SORE ini adalah sore yang mungkin menjadi sesuatu yang menyakitkan bagiku. Bagaimana tidak, sedari tadi Anya hanya terus bermanja-manja dengan Shakir. Loh memangnya dia lupa ya kalau Shakir itu sudah punya istri? Apalagi aku ada di rumah, bisa-bisanya dia meengacuhkanku. "Shak, mau makan tiramisu cake ih." rengek Anya manja sambil memegang tangan Shakir yang sedang sibuk mengetik di laptop. Aku yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Sabar, sabar. Padahal aku aja yang lagi hamil gak semanja itu loh, sejak pagi bawaannya pusing dan pengen muntah, tapi aku tetap paksakan untuk bekerja membersihkan rumah, itu kan sudah tugasku. Kalau aku tidak melakukannya, Shakir pasti akan marah dan mengataiku malas-malasan padahal cuma numpang di rumahnya. "Entar ya, gue selesain kerjaa

