Bab 9 : “Langit yang Turun ke Bumi”

1001 Kata
Pagi itu, sekolah terasa berbeda. Saat Lina melangkah melewati gerbang, angin berhembus pelan dan membawa aroma tanah yang baru disiram embun. Langit di atasnya cerah, tapi bukan langit biasa. Ia tampak… lebih dekat. Seolah siap disentuh kapan saja. Dira dan Ando sudah menunggunya di depan kelas, kali ini bukan hanya dengan kuas dan kertas, tapi juga dengan ide yang lebih besar. “Aku tadi mikir…” kata Dira sambil membuka tasnya, “…kenapa pelanginya cuma di dinding? Gimana kalau kita buat langitnya turun ke lantai juga?” Mata Lina berbinar. “Kita ubah lantai jadi langit?” Ando tertawa. “Langit terbalik!” Mereka segera bekerja. Kertas-kertas biru muda dibentangkan di lantai kelas. Beberapa siswa lain ikut membantu, mewarnai celah di antaranya dengan crayon, lalu menempelkan bintang-bintang kertas kecil di antara jejak sepatu mereka. Hari itu, kelas mereka menjadi semesta. Langit tergantung di atas kepala, langit terhampar di bawah kaki. Bahkan Tori, si kucing sekolah, ikut berguling di atas langit-lantai dan meninggalkan jejak kaki kecil penuh glitter di sudut ruangan. Saat istirahat, ruang kelas dipenuhi tawa. Beberapa guru singgah dan tak bisa menahan senyum. Pak Danu dari ruang seni memuji, “Kalian nggak cuma menggambar, kalian membangun dunia.” Bu Guru mengangguk setuju. “Setiap hari kalian membuat kami semua ingat: belajar itu juga bisa lewat warna dan imajinasi.” Menjelang siang, langit mulai mendung. Petir samar terdengar di kejauhan. Tapi tak ada yang takut. Justru Lina berdiri di tengah kelas dan berseru, “Langit luar gelap, tapi langit kita tetap terang!” Semua anak bersorak. Dan ketika hujan mulai turun, terdengar ketukan kecil di jendela. Tapi kali ini bukan sekadar air, melainkan seperti suara musik. Rintik-rintik hujan menyatu dengan tawa, dengan warna, dengan semangat mereka. Kain itu dibentangkan di lorong luar kelas. Semua anak ikut melukis—tak hanya pelangi, tapi juga bulan, hujan, pohon, dan bahkan sosok mereka sendiri yang sedang tertawa. Hujan di luar mengguyur makin deras, tapi mereka semua tetap kering, hangat, dan bahagia dalam semesta buatan mereka. Sore hari, saat langit mulai cerah dan pelangi sungguhan muncul di cakrawala, Lina berdiri di ambang pintu kelas. Ia menunjuk ke langit luar. “Lihat, langit kita sudah nyambung ke langit luar!” Anak-anak lain menyahut. “Langit kita turun ke bumi!” Dan sore itu, sekolah kecil di ujung desa itu menjadi tempat di mana langit dan bumi bertemu—bukan karena teknologi atau sihir, tapi karena semangat anak-anak yang percaya bahwa warna bisa mengubah dunia. Malam harinya, di rumah, Lina menulis satu kalimat baru di kertas mimpinya: "Langit bisa turun, kalau kita berani mewarnainya." Ia menempelkan kertas itu di atas tempat tidurnya, di samping gambar pelangi dan catatan warna-warna yang ia buat kemarin. Abu, si kucing rumah, menguap dan meringkuk tenang di ujung kaki. Rendi, adiknya yang masih kecil, sudah tertidur sambil memeluk crayon yang tadi tak mau ia lepaskan. Di ruang tengah, Ibu dan Nenek tertawa kecil, membicarakan langit-langit kelas Lina yang katanya sudah viral di grup wali murid. Dan Lina? Ia memejamkan mata dengan senyum lebar. Karena esok hari, ia dan teman-temannya tidak hanya akan menggambar lagi—mereka akan menjemput langit, lalu meletakkannya di manapun mereka mau. Pagi berikutnya, Lina terbangun lebih awal dari biasanya. Cahaya matahari menembus tirai kamarnya dan membentuk pola bintang-bintang di lantai. Ia tersenyum sendiri. “Langitku masih di sini,” gumamnya. Di ruang tengah, Rendi masih terlelap di kursi kecilnya, crayon warna biru muda menempel di pipinya. Abu si kucing sudah duduk di jendela, memandangi taman belakang rumah yang basah oleh hujan semalam. Lina segera bersiap. Di dalam tasnya, selain buku dan bekal, ia membawa gulungan kain biru tua yang semalam ia cat sendiri—bergambar galaksi, bintang jatuh, dan satu pesawat kertas kecil bertuliskan: Ayo terbang ke langit kita! Di sekolah, ia langsung disambut Dira dan Ando. “Kita bikin apa hari ini?” tanya Dira dengan semangat. Ando mengangkat secarik kertas berisi sketsa. “Panggung langit.” “Panggung?” Lina mengerutkan dahi. “Iya! Kita tampil di atas langit buatan kita. Kita bisa baca puisi, cerita, bahkan nyanyi!” Lina langsung mengangguk. “Kita ajak semua kelas!” *** Akhirnya, acara pun dimulai. Di halaman belakang TK, kain-kain langit dibentangkan jadi alas bermain. Semua anak TK duduk melingkar, dikelilingi payung-payung warna-warni dan gambar-gambar buatan sendiri yang digantung di tali rafia. Di tengahnya, tikar biru menjadi ‘panggung langit’. Satu per satu mereka tampil. Ada yang membaca puisi sederhana tentang hujan dan pelangi. Ada yang menari kecil dengan kostum awan dari kapas dan pita. Ada juga yang menyanyi lagu anak-anak sambil menggoyang boneka. Lina maju terakhir. Dengan suara pelan tapi yakin, ia bercerita tentang seorang anak kecil yang ingin memeluk langit, dan akhirnya bisa—bukan dengan tangga atau roket, tapi dengan warna dan tawa teman-temannya. Ketika ia selesai, semua bertepuk tangan. Dan saat itu juga, sesuatu yang indah terjadi. Seekor burung pipit kecil terbang rendah, lalu mendarat di kain langit buatan mereka. Ia berdiri tenang, menoleh ke kiri dan kanan, lalu mengepak pelan seperti memberi salam. Anak-anak menahan napas. Lalu tertawa pelan. Bahkan Bu Guru berkata, “Itu tandanya langit kalian benar-benar datang.” Hari itu, sekolah bukan lagi sekadar tempat bermain. Ia menjadi panggung langit kecil, tempat mimpi-mimpi anak-anak tumbuh dengan bebas dan penuh warna. *** Malam Harinya Di rumah, Lina kembali menulis di kertas mimpinya. Kali ini, lebih panjang. "Langitku tidak jauh. Ia ada di mataku, di jemariku, di tawa teman-temanku. Langitku tidak hanya biru, ia berwarna apa pun yang bisa aku bayangkan. Hari ini aku tahu: aku bisa membuat langitku sendiri, dan mengajak orang lain untuk tinggal di dalamnya." Rendi yang baru bangun dari tidur siangnya menyeret krayon ke dekat kakaknya. “Kak… aku mau langitku juga, apakah boleh” katanya sambil menguap. Lina tersenyum. Ia mengambil selembar kertas kosong, menggambar bulat besar biru dan menggenggam tangan kecil Rendi. “Kalau begitu, besok kita gambar langitmu bareng, ya?” Rendi mengangguk semangat, lalu memeluk kakaknya erat. Dan malam itu, di rumah kecil itu, langit kembali turun—diam-diam, lembut, penuh cinta dan harapan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN