Lima

999 Kata
Bianca menatap indahnya langit malam yang ditaburi bintang-bintang. Hatinya yang sudah mencair kini kembali membeku hanya karena satu pertanyaan dari bibir Mamanya. Pertanyaan yang tak pernah ingin Bianca jawab walau hanya dalam mimpi. Bahkan, dia tak ingin lagi ada orang yang menyebut nama Arlan di dekatnya. Bianca terus menatap langit yang perlahan bintang-bintang itu tertutup oleh awan hitam dan petir mulai bergemuruh di langit malam menandakan hujan akan segera turun. "Tadi langit cerah, bagaimana tiba-tiba mendung dan terdengar suara petir?" tanya Bianca dengan suara yang begitu lirih. Alam seolah memberi pertanda bahwa seperti itulah kondisi hati Bianca saat ini. Dia yang telah mulai mencairkan hatinya dengan kehadiran Dylan, kini kembali harus dirundung kesakitan dan kepedihan hanya karena Mamanya menyebut satu nama yang tak ingin di dengarnya, Arlan. "Bia...masuklah sebentar lagi hujan!" kata Mamanya yang tiba-tiba telah berada di kamar Bianca dan membuyarkan semua lamunannya. "Bia masih ingin menikmati malam ini, Ma," jawab Bianca tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam yang begitu gelap. Tak perlu waktu lama, hujan pun turun dengan begitu derasnya membasahi bumi. Tidak, hujan bukan hanya membasahi bumi, tapi juga membasahi tubuh Bianca yang tebalut baju tidur. Tubuh indahnya terkena air hujan yang diterbangkan oleh angin untuk membelai dan mengusap luka yang ada di hati Bianca. "Bia masuk, kamu bisa sakit nanti!" kata Mama Bianca sambil menarik lengan Bianca untuk masuk ke dalam kamar. "Biarkan Bia di luar, Ma, biarkan Bia merasakan hujan menerpa tubuh Bia," kata Bianca sambil tetap menikmati hujan yang menerpanya. "Bia nanti kamu sakit!" kata Mamanya. "Untuk apa Mama baru peduli pada Bia sekarang, kemari kemana saja Ma?"tanya Bianca sambil menatap manik coklat milik sang Mama. "Kamu tahu Bia kalau Mama sibuk dengan bisnis," "Bisnis, bisnis, dan bisnis, apa dalam pemikiran Mama lebih penting bisnis daripada Bia?" "Bukan begitu Bia, kamu sangat penting untuk Mama, mangkanya Mama selalu mengirimimu uang untuk keperluanmu," Mendengar perkataan Mamanya, Bianca langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengambil dompet dari dalam tas. Bianca mengambil beberapa kartu debit dari dalam dompetnya dan melemparkannya pada Mamanya. "Itu uang yang selama ini Mama kirim, Bia hanya menggunakan sebagian kecil untuk keperluan kuliah," kata Bianca dengan suara yang mulai tianggi. "Bia...," kata Mamanya tak percaya jika putri semata wayangnya akan melakukan hal seperti ini. Hal yang tak pernah dia ajarkan sama sekali. "Bia bukan butuh uang Ma, Bia butuh perhatian Mama," kata Bianca dan sebutir air mata jatuh membasahi pipi Bianca. Bianca baru saja akan membuka mulutnya saat ponsel Sang Mama berbunyi dan dia pun berlalu dari kamar Bianca tanpa mempedulikan keadaan Bianca sama sekali. Bruk... Tubuh Bianca ambruk ke lantai kamarnya dengan air mata yang terus mengalir derasnya, bagai hujan yang turun dan memabasahi bumi malam ini. Hati Bianca hancir dan merasa sakit yang teramat dalam. Ini memang bukan pertama kalinya terjadi, tapi hati Bianca selalu terluka dan sakit saat mendapati orang tuanya jauh lebih mementingkan bisnis daripada dirinya. "Apakah aku tidak penting, Ma?" tanya Bianca dalam isak tangisnya. Bianca terus sesegukan mengeluarkan semua rasa sakit dan pedih yang ada di dalam dirinya. Tak ada seorang pun yang menghampiri dan mencoba menenangkannya, bahkan ibunya sekalipun, orang yang telah membuatnya menangis dan hancur. "Bia, Mama pergi dulu, ada masalah dengan kantor cabang di KL," kata Mamanya sambil memasuki kamar Bianca dan mengecup pucuk kepala Bianca yang sedang tertunduk dan menangis. "Jaga diri baik-baik dan jangan lupa ganti bajumu agar tak sakit," kata Mamanya sambil berlalu dari kamar Bianca. Ini bukanlah hal pertama dalam hidup Bianca, orang tuanya terbiasa pergi tanpa mempedulikan bagaimana keadaan putrinya. Mereka terlalu sibuk dengan bisnis mereka di beberapa negara. "Kapan Mama akan perhatian pada Bia? Kapan Mama akan mementingkan Bia daripada bisnis?" gumam Bianca lirih. Perlahan Bianca menghapus setiapbair mata yang membasahi pipinya. Dia berjalan menuju balkon dan melihat mobil Mamanya keluar pintu gerbang menembus huhan yang semakin deras. Sepertinya Mamanya benar-benar sudah tak peduli lagi dengan keadaannya. "Non, Ibu meminta Non untuk ganti pakaian dan minum s**u," kata salah seorang pelayan yang masuk ke kamar Bianca sambil membawa segelas s**u hangat untuknya. "Simpan saja susunya di meja, nanti saya minum," kata Bianca tanpa menatap pelayannya. "Tapi Non...," kata pelayan. "Saya pasti akan meminum dan mengganti pakaian," kata Bianca lagi. Sepeninggal pelayan, Bianca melangkahkan kakinya hingga mendekati pagar balkon. Bianca merentangkan tangannya menembus hujan dan merasakan dinginnya air hujan membasahi tangannya. Sebuah senyuman menyeringai di bibir Bianca yang tipis dan manis. Bianca beranjak dari balkon untuk meminum susunya dan kemudian berjalan keluar dari kamar. Langkah halusnya menysuri koridor rumah dan mulai menuruni tangga dengan perlahan, seolah takut jika ada orang yang mendengar suara langkah kakinya. Bianca berjalan menuju ke sekitar kolam renang. Kakinya mulai melangkah ke bawah guyuran hujan yang semakin lama semakin deras. Bianca membiarkan setial butir hujan menerpa tubuhnya yang mulus dan indah. Bianca mulai berputar dan memainkan setiap air hujan yang turun. Dia persis seperti anak kecil yang sedang mencoba mencari kesenangan dibalik semua rasa sakit dan pilu yanh dia rasakan. Byur... Tubuh Bianca masuk ke dalam kolam renang yang airnya begitu dingin hingga mampu membekukan siapa pun yang masuk ke dalamnya. Bianca berenang kesana-kemari tak mempedulikan air yang masuk melalui pori-pori tubuhnya. "Ya Tuhan Non," kata seorang pelayan saat menyadari kalau Bianca sedang berenang di bawah guyuran hujan yang deras. Pelayan itu segera mengambil handuk dan payung untuk mengeringkan tubuh Bianca yang kini telah basah kuyup. Dia begitu takut jika Nonanya akan jatuh sakit karena berenang dalam hujan. "Non jangan berenang saat hujan, nanti Non sakit," kata pelayan sambil berteriak mencoba menghentikan Bianca yang masih asyik berenang. "Biarkan Bia sakit, toh enggak ada yang peduli sama Bia," kata Bianca sambil terus berenang. "Ibu dan Bapak sangat peduli sama Non Bia," kata pelayan masih coba untuk membujuk Bianca agar naik ke atas. "Mereka tidak peduli sama Bia, mereka hanya peduli sama bisnjs mereka. Mereka hanya menganggap bajwa hidup Bia bahagia hanya dengan uanh mereka," kata Bianca. Seketika pelayan terdiam menyadari bahwa selama ini Nonanya memang kesepian di rumah. Ibu dan Bapaknya terlali sibuk dengan semua pekerjaannya hingga lupa pada anaknya. "Aaaggghhh...," teriak Bianca secara tiba-tiba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN