kamu keren, Lin. Serius. Kita tahu kamu capek, tapi kamu masih bisa senyum kayak tadi.” Lina hanya mengangguk pelan. Ia menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai memerah. Ando ikut mendekat. “Tahu nggak? Aku baru sadar… kamu itu kayak Kakak Langit beneran. Bikin orang lain bisa lihat indah, padahal kamu sendiri belum tentu lagi cerah.” --- Beberapa detik hening. Sampai tiba-tiba, Rendi berlari kecil ke arah Lina dan memeluk kakaknya dari belakang. “Jangan sedih ya, Kak. Rendi suka langitnya…” Tangis Lina pecah pelan. Bukan karena sedih saja, tapi karena kelelahan yang selama ini ia telan sendiri. Ia berjongkok, memeluk Rendi erat-erat. “Aku nggak papa, Dek… makasih ya…” Pelukan kecil itu menjadi penguat. Dira menahan air mata. Ando menunduk, pura-pura mengecek isolasi. --- Di kejauhan, Bu Siska memperhatikan dari pintu kelas. Ia tersenyum kecil sambil mencatat sesuatu di buku catatannya: > “Langit bisa datang dari siapa saja. Bahkan dari anak yang rumahnya tak punya atap mimpi.” Part 4: Lorong Pelangi Keesokan harinya, aula sekolah dipenuhi warna. Tirai biru muda menjuntai dari langit-langit, disambung pita-pita warna-warni yang digantung dari ujung ke ujung. Anak-anak berlarian riang di bawahnya, menyentuh “awan kapas” dan kertas berbentuk bintang yang digantung seperti di langit sungguhan. Salah satu sudut aula berubah menjadi Lorong Pelangi—karya buatan tim Lina. Lorong itu dibentuk dari karton besar, dicat tangan oleh Dira dan Lina, lalu ditempeli kertas gliter dan balon gas yang ditata menyerupai pelangi. Ando dan beberapa anak laki-laki menambahkan efek “hujan bintang” dengan untaian benang dan kertas emas kecil yang bisa bergerak kalau ditiup angin. Semua pengunjung yang melewati lorong akan tersenyum. Termasuk para guru. --- “Wow, siapa yang bikin ini?” tanya Pak Arman saat masuk lorong. “Timnya Lina, Pak. Yang ngide juga dia,” jawab Dira bangga. Pak Arman melihat Lina yang berdiri di dekat ujung lorong, merapikan potongan kertas yang hampir lepas. “Kamu… hebat.” Lina hanya menunduk sopan. “Terima kasih, Pak…” --- Di luar lorong, Riko yang biasanya tak terlalu peduli, datang menghampiri. Ia mengangguk perlahan pada Ando dan Dira, lalu melihat langsung ke arah Lina. “Lina,” katanya pelan. Lina menoleh. Riko jarang bicara langsung padanya. Apalagi dengan ekspresi setenang ini. “Aku… tadi lihat lorongnya. Bagus banget. Kamu keren.” Lina terdiam, matanya berkaca-kaca. “Makasih, Riko.” “Kalau kamu butuh bantuan habis ini, panggil aku aja.” Riko menggaruk kepalanya, lalu buru-buru pergi sebelum wajahnya makin merah. Dira tertawa pelan. “Ealah, cowok satu itu mulai tobat nih.” --- Namun di tengah kegembiraan itu, sebuah sorakan dari anak-anak membuat suasana berubah. Mereka berkerumun di dekat papan pengumuman lomba. “Pemenang dekorasi diumumkan! Lihat, lihat!” Lina dan timnya berlari mendekat. Jantungnya berdebar. Dira menggenggam tangan Lina erat-erat. Dan di sana, di kertas yang baru saja ditempel, tertulis: > Juara 1: Kelas 5B – Tim Langit dan Lorong Pelangi --- Semua bersorak. Dira melompat kecil, Ando mengepalkan tangan ke udara, dan Lina… …tersenyum. Kali ini, tanpa beban. Sebuah senyum penuh cahaya. Tangannya menggenggam tangan kecil Rendi yang ikut bersorak di sampingnya. “Kak Lina hebat!” kata Rendi polos, dan memeluk kakaknya di depan semua orang. --- Di antara keramaian, Bu Siska mendekat, menepuk pundak Lina dengan lembut. “Langitmu sudah menyapa semua, Lina. Tapi yang paling indah, kamu berhasil menggambar pelangi… di hati semua orang.” Malam hari setelah perayaan, langit Ceria tampak cerah. Bintang bertaburan, dan suara jangkrik mengiringi kesunyian malam. Di rumah kecil di pinggir desa, Lina duduk di emperan depan rumah, memeluk Rendi yang tertidur dalam pelukannya. Rumah itu tak besar, hanya satu lantai, berdinding bambu dan beratap seng yang sudah karatan di beberapa bagian. Di dalamnya, nenek mereka tidur lebih awal, dan ibunya, Bu Sulastri, sedang menjemur pakaian yang baru dicuci sore tadi. Lina mengelus rambut adiknya pelan. “Hari ini Rendi senang, ya?” gumamnya, seolah bertanya pada dirinya sendiri. Ia menatap langit yang biru gelap, seolah mencari sosok yang sudah lama pergi dari kehidupannya—ayahnya. Dulu, Lina masih berusia 3 tahun saat ayahnya meninggalkan mereka. Saat itu, Bu Sulastri baru saja melahirkan Rendi. Entah karena masalah ekonomi, atau karena tidak siap menjadi ayah dari dua anak, pria itu pergi tanpa pesan, tanpa jejak. Sejak itu, Lina tumbuh bersama ibunya, nenek, dan adik kecil yang jadi cahaya hatinya. Setiap malam sebelum tidur, Lina suka bercerita pada Rendi tentang langit. Tentang bagaimana langit selalu ada, meski siang atau malam, walau mendung atau hujan. Dan bahwa ayah mereka, entah di mana pun ia berada, mungkin juga sedang menatap langit yang sama. “Langit itu kayak kenangan, ya Ren… Kadang terang, kadang gelap. Tapi nggak pernah benar-benar pergi…” --- Bu Sulastri duduk di samping Lina, membawa segelas teh hangat. Ia menyerahkan gelas itu pada anak sulungnya dan mengusap kepala Rendi dengan lembut. “Kamu capek banget hari ini?” Lina mengangguk pelan, “Tapi seneng banget, Bu. Kita menang lomba.” Bu Sulastri tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Ibu bangga banget sama kamu, Nak. Meski keadaan kita pas-pasan… tapi kamu nggak pernah nyerah. Kamu bikin ibu kuat.” Lina menahan air mata. Ia menggenggam tangan ibunya, erat. “Aku pengen terus bikin Ibu dan Rendi bahagia.” “Kamu udah ngelakuin lebih dari cukup, Lina.” “Pelangi yang kamu buat di sekolah hari ini… Ibu ngerasa kayak itu juga buat hidup kita.” Angin malam berhembus lembut. Rendi menggeliat dalam pelukan kakaknya dan tersenyum kecil dalam tidur. Bintang-bintang seperti ikut tersenyum, menyaksikan keluarga kecil itu dalam kehangatan. Di dalam kesederhanaan rumah reyot itu, ada kekuatan besar: cinta, harapan, dan keteguhan hati. Dan bagi Lina, malam itu adalah bukti… bahwa pelangi bisa muncul, bahkan di rumah yang paling sederhana, di langit yang paling kelabu sekalipun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN