“Agak meragukan, gak jadi cerita deh,” ujarku seraya duduk dan bersandar.
Ia berbalik dan menatapku dengan tangan yang ia lipat di depan daada. Dari ekspresinya terlihat seperti sedang menimbang sesuatu. “Ketika kamu suka sama seseorang dan ada yang nyakitin orang itu, apa kamu bakal diem aja?” tanyanya.
“Mmm… mungkin. Aku tipe orang yang pasif, apalagi kalo misal baru suka doang. Kayaknya aku gak akan berani bertindak lebih, cuma bisa jadi pengamat aja,” jawabku jujur sesuai dengan yang ada di pikiran.
Aro mengangguk, kemudian duduk di bangku sebelahku. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Gak salah sih. Orang itu juga mungkin gak akan nyaman kalo kita bertindak seenaknya,” balasnya seraya menoleh ke arahku. “Demi kenyamananmu, aku gak akan bertindak tanpa seizinmu. Gimana?” tanyanya memberikan opsi.
Kupikir itu tidak buruk. Aku tinggal melarangnya saja, bukan? “Deal!” jawabku menyetujui.
Lalu ia memintaku untuk mulai menceritakan tentang apa yang sudah terjadi. Sesaat aku merasa ragu untuk mengatakannya; ada rasa malu untuk mengakui kalau aku memiliki perasaan pada seseorang yang tak membalas perasaanku. Bagaimana kalau ia justru mengejekku? Ia memang sudah tahu tentang masalah ini, tapi aku menjadi malu karena ternyata aku belum sepenuhnya ikhlas melepaskan Kak Arga.
“Kenapa diem? Gak jadi cerita?” tanyanya.
“Ah… aku jadi malu buat cerita.”
“Ya udah kalo malu, gak usah cerita. Aku gak maksa kok,” balasnya seraya mengeluarkan ponsel dan membuka sesuatu.
Aku menatapnya bingung. Ia benar-benar menghargaiku atau memang tidak ingin tahu? Dengan caranya yang seperti itu, aku justru menjadi kesal. Di tengah pikiranku yang sedang sibuk menimbang, beberapa pelayan datang dengan membawa meja troli.
“Permisi, Mas. Mau makan sekarang?” tanya salah satu di antara mereka.
“Iya. Susun aja sekarang,” jawab Aro.
Kemudian mereka meletakkan sebuah panggangan listrik yang dilengkapi dengan panci steamboat dan juga beberapa piring bahan makanan; ada sosis, daging ayam, daging sapi, beberapa macam bakso seafood serta sayuran. Tentu saja aku melongo dibuatnya.
“Kamu gak ada alergi, kan?” tanya Aro padaku.
“Gak ada sih. Tapi… mau makan lagi?” Aku balik bertanya.
“Iya. Aku gak kenyang kalo cuma makan bubur. Malem-malem gini makan yang panas-panas ‘kan cocok,” jawabnya dengan ekspresi yang terlihat senang.
Aku merasa agak… aneh. Aku sama sekali tidak menyangka ia akan meminta pelayannya untuk menyiapkan ini semua. Terlalu banyak kejutan darinya.
“Apa saya perlu bantu memasak?” Seorang pelayan menawarkan diri, namun Aro menolaknya.
Mereka semua pergi dan tinggallah kami berdua lagi di sini. Haruskah aku merasa diistimewakan? Sepertinya tidak. Standar orang kaya mungkin memang seperti ini. Aku tidak boleh berbangga hati.
Tangan Aro ternyata sangat terampil. Ia mulai memanggang daging di atas panggangan yang sudah memanas; beberapa potong bakso juga sudah ia masukkan ke dalam panci steamboat tinggal menunggu matang saja. Semuanya terlihat enak. Sudah lama aku merencanakan untuk membeli shabu-shabu dengan Seila, namun belum ada waktu yang tepat. Dan sekarang Aro malah mencuri start.
