Pertama: Kursi Prioritas, Minimarket dan Adik Raksasa
"Argh! Pakai acara mogok segala!" Juli mengutuk sambil menatap frustrasi mobilnya yang tiba-tiba mogok di tengah jalan yang ramai. Ia merasa seperti dunia sedang berkomplot melawannya. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya ia menghadapi kejadian seperti ini. Juli panik dan mencoba menghubungi asistennya, pria yang biasanya selalu membantu dalam situasi darurat seperti ini. Namun, panggilan teleponnya tidak diangkat, mungkin sang asisten mengira Juli menghubunginya untuk urusan pekerjaan di luar jam kerja. Akhirnya, Juli hanya bisa mengirim beberapa pesan teks kepada asistennya dengan harapan mendapatkan bantuan.
Sambil mencoba menenangkan diri, Juli mengambil keputusan terakhir: ia akan naik bus. Meskipun ia sama sekali tidak memiliki pengalaman naik bus sebelumnya, kelelahan yang melanda membuatnya berpikir bahwa ini adalah alternatif terbaik saat ini. Juli melangkah menuju halte bus terdekat dengan perasaan campur aduk antara penasaran dan kecemasan.
Setelah menaiki bus, Juli menyadari bahwa semua kursi penumpang telah terisi penuh. Ia merasa semakin putus asa karena hanya ada satu kursi penumpang prioritas yang kebetulan menjadi satu-satunya kursi yang tersedia. Tiba-tiba, sebuah kejadian yang tak terduga terjadi di halte berikutnya. Seorang gadis dengan seragam SMA naik ke bus dengan tatapan kesal, dan ketika melihat bahwa semua kursi telah terisi, dia mendekati Juli yang hampir tertidur di kursi prioritas. Lalu, dengan langkah terhuyung, dia mendekati Juli yang hampir mengantuk duduk di kursi prioritas.
"Hiks... hiks...." gadis itu terisak di depan Juli dan mengguncang lengan Juli. "Aku... Aku hamil!" Katanya sambil menangis. Juli yang sama sekali tidak mengenal gadis itu menjadi bingung.
Juli terkejut dan bingung oleh pernyataan mendadak gadis itu. Bagaimana mungkin dia, yang sama sekali tidak mengenal gadis itu, terlibat dalam situasi yang rumit seperti ini? Juli mencoba meraih kata-kata dengan kebingungan yang membingungkan.
Juli berdiri dengan perasaan gugup dan refleks memeluk gadis itu, karena ia selalu merasa tidak tega melihat seorang wanita menangis. Namun, pelukannya langsung ditolak oleh gadis itu. Bahkan, gadis itu mendorongnya dengan lembut sebelum duduk di kursi yang sebelumnya diduduki oleh Juli.
Tidak lama kemudian, seorang ibu-ibu yang duduk di dekat mereka mengejek Juli dengan menggerakkan jarinya. "Hei kamu, harus bertanggung! Kasihan sekali anak SMA ini. Masa depannya hancur karena kamu menghamilinya," tegur ibu itu dengan nada mengejek.
Situasi di dalam bus menjadi gaduh, dengan penumpang lain memberikan tatapan yang membuat Juli semakin tidak nyaman. Ia merasa sepertinya sedang menjadi karakter utama di suatu sinetron.
"Maaf, saya tidak tahu apa-apa dan saya sama sekali tidak mengenal gadis ini," ujar Juli dengan kebingungan, berusaha membela diri demi menjaga nama baiknya.
"Jangan pura-pura tidak mengenal, Mas. Kamu tadi memeluknya. Kamu harus bertanggung jawab!" seru seorang ibu-ibu yang lain dengan nada keras.
Juli menyesali tindakannya yang spontan tadi. Ia menyadari bahwa gerakan refleknya hanya memperburuk situasi. Gadis itu masih menangis dengan sesenggukan yang sedih. Bus akan segera berhenti di halte berikutnya, dan Juli merasa perlu mengambil tindakan untuk menenangkan gadis itu dan menjaga situasi agar tidak semakin kacau.
Dengan hati yang berat, Juli menggandeng tangan gadis itu. Untungnya, gadis itu tidak menolak tindakan tersebut. "Maafkan aku. Tolong, jangan menangis lagi. Kita harus membicarakan masalah ini dengan baik dan mencari solusi bersama-sama," kata Juli pada gadis itu, mencoba mengikuti keinginan penumpang lain.
"Ah, akhirnya kamu mengerti. Kamu harus lebih pengertian dan sebagai seorang pria, kamu harus bertanggung jawab," nasihat seorang kakek sambil tersenyum puas.
