Minggu pagi di Jakarta biasanya membawa keheningan yang jarang terjadi, namun bagi Boy, keheningan itu adalah kesempatan. Ia tidak ingin momentum kebahagiaan Luna di mall kemarin menguap begitu saja tertutup asap knalpot rusun. Dengan sisa bonus di sakunya dan tekad untuk memberikan "oksigen" bagi jiwa Luna yang lelah, Boy sudah berdiri di depan pintu kamar nomor 302 sejak pukul enam pagi. "Lun! Bangun! Kalau telat lima menit lagi, tiket 'VIP' kita angus nih!" teriak Boy sambil mengetuk pintu dengan ritme yang ceria. Pintu terbuka, memperlihatkan Luna yang masih mengucek mata, namun sudah rapi mengenakan kaos garis-garis biru putih dan celana kulot yang tampak nyaman. "Tiket apa sih, Boy? Pagi-pagi udah berisik banget kayak toa masjid," gumamnya, meski senyum kecil mulai terbit di su

