Dylan membanting laporan keuangan bulan lalu dari atas meja. Matanya bersinar nyalang menunjukkan amarah yang sedang membara dan mengenai siapapun yang ada di dekatnya. Dia mengacak rambutnya kasar karena tak menyangka jika orang kepercayaannya berani berbuat selicik itu oada dirinya. "Aaaggghh...," teriak Dylan frustasi. Berulang kali dia memgacak rambutnya hingga rambut yang tadi tertata rapi kini sudah tak karu-karuan lagi. Ini memang salah satu kebiasaan Dylan untuk menghilangkan amarah yang siap meledak dari dalam dirinya. Nanti setelah semu amarah itu memghilang, dia baru akan berbicara pada orang yang telah membuatnya marah. Dylan kemudian beranjak dari duduknya dan mulai merapikan rambut yang sudah acak-acakan itu. Sesekali dia menatap samar pantulan dirinya di pintu