Juli hanya mengangguk sebagai respons. Sebagai seorang introvert, energinya sudah habis karena harus berhadapan dengan banyak orang yang menghakiminya. Ia merasa terjebak dalam situasi yang lucu dan mengejutkan, di mana kehidupannya terjebak dalam episode yang penuh dengan drama tak terduga. Pelajaran yang Juli dapatkan dalam momen ini adalah: hidup akan repot jika selalu mengikuti apa kemauan orang lain.
Bus akhirnya tiba di halte berikutnya, dan Juli dengan lembut menuntun gadis itu keluar dari bus. Sebagian penumpang yang melihat mereka berbisik-bisik dan mulai membicarakannya. Jiwa introvert Juli mulai meronta-ronta karena merasa tidak nyaman dengan perhatian yang terlalu banyak. Setibanya di halte, Juli meminta gadis itu duduk di kursi yang tersedia.
Juli menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Kenapa kamu melakukan itu di dalam bus tadi? Kamu membuat semua orang berpikir bahwa aku adalah ayah dari bayi yang kamu kandung."
Gadis itu masih sesengukan dan napasnya terengah-engah. "Aku... aku... aku hanya ingin duduk. Aku capek. Aku ingin duduk tapi semua kursi sudah penuh. Di kursi prioritas ada kamu yang duduk dengan nyaman. Kamu bahkan hampir tertidur, kan? Rasanya tidak adil, cowok besar, sehat, dan masih rapi duduk di kursi prioritas. Seharusnya kamu masih bisa bertahan berdiri sepanjang perjalanan."
Juli berusaha memahami perasaan gadis itu. Ia mulai menyadari bahwa gadis ini benar. Sebenarnya, Juli merasa sedih dan agak baper setelah mengetahui bahwa ia bukanlah prioritas. "Tapi kenapa kamu memilih untuk menangis dan mengatakan bahwa kamu hamil? Itu bukan alasan yang tepat. Penumpang lain bisa salah paham dengan situasi ini."
Gadis itu menyeka air matanya. "Kursi prioritas itu seharusnya untuk penumpang dengan kebutuhan khusus, lansia, ibu dengan balita, dan ibu hamil. Aku sangat ingin duduk. Aku bukan penumpang dengan kebutuhan khusus dan aku masih muda. Aku tidak membawa bayi, jadi aku pura-pura hamil saja."
Juli terkejut sejenak mendengar jawaban yang sangat tidak terduga itu. Ia tidak habis Fikri, sungguh di luar Nurul situasi ini. "Jadi, kamu sebenarnya tidak hamil?" tanya Juli, mencoba mencerna informasi tersebut. Gadis itu hanya mengangguk. "Kamu sadar nggak sih. Kamu pakai seragam sekolah. Nama sekolahmu bisa rusak karena kelakuanmu."
"Oh di seragam ini tidak ada nama sekolah manapun. Aku memakai seragam SMA hanya untuk mendapatkan tarif pelajar. Aku bahkan sudah lulus kuliah," ucap gadis itu.
Hidup lagi capek-capeknya tiba-tiba Juli harus bertemu dengan gadis yang terasa sangat random seperti ini. Sejujurnya, gadis ini masih terlihat pas dengan seragam SMA karena wajahnya yang imut dan tinggi badannya yang hanya sekitar seratus lima puluh sentimeter.
"Terus kenapa kamu menangis? Apa kamu hanya berpura-pura?" tanya Juli dengan rasa penasaran.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Nggak tuh. Alasan kenapa aku menangis nggak akan aku beritahu padamu. Itu urusan pribadi. Lagipula, kamu kan hanya orang asing."
Juli mengusap pelan dahinya, merasa sedikit pusing dengan situasi ini. Tapi bukan karena sakit kepala. "Baiklah. Kamu boleh pulang."
Gadis itu berdiri dan menyalami tangan Juli, dan tentu saja Juli membalasnya. "Terima kasih dan maaf untuk malam ini. Semoga besok kamu bahagia." Kemudian gadis itu melepaskan tangan Juli dan berjalan pergi meninggalkannya.
Juli merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Ternyata ponselnya mati dan Ia baru ingat bahwa dompetnya tertinggal di dalam mobil. Tanpa pikir panjang, Juli memutuskan untuk mengejar gadis tadi.
"Tunggu sebentar!" Teriak Juli dengan napas terengah-engah.
Gadis itu berhenti dan menoleh. "Ada apa lagi? Ku pikir masalah kita sudah selesai."
Juli mengeluarkan napas panjang. Gadis ini rupanya berjalan lumayan cepat jadi Juli harus berlari mengejarnya.
"Dompetku tertinggal dan handphone-ku mati. Aku butuh bantuanmu untuk bisa menghubungi seseorang."
Si gadis mengernyitkan dahinya. "Oke, deh. Aku bisa bantu kamu." Kemudian Ia mengeluarkan handphone-nya. "Sekarang sebutkan nomor kontak orang yang ingin kamu hubungi."
Juli baru tersadar akan sesuatu. "Itu sebenarnya aku tidak hafal nomor kontak siapapun selain nomorku sendiri."
"Iya juga sih ya. Jaman sekarang siapa juga yang menghafal nomor kontak. Aku saja tidak hafal dengan nomorku sendiri." Kata gadis itu.
Suasana hening sejenak. Tiba-tiba terdengar suara perut lapar yang keroncongan.
"Kita ke minimarket. Makan mie instant. Sekalian charge handphone-mu. Sekarang ikuti aku." Kata gadis itu. "Tapi aku hanya punya selembar seratus ribu rupiah. Jadi jangan pilih mie instant yang mahal, ya."
Juli tertawa mendengar ucapan gadis itu. Sangat apa adanya. "Nanti akan aku ganti. Kamu tidak usah khawatir."
"Nggak usah di ganti. Cukup bilang makasih saja."
"Terima kasih. Eh, namamu siapa?"
"Anaya. Namaku Anaya. Kamu?"
"Aku Juli."
"Yaaah... Berarti ulang tahunmu sudah lewat. Sekarang sudah Agustus."
"Iya. Sekarang Agus yang ulang tahun."
Anaya terkekeh mendengar lawakan Juli. Mereka akhirnya sampai di minimarket. Juli segera charge handphone-nya sementara Anaya memilih mie instant dan menyeduh. Juli bercerita pada Anaya bahwa ini pengalaman pertamanya makan mie instant di minimarket jadi Anaya meminta Juli untuk membawa mie instant mereka dan menunggu di meja luar sementara Anaya mengantri di kasir membayar belanjaannya.
Tak lama kemudian Anaya datang sambil membawa kopi dan teh manis botolan. "Biasanya cowok suka kopi. Nih aku belikan kopi supaya nggak seret."
"Terima kasih, Anaya." Juli menerima kopi dingin dari Anaya. Sebenarnya makan mie instant dengan kopi dingin kurang matching menurut Juli meskipun Juli menyukai keduanya. Juli dan Anaya pun mulai menyantap makanannya.
"Maaf yah, cuma bisa beli jajanan yang murah-murah. Kalo siang sih aku bisa beliin makanan yang lebih murah lagi. Di sini ada tukang cilok goang, es doger dan telor gulung. Duit seratus ribu bisa dapat banyak." Cerita Anaya.
Juli berhenti menyeruput kuah mie. "Jajanan apa itu?"
Anaya kaget dengan pertanyaan Juli. "Kamu nggak pernah jajan di pinggir jalan?" Tanyanya. Juli mengagguk. "Dih, kasian bener. Nggak pernah merasakan kenikmatan permicinan duniawi. Emang kamu sehari-hari ngapain sih sampe nggak pernah jajan?"
"Aku bekerja. Kerjaanku lumayan menyita waktu. Kalaupun tidak bekerja, aku bermain game saja." jawab Juli
"Kerja apa sih?" tanya Anaya.
"Aku lead software engineer. Kalau kamu?" Juli balik bertanya.
"Aku tukang kue biasa. Inginnya aku punya toko kue. Tapi uangku saja sekarang sudah recehan. Hehe. Itu pekerjaan apa sih ya? Nanti aku searching deh ya. Sekarang kalo diberi penjelasan juga nggak bakal ngerti."
Juli tersenyum dengan cerita Anaya. "Jadi kamu bisa bikin kue ya. Rasanya kopi lebih cocok dengan kue dari pada mie instant. Kamu juga harus belajar membuat kopi yang enak."
Mata Anaya berbinar. "Ih kamu benar juga ya. Terima kasih idenya. Kamu sendiri bisa bikin kue atau kopi?" Tanya Anaya.
Juli tertawa kecil. Menurutnya ekspresi wajah Anaya cukup lucu. "Aku cuma bisa makan kue saja. Aku tidak bisa memasak apalagi membuat kue. Kalau kopi kan ada mesin espresso."
"Wah kamu punya mesin yang mahal. Aku sendiri kalau mau minum kopi ya seduh kopi sachetan saja. Harganya juga murah. Itu yang kamu minum juga kopi sachet." Anaya mengeluarkan struk pembayaran. "Lihat nih. Sudah di seduh pun harganya masih murah. Lima ribu rupiah saja."
Juli takjub ketika melihat struk tersebut. "Tapi kopi ini cukup enak."
Tiba-tiba seorang lelaki besar dengan tinggi bandan kira-kira seratus sembilan puluh sentimeter menghampiri Anaya dari belakang dan menarik telinganya.
"Hey, Anaya! Gue cari ternyata lo lagi senang-senang sama cowok disini!" Kata laki-laki itu.
"Aw! Kiran! Sakit!" Lelaki itu melepaskan tangannya dari telinga Anaya. "Aku tuh cuma jajan bareng teman baru. Jangan salah paham." Anaya menatap Juli yang nampak terkejut. "Juli, maaf ya. Ini adikku, Kiran."
Juli tersenyum sebenarnya Ia senang karena Anaya menganggapnya teman baru. "Salam kenal, Kiran. Kami benar-benar hanya makan mie instant sambil mengobrol sebentar."
Kiran yang cemas akhirnya merasa lega. "Oke. Gue cuma khawatir dengan Kak Naya. Dia kakak gue satu-satunya."
Anaya memegang tangan Kiran dengan lembut. "Kakak nggak kenapa-kenapa, Dek." Anaya kemudian berdiri. "Juli, aku pulang duluan ya. Kebetulan juga sudah ada Kiran. Selamat tinggal. Semoga besok kamu bahagia." pamitnya.
"Terima kasih juga untuk malam ini, Anaya."
"Jangan lupa ya kalau handphone kamu masih di charge."
"Iya, Anaya."
"Bekas jajanan kita tolong dibersihkan, ya."
"Iya, Anaya."
"Setelah itu, buang ke tempat sampah."
"Iya, Anaya."
"Habis itu jangan lupa—"
"Nggak sekalian lu nyuruh Bang Juli bantuin pegawai minimarket tutup toko, Kak?" Sindir Kiran.
Anaya tertawa dan Juli ikut tertawa. Kiran menarik tangan Anaya. Love language-nya memang physical attack kalau dengan Anaya. "Cepetan, Kak!"
"Hati-hati di jalan, Anaya, Kiran!" kata Juli
Akhirnya Anaya dan Kiran benar-benar pulang. Sebenarnya Kiran bertemu dengan Anaya secara kebetulan. Ketika Kiran keluar mencari makanan dia melihat Anaya di depan minimarket bersama seorang pria. Sejak siang tadi kakaknya memang pergi tapi tidak memberitahu hendak kemana.
"Hey, Kak Naya, tadi siang bertemu seseorang, kan? Kelihatan banget muka lo penuh aura kegelapan." tanya Kiran membuka percakapan.
"Ih, nggak! Aku pergi ke toko bahan kue. Ini di tas ada belanjaannya, kok." Elak Anaya.
"Gue tahu lo bohong. Memang sih lo ke toko bahan kue tapi itu cuma alibi lo aja, kan? Gue tahu lo dari sejak gue baru lahir. Gue cuma mau lo lupakan orang itu. Buang orang yang selalu bikin lo sedih." Kiran merangkul bahu Anaya.
"Makasih, Dek. Aku juga nggak mau sedih begini. Tapi kenapa ya, aku selalu sedih terus." Anaya menghela napas panjang.
"Kak," Kiran semakin erat merangkul bahu Anaya. "Sebenarnya ada kabar sedih buat lo. Kayanya ini bakalan bikin lo semakin sedih. Tapi nggak akan gue menutupinya."
"Apa tuh?" tanya Anaya.
"Tadi orang itu datang ke rumah dan ngasih undangan pernikahan. Lo di undang ke pernikahannya, Kak."
Anaya merasakan kekecewaan yang mendalam tapi Ia menahan tangisannya. Namun Kiran yang memang selalu peka justru memeluknya. Anaya tidak bisa menahan tangisannya dan terisak di pelukan Kiran.
Kiran mengelus lembut punggung Anaya. "Kak, ini berat buat lo tapi jangan tahan tangisan lo. Kalau mau nangis ya nangis aja. Jangan di pendam. Lain kali kalau suka sama orang langsung confess ya. Nggak usah gengsi biar nggak ditikung. Trus lo jangan terlalu bucin. Lo kalau bucin nyerempet ke bego."
"Iya makasih, Dek." Anaya semakin mengeratkan pelukannya pada Kiran.
***
Juli mengambil handphone-nya yang sudah selesai di charge. Ada beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab dari Steve, asisten sekaligus sahabatnya. Ternyata Steve sudah menunggu Juli di seberang minimarket. Juli segera mencari mobil Steve dan mendekatinya.
"Gue nungguin lama ternyata lagi asyik ngobrol sama anak SMA ya." omel Steve ketika Juli masuk ke dalam mobil.
Juli hanya tersenyum. "Ternyata anak SMA seru juga loh, Steve."
Steve memegang kening Juli. "Ah nggak demam. Tapi lo aneh banget. Nggak biasanya."
"Steve, pernah nggak lo pas lagi sakit demam terus mimpi-mimpi aneh?" tanya Juli ketika Steve mulai mengendarai mobil.
"Pernah, fever dream, kan?" Steve menjawab.
Juli tersenyum sendiri. "Yang gue alami hari ini seperti fever dream. Aneh tapi seru juga."