Lima Puluh Delapan

1007 Kata

Wisnu menatap netra pria yang sedang duduk di hadapannya. Tidak sedikitpun dia mengatakan sepatah katapun seolah ingin membiarkan laki-laki itu memulai semua pembicaraannya meski dia telah tahu untuk apa mereka bertemu dan ke mana arah pembicaraan keduanya. Huft... pria yang memiliki tatapan tajam dengan manik berwarna coklat itu menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar. Terlihat ada sedikit kegusaran di dalam tatapannya. Berulang kali bibirnya terbuka hendak mengucapkan kata-kata yang sudah sedari tadi mengganjal di dalam hatinya. Tapi entah kenapa dia begitu kesulitan mengatakan semuanya seolah ada beban yang begitu besar menindih dirinya. "Kenapa?" akhirnya tanya itu keluar juga dari bibir Wisnu yang sudah tidak tahan dengan sikap diam dan keragu-raguan Dylan. Dylan t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN