Dylan baru saja sampai di rumah Bianca yang masih sepi dan seperti tanpa aktifitas. Dia nampak sedikit aneh dengan kondisi rumah Bianca. Berulang kali dia mengingat rumah saat dia mengantar Bianca pulang kemarin.
"Rumahnya sama, tapi kenapa sepi?" gumam Dylan pelan.
Saat Dylan akan memasuki mobilnya, Dylan melihat seorang pelayan keluar dari rumah. Dylan segera menghampiri pelayan tersebut untuk menanyakan keberadaan Bianca.
"Mbak, Biacanya ada?" tanya Dylan.
"Non Bia...," jawab pelayan dengan suara bergetar.
"Ada apa dengan Bia?" tanya Dylan dengan suara yang begitu khawatir akan keadaan Bianca.
"Non Bia menderita hipotermia,"
"Bagaimana bisa?"
"Non Bia semalam berenang saat hujan,"
"Sudah di bawa ke dokter?"
"Non Bia tidak mau di bawa ke dokter dan tidak mengizinkan kami memanggil dokter,"
Seketika rasa khawatir menyeruak memenuhi hati Dylan. Dia segera berlari menuju rumah tanpa menghiraukan tata krama yang selama ini dia junjung tinggi.
"Di mana kamar Bianca?" tanya Dylan pada salah satu pelayan yang ada di dalam rumah.
"Lantai atas kamar ketiga sebelah kanan dari tangga," jawab pelayan.
Tanpa banyak kata Dylan langsung melangkahkan kakinya berlari menuju kamar Bianca. Hatinya bergemuruh semakin tak jelas mencemaskan keadaan Bianca yang belum tentu baik-baik saja.
Brak...Dylan mendorong pintu kamar Bianca dengan kasar. Dia langsung menghampiri tempat tidur Bianca dimana Bianca tengah terbaring lemah dengan selimut membungkus dirinya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" kata Dylan sambil menggendeng Bianca dengan bridal style.
"Tidak, lepaskan aku, aku tak mau ke mana-mana," kata Bianca sambil meronta.
"Kamu sakit Bi, kamu perlu perawatan," kata Dylan berkeras sambil terus berjalan keluar dari kamar Bianca.
"Untuk apa kamu peduli sama aku, kamu hanya orang baru dalam hidupku, tapi kenapa kamu perhatian sama aku?" tanya Bianca yang perlaha mulai luluh karena tubuhnya yanh semakin melemah.
"Dengar Bi, tak ada kata baru atau lama, kamu sedang sakit, kamu perlu ke dokter!" kata Dylan dengan penuh penekanan agar Bianca diam dan tak melawan lagi.
Bianca menatap wajah Dylan yang terlihat sangat mengkhawatirkan keadaannya. Dia tak pernah menyangka akan ada orang yang peduli pada dirinya di saar orang tuanya sendiri tak peduli pada dirinya.
"Ikut saya ke rumah sakit!" perintah Dylan pada salah satu pelayan yang berada di ujung tangga.
"Baik Tuan," katanya sambil mengikuti langkah Dylan.
Dylan membaringkan Bianca di jok belakang mobilnya dengan berbantal paha pelayan yang sedari tadi mengikutinya. Kemudian Dylan menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi agar dapat segera sampai ke rumah sakit.
"Kuat Bi, kita akan segera sampai ke rumah sakit," kata Dylan sambil terus fokus pada jalanan yang ada di hadapannya.
Sesekali Dylan menyalip beberapa kendaraan yang berada di depannya. Sumpah serapah yang berasal dari pengendara mobil-mobil yang di salipnya di anggap sebagai sebuah nyanyian sumbang baginya. Dylan tak peduli pada perkataan mereka, dia hanya peduli pada kondisi Bianca yang terus menurun dan wajahnya semakin memucat.
Ccciiiittt...Dylan meminggirkan mobilnya tepat di depan pintu UGD sebuah rumah sakit swasta terbaik di ibu kota.
"Maaf Pak, dilarang parkir di sini," kata seorang satpam.
"Saya membawa pasien," kata Dylan sambil membuka pintu belakang mobil dan mulai menggendong Bianca yang tubuhnya mulai mendingin.
"Suster...suster...," teriak Dylan saat memasuki ruang UGD.
Dengan segera beberapa suster segera menolong Bianca dan membawanya ke ruang UGD untuk mendapat penanganan dari dokter.
"Hubungi keluarganya sekarang!" perintah Dylan pada pelayan yang sedara tadi mengikutinya.
"Baik Tuan," kata pelayan sambil berlalu dari hadapan Dylan untuk menelpon orang tua Bianca.
Dylan terus mondar-mandir di depan ruang UGD sambil menunggu dokter selesai menangani Bianca. Sesekali Dylan melihat ke arah tempat Bianca mendapat penanganan dokter. Hatinya berdegup kencang menanti dokter selesai memeriksa keadaan Bianca.
"Maaf, apa Mas keluarga dari Mbak yang tadi?" tanya seorang suster.
"Saya temannya,"
"Kami ingin meminta biodata pasien karena pasien harus di rawat,"
"Sebentar,"
Dylan celingukan mencari pelayan yang tadi pergi untuk menelponnya. Dia membutuhkan pelayan karena dirinya tidak tahu apa-apa tentang Bianca.
"Bisa sekarang mas?" tanya suster yang sepertinya tidak dapat menunggu lagi.
"Sebentar sust," kata Dylan masih celingukan. "Nah itu dia."
Dylan segera melangkahkan kakinya dengan lebar menuju ke arah pelayan yang sedang berjalan ke arahnya dengan wajah gusar dan seperti penuh tekanan.
"Sust minta data ke Mbak ini," kata Dylan saat telah berada di samping pelayan Bianca.
"Mbak bisa ikut saya untuk mengisi biodata pasien?" tanya suster.
"Ya sust," kata pelayan.
"Saya minta kamar VVIP sust," kata Dylan sebelum kembali melangkahkan kakinya ke ruang UGD.
Dylan melihat tubuh Bianca terbujur lemah fibatas tempat tidur dengan selang infus terpasang di lengan kirinya. Seketika Dylan menggenggam tangan Bianca dengan begitu perlahan dan halus seorang takut membuat dia terluka.
"Kamu kenapa seperti ini Bi?" tanya Dylan pelan.
Jantung Dylan berdegup dengan kencangnya saat menatap wajah pucat Bianca. Dia merasakan sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Untuk pertama kalinya Dylan merasa takut kehilangan seorang perempuan yang bahkan baru dikenalnya selama beberapa hari.
"Permisi Mas, Mbaknya akan kami bawa ke kamar," kata seorang suster yang sudah berada di samping Dylan tanpa di sadari Dylan.
"Ya Mbak," kata Dylan sambil memberi ruang kepada suster untuk membawa Bianca ke kamar rawatnya.
Dylan menggenggam tangan Bianca erat sambil terus berjalan mengantar Bianca ke kamar rawatnya. Dia tak ingin sekejap pun kehilangan momen untuk bersama dengan Bianca, apalagi saat Bianca memerlukan seseorang di sampingnya.
"Bagaimana orang tua Bia, Mbak?" tanya Dylan setelah berada di kamar rawat inap Bianca.
"Mereka hanya bilang bahwa biaya pengobatannya akan mereka transfer," jawab pelayan.
"Mereka tidak datang?" tanya Dylan kaget dengan jawab pelayannya.
"Ya Mas," jawab pelayan.
Dylan tak percaya jika ada orang tua seperti orang tua Bianca. Mereka hanya tahu memberi uang tanpa mempedulikan kondisi anaknya, bahka saat sakit pun mereka tak datang untuk menjenguk Bianca.
"Pantas Bia begitu tak peduli dengan kondisinya, dia kesepian dengan semua keadaan yang di alaminya," kata Dylan dalam hati.
Dylan duduk di samping tempat tidur Bianca dan menatap wajah cantik yang tengah tertidur. Dia merasa iba pada keadaan gadis yang baru beberapa hari di kenalanya. Gadis yang sering kali terlihat tersenyum dan sedikit jutek ternyata memiliki luka yang begitu mendalam di hatinya. Dia menyimpan luka yang tak pernah di ungkapkan kepada orang lain dan selalu membuat topeng untuk menyembunyikan perasaannya.
"Aaaaggghhh...," tiba-tiba Bianca berteriak dan membuat Dylan begitu khawatir.