“Mau pake nasi, gak?” tanya Aro ketika mataku sibuk memperhatikan gerak tangannya.
“Enggak usah. Takutnya malah kekenyangan,” tolakku jujur. “Aku harus bantu apa?” tanyaku kemudian.
“Gak usah, biar aku aja,” jawab Aro dengan sangat yakin. Lagi pula tanganku juga tak seterampil dirinya. Jika aku membantu, sepertinya hanya akan mempermalukan diri.
Sembari memperhatikan dia, aku mulai mempertanyakan kembali apa yang terlintas di kepalaku. “Sebenernya kamu ngerencanain apa sih? Dari tadi kamu bikin aku bingung.”
“Bagian mana yang bikin kamu bingung?” tanyanya sambil membolak-balik daging.
“Ya semuanya. Mulai yang tiba-tiba muncul, ajak beli bubur ayam, sekarang ini,” jawabku.
“Ohh, semua spontan sih, gak pake rencana. Rencananya cuma pengen ajak kamu liat lampu-lampu itu dari sini. Kalo masalah bubur sama makanan ini, cuma menyesuaikan sama situasi aja. Kasian kamu kedinginan di sini, kalo sambil makan ‘kan enak,” jawabnya seraya memberikan sebuah senyuman.
Dasar orang aneh. Sebenarnya ibunya nyidam apa waktu dia masih di kandungan? Setiap langkahnya menjadi kejutan di mataku. Apa jangan-jangan sebenarnya dia itu tidak nyata? Kalau memang semua ini mimpi, sudah berapa lama aku tertidur?
“Re? Rea?” panggil Aro dan membuyarkan lamunanku.
“Iya?”
“Ngelamunin cowok yang kamu suka itu, ya? Padahal aku ada di depanmu,” rajuknya.
Kedua alisku bertaut. “Apaan deh! Ngarang aja!” elakku.
“Abisnya malah ngelamun gitu. Nih, makan!” ujarnya seraya menyodorkan sebuah daging dengan sumpitnya.
“Kamu aja, aku bisa makan sendiri!” tolakku malu-malu.
“Buruan! Keburu yang lain gosong nih!” Ia terus memakssa, akhirnya aku pun membuka mulut dan menerima suapannya. “Gimana, enak?” tanyanya penuh harap.
Aku mengangguk setuju. “Enak, tapi agak panas,” jawabku.
“Oh, sorry,” jawabnya seraya tertawa.
‘Siialan! Jangan bilang kalau dia sengaja ngerjain aku! Tapi rasanya memang enak sih, jadi gak bisa marah ‘kan,’ gerutuku dalam hati.
Ia lanjut membolak-balik daging yang sudah siap dimakan itu, lalu ia mempersilakanku untuk memakannya bersama. Semuanya enak; perpaduan antara bumbu yang pas dengan keterampilan tangan Aro yang hebat, membuat makanan ini terasa semakin sempurna.
“Biasanya aku kalo mau makan kayak gini harus ke restoran dulu. Kalo bisa makan di tempat sendiri gini ‘kan enak, lebih puas,” ujarnya.
“Kenapa gak makan sendiri di sini? Memang ada yang ngelarang?” tanyaku.
“Gak ada sih, gak nikmat aja. Berasa menyedihkan.”
“Padahal aku di rumah makan sendiri biasa aja,” gumamku membandingkan diri. Namun kemudian aku teringat kalau ia kurang mendapatkan perhatian dari keluarganya, mungkin saja ia sudah lelah menghabiskan waktu sendiri.
Ia tak menyahut, entah tidak dengar atau memang tersinggung. Aku langsung mencari bahasan lain. “Pasti pacarmu sebelumnya juga sering kamu ajak makan kayak gini.”
Biasanya orang akan mengelak jika mantannya dijadikan bahan pembicaraan, tapi ternyata Aro tidak begitu. “Gak pernah. Dia terlalu jaga badan. Makan apa-apa harus sesuai maunya dia, harus mahal, pokoknya ribet.”
“Pasti orangnya cantik,” sahutku.
Ia kembali mengelak. “Enggak. Jauh lebih cantik kamu.”
“Ilih!” Aku tahu ia pasti sedang menggombal, aku sudah tidak tergoda dengan gombalan receh seperti itu.
“Aku udah gak save foto dia, sosmedku juga diblokir. Nanti aku mintain sama temen dulu kalo kamu pengen tau,” ujarnya.
Aku meliriknya tak percaya. Sudah mantan tapi masih mau cari tahu? Hubungan macam apa itu? “Kamu gagal move on, ya?” selidikku.
Ia menggeleng dengan mulut yang masih sibuk mengunyah. Setelah makanan itu ditelan, ia menjawab, “Aku gak bener-bener suka sama dia, begitu putus ya lepas gitu aja. Makanya aku ngerasa aneh waktu dia ngeblokir sosmedku, padahal aku gak ada salah.”
Lagi-lagi penjelasannya membuatku gagal paham. “Kamu gak bener-bener suka sama dia, dan kamu bilang itu bukan kesalahan?” tanyaku tak mengerti.
Aro meletakkan sumpitnya, lalu meneguk minumannya sedikit. “Hubungan kami tuh bukan kayak anak pacaran pada umumnya. Kami gak sengaja deket karena orang tua sering ketemu gitu.”
“Ohh, dijodohin?” sahutku menyimpulan.
Dengan cepat Aro membantah. “Bukan! Kami gak dijodohin. Waktu itu masih awal-awal kuliah, dia nembak aku. Karena belum pernah pacaran dan kami sering ketemu, aku main terima aja. Toh kupikir dia cantik, baik, minus sering jutek aja. Ternyata setelah dijalanin, kami sama-sama gak merasa cocok,” jelas Aro.
“Terus kamu yang mutusin dia?” tebakku—dan ternyata salah lagi.
“Dia kok yang minta putus. Katanya percuma punya uang banyak, tapi gak digunain. Aku juga bingung apa maksudnya. Yang punya uang ‘kan orang tuaku, bukan aku. Aku gak mau uang jajanku habis cuma buat belanjain dia, aku juga butuh belanja untuk diriku sendiri.”
Penjelasannya berhasil membuatku tertawa geli. Aro ternyata anak yang tidak memanfaatkan kekayaan keluarga dengan sembarangan, aku jadi terkesan dengan caranya itu. Padahal keluarga anak perempuan itu juga pasti orang kaya, aku tidak paham bagaimana cara orang tua mendidiknya.
“Orang tua kalian gimana setelah tau kalian putus?”
“Gak masalah, kan itu masalah kami. Gak ada hubungannya sama bisnis atau apa pun.”
Kami kembali lanjut makan. Setelah mendengar ceritanya yang begitu santai, aku jadi ikut larut dalam suasana dan rasa raguku untuk menceritakan tentang masalahku dengan Kak Arga perlahan samar. Namun karena tahu nafsu makan bisa hilang setelah mendengar berita yang tidak menyenangkan, aku memilih untuk menceritakannya setelah selesai makan.
Sialnya, tak lama kemudian ponselku berdering tanda panggilan masuk. Aku sangat terkejut setelah melihat nama yang muncul di layar.
“Angkat aja dulu!” ujar Aro yang masih belum tahu siapa penelponnya. Tidak mungkin aku menerima panggilan itu di depan Aro, suasana bisa menjadi tidak bersahabat.
“Kenapa gak diangkat? Memang siapa yang telpon?” tanya Aro yang mulai curiga.
Panggilan itu berakhir sebelum aku terima. “Udah mati kok. Gak usah dipikirin,” ujarku sambil menunjukkan layar ponsel yang sudah kembali ke tampilan lockscreen. Dan ternyata Kak Arga kembali menelepon dengan posisi layar yang masih kuperlihatkan pada Aro.
“Arga? Cowok yang waktu itu?”