Bukan tempat yang sepi, gelap atau pun menyeramkan. Normal seperti kedai pada umumnya, namun tata letaknya sangat cozy dan juga luas. Bentuknya seperti rumah makan yang ada di tempat wisata—seperti sebuah teras yang sengaja dibuat mengelilingi sebuah lapangan? Aku tidak tahu harus menyebutnya apa, karena di tengah-tengah memang terlihat kosong.
“Gimana, masih takut?” tanya Aro kemudian.
Aku memberanikan diri untuk keluar dari persembunyian dan menggeleng. “Abisnya dari depan gak keliatan kayak tempat makan,” dalihku.
Ia tertawa kecil, lalu menggandeng tanganku. “Kalo gak gandengan, nanti kamu di catcalling,” ujarnya seraya berjalan perlahan.
Aku tak menolak dan mengikuti langkahnya sambil memperhatikan sekeliling. Dia benar, kalau diperhatikan tempat ini memang terlihat agak kurang bersahabat untuk anak perempuan. Pengunjungnya lebih banyak anak laki-laki—mungkin berusia 17 sampai 20-an tahun, dan tak sedikit dari mereka yang memproduksi asap—entah dari rokok ataupun vapor. Kemudian aku memperhatikan Aro—tepatnya bibirnya. Apakah ia juga merokok seperti mereka?
Sampailah kami di tempat pemesanan dan ia memberikan kertas menu padaku. “Mau pesen apa?”
“Samain aja,” jawabku yang rasanya sudah tidak nyaman. Penilaianku pada tempat ini kembali menjadi buruk.
“Jeruk anget atau teh anget?” tanyanya lagi.
“Jeruk aja.” Aku tidak suka teh, kecuali teh yang dicampur dengan perasa buah.
Setelah selesai memesan, Aro langsung membayar pesanan kami. Tidak sengaja aku melirik ke arah kasir, terlihat ada beberapa pasang mata yang melihatku dengan tatapan ‘menyeramkan’, lalu aku kembali bersembunyi di balik tubuh Aro. Ia menoleh ke belakang, lalu kembali memegang tanganku. Kuharap ia tak mengajakku ke tempat seperti ini lagi.
“Tolong dijaga matanya!” geram Aro kemudian. Aku seperti tak percaya mendengarnya, namun aku yakin itu suara Aro.
Aku bisa melihat mas-mas penjaga kasir itu langsung menoleh ke belakang dan memukul orang-orang di belakangnya dengan sebuah buku.
“Maaf, kadang memang ada pengunjung yang nakal. Mereka bukan karyawan di sini,” ujar mas-mas kasir itu, terdengar sedikit tidak bertanggung jawab.
Aro berbalik dan menghadap padaku. “Kamu gak apa-apa?” tanyanya dengan lembut.
Aku mengangguk pelan. Meski tidak nyaman, namun melihat Aro yang sangat menjagaku, membuatku sedikit lebih tenang. “Kita mau makan di sana?” bisikku sambil menunjuk arah yang dipenuhi dengan kepulan asap.
“Enggak dong! Gak sehat!” jawabnya. “Kita makan di atas, udaranya lebih bersih,” tambahnya kemudian. Aku merasa lega mendengarnya.
Kemudian ia mengajakku naik melewati anak tangga, ia juga memintaku untuk naik lebih dulu dan dia di belakangku. Di atas ternyata masih kosong dan terlihat lebih manusiawi. Ada beberapa kipas angin juga di beberapa sudut—tentunya tidak ada asap-asap yang menggangu juga.
“Kalo nanti ada yang baru dateng dan ngerokok juga gimana?” tanyaku setelah Aro juga sampai di atas.
“Aman kok, di atas gak boleh ngerokok walaupun sama-sama terbuka,” jawabnya dengan sangat yakin.
Kami memilih kursi yang letaknya di dekat railing. Udaranya sangat sejuk, berbeda dengan yang di bawah. Aro melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di sandaran kursi. Lekuk tubuhnya yang bagus membuatku salah fokus, dengan cepat kualihkan pandangan ke arah lain. Sial! Sepertinya ia rajin berolahraga sehingga ototnya bisa terbentuk dengan sempurna seperti itu.
“Sebenernya memang paling bener dateng ke sini waktu pagi atau siang sih. Di depan tadi—yang pintunya pada di tutup—sebenernya itu juga jadi tempat makan, tapi cuma sampe sore. Maaf ya udah bikin kamu gak nyaman,” ujarnya.
“Gak apa-apa. Bukan salahmu kok, dasar mata mereka aja yang gak dijaga,” jawabku. Kemudian aku kembali menoleh dan menatapnya. “Oh iya, apa kamu ngerokok juga?”
“Kadang, tapi udah lama enggak kok.”
Jawabannya sedikit membuatku melongo. Aku mengangguk pelan. Ingin rasanya melarang, namun jelas aku tidak memiliki hak untuk itu.
“Tenang aja, aku gak akan ngerokok di depanmu kok. Atau kamu gak suka kalo aku ngerokok?” tanyanya kemudian.
“Ah, enggak. Itu hak kamu kok,” ujarku.
Ia ikut mengangguk dan tak membalas ucapanku. Ya sudah jelas sih, jarang ada orang yang bisa berhenti jika sudah mengenal rokok. Apalagi alasannya hanya untuk perempuan yang bahkan bukan siapa-siapanya seperti aku.
Aku kembali melihat ke luar. Di bawah sana ternyata juga banyak anak perempuan, bahkan tak sedikit yang memegang vapor di tangannya. Aku hanya bisa menggeleng. Mereka terlihat terlalu muda untuk bertingkah seperti itu, bahkan sepertinya mereka belum mampu membeli alat vapor dengan uang mereka sendiri.
Bagiku yang tidak pernah bersinggungan dengan alat seperti itu, tentu saja terasa aneh melihat anak-anak bisa bebas menggunakannya. Sangat aneh jika orang tua mengizinkan anaknya membeli alat yang membahayakan tubuh seperti itu. Jika dibandingkan dengan orang tuaku, jangankan untuk membeli vapor, untuk membeli alat sekolah saja harus membuat rincian terlebih dulu. Harus jelas kegunaan dan harganya.
“Kamu belum pernah dateng ke tempat kayak gini, ya?” tanya Aro.
“Iya. Asing banget buatku,” jawabku jujur.
“Sebenernya mereka nyebut tempat ini juga kafe sih, sayang aja kebanyakan yang dateng pada bawa rokok begitu. Keliatannya memang agak bar-bar, tapi lumayan nyaman kalo duduk di atas kayak gini. Aku juga gak terlalu suka kalo terlalu rame kayak di bawah itu,” ujarnya.
“Yah, semoga aja makanannya beneran enak. Jadi gak minus-minus amat,” balasku.
Ia tertawa dan kemudian mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya yang berada di sisi dalam. “Sebentar, ya! Ada telpon,” ujarnya seraya menerima panggilan itu. Aku menjawabnya dengan anggukan kepala.
Dia tidak menjauh untuk menerima panggilan itu, jadi aku bisa mendengar apa yang ia bicarakan—meski bukan keinginanku.
“Hm? Kenapa?” ucapnya setelah ponsel itu menempel di telinga.
“Sama pacar, jangan ganggu!” ucapnya lagi.
Terasa ada yang menyentil jantungku ketika kata ‘pacar’ ia ucapkan. Apa dia mengatakan hal itu kepada semua kenalannya? Kulirik sedikit lewat sudut mataku, ia terlihat sumringah. Samar bisa kudengar kalau yang bicara dengannya adalah seorang laki-laki.
“Apaan? Gak! Gak! Gak! Dia gak bakal mau,” tolaknya entah apa yang sedang mereka bicarakan. Kemudian ia memanggilku. “Re, sepupuku mau liat kamu.”
Aku menoleh dan menggeleng cepat. Aku tidak suka video call, apalagi dengan orang yang tidak kukenal.
“Dia gak mau, jangan maksa!” ucap Aro lagi. Dari cara bicaranya, sepertinya lawan bicaranya lebih muda.
“Ya udah, sebentar aja!” Ia pun mengalah.
Deg! Untuk apa dia meminta persetujuanku kalau akhirnya dilanggar? Ia menjauhkan ponsel dari telinganya dan menerima panggilan video itu.
“Re, sebentar aja, ya! Gak perlu ngomong kok,” ujarnya padaku sebelum ponsel itu dihadapkan padaku.
Aku masih menggeleng, namun ia terus membujukku. “Sebentar aja!”
Memang tidak bisa ditolak, akhirnya aku pun menyetujui. Diarahkannya kamera depan kepadaku, terlihat seorang anak lelaki mungkin usia 15 tahun, tersenyum begitu senang. Aku membalasnya dengan senyum tipis.
“Halo, Kak! Namaku Lian, lengkapnya Brilian,” ujarnya memperkenalkan diri.
“Hai, Lian!” balasku pelan tanpa ikut memperkenalkan diri.
Aro kembali menghadapkan ponsel itu ke arahnya, dan aku bisa bernapas lega. “Udah, kan? Katanya sebentar aja,” ujar Aro.
“Ih, pelit banget! Padahal kakaknya belum kenalin diri,” rajuk Lian.
Aro menggelengkan kepalanya. “Namanya Andrea. Jangan kepo lagi! Udah sana belajar! Jangan main hape terus,” omel Aro. Aku bisa melihat kalau ia pasti sangat menyayangi anak kecil.
“Kakak aja gak belajar gitu, ngapain nyuruh-nyuruh aku? Nanti aku laporin Tante Kanna loh!” ancamnya. Sepertinya yang dimaksud adalah mama Aro.
“Bawel! Lapor aja, gak takut! Udah, ya! Aku matiin. Bye!” Aro langsung memutus panggilan itu dan meletakkan ponselnya di atas meja.
“Gak apa-apa langsung dimatiin gitu aja?” tanyaku yang agak terkejut melihatnya.
“Tenang aja, udah biasa kok. Memang agak rese sih anaknya. Biasa, kurang perhatian orang tua, makanya jadi sering cari temen ngobrol,” jelas Aro.
Ah, seperti kehidupan orang kaya pada umumnya ternyata. Kasihan Lian jadi korban. “Dia anak tunggal?” tanyaku memastikan. Kalau dia punya saudara kandung, seharusnya tidak terlalu kesepian seperti itu.
“Enggak kok. Kakaknya seumuran sama kita, tapi udah nikah dan mereka gak akrab.”
“Kasian banget. Untung ada kamu,” balasku.
Aro tertawa kecil. “Iya. Soalnya kami sama.”