Bapak Sambung

1035 Kata
Cahaya berhenti dan tidak melanjutkan langkahnya, matanya melirik kaki nampak gelisah, membuat sang Ibu heran "ayo Aya! Kamu kenapa malah berhenti? Kita pulang sekarang ya nak." Namun Aya justru menggelengkan kepalanya, jarinya nampak bertaut gelisah dan cemas ingin mengucapkan kata pada sang Ibu namun dia enggan dan hanya menggelengkan kepalanya. "Aya kenapa? Cerita sama Ibu nak, kenapa malah diam saja ditanya?" Tanya sang Ibu heran karena sang anak justru terdiam. Sedangkan dia ingin segera pulang takut jika putri kecilnya Aliyah dirumah sendirian. "Aya Pengen beliin nasi dulu Bu buat Aliyah..." Dia menjeda kalimatnya nampak ragu-ragu, sedangkan Ibunya diam nampak menunggu kalimat Aya yang belum selesai dia lanjutkan. "...tapi uang Aya belum cukup beli nasi Bu, cuma dapat dua ribu." Aya melanjutkan kalimatnya dengan menundukkan kepalanya dalam. Ibunya menghela nafas kemudian berkata "ini Ibu ada tiga ribu, kita beli nasinya aja nggak papa kan? Maafin Ibu ya, harusnya Ibu yang memikirkan perut kalian, apa yang kalian makan, apa yang kalian pakai dan dimana kalian tinggal. Ibu sudah begitu gagal..." Ucapnya kembali tertahan oleh air mata yang terlebih dahulu lolos dari netranya yang sudah nampak begitu rapuh. Cahaya mengelus lengan Ibunya kemudian memeluk sang Ibu dengan sayang mencoba menenangkan hati sang Ibu, "Bu maafin Aya dan Aliyah ya Bu, kami justru menjadi beban pikiran untuk Ibu, Aya janji Bu nanti kalau Aya sudah besar Aya yang cari kerja, Aya akan punya banyak uang buat beliin Ibu rumah yang bagus, makanan enak. Bahagiain Aliyah sama Ibu" Ucap cahaya kembali menangis. Didalam hatinya dia berjanji akan membahagiakan kedua orang yang begitu dia sayangi. Mendengar ucapan anaknya justru membuat Ibu Aminah semakin menangis sesenggukan tak kuasa lagi menahan air matanya, dalam hati dia begitu amat menyesal. Seharusnya sang putri sudah bersekolah. Namun lihatlah kini, Cahaya justru mengemis dijalanan demi sesuap nasi untuk Adiknya, anaknya ini begitu dewasa di usianya yang baru menginjak tujuh tahun. Tidak sepantasnya anak seusia cahaya memikirkan hal semacam itu jika dia mampu memenuhi kebutuhan mereka. "Maafin aibu ya Aya sayang, seharusnya kamu sudah bersekolah. Teman-teman seusia kamu semua sekolah tapi kamu justru memikirkan untuk mencari sesuap nasi yang seharusnya menjadi tanggung jawab Ibu nak," ucap Ibu Aminah dengan sesenggukan. Cahaya menggeleng, dia tidak ingin wanita yang telah melahirkannya kedunia ini bersedih dengan keadaannya. " Nggak papa Bu, Aya nggak keberatan kalaupun Aya nggak sekolah. Yang penting Aya bisa belajar membaca dari rumah sama Ibu sudah cukup buat Aya Bu," ucap cahaya mencoba menenangkan hati sang Ibu yang terus menyalahkan dirinya "udah ah Bu ,jangan nangis terus, nanti Aliyah kelamaan nungguin kita pulang." Kembali cahaya mengingatkan sang Ibu jika Adiknya tengah sendirian di dalam rumah reot mereka. "Astagfirullah! Ibu sampe lupa nak, yaudah ayok pulang kasian nanti Adikmu nangis," ucap sang Ibu sambil menepuk jidatnya itu justru mengundang tawa untuk Cahaya. Melihat anaknya tertawa entah mengapa membuat hati ibu Aminah merasa lebih baik, dia tidak pernah menyesal telah melahirkan kedua malaikatnya kedunia ini. Karena merekalah dia mampu bertahan hidup hingga saat ini. Berkat kehadiran kedua malaikat ini membuat ibu Aminah yang pernah berputus asa menanti kepulangan suaminya yang sedang berlayar saat itu menjadi kuat. Tepat tiga tahun lalu sebelum Aliyah lahir, sang suami berpamitan akan berlayar kelaut bersama ABK lainnya untuk mencari nafkah, namun apalah daya satu bulan dua bulan tidak ada kabar sang pujaan hati hingga akhirnya Aliyah lahir ke dunia tanpa hadirnya seorang Ayah. Hal itu membuat Aminah muda pontang panting mencari nafkah untuk kedua putrinya, disaat berputus asa datanglah Karmin saat itu yang terus mendekati Aminah yang masih muda dan nampak cantik. Pertemuan mereka saat itu di sebuah warung kopi pinggir jalan, Aminah bekerja disana. Membantu pemilik usaha. Gaji disana tidak dikatakan banyak namun mampu untuk mencukupi makan mereka sedangkan tempat tinggal yang mereka tinggali merupakan peninggalan suaminya yang saat itu sudah dua tahun tidak pulang dan tidak ada kabar. Ia pernah mencoba menemui tekong (kapten kapal) dimana suaminya ikut berlayar. Jawaban mereka justru menghancurkan hati Aminah , mereka mengatakan suaminya telah mati tenggelam dan tidak ditemukan jasatnya. Malang sungguh tidak dapat diindahkan, istri pemilik usaha merasa cemburu dengan kehadirannya karena sang suami kedapatan sering memberi bonus kepada Aminah dengan dalih kasian, namun istrinya tidak percaya dan kemudian memberhentikan Aminah bekerja. Saat itulah Karmin yang terpesona oleh kecantikan Aminah muda datang bak pahlawan menawarkan kehidupan yang jauh lebih baik katanya bila menikah dengan Karmin. Akhirnya Aminah pun menerima lamaran Karmin dan kemudian mereka menikah secara sederhana tanpa adanya pesta. Awalnya Karmin memang baik terhadapnya dan juga kedua anknya, cahaya dan Aliyah. Namun lambat laun tabiat aslinya telah nampak. Sifatnya yang kasar mulai ia tunjukkan. Ia pemalas, pemabuk dan juga hobi berjudi. Sering pula dia dan anaknya mendapatkan kekerasan dari sang suami. Dia ingin menggugat cerai namun apa daya dia tidak memiliki uang untuk menggugat suaminya itu dan juga dia tidak cukup memiliki keberanian untuk pergi menjauh dari sang suami karena suaminya selalu mengancam akan membunuh mereka bila mereka mencoba untuk kabur. Pernah sekali dia mencoba untuk melarikan diri dimalam hari namun Karmin berhasil menangkap Aliyah dan mencoba untuk mencekik bocah kecil itu, dia akhirnya pasrah dan kembali pulang ke gubuk reyot mereka. Dan setelah kejadian itu Karmin menjadi semakin bringas. Dia mengunci Aminah dan kedua anaknya di dalam kamar, mengganjal pintu usang itu dengan sebuah meja agar mereka tidak dapat kabur. Setelah dua hari mereka dikurung tanpa makan dan hanya diberikan air minum akhirnya Karmin melepaskan mereka dan menyuruh Aminah untuk mencari kerja agar mendapatkan uang karena dia sudah tidak memiliki uang untuk kembali melanjutkan hobi nya yaitu berjudi. Sejak saat itu pula Karmin jarang pulang, dia pergi dan akan kembali lagi bila uangnya sudah habis. Pernah sekali Karmin pulang bersama dengan seorang wanita muda yang dia rangkul kemudian dengan bangga mereka melakukan hubungan suami istri di kamar aminah. Wanita itu bahkan mengeraskan suaranya seolah menegaskan bahwa mereka telah menikmati malam yang begitu b*******h. Aminah? Jangan ditanya. Bahkan hatinya telah mati untuk pria itu. Yang dia pikirkan hanya kedua buah hatinya bagaiaman dia harus membahagiakan mereka berdua. Kemudian mulailah dia bekerja sebagai pemulung dan menabung untuk sekolah Cahaya yang saat itu berusia enam tahun. namun uang yang dia kumpulkan selalu diambil oleh Karmin begitu saja tanpa belas kasih sedikit pun. Dan disinilah saat ini mereka berdua berada dijalanan menyusuri gang sempit menuju rumah mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN