Pagi itu, Rusun Harapan Bangsa seolah bangun dengan suasana yang lebih ramah bagi Boy. Sinar matahari menyusup melalui celah jendela kamarnya yang sempit, menerangi debu-debu yang menari di udara. Boy terbangun bukan karena alarm, melainkan karena suara ketukan ritmis dari tukang bubur yang lewat di bawah. Ia merogoh ke bawah bantalnya, memastikan amplop cokelat pemberian Paman Hendrawan masih di sana. Bonus itu adalah tiket kebebasannya hari ini—tiket untuk menjadi "anak muda biasa". Boy bangkit dan berdiri di depan cermin kecil yang retak di pojok kamar. Ia menyisir rambutnya dengan jemari, mencoba merapikan penampilannya yang biasanya berantakan karena debu hotel. Hari ini, ia memilih kemeja flanel kotak-kotak warna biru gelap yang ia beli di pasar loak namun masih terlihat baru se

