Bab 10: Ketika Dunia Mendengar

1246 Kata
Pagi itu, sekolah kembali seperti biasa—setidaknya bagi sebagian orang. Tapi tidak bagi Lina, Dira, Ando, dan teman-temannya. Langit buatan mereka masih tergelar di halaman belakang sekolah, meski sebagian mulai memudar diterpa embun dan angin malam. Namun semangatnya justru makin terang. Karena pagi itu, Bu Guru membawa kabar baru. “Anak-anak,” katanya di depan kelas, senyumnya tak bisa disembunyikan. “Hari ini kita kedatangan tamu istimewa.” Beberapa anak saling berpandangan. Lina melirik Dira dan Ando. “Siapa, Bu?” “Namanya Pak Karsa,” jawab Bu Guru. “Beliau seorang perajin kain tradisional dari desa sebelah. Katanya, ia dengar cerita tentang 'langit buatan' kalian dari cucunya, yang lihat saat main ke sini minggu lalu.” Belum sempat anak-anak bertanya lebih jauh, seorang lelaki tua dengan rambut perak dan sorot mata hangat masuk ke kelas. Di pundaknya tergantung tas tenun lusuh, dan tangannya membawa selembar kain indigo penuh pola. Pak Karsa tersenyum lebar. “Kalian yang membentangkan langit di lantai, ya?” Semua anak mengangguk bangga. “Aku sudah lama membuat kain dari pewarna alam,” katanya. “Tapi baru kali ini aku melihat langit yang warnanya muncul dari tawa anak-anak. Boleh aku belajar dari kalian?” Hari itu, kelas berubah jadi studio kecil. Pak Karsa menunjukkan cara membuat warna biru dari daun nila, warna kuning dari kunyit, dan merah muda dari kulit secang. Anak-anak menatap takjub saat air berubah warna seperti sihir. Dira berkata pelan, “Langit kita bisa dibuat dari tumbuhan juga?” Pak Karsa mengangguk. “Langit yang menyatu dengan bumi.” Beberapa hari ke depan, mereka membuat kain-kain kecil dari warna alam, melukis langit dengan tangan sendiri. Rendi bahkan mencelupkan tangan ke pewarna dan membuat pola telapak di atas kain. “Ini langit punyaku,” katanya bangga. Pak Karsa tersenyum dan berkata, “Kalian bukan hanya menggambar langit. Kalian sedang merawatnya.” Lina menatap tangannya yang berwarna biru tua. Ia merasa seperti menyentuh sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri—seperti menyentuh bumi, dan sekaligus langit. Suatu sore, Pak Karsa mengajak mereka berjalan ke bukit kecil di belakang desa. Di sana, ia menggantung kain-kain langit buatan mereka di tali panjang di antara pohon-pohon. Saat angin bertiup, kain-kain itu melambai seperti bendera, seperti awan, seperti perasaan yang tak bisa dijelaskan. Anak-anak berbaring di rumput dan menatap langit—langit sungguhan dan langit buatan—saling menyatu. “Lihat,” kata Lina, “langit kita sudah ada di mana-mana.” Dan sore itu, dunia memang tak berubah secara besar. Tapi bagi anak-anak itu, mereka tahu: dunia mulai mendengar, bukan lewat sorotan kamera atau layar kaca, tapi lewat tangan, warna, dan orang-orang yang datang karena rasa ingin tahu dan cinta. ** Malam harinya, di rumah, Lina kembali menulis di kertas mimpinya: "Langit kami tidak perlu dilihat semua orang. Cukup satu orang yang mau datang, mendengar, dan ikut menggambar. Maka langit akan terus tumbuh." Di sampingnya, Rendi tertidur sambil memeluk sepotong kain kecil berwarna nila, yang ia sebut 'bantal langit'. Dan malam itu, langit turun sekali lagi—diam-diam, lembut, dan menyatu dengan bumi yang mereka cintai. Pagi berikutnya, semangat baru terasa di kelas. Kain-kain yang mereka buat bersama Pak Karsa mulai menghiasi sudut-sudut sekolah. Digantung di jendela, dijadikan alas duduk di pojok baca, dan bahkan menutupi bagian depan meja guru seperti tirai kecil penuh warna. Setiap kain punya cerita. Yang satu bergambar matahari dan bulan berdampingan—dibuat oleh Dira dan Ando. Yang lain penuh jejak tangan berwarna-warni, buatan anak-anak kelas bawah. Bahkan Rendi, dengan bangga menunjukkan karyanya ke semua orang, sambil berkata, “Langitku ada pelangi dan kucing terbang.” Pak Karsa masih sering datang. Tak hanya mengajar membuat warna, tapi juga mendongeng tentang kain-kain tua dari masa lalu. Tentang motif yang menggambarkan hujan, tentang pola yang menyimpan doa. “Setiap kain menyimpan ingatan,” katanya pada suatu hari. “Dan sekarang, kain-kain kalian menyimpan mimpi.” Lina mulai berpikir lebih jauh. Ia menggambar rencana kecil di bukunya—sebuah taman langit. Tempat di mana semua karya kain mereka digantung di udara, di antara tiang-tiang bambu, seperti kanopi yang bisa bergerak saat angin datang. “Aku ingin ada tempat untuk semua mimpi,” katanya pelan pada Bu Guru. Bu Guru hanya mengangguk, lalu berkata, “Kalau begitu, mari kita mulai buat taman itu.” Hari-hari berikutnya, anak-anak dan beberapa orang tua bekerja sama. Mereka membersihkan tanah lapang kecil di samping sekolah, menancapkan bambu dan mengikat tali. Setiap hari satu atau dua kain dipasang. Warna-warni menggantung di atas kepala mereka, seperti langit baru yang tumbuh dari tanah. Mereka menamai tempat itu Taman Langit-Bumi. Saat taman itu selesai, sekolah mengadakan hari khusus. Tak ada pelajaran di kelas hari itu. Semua orang berkumpul di taman. Anak-anak membaca puisi, menari, bernyanyi, dan duduk berlama-lama di bawah naungan kain mimpi mereka. Pak Karsa berdiri di tepi taman, memandang sekeliling dengan mata berkaca. “Aku pikir aku datang ke sini untuk mengajar,” katanya, “tapi ternyata aku yang belajar.” Lina duduk di ayunan kain, memandang ke atas. Kain biru tua miliknya terayun pelan, masih tampak pesawat kertas kecil dan bintang jatuh yang ia lukis beberapa hari lalu. “Langit itu ternyata bisa dibuat berlapis-lapis,” bisiknya, “asal kita terus percaya.” Dan saat angin sore mulai turun perlahan, membawa bau tanah dan wangi daun nila, anak-anak di sekolah itu tahu satu hal: dunia memang luas, tapi langit yang mereka buat—tak pernah berhenti tumbuh. Beberapa minggu setelah taman itu berdiri, datanglah kejutan kecil yang tak diduga. Seorang ibu muda dari kota—berpakaian sederhana tapi membawa kamera tua di lehernya—berjalan ke sekolah. Ia memperkenalkan diri sebagai Lira, penulis cerita anak dan pengumpul kisah dari desa-desa. “Aku mendengar tentang taman ini dari adikku,” katanya sambil tersenyum. “Katanya, ada langit yang tumbuh dari tangan-tangan kecil.” Bu Guru mempersilakan Lira masuk dan berkeliling taman. Ia memandangi setiap kain dengan saksama, membaca catatan kecil yang digantung di bawahnya, dan sesekali duduk di bangku kayu sambil menulis sesuatu di bukunya. Lina mendekatinya perlahan. “Kakak nulis apa?” Lira menoleh, masih dengan senyum hangat. “Aku menulis tentang langit kalian. Aku ingin anak-anak di tempat lain tahu, bahwa mimpi bisa digambar, dijahit, dan digantung di udara.” “Kenapa?” tanya Rendi, yang baru datang sambil membawa es lilin dari kantin. “Karena banyak anak di kota yang sudah lupa caranya bermimpi,” jawab Lira pelan. “Mereka sibuk menatap layar, lupa menatap langit.” Lina dan Rendi saling pandang. Lalu tanpa banyak bicara, mereka menarik tangan Lira dan mengajaknya duduk di bawah kain langit mereka. “Kakak bisa mimpi juga di sini,” kata Lina. “Tapi harus tutup mata dulu. Biar langit masuk dari hati, bukan dari mata.” Lira menurut. Ia menutup mata. Angin berembus pelan. Kain-kain langit melambai di atas mereka, seperti sedang menyanyikan lagu tanpa suara. Saat Lira membuka mata kembali, ada air tipis di sudut matanya. “Terima kasih,” katanya pelan. “Aku akan menulis ini. Tapi bukan untuk dibaca banyak orang. Untuk mereka yang butuh mengingat, bahwa langit bisa dibuat bersama.” Hari berganti. Tapi taman itu tetap berdiri. Kadang warnanya pudar, kadang ditambal, kadang diganti. Tapi tidak pernah kosong. Anak-anak baru datang dan ikut menambah langit. Orang tua membuatkan tiang baru. Dan setiap kali seseorang menggantung kain, mereka menuliskan satu kalimat di belakangnya: "Langit ini tumbuh dari bumi yang dicintai." Dan di buku mimpinya, Lina menambahkan satu kalimat lagi malam itu: "Mimpi tak harus tinggi. Asal bisa digantung bersama, ia akan tetap terbang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN