Chapter 18

1148 Kata
Meski cuek, aku juga masih seperti anak perempuan pada umumnya yang memiliki rasa penasaran yang tinggi. Setelah panggilanku dengan Kendric diakhiri, aku langsung membuka ingstagram dan mengecek akun milik Hana. Aku ingat, beberapa bulan lalu ia pernah memposting foto bersama—tentu saja saat hubungan mereka masih hangat-hangatnya. Dan sepertinya benar, foto Kak Arga sudah tidak ada lagi di beranda akun itu. Sebenarnya ini belum bisa dipastikan kebenarannya, apalagi Kak Arga juga tidak pernah memposting foto bersama. Karena tidak memiliki cara lain untuk mencari tahu akan kebenaran berita itu, sementara aku memilih untuk percaya. Sayangnya, tanganku terkadang terlalu ceroboh, kemudian terjadilah… aku menekan tombol love di postingan terakhir Hana. Sial! Tak henti-hentinya aku mengutuk diri. Apa alasan yang harus kukatakan jika Hana mempertanyakan hal ini? Niatanku untuk pergi mandi akhirnya tertunda lagi. Seperti biasa, pikiranku sedang berlari ke sana kemari mencari jawaban yang cocok sebelum Hana benar-benar menghubungiku. Aku hampir saja terjungkal ketika ponselku berdering tanda sebuah pesan masuk. Kukira pesan tersebut berasal dari Hana, ternyata bukan. Aku lupa membalas pesan Aro, sehingga ia mengirimkan pesan lagi untuk menuntut jawaban. ‘Kalo kamu gak mau, aku gak maksa kok.’ Begitulah isi pesannya. ‘Memangnya mau ke mana dan jam berapa?’ balasku. ‘Jalan-jalan, katanya kamu pengen ke tempat yang hijau-hijau gitu. Aku tau tempat yang bagus,’ balasnya lagi. Awalnya aku ingin langsung menerima tawaran itu, namun aku teringat kalau Kendric ingin mengenal Aro juga. Akhirnya kuputuskan untuk menanyakan hal itu pada Aro. ‘Gak masalah kalo dia mau. Dia sama pacarnya?’ ‘Dia mana punya cewek,’ balasku lagi. ‘Oh. Ya udah, ajak aja gak apa-apa.’ Balasannya sedikit membuatku berpikir, tapi dengan cepat pikiran itu teralihkan setelah notifikasi adanya pesan masuk dari ingstagram. Aku intip sedikit dan tepat sesuai dengan dugaanku, Hana menghubungiku. Sesungguhnya aku tidak ingin membalas, terlebih aku belum menyiapkan alasannya. Namun jika aku lari begitu saja, mungkin bisa menimbulkan spekulasi yang salah—apalagi Hana adalah tipe orang yang senang berkoar-koar di sosial media, namaku akan bertambah suram karenanya. ‘Hai cantik, ada apa nih tumben banget jempolnya mampir,’ ujar Hana lewat direct message ingstagram. Jujur saja, aku tidak suka dengan caranya menyapaku—sejak dulu. Entah mengapa meski terdengar manis, namun aku merasa ia mengatakan sebaliknya. ‘Iya, fotomu bagus soalnya. Mungkin karena udah lama gak buka ingstagram, jadinya fotomu yang terakhir bisa muncul di berandaku.’ Ya, kurasa ini alasan yang cukup masuk akal. Kebetulan aku memang sudah lama tidak memposting foto atau pun story, sehingga tidak ada yang tahu kapan aku aktif di sana. ‘Wah aku kecewa, kirain kamu sengaja kepoin aku,’ balasnya lagi. Benar, bukan? Ucapannya memang sering terdengar bias, tidak bisa ditelan mentah-mentah. ‘Memang kamu berharap gitu? Wkwk,’ balasku dengan kusisipkan sedikit candaan. ‘Iya. Soalnya ‘kan di akunku biasanya ada foto Kak Arga. Kamu pasti kangen dia.’ Ingin rasanya akun manusia satu ini langsung kublokir, namun aku masih punya hati untuk mengurungkan niat itu. ‘Buat apa? Kan aku udah punya yang lebih,’ balasku kesal. Dia sudah melihat kalau aku pergi bersama Aro, kupikir tak masalah jika memanasinya dengan menggunakan nama laki-laki itu. ‘Haha! Sombong banget! Kalo memang udah jadi punyamu, buktiin dong! Apalagi pacarmu itu populer, pasti bakal dapet banyak like.’ Dari ketikannya, ia terlihat bahagia, tapi kurasa dia sedang merasa kesal dan terbakar akibat rasa iri. ‘Gak deh. Aku gak suka nge-publish hubungan di sosmed, takutnya entar udah putus bingung ngehapusnya,’ sindirku lagi. Ia tak langsung membalas, butuh waktu 2 sampai tiga menit sampai akhirnya balasannya kembali kuterima. ‘Foto Kak Arga kuhapus bukan karena kami putus, ya! Aku cuma lagi ngatur feed biar keliatan lebih cantik Kalo udah siap, nanti juga ku-upload lagi kok,’ jelasnya dengan semangat yang membara. Padahal aku juga tidak menuntut kejelasan sama sekali. Lucunya kalau manusia sedang salah tingkah. ‘Baguslah kalo kalian masih pacaran, ikut seneng dengernya,’ balasku dengan basa-basi yang sangat basi. Mau bagaimana pun hubungan mereka, aku tidak akan peduli lagi. Ia tak membalas lagi, namun tiba-tiba notifikasi panggilan masuk muncul di layar. Hana sepertinya tidak senang dengan obrolan menarik sore ini. Karena aku tidak terlalu suka berbicara melalui telepon—terlebih dengannya, aku memilih untuk menolak panggilan tersebut dan kembali mengirimkan pesan. ‘Lewat chat aja! Aku gak suka telponan,’ ujarku lewat pesan singkat. ‘Dasar manusia aneh!’ ejeknya tiba-tiba. Aku tidak masalah, karena bukan dia orang pertama yang menyebutku seperti itu. ‘Udah, chat aja! Mau kamu telpon berapa kali pun aku gak akan angkat,’ balasku lagi. Ia pun mengalah dan panggilan masuk darinya langsung terhenti. Sesaat tak ada balasan darinya. Karena menunggu terlalu lama, akhirnya aku memilih untuk lanjut mandi—karena sudah tidak ada lagi kekhawatiran yang melintas di kepalaku. Karena hawa dingin masih memenuhi ruangan, aku memilih untuk menggunakan air hangat. Selain untuk mengurangi dingin, aku juga membutuhkan relaksasi. Sambil bersenandung kecil aku membersihkan seluruh tubuh dengan air dari shower yang terus mengguyur. Mandi air hangat memang yang terbaik. Beruntung tidak ada bathtub, mungkin aku akan sering tertidur di dalamnya—jika ada. Setelah semuanya cukup, aku kembali ke kamar dengan handuk kimono dan handuk kecil yang masih membungkus rambut. Karena tinggal sendiri, tentu saja aku lebih leluasa keluar masuk hanya menggunakan handuk saja—sebenarnya jika ada Seila aku juga masih santai seperti sekarang. Sebelum berganti pakaian, aku mengecek kembali ponselku. Ternyata ada sebuah pesan balasan dari Hana. ‘Sebenernya hubunganmu sama Kak Arga apa sih? Selama aku sama Kak Arga, kalian masih sering kontekan, kan?’ Pesan itu berhasil membuatku mengerutkan kening. Pertama, aku tidak pernah berkomunikasi dengan Kak Arga setelah mereka resmi berpacaran. Kedua, bukankah yang seharusnya kesal itu aku? Aku sudah dibuat jatuh hati dan kemudian ditinggalkan. Jika disalahkan seperti ini, rasanya benar-benar tidak adil. ‘Apa maksudmu? Aku udah gak pernah komunikasi sama Kak Arga’ balaskku kesal. ‘Jangan bohong! Aku sering gak sengaja liat Kak Arga curi-curi kesempatan buat chat sama kamu. Bahkan kamu juga sering curcol sama dia. Ngaku aja deh!’ ‘Apa lagi ini? Dia ngarang cerita dari mana sih?’ batinku tak mengerti dengan semua tuduhan yang ia lontarkan. ‘Sorry, ya! Meskipun aku pernah deket sama dia, aku gak pernah ngelakuin apa yang kamu tuduhin barusan!’ balasku dengan tegas. Kemudian ia mengirimkan sebuah emotikon menangis. Aneh. Sepertinya dia sudah sangat lelah dengan hubungan yang tidak sehat itu. Kisah cintanya memang memiliki banyak drama, sejak dulu—sebelum bersama dengan Kak Arga—dia sering sekali menuliskan isi hatinya di story ingstagram. Namun semenjak bersama Kak Arga, intensitasnya curhat di media sosial menjadi berkurang—walaupun tak banyak. ‘Aku benci banget sama kamu setelah aku tau semuanya,’ kirimnya lagi. Sengaja aku tak membalasnya langsung, karena ia masih terus mengetik setelah pesan itu kuterima. Betapa terkejutnya aku setelah menerima pesan selanjutnya. Sebuah ‘fakta’ yang juga baru kuketahui dan membuatku benar-benar syok. Aku tak menyangka Kak Arga bisa mengatakan hal itu pada Hana—meski aku juga masih belum tahu bagaimana kebenarannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN