Chapter 23

1177 Kata
Obrolan kami terpaksa dihentikan sejenak karena pesanan sudah datang. Dua mangkuk bubur ayam dan beberapa tusuk sate semur telur puyuh, juga dua gelas jeruk hangat. Tampilannya terlihat biasa namun sangat menggiurkan—sepertinya karena aku lapar. “Kamu tim bubur diaduk apa enggak?” tanya Aro sambil mengambil sendoknya. “Aku sih tim yang diaduk, kalo kamu?” balasku sambil menikmati aroma bubur yang membuat perutku semakin meronta. “Oke kita sama, jadi gak perlu debat,” jawabnya dengan ekspresi yang terlihat senang. Aku ikut senang, perdebatan masalah bubur yang sepele itu tak harus terjadi diantara kami. Aro menyarankanku untuk tidak menambahkan apa pun sebelum mencicipinya. Dan benar apa yang ia katakan, bubur ini memang sangat enak. Terlihat tidak ada yang spesial, tapi kombinasi rasanya begitu pas. “Enak! Cocok di lidahku!” pujiku setelah mencicip sedikit. “Tapi kayaknya lebih enak kalo ditambah sambel.” “Jelas! Gak lengkap kalo gak pedes,” balasnya seraya membuka mangkuk sambal dan mengambil isinya sesendok. Kebahagiaan yang bertumpuk bisa menemukan teman yang selera makannya sama. Memang kadang untuk bisa bahagia hanya perlu mensyukuri hal sederhana seperti ini. Sesaat kami hanya fokus makan dan tak bicara satu sama lain. Kemudian ia mengambil setusuk sate telur dan memberikannya padaku. “Kamu gak ada alergi telur, kan? Cobain deh! Cocok di makan sama sate ini juga.” “Oh, makasih,” jawabku seraya menerima sate itu dan memakannya satu. Kombinasi yang sempurna! “Gimana, enak?” tanyanya lagi. Aku mengangguk sambil terus mengunyah. Ia kembali lanjut makan dan juga mengambil satenya. Benar-benar tak bisa menahan senyum, perlakuan sederhana darinya terus-terusan membuatku senang. Semoga saja bukan karena sedang kasmaran sehingga semua terlihat indah. Aku hanya perlu menikmati kebahagiaan ini tanpa perlu mempertimbangkan banyak hal. Usai makan, kami langsung pulang dan pergi ke tempat tujuan utama. Sepanjang perjalanan kami hanya sibuk memuji rasa bubur itu dan juga membahas masalah perdebatan bubur diaduk dan tidak diaduk. Lalu kemudian aku teringat dengan obrolan yang sempat tertunda, aku pun menanyakannya kembali. “Maaf kalo aku kepo, kalo kamu gak mau jawab juga gak maksa kok,” ujarku sebelum melontarkan pertanyaan. “Tanya aja dulu! Pasti kujawab kalo bisa kujawab,” balasnya. “Mmm… tadi kamu bilang kalo kamu sama kaya si Lian. Kamu juga kesepian di rumah?” tanyaku dengan sangat hati-hati. Tanpa ragu ia mengangguk dan menjawab pertanyaanku. “Begitulah. Setiap keluarga pasti ada kekurangannya. Keliatannya keluargaku memang sempurna, padahal sebenernya gak begitu. Tapi tenang! Aku gak masalah sama hal itu. Aku punya banyak temen.” Terdengar sangat meyakinkan. Kalau dilihat-lihat, memang dia bukan tipe orang yang penyendiri. “Baguslah. Kamu bisa nanganin sendiri masalah itu,” ujarku. “Iya, dong! Kapan-kapan aku kenalin ke temen-temenku, ya! Mereka kenal kamu kok, tapi mungkin kamu gak kenal mereka.” “Hng? Siapa?” “Nanti aja aku kenalin langsung. Jangan takut, gak ada yang berani ganggu kamu kok! Karena mereka udah tau siapa pawangmu,” ujarnya dan membahasakan dirinya sendiri adalah pawang. Pemilihan istilah yang sedikit menggelikan. “Apaan sih? Memangnya aku buaya ada pawangnya?” balasku sambil menahan tawa. “Oh iya, salah ya? Berarti kamu pawangku. Buaya ‘kan identik sama laki-laki.” Jawaban itu membuatku terkejut dan seketika menoleh. “Kamu buaya?” Dia tak langsung menjawab karena masih fokus menyetir. “Bukan! Bukan gitu maksudnya!” elaknya kemudian. “Sudah kuduga. Kamu memang keliatannya begitu kok, buktinya gampang banget ngejar aku. Selama ini perlakuanmu juga… ah, memang gak salah ya firasat cewek,” ujarku dengan pura-pura kecewa untuk melihat bagaimana caranya membela diri. “Aku takut salah ngomong karena masih fokus nyetir. Nanti aku jelasin kalo kita udah sampe.” Unik. Biasanya kalau seseorang itu berbohong, ia akan berusaha menutupinya mati-matian. Tapi Aro tidak terlihat seperti itu. Ia santai dan menanggapi ucapanku dengan tegas. Sepertinya memang dia playboy kelas atas, sudah cocok menjadi pemain sinetron. Sisa perjalanan kami berlangsung hening, dan aku sedikit bersyukur karena bisa menikmati pemandangan jalanan dengan tenang. Dibanding siang hari, aku lebih suka menikmati bepergian di malam hari. Selain lampu-lampu jalanan yang terlihat cantik, udara yang berhembus juga terasa begitu menyegarkan. Tak sampai 10 menit, kami sudah tiba di restoran dan langsung naik ke lantai dua. Kami berdiri dengan bersandar di railing, dan kali ini sudah disediakan kursi—ternyata dia memang sudah menyiapkan semua ini. Di balik kepura-puraanku merajuk, aku sangat menikmati pemandangan yang indah. Di sebelah pepohonan yang sangat rimbun, terlihat banyak lampu warna-warni yang menyala bergantian cantik sekali. “Kamu masih mikir kalo aku itu playboy, ya?” tanya Aro sambil menatapku, namun aku masih enggan menoleh—hanya melirik saja. “Keliatannya begitu sih,” balasku. “Gak masalah sih, toh nyatanya aku gak begitu,” jawabnya dengan santai. ‘Oke. Permainan yang bagus, bikin lawan bicaramu merasa ragu secara tersirat,’ batinku. “Aku gak mau kamu percaya sama omonganku, tapi aku pengen kamu nilai dan buktiin sendiri aku itu orang yang kayak gimana. Gampang kalo cuma basa-basi gombal dan ngebagus-bagusin diri, tapi untuk ngebuktiin lewat tindakan gak akan segampang itu,” jelasnya kemudian. Dia terlalu pandai mengatur setiap kalimat, bahkan tidak terlihat adanya kebohongan di sana. Tapi jika dibandingkan dengan banyaknya lelaki yang datang dan mengusikku, cara yang ia pilih memang cukup berbeda. Dengan mudahnya ia meluluhkanku, membuatku mau pergi dan makan bersama. Jika bicara tentang penampilan, rasanya aku tidak terlalu mementingkan hal itu. Lelaki yang datang sebelumnya pun banyak yang penampilannya di atas rata-rata. Jika bicara tentang dompet, kupikir aku bukan perempuan matrealistis—pada takaran yang berlebihan maksudnya. Aku tidak boleh lengah hanya karena dia adalah tipe idamanku, dia pasti ada maksud di balik semua ini. “Karena tujuan kita ke sini itu untuk refreshing, jadi pembahasan kita cukup sampe di sini aja. Tinggal gimana cara kamu menilai aku, terserah lewat sisi mana pun; aku gak akan keberatan,” ujarnya seraya tersenyum dan kembali melihat ke arah pasar malam. Aku yang semula biasa saja, setelah mendengar ucapannya justru merasa terbebani karena tidak berhasil menemukan kebohongan. Jika memang tugasku hanya membuktikan, kupikir mengajaknya berdiskusi bisa menunjukkan sedikit sifat aslinya. “Apa kamu gak merasa kecewa waktu aku badmood beberapa hari yang lalu?” “Enggak, cewek ‘kan sering naik-turun mood-nya. Selama masih batas wajar, menurutku itu normal,” jawabnya. “Kamu gak penasaran kenapa aku bisa badmood?” tanyaku lagi. “Menurutku kamu bukan tipe orang yang suka ditanya-tanya, apalagi masalah pribadi. Jadi aku nunggu kamu cerita sendiri.” Menarik. Dia bisa mengertiku dengan sangat baik, walaupun sempat agak menyebalkan karena mengeyel. “Kalo aku cerita tentang perasaanku ke cowok lain, kamu bakal gimana?” pancingku. “Gak masalah, pada akhirnya kamu juga bakal pilih aku,” jawabnya dengan sangat percaya diri. Aku pun tertawa mendengarnya. “Pede banget deh!” ejekku. Ia mengangkat kedua bahunya dengan sombong, lalu ia tertawa sendiri karena malu. “Kupikir gak ada salahnya aku cerita, tapi kamu cukup tau aja! Jangan ambil tindakan apa pun!” ujarku memberi peringatan sebelum ia melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan. “Oke. Aku gak akan langgar,” ujarnya begitu yakin. “Tapi tergantung siapa orangnya,” gumamnya kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN