Eps.10

1064 Kata
Membuka lembar demi lembar buku yang dibawanya didalam tas, tapi tidak ditemukan nomor telpon yang dicarinya. "Huffftttttttt..." wajah Nayya terlihat murung. Perasaannya campur aduk. Pengen cerita tapi ga tahu ke siapa. Ini semua karena Rayyan. Dalam hati ingin cuek dan pura-pura tidak pernah mendengar kisah Rayyan, tapi bagaimana lagi, Rayyan orang terdekatnya saat ini. Dalam kelas sains Nayya banyak diam dan kurang bersosialisasi dengan teman sekelasnya. Nayya pribadi yang menutup diri kepada orang yang tidak kenal dekat dengannya. Selama perjalanan hidupnya Nayya tidak pernah menjalin cinta dengan siapapun. Saat ingin bercerita kegelisahannya Nayya kebingungan harus kepada siapa. Mau cerita ke ibu kok kurang pantas. mosok baru masuk kuliah sudah curhat tentang laki-laki. Sahabat semasa SMA juga hilang kontak, Yuni, Nova dan Asa nomornya tidak bisa dihubungi. Elda sahabat yang kuliah di kampus ini tidak mungkin di curhati karena sudah memiliki tambatan hati. Nomor telpon yang tersisa dan belum dihubungi hanya Fabian. Teman jauh yang dikagumi Nayya semasa SMP karena kepintarannya, bertemu kembali di kelas bimbel saat kelas XII. Dan sampai saat ini tidak pernah bertemu kembali. Nayya bermaksud menghubunginya karena Nayya yakin apapun yang diceritakannya tidak akan diceritakan kembali pada orang lain dan pastinya aman, jika pun diceritakan juga tidak mengapa karena Nayya tidak akan pernah bertemu langsung dengannya. Apapun yang akan terjadi dikemudian hari tidak akan membuatnya malu. Waktu kuliah berakhir, Nayya bergegas keluar kelas untuk segera kembali ke asrama. Nayya ingin segera mencari nomor telpon terakhir yang akan dihubunginya. Sampai dikamar asrama segera membuka lemari yang menyimpan semua bukunya. Di buka lembar demi lembar sampai ditemukan catatan nomor telpon yang dicarinya. 'Akhirnya ketemu juga, semoga nomornya bisa dihubungi'. Gumamnya dalam hati. Nayya bermaksud merebahkan diri dan beristirahat tetapi Ghea datang dan mengajaknya mengobrol. "Nay..kamu ada masalah kah?aku lihat beberapa hari ini kamu banyak murung". "Ga kok Ghe..cuma capek. Bawaannya males kuliah, pengen tiduran aja". Jawabnya bohong. "Ooooh..kayaknya kamu perlu hiburan, kita jalan-jalan keluar yuk". ajak Ghea yang sudah duduk disisi ranjang Nayya. "Kemana Ghe? Bukannya kuliah kita full hari ini". "Kalo kita ke Mall di pusat kota gimana? Ga harus sekarang juga kok Nay, besok pas weekend kita kesana. Itung-itung refreshing setelah kuliah full selama seminggu". Nayya yang mendengarkan penjelasan Ghea menautkan kedua alisnya. "Hmmmmm..Boleh deh..sekalian duduk di alun-alun kota sambil makan cilok." Nayya tersenyum walaupun yang ada dipikirannya tetap saja Rayyan. Waktu menunjukkan pukul 14.50 wib. Nayya dan Ghea bersiap untuk berangkat ke kampus. Sebelum berangkat mereka berdua melakukan kewajibannya dahulu, setelah selesai sholat mereka mengenakan jilbab dengan warna senada dengan pakaian yang mereka kenakan. Seperti biasa Nayya mengenakan kemeja dan rok, begitu juga Ghea. Kemeja biru muda dengan bawahan rok hitam jilbab segiempat warna senada yang diberi bros dibagian depan, menambah manis penampilan Nayya hari ini. Ghea ga mau kalah, dengan rok hitam kemeja cream dengan jilbab segiempat senada yang masing-masing sisinya disampirkan dibahu. Mereka berdua berangkat dengan senyum ceria. Sampai dikelas, Rayyan sudah duduk ditempat biasa. Kebiasaan Rayyan menyapa dengan senyuman hanya dibalas Nayya dengan sedikit senyuman yang ga seperti biasa. Nayya bergegas duduk ditempatnya dan cuek kepada Rayyan. Rayyan yang merasa ada perubahan sikap Nayya kepadanya mengerutkan dahi. "Kok tumben Nayya seperti itu, apa ada sesuatu yang terjadi padanya." gumam Rayyan lirih sambil mengambil buku dari dalam tasnya. Nayya gelisah, sesekali mencuri pandang ke arah Rayyan. Rayyan tetap fokus mendengarkan penjelasan dari dosen. Kuliah hari ini terasa lama bagi Nayya sampai akhirnya waktu istirahat sholat maghrib. Nayya beberapa kali menghembuskan nafas untuk mengurangi kegelisahan hatinya. Sampai selesai waktu istirahat dan kembali lagi kuliah sampai pukul 20.00 wib pas. Bel berakhirnya mata kuliah bahasa hari ini berbunyi saatnya kembali ke asrama. Nayya segera beranjak dari duduknya, diikuti Ghea, berjalan bersisian keluar kelas. Di samping pintu keluar Rayyan sudah menunggu Nayya. Rayyan mengajak Nayya makan malam bersama seperti hari-hari sebelumnya. Walaupun awalnya Nayya keberatan akhirnya mau juga. Zein teman sekelas kami, yang baru keluar kelas, lewat didepan kami dan mendengar obrolan mengajak Ghea pulang bareng agar tidak sendirian karena Nayya bersama Rayyan. " Nay aku sama Zein pulang duluan ya, selamat menikmati makan malam bersama ya.."Ghea berlalu melambaikan tangannya sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Nayya. " Oke Ghe..maafin aku ya" menangkupkan kedua tangannya didepan d**a, raut wajahnya terlihat sedih. Rayyan yang melihatnya segera bertanya ke Nayya. " Nayya ada janji ya sama Ghea? apa aku mengganggu atau menggagalkan acara kalian berdua. aku lihat Nayya sedih saat tidak jadi pulang bareng Ghea." "hmm..mmm..ga kok Ray, Nay ga enak aja ke Ghea kalo harus membiarkan Ghea setiap hari pulang sendiri." jawab Nayya sambil menunduk. "Maafin aku ya Nay, gara-gara aku kalian pulangnya sendiri-sendiri. tapi barusan Zein mengajak Ghea pulang bareng. semoga mereka berdua berjodoh ya Nay. serasi kalo dilihat" Rayyan meminta maaf dan berusaha menenangkan Nayya. Nayya mengangguk dan mengaminkan kata-kata Rayyan. "Nayya malam ini ingin makan apa? aku ikut aja ya." "Nay terserah Ray aja, Ray ga mau makan lalapan kesukaan Ray kah?" "Mau sih tapi khawatir Nayya bosan. hehehe..." "Nayya bisa makan apapun kok Ray, asal Ray suka. atau....dipikir sambil jalan aja ya..biar ga buang waktu. kalo pas lewat lihat menunya pengen, langsung berhenti aja, gimana Ray?"bertanya sambil menatap Rayyan. "Oke..setuju...yuk Nay."Rayyan berjalan bersisian dengan Nayya. seperti biasa obrolan mengalir sepanjang perjalanan. mulai dari kuliah, teman sampai keluarga masing-masing. ini yang membuat Nayya merasa nyaman saat berada dekat Rayyan. Hanya saja sikap Rayyan terlihat biasa saja kepada Nayya. Pilihan menu makan malam mereka berdua tetap diwarung lalapan favorit. Hari ini Nayya tidak seperti biasa bercerita dengan ceria, selalu tersenyum dan sesekali tertawa. Nayya beberapa kali diam karena dihatinya gelisah. Sejak cerita dari Dio sampai cerita Rayyan semalam. Sisi lain hati Nayya ingin pelan-pelan menjauh karena takut dituduh menjadi orang ketiga, tapi disisi hati yang lain Nayya merasa nyaman dan mulai takut kehilangan sosok Rayyan. "Nay..mau tambah sayur? nih punyaku masih utuh." Rayyan menyodorkan piring berisi sayuran miliknya. "Boleh.." Nayya mengambil piring sayuran yang diberikan Rayyan. "Makasih..Ray tahu kalo Nay suka banget sayuran". "Namanya juga teman, harus tahu kan kesukaan temannya". " Huuuuuu..."Nayya memonyongkan bibirnya. Mereka berdua makan dengan lahap, sampai tidak tersisa. Rayyan yang selesai duluan menyerobot es teh milik Nayya."Minta es tehnya Nay..punyaku habis". belum juga menjawab gelas sudah menempel dibibir Rayyan. Rayyan menghabiskan setengahnya lalu dikembalikannya ke hadapan Nayya sambil tersenyum, " maaf ya Nay..aku haus banget, daripada pesen lagi nunggunya lama. yang didepan mata aja aku minum. hehehe.." "Iya..anggap aja barter sama sayuran tadi. hehehe.." selesai dengan makannya mereka berdua bergegas kembali ke asrama masing-masing untuk beristirahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN