BAB 8: “WARNA YANG TIDAK HABIS”

1056 Kata
Ramai tak pernah berkurang. Kata-kata itu terus terulang dalam pikiran Lina saat ia membuka mata keesokan paginya. Hari masih gelap, tapi semangat dalam dadanya sudah menyala lebih terang dari cahaya matahari yang belum muncul. Kali ini, sebelum membuka pintu, Lina berhenti sejenak. Ia mengintip ke arah jendela. Di luar sana, langit masih biru tua, tapi burung-burung kecil sudah mulai berkicau. Ia tersenyum. “Abu, ayo bangun. Hari ini kita gambar langit!” bisiknya, dan si kucing menggeliat pelan, lalu mengikuti Lina keluar kamar. Di dapur, Ibu dan Nenek sudah menyiapkan sarapan sederhana. Rendi masih tertidur di ruang tengah, tangan kecilnya memeluk gulungan kertas gambar semalam. “Kamu makin pagi aja bangunnya,” sapa Nenek sambil meletakkan sepotong roti di piring Lina. “Karena hari ini… aku mau bawa langit ke kelas,” jawab Lina serius. Ibu menoleh dari teko teh. “Langit?” “Langit biru. Awan. Bintang juga, kalau sempat. Soalnya kelas belum ada langitnya,” kata Lina sambil mengunyah. Mereka semua tertawa kecil, tapi tak ada yang menertawakan Lina. Hari itu, ia membawa kertas biru besar yang diberi Nenek—bekas taplak meja yang sudah lama disimpan. Dira membawa gunting dan lem, sementara Ando membawa glitter bekas kerajinan kakaknya. Bahkan Tori, kucing sekolah yang suka menyelinap ke kelas, terlihat duduk manis di pojokan saat mereka mulai bekerja. “Langitnya di plafon ya!” seru Lina. Dan mulailah mereka menggambar langit. Mereka menggunting awan dari kapas, menempelkan bintang-bintang dari kertas perak, membuat matahari besar dari karton kuning yang dilapisi sobekan kertas bekas bungkus permen. Bu Guru, yang biasanya tegas saat jam belajar, hari ini membiarkan mereka berkarya lebih lama. “Langit kalian lebih cantik dari buku pelajaran,” katanya sambil tersenyum. Ketika jam pulang tiba, langit mereka sudah menggantung indah di plafon kelas. Beberapa awan bergoyang pelan ditiup angin dari kipas angin tua. Anak-anak memandang ke atas, bangga dengan hasil karya yang seolah membuat langit benar-benar turun ke ruangan itu. Saat pulang, Lina memegang erat tasnya—bukan karena berat, tapi karena isinya penuh mimpi. Ia tidak sabar menunjukkan semuanya pada Ibu, Nenek, dan tentu saja, Rendi. Di rumah, Rendi langsung menarik tangan Lina. “Kak, aku juga gambar langit! Tapi punya aku ada roketnya!” Lina tertawa, lalu menempelkan gambar roket Rendi di pintu kamar mereka. “Kalau gitu langitnya nyambung ya, dari sekolah ke rumah!” Nenek hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala. “Rumah ini makin lama makin seperti sekolah,” katanya. Ibu menjawab ringan, “Dan sekolah pun makin terasa seperti rumah.” Malam itu, Lina duduk di samping jendela, memandangi bintang sungguhan di langit luar. Tangannya kotor bekas lem, pipinya masih ada tempelan glitter yang belum sempat dibersihkan. Tapi matanya berbinar puas. “Besok kita gambar pelangi,” bisiknya pada dirinya sendiri. Lina memejamkan mata sejenak. Ia membayangkan pelangi yang melingkar bukan hanya di langit, tapi juga di dinding kelas, lantai lorong sekolah, bahkan di langit-langit rumah. Pelangi yang bukan hanya dari tujuh warna, tapi juga dari tawa teman-teman, dari langkah kecil yang semangat, dan dari tangan-tangan yang tak pernah lelah mewarnai. Malam itu, Lina tidur lebih cepat dari biasanya. Abu yang biasanya minta dielus pun hanya mengelus-elus kepala Lina pelan dengan ekornya, seolah tahu bahwa hari esok akan jadi hari penting. Di dalam mimpi Lina, ia melihat dirinya melukis langit. Dengan kuas besar, ia menggambar pelangi yang melengkung sempurna dari gunung ke laut, dari sekolah ke rumah. Keesokan paginya, Lina bangun sebelum matahari naik. Ia melompat turun dari tempat tidur dan membuka jendela. Udara pagi masih segar, dan langit berwarna biru pucat seperti kanvas kosong. “Hari ini pasti luar biasa,” gumamnya sambil mengecup kening Abu yang masih meringkuk. Di dapur, Ibu, Nenek, dan Rendi duduk melingkar menikmati sarapan. Rendi menunjuk ke tumpukan crayon yang tertata rapi di kotak baru. “Kak, ini punyaku buat kakak. Buat gambar pelangi!” Lina memeluk adiknya erat. “Rendi yang paling baik!” katanya dengan tawa yang lepas. Nenek tersenyum sambil mengangguk pelan. “Kalau pelanginya jadi, nenek mau lihat ya. Biar rumah kita nanti bisa ikut jadi warna-warni.” “Setuju, Nek!” jawab Lina penuh semangat. Sesampainya di sekolah, Dira dan Ando sudah menunggunya di depan kelas. Dira membawa gulungan kertas besar yang lebih panjang dari kemarin, sementara Ando memegang kuas-kuas besar yang ia pinjam dari ruang seni. “Waktunya lukis pelangi!” seru Ando. Hari itu mereka mulai dari tengah kelas. Warna merah pertama kali digoreskan dengan hati-hati, lalu jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Tapi mereka tidak berhenti di sana. Pelangi itu tidak hanya melengkung, tapi membelah diri, bercabang, berputar, menjelma menjadi bentuk-bentuk ajaib: pelangi berbentuk hewan, pelangi seperti gelombang laut, pelangi di matahari, pelangi di sepeda, pelangi di gigi tawa mereka. Anak-anak lain ikut bergabung. Bahkan Bu Guru ikut menggambar. “Kalau warnanya habis, kita buat dari bunga dan tanah liat,” katanya sambil tertawa. Waktu istirahat berlalu tanpa sempat duduk. Kotak makan dibuka sambil tetap menggambar. Tidak ada kata lelah. Warna sudah menempel di seragam mereka, di pipi, di telapak tangan, dan bahkan di rambut. Tapi tak ada yang peduli. Mereka ingin mengisi setiap jengkal ruang dengan warna. Ketika bel pulang berbunyi, tak satu pun dari mereka berdiri. Bu Guru akhirnya berkata, “Hari ini kalian tidak hanya menggambar pelangi, kalian menciptakan pelangi.” Lina menatap dinding kelas dengan kagum. “Tapi Bu, pelanginya belum selesai...” “Besok masih ada,” jawab Bu Guru sambil mengedipkan mata. Lina pulang dengan hati yang seperti disiram sinar matahari. Ketika tiba di rumah, ia langsung menarik tangan Nenek. “Nek, pelanginya hampir selesai! Tapi masih kurang satu warna: warna mimpi!” Nenek mengangguk. “Kalau begitu, jangan lupa tambahkan mimpi-mimpi kamu ke gambar besok.” Di kamar, Lina menulis satu daftar kecil: Warna merah: semangat Jingga: keberanian Kuning: tawa Hijau: harapan Biru: ketenangan Nila: keajaiban Ungu: mimpi Dan warna terakhir… warna ramai. Karena bagi Lina, dunia yang ramai bukanlah bising atau gaduh. Ramai adalah penuh warna, penuh teman, penuh ide, dan penuh cinta. Ramai adalah ketika tak ada ruang kosong dalam hati, karena semuanya sudah dipenuhi oleh hal-hal indah. Dan malam itu, sebelum tidur, Lina tersenyum melihat dinding kamarnya. Ia menempelkan satu kertas gambar besar hasil hari ini. Abu duduk di sampingnya, ikut memperhatikan. “Besok kita gambar sampai ke langit,” bisik Lina. Dan langit pun, seolah mendengarkan, perlahan berubah menjadi ungu muda yang tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN